
Mereka memasuki ke dalam rumah.
Amel di gandeng oleh Tante Fani, sementara Rama mengikuti dari arah belakang bersama sang Ibu. Nampak sang Ibu, berbisik kepada Rama, begitu lekat ke kuping.
"Kamu harus bisa mengontrol emosimu," ucap sang Ibu.
Setelah duduk di ruang keluarga, nampak semua diam, seakan sedang bertanya kepada masing-masing hatinya.
\*Mel, Tante kan sudah bilang tadi, masalah uang yang 100 juta, biar tanggung jawab Tante, yang akan bayar kamu tidak usah khawatir," ucap sang Tante.
"Iya Mel, keadaan Rama sekarang masih pemulihan belum bisa bekerja jadi Ibu harap kamu ngerti," balas sang Ibu.
Amel hanya menganggukkan kepalanya seakan malas untuk berucap.
"Kata Amel, dia mau titip anaknya disini," Rama terlihat kesal ketika berucap.
Tante Fani beserta Ibu berpandangan, mereka seakan tidak percaya apa yang sedang di ucapkan oleh Rama.
"Apa benar Mel, yang di ucapkan Rama?" tanya Tante Fani lekat pandangannya ke arah Amel yang sedang tertunduk.
Amel kemudian mendongakkan kepalanya, lalu dia menganggukkan kepalanya. Pertanda memberikan isyarat benar, apa yang di sampaikan oleh suaminya tersebut.
"Ya sudah biar Ibu yang ngurus anakmu," ucap sang Ibu.
"Aku saja yang ngurus, Kakak lagi sakit kondisi badannya belum stabil," ucap Tante Fani, melirik sang Kakak.
Tante Fani tahu kondisi keluarga Kakaknya sedang ada masalah jadi takut jika anaknya kalau di urus oleh Kakaknya tersebut.
Tante Fani pun berpikir jika ada anak, Rama banyak alasan untuk bisa kerja karena alasan ada anak ada di rumah.
"Kenapa jadi Tante yang mau mengurus anakku?" tanya Amel menatap lekat kepada Tante Fani.
"Kalau Rama mending cari kerja, dan Ibunya Rama biar fokus untuk bisa sembuh. Tante Fani kan, waktu banyak walaupun ada usaha tapi bisa di kelola oleh pegawai Tante," ucapnya coba meyakinkan Amel.
"Kalau Tante Fani yang ngurus, aku nggak mau, takut ngerepotin Tante," ucapnya.
__ADS_1
"Ini sementara Mel, kalau Rama sudah kerja biar kamu keluar lagi kerja dan fokus urus anak lagi," ucap sang Tante.
Amel hanya menatap Rama, dia pun tidak yakin kalau Rama akan cepat mendapatkan pekerjaan lagi. Rama orang yang agak pemalas, di tidak gigih dalam pekerjaan
"Ya, sudah Tante, aku nanti bilang dulu sama Ibu dan Bapakku," ucap Amel.
\_\_\_\_\_\_\_
Tak terasa waktu sudah sore, Amel pun pamit kepada Ibunya Rama, untuk pulang. Nampak terlihat Rama, seakan penuh sesal dalam hatinya. Dia belum bisa ikut menemani istrinya karena keadaan.
Seperti biasa Ibunya Rama dan Tante Fani memberikan sedikit uang untuk Amel.
"Mel, ini untuk beli susu formula, buat anakmu," sang Tante memasukkan uang tersebut kedalam tas Amel, sebenarnya Amel malu kalau Tante dan Ibu mertua, selalu memberikan uang.
Amel berlalu dengan mengendarai motornya, dalam hati Amel sebenarnya, ada rasa rindu yang teramat kepada sang suami tapi rasa rindu tersebut terkalahkan dengan rasa kesal terhadap suaminya yang sudah lama meninggalkannya.
Tiba di rumah.
"Kamu dari mana?" tanya Bapak.
"Aku habis dari rumah teman," jawab Amel.
"Ngapain keluyuran ke rumah teman, terus anakmu gak di urus di rumah. Kamu ngandalin Ibumu?" ucap sang Bapak marah.
"Nggak Pak, nggak ngandalin Ibu, dan aku nggak keluyuran. Aku mencari pekerjaan," ucap Amel berbohong.
