
Tiba di Bandung.
Akhirnya Bianca dan Kang Burhan tiba juga di Bandung, Nampak Ibunya Bianca, sedang duduk di teras rumah sambil menggendong anaknya Bianca.
Mobil Kang Burhan tidak di masukkan ke garasi halaman rumah, karena Kang Burhan berpikir tidak akan lama berada di rumah Bianca.
"Alhamdulillah, akhirnya sampai juga di Bandung," ucap Kang Burhan.
Bianca pun tersenyum ke arah Kang Burhan, dan tidak lupa mengucapkan kata terima kasih, karena sudah mengantarnya pulang.
"Kang, terima kasih ya, sudah mengantarkan pulang," ucap Bianca tersipu malu.
"Iya, santai saja, sama-sama kita pulang ke Bandung jadi bareng. Tuh, sambut anakmu dia sedang di gendong Mama kamu," ucap Kang Burhan yang pandangannya mengarah ke teras rumah, dimana di sana terlihat Mama Astri sedang menggendong anaknya Bianca.
Bianca kemudian turun dari dalam mobil begitupun dengan Kang Burhan.
Terlihat di teras rumah ada Mama Astri dan Bu RT, yang sedang asik ngobrol, mereka tertawa lepas, entah apa yang sedang mereka bicarakan. Nampak dari wajah kedua Ibu tersebut ada binar kebahagiaan.
•••••
"Bianca.." teriak sang Mama tatkala melihat anaknya tersebut turun dari dalam mobil dan tengah berjalan ke arahnya.
"Mama, sehat Mah," ucap Bianca tersenyum renyah, dan memeluk erat sang Mama dengan penuh kehangatan dan rasa rindu yang menggelayuti.
Bianca pun mencium punggung tangan sang Ibu dan Bu RT, kemudian dia mencium sang anak dan mencubit gemas pipi sang anak karena nampak anaknya Bianca tambah berisi pipinya membuat sang Ibu gemas untuk mencubitnya.
Kemudian Bianca menggendong anaknya tersebut, yang tengah di gendong oleh Mama Astri.
•••
Sang Mama menatap Kang Burhan.
"Kang Burhan, terima kasih ya, sudah mengantarkan anak Ibu. Ayo, masuk dulu Kang Burhan ke rumah, kita ngopi dulu. Kebetulan Ibu, baru saja buat Bolu kukus coklat," sambut Mama Astri dengan senyuman lebar dan terlihat ramah.
"Iya, Bu, waduh enak ya, kopi hangat dengan Bolu kukus," jawab Kang Burhan tertawa terkekeh, dan membalas kembali senyuman ramah dari Mama Astri.
"Mari masuk dulu," ucap Mama Astri kembali.
"Terima kasih Bu, bukan menolak tapi saya mau bertemu dengan Bapaknya Amel ada perlu." jawab Kang Burhan.
"Iya, padahal ngopi dulu, masuk," sambung Bu RT terlihat tersenyum lebar kepada Kang Burhan. Bu RT pun menyambut Kang Burhan dengan Ramah.
"Iya, Bu, terima kasih banyak, tapi saya ada perlu. Hatur nuhun pisan 🙏🙏," ucap Kang Burhan mengungkapkan rasa terima kasihnya yang teramat dengan kalimat Sunda, karena dia merasa di sambut dan di perhatikan oleh kedua Ibu tersebut.
___
Kang Burhan pun berlalu dari rumah Mama Astri, sementara Bianca dalam hatinya menggerutu karena nampak terlihat Kang Burhan, begitu terburu-buru untuk menemui Bapaknya Amel. Bianca pun kembali dihinggapi rasa cemburu terhadap Kang Burhan.
"Nak, baru saja Raden pulang, tinggal Bu RT yang masih ada di sini, Raden nanyain kamu, Ibu bilang kamu enggak ada sedang pergi ke Bandung," ucap sang Ibu. Bianca hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis, dia pun berlalu memasuki ke dalam rumah.
"Bu RT, maaf saya ganti dulu baju ya," ucap Bianca mencoba tersenyum ramah walau keadaan hatinya sedang gundah gulana karena memikirkan Kang Burhan yang berlalu pergi begitu saja tanpa masuk ke dalam rumahnya. Bianca pun berlalu pamit dari hadapan Mama Astri dan Bu RT.
•••••
"Yang barusan siapa itu Bu, saudara Bu Astri?" pandangan bu RT masih mengarah ke mobilnya Kang Burhan yang yang baru saja berlalu dari hadapannya. sepertinya Bu RT dihinggapi rasa penasaran ketika melihat sosok Kang Burhan.
