Pernikahan Dua Hati

Pernikahan Dua Hati
Bab: 72 Karma


__ADS_3

Tante Fani menatap wajah kedua orang-tua Amel. "Bagaimana kalau Amel bersama anaknya, tinggal di rumah Rama dan nanti Rama tidak akan tinggal diam, dia akan buka usaha," ucap sang Tante.


Nampak sang Tante ketika berucap terasa ragu karena takut menyinggung perasaan kedua orang tuanya Amel.


Mungkin Tante Fani beranggapan jika dia berbicara seperti itu seakan merampas secara halus Amel dan Cucunya, dari kedua orang tua tersebut.


•••


Dan benar dugaannya Tante Fani tidak salah, seketika itu Bapaknya Amel, langsung matanya melotot tepat ke arahnya. Dan sang Tante pun terlihat terkejut.


"Apaaaa! setelah sekian lama di tinggal dan sekarang minta anak dan Cucuku, untuk di ambil..! apa maksud kamu!" ucap Bapaknya Rama terlihat marah.


Sontak Rama dan Tante Fani sangat terkejut tatkala mendengar ucapan dari Bapaknya Amel. Mereka seakan tertampar keras dengan ucapan tersebut.


"Tenang Pak, jangan terbawa emosi," ucap sang Ibu, mencoba menenangkan sang suami dan mengusap pundaknya.


"Apa kamu tidak kasian Bu, melihat kondisi anak dan Cucumu yang kemarin sakit karena ulah lelaki itu!" sambung lagi sang Bapak.


Sontak Rama terkesiap, dia seakan tidak mengerti dengan apa yang baru saja di ucapkan oleh Bapaknya Amel.


Rama menatap lekat kepada sang Tante, dan Tante Fani hanya menghela napas secara perlahan.


"Maksud Bapak, di saat istri dan anaknya sakit, Rama tidak ada di sampingnya. Amel sakit karena memikirkan suaminya dan uang pinjaman itu," Ibu mencoba menerangkannya.


Pandangan menuju ke arah Tante Fani, dia berharap Tante Fani mengerti dengan keadaan ini.


"Padahal niat Rama baik datang kesini," ucap sang Tante, dengan pandangan tertunduk.


"Sekarang gini saja karena situasi lagi panas jadi Ibu harap beri waktu saja untuk kami berpikir,"ucap sang Ibu.


Ibunya Amel seakan memberikan harapan kepada Rama.


•••


Tapi terlihat dari raut muka sang Bapak seakan tidak setuju dengan maksud dari ucapan sang istri tersebut. Karena secara halus sang Ibu, seakan memberikan peluang untuk Rama, agar bisa kembali lagi ke pelukan anaknya tersebut.


Yang di inginkan oleh Bapaknya Amel adalah Amel dengan segera bisa menjauhi Rama atau gugat cerai Rama.


•••


Amel terlihat menangis tapi dia mencoba sekuat tenaga agar mulutnya tidak mengeluarkan bunyi suara. Hanya air mata yang meluncur deras menetes.


Melihat Amel menangis dan Tante Fani seakan memelas untuk Rama, bisa rujuk dengan anaknya tersebut. Bapaknya Amel seakan kesal dan tidak mau melihat situasi tersebut kemudian dia berlalu dari hadapan mereka.


"Kepalaku pusing, aku mau istirahat dulu," ucap Bapak seakan tidak menghiraukan situasi keadaan yang sedang terjadi.


Sang Ibu hanya bisa mengelus dada dan dia pun hanya terdiam.


"Ya sudah kita pulang dulu, ya Bu," ucap sang Tante mencoba tersenyum ramah, walau sebenarnya keadaan hatinya sedang tidak nyaman. Sang Tante seakan tahu jika Bapaknya Amel menginginkan perceraian, tapi Tante Fani percaya mungkin keadaan Bapaknya Amel sedang tersulut emosi. Jadi mending sang Tante, mengalah dulu saat ini karena jika di selesaikan dengan kepala panas tidak akan menemukan solusinya.



Tante Fani dan Rama kemudian bersalaman kepada sang Ibu dan Amel


__ADS_1


"Maafkan, aku belum jadi lelaki yang baik," ucap Rama lekat ke kuping sang istri.


Dia mencium lembut kening sang anak terlihat sedang terlelap tidur, yang tengah berada di gendongan Amel.



Amel hanya menundukkan kepalanya seakan tidak bisa berkata apa-apa. Hanya tetesan air mata yang kembali meluncur di ujung ekor matanya itu.



