
Setelah kedatangan Rama dan Tante Fani, terlihat Amel termenung sendiri di jendela teras rumah, sementara sang anak masih tidur karena jam masih menunjukkan pukul 6 pagi dan suasana diluar rumah masih sepi tidak ada orang yang lewat atau berlalu lalang.
Dia nampak melihat lekat ke arah garasi halaman rumah yang baru saja kemarin sore, Rama sang suami pergi dari hadapannya.
Terngiang dari ingatannya, Rama begitu sedih tatkala pergi jauh dari hadapannya.
•••••
Amel mengenang masa lalu yang terasa indah ketika berpacaran dengan sosok Rama.
Lelaki itu yang dulu berada dan mencukupi semua kebutuhannya karena kedua orang tua dari Rama, saat itu usahanya sedang maju, tidak seperti sekarang Bapak dari Rama bangkrut dan hanya mengandalkan bisnis sang pelakor.
Amel jadi berpikir mungkin keindahan cinta akan hilang, pupus karena masalah uang semata.
•••••
Tiba-tiba Ibu datang dari dalam rumah.
"Mel.." sang Ibu menepuk pundak Amel yang sedang termenung, pikirannya melayang jauh.
"Iya, Bu," jawab Amel. Dia nampak terkejut tatkala Ibunya menghampirinya.
"Kamu sedang melamun ya," ucap sang Ibu. Dia pun duduk di samping anaknya.
Amel menggelengkan kepalanya.
"Ng-nggak Bu," jawabnya mencoba tersenyum manis. Dia tidak kalau sang Ibu dihinggapi rasa khawatir. Sebenarnya dia sedang memikirkan Rama.
Entah hati Amel sekarang dia butuh sosok Rama atau tidak, dia dihinggapi rasa tanya dalam hatinya.
___
Rasa cinta dan sayang terasa kian mengikis karena seiring waktu berjalan.
Komunitas dan kejujuran seakan meluluh lantakkan semuanya.
Hati Amel saat ini merasa di remas oleh sesosok lelaki yang tidak bertanggung jawab.
_____
"Ibu mau nyuruh kamu ke warungnya Ibu Astri," ucap sang Ibu.
Nampak Amel terdiam dan nampak menundukkan kepalanya sambil menghela napas panjang. Dia teringat ucapan Tyanca sang Kakak kelas yang mengolok dirinya.
"Harus tanggung jawab kepada anaknya! itu yang dia ucapkan Tyanca. Tatapan matanya begitu tajam. Apa itu artinya?" gumam hati Amel. Mencoba mengingat ucapan Tyanca.
Dia dihinggapi rasa, mungkinkah saat itu Tyanca sedang menyindir suaminya karena tidak tanggung jawab atau...
"Ahhh, aku sudah tidak mau memperdulikan lagi tentang Rama saat ini. Karena uang yang 100 juta juga sudah kembali ke Bapakku," bisik hatinya kembali.
________
"Iya Bu, sebentar," ucap Amel.
Dia masuk ke dalam kamar dan mengganti baju dulu, setelah sudah selesai mengganti baju kemudian, Amel pun bergegas pergi ke warung Bu Astri.
Setelah sampai di depan rumah Bu Astri. Nampak warung Bu Astri ramai di penuhi pembeli, Amel hanya duduk di kursi kayu yang keberadaannya di bawah pohon mangga, karena tepat di depan warung ada pohon mangga dan di bawahnya ada kursi tempat duduk.
Bu Astri terlihat asik melayani pembeli sampai lupa jika sedang di perhatikan oleh Amel.
__ADS_1
•••
Setengah jam kemudian barulah para pembeli mulai berlalu dari warung tersebut. Dan Nampak Amel menghampiri warung tersebut. Ketika melihat sosok Amel tepat berada di hadapannya sontak Bu Astri, tersenyum lebar karena kedatangan Amel sangat di tunggu olehnya.
"Kemana saja Neng, baru kelihatan," ucapnya tersenyum ramah.
"Kurang enak badan Bu," ucapnya seakan menyembunyikan sesuatu.
Pandangan Amel tertuju ke dalam rumah, dan Bu Astri pun seakan tahu keadaan.
"Anak-anaknya Ibu, baru saja pulang. Ibu disini sepi sendiri lagi," ucapnya.
"Kapan Bianca kesini lagi Bu?" tanya Amel.
