Pernikahan Dua Hati

Pernikahan Dua Hati
Bab 84 Pertemuan Tante Fani dan Tyanca


__ADS_3

Setelah menutup sambungan telepon selularnya kemudian Tante Fani menghempaskan badannya dengan kasar di kursi sofa. Matanya terpejam dia seakan teringat kata-kata Amel, yang dengan kesal berucap. Rama adalah sosok yang tidak bertanggung jawab dan brengsek.


"Mungkin aku harus menemui Bianca, tanpa di dampingi Rama, aku tahu dia belum siap jika aku bawa ke rumah Bianca saat ini.


Mungkin ini saatnya, aku minta maaf atas kelakuan Rama yang dia lakukan dulu terhadap Bianca." ucap sang Tante.


Tante pun bersiap hendak menuju rumah Rama, dia panaskan mobilnya, setelah itu baru dia duduk di depan mobil untuk mengemudikan mobilnya.


"Tan.." ucap seorang lelaki dengan memakai kendaraan beroda dua.


"Rama, ada apa kamu kesini?" tanya Tante.


"Aku ingin cerita saja sama Tante, masalah aku dengan Amel, apa Tante ada waktu," ucap Rama.


"Tante buru-buru mau pergi, nggak ada waktu," ucap sang Tante.


"Mau kemana Tan?" Rama kembali bertanya dengan dihinggapi rasa penasaran karena sang Tante, terlihat buru-buru.


"Ke rumah teman," Tante berbohong.


"Aku antar ya, Tante," ucap Rama.


"Jangan, ada masalah penting, masalah Tante sama teman itu adalah masalah kerjaan, kamu kalau mau tinggal di rumah Tante, tunggu saja," ucap sang Tante. Kemudian sang Tante menyerahkan kunci rumah kepada Rama.


•••


Dalam hati Rama dihinggapi rasa penasaran, kenapa sang Tante terlihat seakan menutupi sesuatu. Tapi Rama menepis itu semua, mungkin hanya perasaan dia saja yang curiga terhadap sang Tante.


"Rama kembali pulang deh, nanti juga sore Rama mau ketemu teman yang mau jadi rekanan bisnis dengan Rama," ucap Rama.


"Kamu jadi ketemu dengan rekan bisnis kamu Rama? semoga Tante bisa ikut ya, dan cepat pulang. Nanti kalau acara Tante sudah beres, Tante langsung jemput kamu," ucap sang Tante.


"Iya, Tante berkabar saja, nanti aku bersama rekan bisnisku bertemu di Kafe Angsa," ucap lagi Rama.


Tante Fani pun pamit, dan Rama pun berlalu dari hadapan rumah sang Tante.


___


Ternyata tidak susah untuk menemukan rumah Bianca, karena dulu Rama pernah memberitahu alamat rumah Bianca.


"Tenang kamu Fan," Tante Fani berusaha menyemangati dirinya sendiri agar mengatur napasnya dan bersikap tenang dengan situasi yang dihadapi.


Tate Fani menghela napas panjang.


Tokk...Tokk...Tokk..


Tante Fani mengetuk pintu beberapa kali kemudian dia mengintip dari jendela pintu luar, nampak sepi di dalam rumah tanpa ada jawaban salam disana.

__ADS_1


"Assalamualaikum.." ucapnya.


Terdengar ada suara anak kecil di dalam rumah tapi terdengar samar dan tidak jelas.


Kembali sang Tante mengetuk pintu beberapa kali, mungkin barusan tidak terdengar olah sang pemilik rumah.


Nampak sang Tante begitu sabar ketika menunggu dibukanya pintu dari dalam rumah.


Krekkk..


Tiba-tiba anak kecil membuka pintu, nampak anak kecil tersebut tersenyum manis.


"Mau ketemu siapa Tante," ucap anak kecil tersebut menatap lekat ke arah Tante Fani.


"Mischa, siapa yang datang Nak," ucap


seorang wanita terdengar keras dari dalam kamar dia berucap.


Sontak pandangan Tante Fani mengarah ke dalam kamar ketika mendengar suara memanggil anak tersebut.


"Namanya, Mischa ya, cantik sekali, saya Tante Fani," ucap sang Tante tersenyum ramah.


•••


Kemudian Tyanca menghampiri anaknya yang sedang membuka pintu di ruang depan.


"Mau bertemu siapa ya," ucap Tyanca tersenyum ramah, tatkala beradu pandang dengan Tante Fani.


Tyanca dalam pikirannya menerka-nerka penuh tanya 'Siapakah wanita yang tengah berada di hadapannya ini,'


"Sebelumnya maaf, Ibunya Bianca ada?" tanyanya lagi.