"Dia Kang Burhan, yang tadi saya ceritakan kepada Bu RT. Kan, Bianca mau buka usaha. Nah, beli Rukonya di lelaki yang barusan itu. Namanya Kang Burhan," ucap Mama Astri.
"Oh iya, iya,, Semoga kedepannya Bianca lancar dengan bisnisnya," ucap Bu RT kembali.
__ADS_1
____
Bu RT pun pikirannya berselancar karena semalam dia bersama suami, dan Raden tengah membicarakan tentang usaha yang akan dikelola bersama anaknya, Raden ada niat untuk keluar kerja dan mau buka usaha.
_____
Bianca memasuki rumah.
Bianca menggendong sang anak dengan terburu-buru dengan rasa sesak yang ada di dalam dada, karena dia kesal kepada Kang Burhan yang dengan tega tidak menghiraukan nya. Dia nampak kecewa dan cemburu karena Kang Burhan sedang menemui keluarga Amel. Bianca berharap Kang Burhan akan mampir dulu ke rumahnya untuk minum kopi dan ngobrol dengan dia dan Mamanya.
Bianca pun menyeret langkah kakinya menuju kamarnya dengan kasar tidak pelan-pelan, sang anak yang baru berusia 2 tahun menatap lekat Bianca, nampak sang anak seperti dihinggapi rasa heran karena sosok Ibunya seperti menahan rasa marah dan matanya berkaca-kaca.
_____
Gedebuk..
Suara tangis anak pun terdengar nyaring seakan menahan rasa sakit karena badannya terjatuh ke lantai. Di pinggir ruang tamu ada sebuah Aquarium berisi ikan, kebetulan kacanya bocor jadi air tergenang ke bawah dan licin. Bianca pun terjatuh bersama anaknya, nampak Bianca meringis kesakitan seakan tidak bisa bergerak.
•••
Mama Astri terkejut begitupun dengan Bu RT, ketika mendengar teriakan anaknya Bianca menangis yang terdengar keras dan nyaring. Mama Astrid dan Bu RT pun menyeret langkah kakinya, masuk ke dalam ruangan.
"Ya Allah,, Bianca!" teriak Mama Astri, tatkala melihat sang anak dan cucunya terhempas berada di lantai. Bianca nampak terjatuh bersama anaknya. Di kepala Bianca ada darah sedikit yang mengalir, dia terkena benturan ujung kursi jati yang berada di pinggir Aquarium.
Mama Astri pun dengan cepat mengambil sang anak yang terlepas dari gendongannya Bianca. Sementara Bu RT, menggandeng Bianca untuk didudukan di kursi sofa.
"Astaghfirullah,,,bawa saja ke Rumah Sakit. Sebentar ya, saya mau kasih tahu dulu Raden. Biar Raden yang antar ke rumah sakit," ucap Bu RT, kemudian Bu RT pun berlalu keluar untuk memanggil Raden, agar Bianca dan anaknya segera bisa dibawa ke Rumah Sakit.
•••
Beberapa menit kemudian.
Ibu RT pun datang kembali bersama Raden.
•••
Di dalam mobil.
Mama Astri berusaha menenangkan anaknya Bianca dengan memberi air putih, dan mengelus lembut badan sang anak.
"Sabar Sayang, sabar ya Nak," Mama Asri terlihat panik sementara Bianca meringis menahan rasa sakit karena punggung belakangnya tadi terhempas ke lantai begitu keras.
"Minum dulu, Nak Bianca nih,," Bu RT memberikan air mineral kepada Bianca.
Begitu perhatian bu RT kepada Bianca begitupun dengan Raden yang terlihat dari mimik mukanya begitu khawatir terhadap Bianca dan anaknya.
Mendapat perlakuan seperti itu nampak terlihat Mama Astri dan Bianca seperti menahan rasa malu, dan terharu karena mereka sangat perhatian dan sayang.
"Tenang Nak, jangan ikut panik. Santai saja bawa mobilnya," ucap Ibu dari Raden karena sang anak ketika menyetir mobil dalam keadaan panik dan terlihat terburu-buru.
Raden menghela napas secara perlahan lalu menganggukkan kepalanya.
_____
Tiba di Rumah Sakit.
Setelah tiba di Rumah Sakit, dengan sigap Raden membawa Bianca dan anaknya ke Ruang IGD dengan di ikuti oleh Mama Astri.