"Ini buat si Adek," Tante Fani seperti biasa memberikan amplop kepada Amel.



Terlihat Amel menghempas uang tersebut dari genggaman tangan Tante Fani, namun Tante Fani berusaha memberikan amplop tersebut kepada Amel.


Akhirnya Amel menerima uang pemberian dari Tantenya itu.



"Terima kasih, Tante," ucap Amel.



Sang Tante hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum, dia pun mencium anaknya Amel.


Tante Fani dan Rama nampak keluar dari rumahnya Amel. Rama mencoba menampakkan wajah tegar nya, dia tidak mau terlihat lemah di mata istri dan Ibu mertuanya itu. Ketika Rama memasuki mobil dan hendak melajukan mobil tersebut, nampak dengan spontan dia melirik ke arah Amel dan tanpa sengaja Amel pun sedang menatap tajam sang suami.


Degh


Ada rasa gemuruh di dadanya Amel yang kian menggelora. Rasa rindu, kecewa, marah campur semua menjadi satu.


Dalam hati Amel sebenarnya ingin berteriak dan berkata. "Aku masih menyimpan rasa cinta, tapi cinta itu kini musnah seiring berjalannya waktu. Cinta yang kini hinggap mungkin karena ikatan darah antara seorang anak saja. Cinta yang dulu telah di pupuk dan dibina kini musnah seketika.


•••••


Mobil keluar dari halaman rumah dan tidak nampak jelas lagi, sosok Rama terlihat hadapannya lagi.


Amel hanya mengelus dada ketika Rama jauh pergi mobilnya berlalu.


"Ayo, masuk ke dalam," sang Ibu menggandeng anaknya untuk memasuki rumah.


•••••


Sementara di dalam mobil nampak Rama melamun. Pandangannya seakan melayang jauh, memikirkan persoalan yang baru saja dia hadapinya.


"Rama, besok saja atau lusa kita ke rumah Bianca nya, Tante khawatir dengan kondisi badan kamu," ucap sang Tante yang melihat Rama terlihat badannya drop.


Rama hanya menganggukkan kepalanya.


Sang Tante pun seakan tidak banyak kata karena dia tidak mau membuat hati Rama semakin terluka.


Jika di paksakan hari ini ke rumah Bianca, pasti Rama akan di cecar pertanyaan kembali oleh keluarga Bianca, bahkan mungkin rasa kesal dan marah akan lebih, di berikan oleh keluarga Bianca, dari pada keluarganya Amel.


__ADS_1


Tiba di rumah.


Rama langsung memasuki kamar, dan mengunci kamar tersebut. Dia tersedu menangis nampak terdengar jelas oleh Ibunya dan sang Tante.



"Gimana tadi kejadian di sana?" tanya Ibunya Rama. Terlihat sedang menunggu kabar berita dari sang adik.



Sang Tante lalu menceritakan semuanya kejadian yang terjadi di rumah Amel kepada sang Kakak.


Nampak sang Kakak terdiam saat mendengar semua penjelasan dari Tante Fani.



"Aku nggak bisa berbuat apa-apa Dek, kita di pihak yang salah dan aku pasrah atas karma yang menimpa," ucap sang Kakak.



"Sabar ya, Kak," ucap sang adik.



"Tadi Bapaknya Rama datang kesini," ucap Ibunya Rama.



Sontak Tante Fani terkejut mendengar kabar berita tersebut


"Kenapa, kamu buka pintunya Kak," ucap sang adik terlihat khawatir mendengar kedatangan suami dari Kakaknya tersebut.



"Tidak sengaja tadi aku sedang di luar, ada tetangga yang nengok keadaan aku, datang kesini." jawab sang Kakak



"Terus nggak apa-apa kan," Tante Fani matanya berselancar ke badan sang Kakak, takut ada yang terluka.



"Dia cuma bilang, tentang perceraian sudah di bereskan belum, kalau belum biar dia yang urus," ucapnya.



"Dia tadi datang bersama si pelakor tidak?" Tante Fani dihinggapi rasa kesal yang teramat dalam, kepada madu dari sang Kakak.



"Iya, dia tadi bersama Rani," jawabnya lirih.



Dalam benaknya Tante Fani berpikir betapa berat beban hidup sang Kakak. Mungkin rasa sakit hati kian menyiksa, tatkala sang Kakak melihat suaminya bersama madunya datang ke rumah dengan sengaja.

__ADS_1



Bersambung...


__ADS_2