
Bianca mencoba membujuk adiknya agar kembali berkumpul dengan tamu yang datang yaitu, Amel dan Kang Burhan.
Tapi entah mengapa hati sang adik seakan membeku, dia tidak mau kembali melihat Amel yang sedang menunggu di ruang tamu.
"Ayo keluar temuin Amel, kenapa sih kamu?" tanya sang kakak terlihat dihinggapi rasa heran karena adiknya tersebut tidak mau kembali menemui Amel.
"Bilang saja, aku sedang nggak enak badan," ucapnya terlihat cemberut.
Tyanca dihinggapi rasa khawatir dan penasaran terhadap sang adik, dia pun seakan tidak mau memaksa kepada Bianca untuk menemui Amel kembali. Tyanca pun keluar dari kamar tanpa ditemani sama Bianca.
•••
"Silahkan diminum teh hangatnya. Aduh nggak ada apa-apa ya," ucap Tyanca, tiba-tiba datang ke ruang tamu dan terlihat basa-basi.
Dia menghela napas secara perlahan kemudian melirik kepada Gerry sang suami, Gerry pun nampak terlihat heran karena sang istri datang tidak ditemani dengan sang adik.
"Bianca nya mana Mih?" tanya sang suami.
"Katanya tiba-tiba kepalanya sakit," ucap Tyanca tersenyum tipis, dengan muka dihinggapi rasa khawatir.
Melihat gestur tubuh dan raut muka dari sang istri Gerry pun seakan mengerti situasi keadaan.
"Ya sudah kita nanti yang bicara aja sama Bianca, mungkin Bianca kurang enak badan mau istirahat," ucap Gerry terlihat membela.
•••
Terlihat nampak Kang Burhan sosok lelaki yang dewasa dan baik itu yang dirasakan dan dilihat oleh Tyanca, karena Kang Burhan memperlakukan Amel terlihat sangat sopan dan penuh perhatian.
"Pakai saja jaket Akang, kalau kamu kedinginan. Bentar Akang ambil dulu di dalam mobil," ucapnya Kang Burhan kepada Amel.
Tiba-tiba Amel badannya menggigil demam, dan dihinggapi rasa dingin.
Kang Burhan pun berlalu ke dalam mobil untuk membawakan jaketnya yang akan dipakaikan kepada Amel.
____
"Beruntung kalau Amel mendapatkan sosok Kang Burhan, karena dia sangat perhatian dan baik," gumam hati Tyanca.
Nampak Amel hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis. Tyanca pun berpikir kalau Amel tidak ada rasa yang lebih terhadap Kang Burhan.
"kayaknya Amel terhadap Kang Burhan biasa saja, tidak ada rasa. Beda dengan Kang Burhan, begitu perhatian dan dewasa," ucap Tyanca lekat ke kuping Gerry.
"Iya padahal dia itu selain baik udah mapan, cuma usianya lumayan agak tua, jauh dengan Amel. Tapi kalau menurutku si Amel mau nyari yang gimana lagi, daripada yang dulu si Rama lelaki brengsek," jawab Gerry sambil menatap ke arah Amel yang duduk di teras menunggu Kang Burhan yang sedang mengambil jaket di dalam mobil.
__ADS_1
_____
Tiba-tiba sang Mama datang dari pasar, Tatkala melihat Amel spontan Mama Astri memeluk erat.
"Amel kemana saja? Sudah lama kita nggak ketemu. Gimana kamu sehat?" ucap Mama Astri. Menatap lekat kepada Amel yang terlihat badannya sedikit berisi.
"Alhamdulillah, Mama gimana sehat," ucap Amel tersenyum ramah.
"Mama sehat, Amel sekarang badannya agak berisi ya, mungkin kalau tinggal di Bandung tidak ada pikiran ya Mel," goda Mama Astri.
Amel hanya tersenyum dengan mukanya yang tersipu malu.
"Bianca ke mana?" tanya sang Mama melirik kepada Tyanca.
"Dia lagi istirahat, lagi tidur Mah," jawab Tyanca sambil melirik kearah kamar Bianca.
"Kenapa dia lagi sakit?" tanya sang Mama kembali dihinggapi rasa khawatir.
Mama pun dengan cepat menghampiri kamar Bianca.
•••
Krekkkk..
Nampak Bianca sedang menatap sang anak dengan raut muka seperti penuh rasa kesal dan dendam.
_____
Entah mengapa bayangan Rama hinggap dipikirannya, tatkala dulu dia mencoba merayu Bianca sehingga anak yang memakai seragam sekolah putih biru tersebut, mau berbuat hal yang tidak sepantasnya dia lakukan, dan napsu birahi pun kian hinggap kepada mereka berdua sehingga mereka tanpa berpikir panjang melakukan hubungan terlarang tersebut.