Setelah berada di IGD, Raden keluar dari ruangan tersebut sementara Mama Astri melihat dari jarak jauh.
__ADS_1
Sang anak dan Bianca pun dengan cepat ditangani oleh pihak Rumah Sakit.
Dokter dan Suster terlihat begitu cepat menangani kedua pasien tersebut.
_____
Anak Bianca terus menerus menangis, nampak terlihat semua orang yang berada diluar bertanya-tanya sang anak sakit apa? karena suara tangisannya terdengar keluar.
"Bu, anaknya sakit apa ya? tangisannya begitu histeris!?" tanya seorang lelaki dengan perawakan tinggi kurus itu.
"Jatuh tadi, sedang digendong oleh Ibunya," ucap Bu RT memberikan penjelasan kepada seorang laki-laki yang sedang berada di luar ruang Rumah Sakit tersebut.
"Jatuh di mana?" terlihat heran dan terkejut. Lelaki tersebut kembali bertanya kepada Bu RT dengan menatap lekat.
"Jatuh di rumah, mungkin tadi licin terpeleset!" jawab Bu RT kembali.
"Duh, kasihan ya, memangnya anaknya itu usia berapa tahun?" tanya lagi lelaki tersebut.
"Sekitar 2 tahunan," jawab Bu RT kembali.
___
Nampak lelaki tersebut menghela napas panjang, dia memejamkan matanya teringat kepada dua anak perempuannya yang usianya sama sekitar 2 tahun.
Terlihat dari raut muka lelaki tersebut dihinggapi rasa bersalah dan rasa rindu terhadap sang anak karena sudah lama tidak bertemu. Berdebar dadanya dan bergemuruh.
Rasa ingin bertemu dengan kedua anak perempuannya itu, tiba-tiba muncul menghinggapi hati dan pikiran lelaki tersebut.
Nampak terlihat oleh Bu RT, lelaki tersebut menghela napas panjang seakan ada beban berat dalam dirinya.
___
Raden keluar dari raungan IGD nampak dia menghampiri sang Ibu yang sedang duduk di deretan kursi tamu untuk pasien.
"Tenang Nak," Bu RT mengelus pundak Raden dengan lembut. Raden sang anak sifatnya dari dulu penyayang dan perhatian terhadap siapapun, apalagi Bianca yang notabene adalah tetangga sekaligus sahabat kecilnya yang pernah dekat dengannya.
Raden terlihat tidak bisa menutupi rasa kegelisahannya tersebut.
"Semoga diberikan kesabaran ya, anak dan istrinya yang terkena musibah," ucap lelaki yang sedari tadi memperhatikan Raden dan terlihat khawatir dengan anak yang berada di IGD yang terus menangis.
"Maaf ini bukan suaminya Pak, ini anak saya," ucap Bu RT tersenyum tipis kepada lelaki tersebut. Karena lelaki tersebut nampak pandangan matanya mengarah ke Raden, sang anak. Raden melirik lelaki tersebut dan hanya tersenyum tipis ketika beradu pandang dengan lelaki tersebut.
"Oh, maaf, kirain suaminya. Ibu ini sebenarnya siapa ya? Apa hubungannya dengan pasien yang berada di IGD," tanya kembali lelaki itu, dengan tersipu malu.
"Saya tetangganya dan kebetulan Ibunya dari pasien yang ada di dalam, masuk ke ruang IGD," jawab Bu RT.
"Oh.. begitu, semoga tidak terjadi apa-apa ya Bu, dengan sang Mama dan anaknya yang terjatuh itu," ucap lelaki tersebut.
"Mas, sedang menjenguk pasien atau mau berobat?" tanya Bu RT kepada lelaki tersebut.
"Saya sedang mengantarkan Ibu saya, kebetulan Ibu saya berobatnya di Rumah Sakit ini, sedang kontrol," jawab lelaki tersebut tersenyum ramah.
____
"Pak Rama!" ucap suster dengan pandangan mengarah ke Rama.
Nampak terlihat sang Suster memanggil Rama untuk memasuki ruangan Dokter, di mana terlihat di sana ada ibunya yang sedang diperiksa oleh sang Dokter.
Rama pun dengan cepat menyeret langkah kakinya keruangan Dokter, di mana sang Ibu tengah diperiksa.
__ADS_1
"Bu, saya pamit dulu ya, di panggil oleh Suster," ucap Rama sambil tersenyum ke arah Raden, dan Raden pun membalas senyuman dari Rama.
Bersambung...