
Rama melamun.
Rasa bersalah terhadap Bianca kian menggelayuti Rama, bayangan Bianca gadis belia, polos, dan mudah tertipu lelaki dengan bujuk rayu sang lelaki buaya darat, kian mendera dalam diri Rama.
"Kalau mau gendong ayo!" sang Perawat, memberikan Bayi mungil yang beratnya
3,2 kg, kepada sang Ayah, yaitu Rama.
Rama nampak terkesiap karena dia sedang melamun dihantui bayangan Bianca.
"Iya, iya, Sus.." jawab Rama terdengar gugup.
Setelah Bayi mungil itu di gendong oleh Rama, pandangan Rama lekat ke arah sang Bayi. Bola mata sang Bayi tersebut nampak hitam pekat dengan rambutnya ikal sama seperti dirinya.
"Rambutnya ikal ya, sama seperti Ayahnya," ucap sang Bidan.
"Iya, sama kayak Rama, tapi warna kulitnya gelap, nggak kayak Mamanya putih. Hehehe.." ucap Angga, tertawa terkekeh.
"Hitam juga manis, ya," sambar sang Bidan, sambil mengelus-elus pipi sang Bayi.
Ibunya Amel kemudian mengambil Bayi mungil tersebut dari pangkuan Rama, karena Rama nampak terlihat kaku ketika mengendong sang Bayi.
"Sini sama Nenek," ucap sang Ibu, kemudian sang Ibu pun menggendong bayi tersebut.
"Sudah di kasih nama belum? Namanya siapa?" tanya sang Perawat menatap Rama.
"Sudah," ucapnya tersipu malu.
"Siapa?" tanya Angga, seakan dihinggapi rasa penasaran.
"Amera Aditya Putri," ucap Rama.
"Oh, gabungan nama Amel sama kamu ya, Amel sama Rama jadi Amera!" sang Kakak tersenyum lebar.
Rama pun nampak tersipu malu.
Ting...
Tiba-tiba suara pesan berbunyi dari gawai milik Rama, nampak Ibunya mengirimkan pesan, bahwa sang Ibu dan Bapak dari Rama, akan menjenguk ke Bidan, untuk melihat sang Cucu yang baru saja lahir.
{"Masih di Bu Bidan apa sudah pulang ke rumah?"} pesan dari sang Ibu.
{"Masih di Bu Bidan Bu, kesini saja,} balas Rama. Kemudian Rama pun memberikan alamat sang Bidan.
Satu jam kemudian orang tua dari Rama pun datang ke tempat Bidan Yessy.
Nampak terlihat dari raut muka kedua orang tua Rama, begitu gembira tatkala melihat sang Cucu.
Kedua orang tua Rama secara bergantian menggendong sang Bayi, setelah terasa puas menggendong sang Bayi, dan sang Bayi pun nampak kehausan. Kemudian sang Bayi diberikan epada Mamanya yaitu Amel, untuk diberikan ASI.
__ADS_1
Bapak dari Rama dan Amel nampak sedang ngobrol di ruang tunggu tempat pasien. Sedangkan Ibunya Amel sedang menemani Amel yang sedang memberikan Asi kepada sang Bayi di kamar pasien.
Rama diluar seperti sedang memikirkan sesuatu, tiba-tiba Ibunya Rama datang menghampiri. Ibunya Rama menatap lekat terhadap Rama, nampak dari raut muka sang anak terlihat sedang memikirkan sesuatu.
"Nak, kata Bu Bidan beli popok bayi ukuran kecil, karena stock nya tinggal sedikit lagi. Ayo kita beli, dan Ibu antar ke Mini Market," ucap sang Ibu tersenyum.
Rama hanya menganggukkan kepalanya.
Kemudian Rama dan Ibunya pergi ke Mini market untuk membeli popok. Kebetulan mereka menggunakan sepeda motor pergi ke Mini Marketnya.
Di dalam perjalanan menuju Mini Market nampak Rama, menjalankan sepeda motornya begitu pelan dan sang Ibu pun bertanya kepada sang anak, kenapa mukanya terlihat seperti sedang sakit dan lelah. Rama hanya menghela napas panjang, dan terdiam tidak bicara sedikitpun, dia terlihat sedang memikirkan sesuatu.
Tiba di Mini Market.
Setelah membeli popok, sang Ibu mengajak Rama untuk membeli roti, kebetulan ada sebuah Kafe kecil dan terlihat sepi, dan mereka memasuki Kafe tersebut.
Setelah mereka duduk dan memesan roti dan kopi, kemudian Ibunya kembali bertanya kepada Rama.
"Nak, Ibu mau tanya, Bianca usia kandungannya sekarang berapa bulan?" tanya sang Ibu, menghela napas secara perlahan.
Jantung Rama begitu berdetak lebih kencang, tatkala sang Ibu menanyakan usia kandungan Bianca.
"Mungkin tujuh bulan," jawabnya singkat.
Ibunya Rama terdiam, dalam hatinya dihinggapi rasa bersalah, tapi karena sang Ibu terbawa sifat sama sang suami, dia pun seakan terbawa pengaruh dari suaminya itu, dan tidak peduli dengan Bianca.
