
Di dalam kamar.
Gerry dan Tyanca pun nampak adu mulut.
"Mih,,aku harap kamu jangan berlaku kurang baik, sama Papamu. Aku pun sebagai menantu dengar sang Papa mertua menikah lagi, mendengarnya kesal dan merasa kecewa. Tapi, aku tidak bisa berbuat apa-apa karena aku hanyalah menantu. Bukan berarti juga aku mendukung Papamu untuk berpoligami, tapi aku hanya menghormati dia sebagai Papa mertua. Masa iya, aku tadi ikut marah. Kan, tidak lucu Mih," ucap Gerry sang suami mencoba menenangkan sang istri yang sedang tersulut emosi.
"Tapi kamu tadi seakan membela Papa!" ucapnya kembali. Tyanca pun menangis, dia saat ini mungkin butuh seseorang yang mendukung dia, dengan cara memahami hatinya yang sedang hancur karena sang Papa telah mengkhianati.
•••
Gerry pun memeluk sang istri yang keadaannya sedang gundah gulana, sang suami seakan merasakan hati dari istrinya tersebut mungkin dia butuh seseorang yang bisa memahami hatinya, dan tempat bercerita disaat sang Papa mengkhianatinya.
"Membela apa Mih, aku tidak membela hanya menghargai seorang mertua karena kita terhadap orang tua harus punya adab dalam bicara dan berperilaku. Kalau Mami.merasa berada disini tidak nyaman, bagaimana kalau kita pulang saja," ucap Gerry dengan mengusap lembut rambut sang istri yang terlihat tidak beraturan.
"Punya adab!? maksud kamu apa Pih? Papaku itu orang tidak beradab karena dia berkhianat kepada sang istri, dan anak-anaknya!" ucapnya dengan sorot mata tajam
____
"Mih,, kamu minum dulu," Gerry pun memberikan segelas air mineral kepada sang istri yang terlihat emosi. Gerry begitu sayang terhadap sang istri meskipun sang istri ketika berucap selalu terdengar emosi dan berani, mulutnya pun pedas.
___
Tyanca tertegun sejenak, seakan berpikir bagaimana caranya memberi tahu sang adik bahwa Papanya pernah menikah dengan wanita lain.
"Mih,, aku tahu apa yang sedang kamu pikirkan saat ini," ucap sang suami seakan tahu isi hati dari Tyanca, sang istri itu
"Jangan selalu mengira-ngira Pih, tidak baik," ucapnya dengan pandangan tidak mau menatap sang suami karena pikirannya masih dihantui rasa kesal terhadap sang Papa.
"Tidak mengira-ngira tapi aku menebak!" ucapnya dengan tertawa terkekeh, sambil mencubit lembut pipi sang istri, karena Tyanca terlihat lucu ketika cemberut yang dihinggapi rasa marah. Kedua alisnya mengerut dan menekan area di sekitar hidung serta bibir yang menyempit, ini yang menimbulkan rasa gemas sang suami terhadap istrinya itu.
"Kamu,,,Kepo!!" Tyanca kembali terlihat kesal ketika berucap.
__ADS_1
"Kamu pasti sedang memikirkan gimana caranya bicara terhadap Bianca, bahwa Papa pernah berselingkuh terhadap Mama. Iya,,kan? Kamu pasti memikirkan itu!?" ucap Gerry seperti menahan senyuman. Karena setelah Gerry berucap, nampak Tyanca seakan tidak bisa menyembunyikan ekspresi wajahnya yang terlihat terkejut.
"Ya,,,aku mau mempengaruhi adikku agar dia marah kepada Papa, sama seperti yang aku lakukan terhadap Papa saat ini!!" ucapnya terlihat seakan cuek dan tidak ada beban dengan ucapannya itu.
"Mih,,aku suamimu yang wajib membimbing kamu jika kamu salah, seharusnya kamu sebagai Kakak jangan mempengaruhi adikmu dengan yang salah. Masa kamu biarkan Bianca untuk marah kepada Papa seperti yang kamu lakukan. Kamu harus bersikap dewasa Mih, semua kan sudah terjadi, jadi biarkan Papamu menyadari kesalahannya, mungkin juga dia sekarang sedang berpikir tidak akan mengulangi kesalahan lagi dan aku percaya itu, pasti Papa akan berubah," ucap Gerry mencoba menenangkan sang istri yang tidak mau kalah.