Dia menutupi semua, sebenarnya dia sudah dari rumah Rama. Amel pun tidak mau biaya sehari-harinya, terus-menerus ditanggung oleh Bapaknya.
"Cari kerja, terus anakmu nggak kamu urus, nanti anakmu sama siapa. Kamu mikir!" sang Bapak marah.
"Sama ibunya Rama," jawabnya dengan pandangan menunduk.
"Apaaaa," ucap sang Bapak, matanya terbelalak seakan tidak setuju dengan keputusan anaknya itu.
Bapaknya Amel memang terlihat kasar, namun sebenarnya.dia sayang kepada anak dan Cucunya. Dia hanya kesal kepada sang menantu yang tak kunjung datang untuk membayar utang.
"Iya Pak, dan Bapak tidak perlu khawatir dengan uang yang 100 juta pasti Rama bayar," Amel mencoba meyakinkan hati Bapaknya tersebut yang selama ini selalu menagih uang. Itu yang mengakibatkan sang Bapak uring-uringan dan tidak bisa mengendalikan emosinya selama ini.
__ADS_1
"Punya uang dari mana si Rama, katanya dia nganggur nggak kerja, jangan-jangan dari pinjaman, dan kamu nanti sebagai istri yang di kejar di tagih utang," Bapaknya Amel terus mengejek Rama.
Dia seakan sudah tidak percaya lagi dengan sosok Rama. Di mata dia, Rama adalah sosok lelaki yang kurang ajar yang bodoh mau di bohongi oleh temannya, dengan menyerahkan uang 100 juta begitu saja kepada temannya, dan akhirnya kena tipu.
"Bapak tenang saja, dia nggak pinjam. Di kasih oleh Tante Fani," ucap Amel.
Sebenarnya Amel berpikir tidak begitu saja Tante Fani memberikan uang 100 juta, dan itu jumlah yang sangat besar, nominal uang sebesar itu harus di bayar oleh Rama nanti.
"Nggak mungkin Tantenya Rama, memberikan cuma-cuma uang 100 juta, pasti nanti minta ganti," ucap sang Bapak.
Dalam hati Amel dihinggapi rasa sama seperti Bapaknya, bahwa uang tersebut harus diganti tidak begitu saja Tante Fani, memberikan.
"Ya, sudah Pak, kita berpikir tenang dulu jangan terbawa emosi, kalau Bapak butuh uang tersebut pakai saja dulu. Tante Fani, Ibu tahu orangnya seperti apa, dia sangat baik," sang Ibu seakan membela sosok Tante Fani, dia orang yang baik dan tidak perhitungan.
Bapak pun tertegun sejenak.
"Terus kapan Tantenya si Rama, akan membayar uang itu," tanya sang Bapak.
Ibunya Amel seakan kesal terhadap sang suami, karena terlihat sangat ketakutan.
Uang yang 100 juta raib begitu saja, jadi dia mencecar pertanyaan terhadap Amel yang baru saja datang sampai di rumah.
"Ayo, Amel masuk. Kamu sudah makan belum, istirahat dulu," Ibu membawa Amel masuk ke dalam rumah. Dan beberapa.menit kemudian Ibu datang tepat di hadapan sang suami, "Bapak itu ya, Ibu benar-benar kesal dengan kelakuan Bapak akhir-akhir ini selalu mencecar kepada Amel. Apa Bapak nggak dengar tadi kata Amel, mau di bayar berarti itu tidak butuh waktu lama," ucap sang Ibu terlihat kesal kepada sang suami.
"Bukan gitu Bu, Kita juga kan butuh uang itu. Masalahnya Bapak buat modal usaha. Terlalu lama uang tersebut di si Rama, udah hampir setahun," ucap sang Bapak.
"Belum setahun!" ucap sang Ibu terlihat melotot.
"Sudahlah, Bapak tidak mau berdebat pokoknya uang yang 100 juta jangan sampai 3 bulan ke depan belum di bayar," ucap Bapak.
"Tenang Pak, Ibu tahu sifat dari Tante Fani, tidak akan berbohong, pasti di bayar," kemudian Ibu mengambil Bayinya Amel yang berada di gendongan Bapak.
Bersambung...
__ADS_1