Pernikahan Dua Hati

Pernikahan Dua Hati
Bab: 102 Kedatangan Tamu


__ADS_3

Setelah Amel membaca pesan dari Tante Fani yang menanyakan perihal Amel sudah tidak menanggapi Rama dengan baik dan Amel tidak merespon baik pesan dari Tante Fani Amel hanya fokus bekerja di pagi itu


•••


Tepat pukul 1 siang Amel dihampiri oleh temannya yang bernama Gisel.


Dia memberi kabar bahwa ada tamu sedang menunggu, Amel pun bertanya-tanya dalam hatinya. Siapakah gerangan tamu yang datang tersebut ke Kafenya? mungkinkah Rangga atau Rama, dia pun menerka-nerka dalam benak pikirannya.


Dengan keberanian yang penuh Amel pun menyeret kakinya ke arah ruang tamu.


•••


Tiba di ruang tamu


"Kang Burhan!" Amel terkesiap ketika melihat sosok Burhan di depan matanya.


"Iya Mel, Akang sengaja mampir ke sini untuk bertemu dengan kamu, kebetulan Akang tahu tempat kamu kerja di sini dari Bapak kamu. Maaf mungkin kedatangan Akang, ke sini mengganggu kamu kamu yang sedang kerja," ucap Kang Burhan tersenyum ramah dan menatap lekat kepada Amel.


____


Kang Burhan sedang ada proyek kerja di Bandung, kebetulan dia kemarin datang berkunjung ke rumah Amel untuk bertemu dengan Bapaknya, tapi Amel tidak ada jadi dia menanyakan keberadaan Amel sekarang dimana dan kebetulan keesokan harinya, Kang Burhan akan pergi keluar kota.


Sosok Kang Burhan begitu dewasa, sopan dan terlihat begitu baik. Tapi entah mengapa getar asmara seakan belum hinggap di hati Amel terhadap sosok Kang Burhan.


Meskipun kedua orang tuanya, apalagi sang Bapak penuh antusias menjodohkan Amel dengan Kang Burhan, karena Kang Burhan merupakan tipe ideal Bapaknya Amel selain baik, dia juga cukup mapan dalam urusan finansial.


_____


"Tidak kok, tidak sedang sibuk. Saya sedang istirahat, Kang Burhan," ucap Amel.


"Oh, Iya, Kang Burhan mau minum apa? Bentar, Amel ambilkan dulu ya ucap Amel," Amel pun berdiri untuk menyiapkan minuman kepada Kang Burhan dengan muka tersipu malu. namun tiba-tiba Gisel datang dengan membawa menu makanan yang ada di cafe tersebut.


"Silakan mau minum apa?" ucap Gisel. menggoda sahabatnya itu.


Gisel seakan tahu bahwa yang datang ke cafe tersebut adalah lelaki yang menyukai Amel.


"Saya mau kopi hitam saja!" ucap Burhan tersenyum ramah kepada Gisel.


•••


Gisel pun berlalu dari hadapan Amel dan Kang Burhan.


"Kayaknya lelaki tersebut suka sama Amel, atau memang dia pacarnya Amel? Karena selama kerja di sini, Amel tidak terbuka masalah lelaki yang sedang dekat dengannya," gumam hati Gisel.


sementara Gerry menatap jauh Amel dari arah ruangan kerjanya dia pun dihinggapi rasa penasaran terhadap tamu yang datang kepada Amel lalu Gerry menghampiri Gisel yang sedang membuatkan kopi untuk tamu yang datang kepada Amel.


"Gisel tamu yang datang kepada Amel itu siapa?" tanya Gerry memandang Gisel yang sedang membuatkan kopi.

__ADS_1


"Kurang paham Pak, sepertinya pacar Amel atau mungkin lelaki yang suka sama Amel. Saya nggak tahu tapi kelihatannya mereka sudah saling kenal," jawab Gisel.


Gisel dihinggapi rasa heran kenapa Pak Gerry begitu perhatian terhadap tamu yang datang kepada Amel.


"Syukur kalau sudah saling kenal," gumam hatinya Gerry.


Gerry begitu menjaga Amel dia takut jika Amel berteman dengan orang yang salah, dia selalu ingat dengan pesan Angga agar menjaga Amel.


Setelah meracik kopi spesial yang aromanya begitu menyeruak ke penciuman, Gisel pun berlalu dari hadapan Gerry.


•••


"Silahkan diminum Pak," ucap Gisel.


Diapun berlalu dari hadapan tamu tersebut.


Kamu kapan pulang?" tanya Kang Burhan kepada Amel


sebenarnya saya disuruh cuti oleh Bos saya tapi nggak tahu saya kapan pulang ke Jakarta jawab Amel.


"Besok atau lusa, boleh cuti nggak? Nanti kita bareng pulangnya ke Jakarta," tanya Burhan tersipu malu.


Kang Burhan tidak bisa berlama-lama menetap Amel karena dia ada rasa yang lebih terhadap anak dari teman nya tersebut. Mungkin Kang Burhan tahu diri karena dia umurnya cukup jauh dengan Amel jadi dia dihinggapi rasa tidak percaya diri terhadap Amel yang usianya lebih muda darinya.