"Dia dimana sekarang?" sambung Ibu lagi.
Rama menggelengkan kepalanya, kemudian dia berucap dan matanya menatap jauh keluar Kafe, pandangannya terlihat kosong.
"Aku tidak tahu keberadaan dia sekarang, tapi hatiku berkata dia sudah tidak tinggal di Bandung," jawab Rama
"Kamu tidak mau mencari Bianca" tanya sang Ibu menatap sang anak.
"Ngapain Bu, aku sekarang ada istri dan anak. Fokus yang sekarang saja, itu masa laluku. Lagian keluarganya sudah tidak mengharapkan aku. Sudahlah Bu, dulu aku salah jalan," terlihat Rama seperti tersinggung.
Padahal dihatinya dihinggapi rasa bersalah. Kemudian sang ibu menepuk lembut pundak sang anak.
"Ibu tahu perasaan kamu seperti apa, dan Ibu harap kamu kedepannya jangan kembali berbuat macam-macam, sayangi istri dan anakmu," Ibu menghela napas panjang.
"Ibu jangan menggurui aku, Ibu juga sudah tidak benar, dulu tidak mau antar aku pas nikah sama Bianca," sambung lagi Rama.
__ADS_1
"Diam! karena kamu bulan depannya, mau nikahin Amel, Ibu sebenarnya dipermalukan oleh kelakuan kamu!" ucap sang Ibu terlihat kesal dan marah ketika berucap.
Percekcokan pun terjadi antara Ibunya dan Rama.
Sebenarnya Rama sangat mencintai Bianca. Mungkin cinta pertama Rama adalah Bianca. Kalau terhadap Amel, karena hanya napsu sesaat. Dahulu ketika sepulang kerja Rama, ada acara kantor dan kebetulan Amel ikut, mereka mabuk, nah disitulah terjadi hal yang tidak di inginkan, mereka melakukan hubungan terlarang.
Tapi keadaan yang memaksa harus memilih menikahi Amel yang usia kandungannya lebih besar, dan keluarga Amel yang pertama meminta pertanggung jawaban terhadap keluarga Rama, agar Rama menikahi Amel,
Ternyata di balik itu semua, Rama lelaki yang sangat playboy dengan wanita lain. Dengan Bianca pun pacaran, dia terlalu bebas mengakibatkan wanita yang masih duduk di bangku SMP itu hamil juga.
Rama memejamkan matanya, dan menutup penuh wajahnya dengan kedua telapak tangannya
Teringat masa lalu, Dia begitu dengan mudah menaklukkan hati Bianca, sebelum pergi bekerja dia tunggu Bianca, di depan jalan untuk mengantarkan sekolah. Rama begitu menutup rapih perselingkuhannya dari Amel, padahal jarak rumah Amel dan Bianca tidak terlalu jauh.
Rama kemudian membuang napas kasar.
"Tuh diminum dulu kopinya sudah dingin, ayo kita kembali ke Bu Bidan," ucap sang Mama, nampak kesal karena ketika dia meluapkan amarahnya terhadap anaknya, Rama seakan tidak mau mendengarkan.
Ting..
Tiba-tiba pesan muncul dari gawai Rama, nampak terlihat pesan dari temannya yang bernama Rudi.
{"Rama, maafkan aku ya, aku sudah berusaha mencari keberadaan dimana si Sandy berada, namun tidak ditemukan, dan aku menyerah tidak bisa bantu kamu lagi."} tulis pesan dari Rudi temannya tersebut.
Rudi adalah tema Rama, dia suruhan Rama, agar bisa mencari keberadaan Sandy, dimana sekarang dia berada.
Kebetulan dua bulan lalu Rama ada bisnis, dia mengambil barang dari temannya yang mempunyai konveksi baju.
Dia serahkan sepenuhnya barang dagangan kepada Sandy, tapi ternyata sampai saat ini Sandy tidak ada kabar, mungkin dia kabur, dan belum ditemukan keberadaannya.
Rama pun sudah beberapa kali mencoba menghubungi ponselnya Sandy, tapi nomornya sudah tidak aktif.
Raut muka Rama berubah menjadi terlihat kesal, marah, dan nampak bingung karena uang modal yang di gunakan untuk bisnis tersebut tidak kecil yaitu sekitar 100 juta.
Apalagi uang tersebut Rama meminjam dari Bapaknya Amel atau mertuanya sendiri, dan Rama berjanji akan membayar uang tersebut bulan ini.
"Ada apa Nak?" tanya sang Ibu seperti dihinggapi rasa penasaran. Karena melihat Rama, begitu gelisah seakan dihantui rasa cemas dan takut.
"Aku ditipu orang Bu," ucapnya lirih.
Badan Rama terasa lemah lunglai, kepalanya terasa pusing, dan dia terlihat beberapa kali menghela napas panjang.
Rama berpikir, apa yang harus dia bicarakan kepada istri dan mertuanya tentang dia kena tipu orang, pasti istri dan mertuanya akan marah. Dia tidak mungkin memberitahu Amel sekarang, karena baru saja pulih dari melahirkan.
"Apa! maksudnya di tipu gimana?" tanya sang Ibu terkejut.
__ADS_1
Bersambung...