____
Tok...Tok..Tok..
Tiba-tiba pintu kamar ada yang mengetuk.
"Kak,,, Kak Tyanca, Kak,,, ini aku bawakan oleh-oleh dari bu RT," teriak Bianca dari luar.
Sang Mama dan Bianca baru pulang dari rumah Bu RT dan nampak mereka membawakan oleh-oleh yang diberikan oleh Bu RT.
Krekkkk...
"Kak Gerry, kenapa Kak Tyanca!?" tanya Bianca kepada Gerry karena nampak terlihat olehnya Tyanca masih cemberut dengan pandangan tidak melihat ke arah pintu kamar, meskipun pintu kamar sudah terbuka dan di sana terlihat kedatangan sang adik.
"Sakit gigi," ucap Gerry sambil tertawa terkekeh.
Sontak Bianca pun tertawa dengan candaan yang dilontarkan oleh Gerry suami dari kakaknya tersebut.
"Tidak lucu Pih,,, orang sedang serius juga," Tyanca pun pandangannya mendelik ke arah sang suami.
•••••
Sang adik pun yang nampak sedari tadi mematung di pinggir lemari dekat pintu kamar, tiba-tiba dia menyeret langkah kakinya ke arah dimana sang Kakak sedang duduk di sana. "Kak,,ini ada oleh-oleh dari Bu RT," ucap sang adik mengelus pundak sang Kakak.
Nampak terlihat sang adik membawakan satu kresek makanan oleh-oleh yang diberikan oleh Bu RT.
__ADS_1
"Simpan saja!" jawabnya dengan menghela napas panjang. Tyanca pun seakan berpikir didalam hatinya. Mau mulai dari mana, dia akan bicara dengan sang adik mengenai sang Papa yang telah berkhianat.
Gerry pun seakan tahu terhadap isi hati sang istri bahwa dia akan membicarakan sang Papa yang telah berkhianat.
"Bianca, Kak Gerry mau membicarakan masalah Ruko dengan kamu, boleh kita bicara sebentar. Kita ke teras yu,,,bicaranya di sana!" ucap Gerry tersenyum renyah kepada Bianca.
"Tunggu dulu, kamu jangan keluar Bianca. Kakak mau ngomong serius sama kamu," ucap Bianca dengan menatap lekat ke arah bola mata sang adik.
____
Bianca pun seakan dianggap rasa penasaran ketika sang kakak berucap seperti itu.
"Mih,,,sudahlah, mungkin ini saat yang tidak tepat untuk bicara kepada Bianca nanti saja bicaranya. Kamu jangan cari-cari masalah Mih, dengarkan aku kali ini saja!" bisik Gerry menatap lekat sang istri dengan mengusap lembut pundaknya.
Gery seakan dihinggapi rasa khawatir terhadap istrinya, takut jika dia berbicara terhadap Bianca masalah sang Papa yang sudah berkhianat, Gerry berpikir nanti ada saatnya untuk bicara kepada sang adik mengenai masalah yang rumit ini.
Mungkin untuk sekarang waktunya tidak tepat. Gerry menunggu saat yang tepat untuk bicara dengan Bianca, dia tahu sosok istrinya tersebut jika berbicara selalu dihinggapi rasa emosi. Gerry takut jika Bianca pun tersulut emosi.
Gerry tahu sosok Bianca sekarang seperti apa, dia terlihat dewasa mungkin jauh beda dengan Tyanca yang sifatnya manja dan cepat tersulut emosi. Jadi Gerry akan bicara terhadap Bianca empat mata saja.
____
"Sebenarnya ada apa sih, aku jadi penasaran nih! Atau jangan-jangan kak Tyanca hamil lagi? Dan Mischa akan punya adik," ucap Bianca mencoba menggoda sang kakak yang terlihat cemberut.
"Bukan,, bukan itu," kembali Tyanca berucap dengan serius.
"Mih, nanti saja ngomongnya!" kembali sang suami berbisik lembut kepada sang istri.
Gerry takut jika berbicara kepada Bianca masalah sang Papa, takut menjadi pikirannya.
Bianca pun nampak dihinggapi rasa bingung terhadap kedua orang tersebut.
__ADS_1
Bersambung...