Amel tertegun sejenak dengan tawaran yang diberikan oleh Burhan, dia pun seakan ingin meminta cuti tersebut kepada Gerry karena Gerry tadi pagi sudah menawarkan cuti kepadanya untuk pulang bertemu dengan kedua orang tua dan anaknya, dan kebetulan kakaknya Angga mau pulang juga ke Jakarta.


Sontak Burhan merah padam mukanya ketika senyuman renyah dari Amel secara kebetulan beradu pandang dengannya.


Amel pun seakan tahu isi hati dari Kang Burhan, pasti Kang Burhan sangat berharap penuh kepada Amel, dan menunggu kepastian cinta dari Amel.


"Kalau begitu kebetulan sekali, sudah mendapatkan ijin dari Bos-nya, ambil cuti saja," ucapnya.


"Ya, nanti saya kabari sore ya, setelah pulang kerja, mau bicara dulu sama Bos," jawabnya.


Amel pun seakan ingin di ijinkan kembali oleh Gerry untuk bisa ambil cuti pergi ke Jakarta untuk menemui kedua orang tuanya dan anaknya.


"Nginap dimana Kang?" tanya Amel kembali.


"Kebetulan ada Hotel kan, dibelakang Kafe ini, di Hotel Bintang." jawabnya.


"Hotel Bintang? Itu kan, Hotel yang kemarin di mana ketika aku sedang berjalan, ada sosok Rama datang menghampiriku," gumam hati Amel. Nampak wajah Amel berubah menjadi terlihat gelisah.


Amel pun seakan berpikir mungkinkah Rama menginap juga di hotel tersebut penuh tanya di benak hati Amel.


melihat perubahan wajah Amel yang nampak dihinggapi rasa gelisah kan Burhan pun dihinggapi rasa penasaran dan bertanya kepada Amel.


"Kenapa Mel? pasti kamu tahu kan Hotel itu. Masa kamu nggak tahu, kan di belakang belakang Kafe ini tempatnya" ucap Kang Burhan.

__ADS_1


"Iy-Iya..Saya tahu! saya tahu, Kang," ucap Amel tersenyum tipis.


"Kata Bapakmu, kamu tinggal di rumah Angga ya, di Bandung. Di daerah mana Mel, Kalau boleh tahu." ucap Kang Burhan.


"Deket kok, dari sini. Tepatnya di belakang Hotel ada rumah yang berwarna cat putih dan gerbangnya berwarna coklat, nomor 7 rumahnya," ucap Amel kembali tersenyum.


"Boleh nanti sore saya main ke rumah kamu?" tanya Kang Burhan berharap Amel menerima kedatangannya.


Kang Burhan sudah berpikir dia akan membawa bahan sembako dan makanan lainnya untuk Amel.


"Boleh, silahkan kalau mau mampir main," jawabnya.


"Kita jalan-jalan kota Bandung ya, katanya ada ART juga ya, di rumah kamu? Boleh dia dibawa nanti ya, nggak apa-apa," ucapnya.


Burhan sayang dan perhatian kepada Amel sangat tulus. Dia memberikan rasa cintanya tidak dengan nafsu semata, tapi dengan bentuk perhatian yang dewasa.


Terlihat dari cara dia untuk mengajak Amel keluar sekedar jalan-jalan, dia ingin membawa juga sang ART.


Dia seakan menjaga hati Amel yang dulu pernah dikhianati oleh Rama, dan dia tidak seperti Rama hanya nafsu semata untuk mendapatkan hati Amel.


Sore pun tiba nampak Amel mukanya berseri, karena dia sudah mendapatkan izin dari Gerry, untuk mengambil cuti.


Amel akan mengambil cuti lusa karena esok hari dia harus membereskan dulu kerjaannya, agar dia nanti kembali ke Kafe tersebut sudah tidak ada kerjaan yang tertunda. Sekalian Amel ingin membereskan pakaian dan membawa oleh-oleh untuk dibawa ke Jakarta.


"Lusa ya, ambil cutinya bukan besok," goda Gerry kepada Amel.


Amel pun tersipu malu dengan ucapan Bosnya tersebut, karena Gerry seakan sudah tahu bahwa Amel pulang ke Jakarta akan diantar oleh Kang Burhan.


"Iya Pak, lusa! bukan besok, saya juga tahu Kok," ucap Amel tertawa terkekeh.


"Cie...Cie..yang diantar sama pacar," ejek Gisel menertawakan Amel yang akan berlalu keluar dari Kafe. Gisel usianya masih 18 tahun dia baru keluar dari lulusan SMA.


"Bukan pacar. Dia temannya Bapakku rekan bisnis," ucap Amel.


"Rekan bisnis Bapakmu, plus pacar kamu Kak. Tidak apa-apa jadi satu paket," goda lagi Gisel sambil tertawa terbahak.


Karena dihinggapi rasa malu dengan ejekan sang teman dan Bosnya, Amel pun pamit dan berlalu keluar.


Seperti biasa jika dia mau berangkat kerja, dan pulang kerja. Dia selalu memakai alat handsfree ke kupingnya untuk mendengarkan musik. Amel pun menggerak-gerakkan kepalanya pertanda suara musik sudah terdengar jelas Ke kupingnya.


•••


"Amel..." ucap lelaki yang terlihat sudah menunggu kepulangan Amel dari Kafe.


Tiba-tiba ada yang memanggilnya dan menepuk pundaknya Amel tepat di depan Hotel Bintang.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2