Dia seakan teringat sosok Bianca yang perilakunya baik, jauh beda dengan Tyanca, kakak kelasnya yang cendrung jutek.
"Mungkin minggu depan, nanti Papanya mau jemput kesana," ucap Mamanya Bianca.
Kemudian Amel memilih-milih barang dagangan yang akan dibelinya. Nampak Mama Astri menatap lekat kepada Amel. Dalam hatinya dihinggapi rasa penasaran, ingin sekali dia mengetahui lebih jauh kehidupan Amel bersama Rama.
"Mungkin ini saat yang tepat aku bertanya sama Amel hari ini, karena keadaan hatinya seperti sedang tenang dan warung mulai sepi," gumam Mama Astri.
"Bu, segini saja belanjaannya, tinggal berhitung," ucap Amel.
Kemudian Mama Astri menghitung semua belanjaan yang Amel beli. Setelah Bu Astri menunjukkan semua harga yang harus di bayar, Amel pun membayar belanjaannya.
•••
"Nak, boleh nggak Ibu nanya sama kamu, kamu buru-buru nggak?" tanya lagi Bu Astri, menatap lekat kepada Amel.
"Nggak ko, Bu. Ada apa ya," dadanya bergemuruh secara mendadak karena takut ada hubungannya dengan sang Kakak kelas Tyanca, yang saat itu menyindirnya.
Kemudian Bu Astri keluar dari dalam warung lalu dia, memegang tangan Amel dan menariknya untuk duduk di kursi di bawah pohon mangga. Semilir angin terasa sejuk hinggap ke sekujur tubuh tatkala dua wanita tersebut sudah duduk di bawah pohon rindang tersebut.
"Nak, apa benar suamimu bernama Rama?" tanya Mama Astri.
__ADS_1
Amel tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya.
Entah mengapa seketika terasa dag-dig-dug jantungnya berdetak tidak karuan. Tatkala mendengar kabar dari Amel bahwa dia, istri sahnya Rama.
"Tapi maaf, sebenarnya Ibu mau mengatakan kalau Rama itu sebenarnya dulu pernah menikah dengan Bianca, anak Ibu." ucapnya menatap lekat ke arah bola mata Amel.
Amel sontak terkejut dan mulutnya terbuka lebar, dia melongo seakan tidak percaya, apa yang baru saja dia dengar dari mulut Mamanya Bianca.
"Apa aku sedang bermimpi!" gumam hatinya.
Amel menghela napas panjang.
"Apa benar yang dikatakan oleh Ibu?" tanya Amel.
"Kemudian Mama Astri mengatur napasnya lalu dia menceritakan semuanya. Kejadian yang menimpa dulu terhadap Amel bersama Rama, seakan tidak ada yang di tutupi.
Setelah semua di ceritakan oleh Mama Astri semuanya, nampak terlihat Amel dihinggapi rasa kesal, kecewa terhadap Rama.
Karena Amel pun sedang kesal terhadap Rama, yang selama ini menelantarkannya.
Dia pun menceritakan semuanya tentang dirinya kepada Mamanya Bianca.
Amel pun berpikir mungkin ini jawaban dari Tyanca yang kemarin berkata bahwa Rama, tidak bertanggung jawab terhadap anaknya.
"Yang sabar kamu Nak," ucap Mama Astri.
"Ibu tidak mau mencampuri urusan kamu dengan Rama, terserah itu kamu yang jalani dan merasakan. Apakah kamu mau lanjut atau tidak dengan suamimu itu," sambung lagi Mama Astri terdengar begitu bijak.
•••
Amel pun nampak meneteskan air mata, dia seakan dihinggapi rasa sesak dadanya. Setelah mendengar obrolan dari Mamanya Amel tentang Rama.
"Itu masa lalu Rama, tapi entah mengapa aku seakan semakin kesal kepada Rama," gumam hati Amel.
Amel badannya seakan terasa lemah lunglai, dia menghela napas beberapa kali.
"Maafkan Ibu ya," ucap Mama Astri tatkala melihat tetesan air mata yang meluncur di ekor mata Amel. Dia seakan sudah mengusik kehidupan rumah tangga Amel
"Aku justru jadi tahu Bu, semuanya. Ibu tidak salah dan justru aku merasa iba dengan nasib Bianca, kasian dia," Amel pandangan seakan kosong, tapi wajah dari Bianca hinggap menerpa. Dia pun seakan merasakan hati dari Bianca seperti apa.
Bersambung..
__ADS_1