"Aku wanita bodoh! aku wanita yang dengan mudah dibohongi oleh laki-laki hidung belang, tidak ada guna aku ini! Ngapain aku sekarang buka usaha usiaku masih belia, hancur sudah semua yang aku impikan. Cita-cita dulu menjadi seorang Dokter, pupus sudah," gumam hatinya, Amel seakan geram dengan keadaan dulu yang mengingat dirinya dengan mudah diperdaya oleh kaum Adam.
Bianca pun meneteskan air mata, bulir putih mengalir deras ke hamparan ke pipi wanita yang sedang meratapi nasibnya.
_____
Melihat sang anak terlihat sedih sambil meneteskan air mata, Mama Astri dihinggapi rasa heran dan penasaran.
"Ada apa dengan Bianca?" gumam hati sang Mama. kemudian Mama Astri pun mendekati sang anak dan mengelus rambutnya.
"Kenapa Nak! Apa kamu berantem lagi sama Tyanca?" tanya sama Mama.
Bianca menggelengkan kepala tanpa berbicara sedikitpun terhadap sang mama lalu dia memejamkan matanya seakan tidak ingin diganggu oleh sang Mama.
__ADS_1
___
"Mungkin dia sedan lagi ada masalah. Tidak mau diganggu," gumam hati sama Mama.
"ya sudah kalau kamu butuh istirahat kamu tidur aja ya, Mama mau ke depan dulu karena nggak enak ada tamu didepan dan Mama tinggalin." ucapnya. Mama Astri pun pamit dan berlalu dari hadapan Bianca.
___
kenapa Mama sama Kakak begitu peduli terhadap Amel padahal jelas-jelas dia yang mengambil Rama dariku.
Dalam hatinya Bianca berprasangka. Pikiran penuh rasa cemburu anak belia itu hinggap di dalam diri. Saat ini dia seakan ingin meluapkan rasa kecewa dan kesal terhadap Amel.
"Aku tidak mau dekat sama Amel! Lihat aja tunggu pembalasanku," ucap Bianca entah setan apa yang merasuki hati Bianca, sehingga ada rasa dendam dalam hatinya. Padahal sebelumnya dia sudah pasrah dan mau melupakan masa lalunya, tapi entah kenapa ketika tadi melihat wajah Amel bayangan pengkhianatan dari seorang Rama yang meninggalkannya kala itu karena ada wanita lain yaitu Amel terasa hinggap di dalam hati dan pikirannya.
_____
Amel dan Kang Burhan pun pulang meninggalkan rumah Mama Astri.
••
Sore itu nampak keluarga Bianca sedang menikmati makan malam mereka semua berada di meja makan.
"Kang Burhan orangnya baik dan perhatian ya, aku heran kepada Amel kenapa dia tidak mau sama Kang Burhan, kalau aku jadi dia pasti aku mau diperistrinya. Soalnya Kang Burhan itu kan sudah mapan," ucap Tyanca sambil tertawa terkekeh.
"Hai.. kamu itu ngomong apa sih!?" Gerry terlihat cemburu dan memandang lekat kepada sang istri.
___
Bianca sontak memandang Tyanca yang sedang membicarakan Amel bersama Kang Burhan.
"Aku tahu pasti si Amel suka sama si Kang Burhan tapi dia gengsi!" gumam hatinya.
___
"Iya sih, kalau Mama lihat Kang Burhan sangat dewasa dan begitu perhatian terhadap Amel. Tapi Amel nya terlihat cuek padahal kurang apa lagi ya, kalau menurut Mama dari pada memilih si Rama yang brengsek itu mending Kang Burhan lelaki mapan," sindir sang Mama.
___
"Oh, jadi Mama pengen lelaki tipe yang kayak Burhan," bisik hati Bianca. Menatap lekat kepada Mamanya yang terlihat sinis.
Dalam hati Bianca dihinggapi rasa cemburu, kenapa selalu Amel dibanggakan oleh Tyanca dan sang Mama. Padahal mereka sama-sama punya masa lalu yang suram, dan dikhianati oleh Rama.
Sekarang pun Gerry suami dari sang kakak selalu membanggakan Amel, karena di kantornya tempat bekerja, Amel seorang pekerja keras, dan karyawan yang disiplin dalam hal waktu. Semenjak Amel bekerja di Kafe milik Gerry, Usaha Gerry menjadi maju jadi Gerry pun merasa senang dengan kehadiran Amel bekerja di kantornya.
__ADS_1
Bersambung...