"Ibu sedang pergi ke dokter bersama Bianca, karena anaknya Bianca sakit," jawab Tyanca.


"Anaknya Bianca sakit! Sudah lama sakitnya?" terlihat Tante Fani dihinggapi rasa khawatir, nampak terlihat dari raut mukanya.


"Ibu masuk dulu deh," ucap Tyanca.


___


Tante Fani memasuki rumah, matanya berselancar mengelilingi sudut demi sudut ruangan tersebut. Nampak rumahnya sederhana minimalis namun terlihat asri dan bersih, juga udara di rumah tersebut sangat sejuk terasa.


Mata Tante Fani tertuju ke arah lemari kaca, disana berjejer foto keluarga.


Kemudian mata sang Tante lekat ketika melihat foto, seorang wanita yang memakai baju seragam putih-biru, dengan rambut di kuncir dua, dia berpikir dalam hatinya. 'Inilah sosok Bianca' Dalam hatinya berkata, Bianca sangat cantik dan terlihat masih polos, jadi sayang sekali jika kemarin, dia menikah karena usianya masih sangat belia perjalanan hidupnya masih panjang. 'Semua kembali yang disalahkan sang lelaki,' Sang Tante pun, berpikir demikian.


•••

__ADS_1


"Dulu Rama pernah kesini, tapi hanya satu kali saja, Itu pun karena pernikahan dia terpaksa, dan tidak direstui oleh kedua orang tuanya," gumam hati sang Tante.


_____


"Silahkan, duduk," ucap Tyanca.


Nampak sang Tante menghela napas panjang ketika dia akan mulai berucap.


"Sebelumnya saya minta maaf, kedatangan saya kemari untuk bertemu dengan Bianca dan kedua orang tuanya, maaf ini dengan Kakaknya Bianca?" sebelum melanjutkan pembicaraannya kembali, sang Tante mencoba bertanya kepada Tyanca.


Karena muka Bianca yang terlihat di foto sama persis dengan wajah Tyanca, yang tengah berada di hadapannya.


"Ya, saya Kakaknya Bianca, nama saya Tyanca," ucapnya tersenyum tipis.


"Saya harus mencoba bersikap tenang ketika menerangkan semuanya, karena terlihat Kakaknya Bianca, orangnya tegas dan tidak lembut juga terlihat cuek," gumam hati sang Tante.


"Mungkin maaf juga kepada Nak Tyanca, maksud dari kedatangan Tante kemari untuk mewakili rasa maaf Tante, dengan kelakuan Rama! Saya Tante Fani, Tantenya Rama," ucap Tante Fani dengan mencoba bersikap tenang dan mengontrol keadaan.


•••••


Sontak mata Tyanca terbelalak tatkala mendengar nama Rama. Dadanya seketika bergemuruh.


Tyanca menghela napas panjang.


"Tante, mengapa baru minta maaf sekarang!" sorot mata Tyanca begitu terlihat sangat tajam. Dia seakan ingin menumpahkan semua rasa emosinya, terhadap Rama, yang telah tega menyakiti hati sang adik.


"Maafkan Tante, karena hubungan Tante dengan keluarga Rama, baru terjalin," ucap sang Tante.


"Terus kenapa tidak Rama saja yang meminta maaf kesini!" ucap lagi Tyanca penuh emosi ketika berucap.


"Dia keadaannya sedang sakit belum pulih betul, begitupun dengan Ibunya," ucap Tante Fani mencoba meyakinkan Kakaknya Bianca.


"Alasan! Bapaknya si Rama kemana, yang dulu menentang pernikahan Bianca, padahal kita dulu nggak mau juga kalau si Rama, menjadi suami adikku dan ini untuk sementara saja karena keadaan adikku sedang hamil, biar dinikahin saja, cukup!"


Tyanca terlihat kesal.


Tante Fani pun seakan tahu hal itu, makannya dari mulut Tante Fani, tidak ada pembelaan sedikitpun terhadap anak Kakaknya itu.


•••


Tante Fani menunduk.


"Maaf Nak, kedatangan Tante kesini untuk bertanggung jawab, dan Tante akan membiayai anaknya Rama," ucap sang Tante.


"Tidak punya harga diri sekali si Rama, seharusnya dia yang berbicara seperti ini. Datang kesini baik-baik," ucap Tyanca.


"Maafkan Tante, sekali lagi. Pasti saatnya tiba, dia akan datang kesini," ucap Tante Fani. Terdengar lirih.

__ADS_1


Dia mencoba menahan emosi jangan sampai terpancing oleh Tyanca dan akhirnya terjadi perselisihan.


Bersambung..


__ADS_2