Pernikahan Dua Hati

Pernikahan Dua Hati
Bab 96 Kecewa


__ADS_3

Nampak Tante Fani dihinggapi rasa heran karena secara tiba-tiba, Rangga memutuskan bisnis yang akan di kelola di Kota Bandung.


"Lebih baik aku mundur untuk berbisnis dengan temanku tersebut. Soalnya orang itu, menurut aku ribet. Tapi aku nanti mau cari orang yang lebih baik dan konsisten,"


ucap Rangga kepada Tante Fani berbohong, dia tidak menyebut nama dari rekan bisnisnya itu satu persatu karena kemungkinan besar Tante Fani tahu.


Dia sebenarnya tidak mau berbohong kepada Tante Fani, namun dia pun berusaha mempertimbangkan ucapan dari Tyanca dan Gerry, yang seakan memojokkan Rama.


Rangga dihinggapi rasa dilema.


Kepada Tante Fani, dia ada rasa suka dan terhadap Gerry sahabat sekaligus relasi bisnisnya.


Tapi bagi Rangga tidak perlu khawatir karena di Bandung pun dia banyak teman ataupun relasi yang akan membuka usahanya, lagi di bidang kuliner.


Dia tinggal memberi kabar kepada rekan bisnisnya yang berada di kota Bandung.


"Gimana kalau besok, kita ke Bandung, dan kita bertemu dengan Pak Helmi, dia mempunyai beberapa bisnis kuliner di Bandung. Tempatnya masih di sekitar daerah Bandung juga sih, di daerah Cihampelas." ucap Rangga.


"Terserah kamu saja, kalau aku, sepenuhnya sudah percaya sama kamu!" jawab Tante Fani.


Rangga pun nampak terlihat dihinggapi rasa gembira, karena Tante Fani sudah mulai percaya terhadapnya.


•••


keesokan harinya.


"Tante Fani pun bersama Rangga akhirnya pergi ke Bandung, untuk menemui Pak Helmi rekan bisnisnya. Tanpa di temani Rama.


Selama di dalam perjalanan nampak Tante tengah memikirkan sesuatu.


"Kenapa kamu, Fan?" tanya Rangga karena Tante Fani terlihat tidak bersemangat.


"Kakakku sakit, badannya semakin kurus. Kata dokter dari pikiran saja, stres! kerjaannya ngelamun saja. Aku khawatir," ucapnya.


"Sebenarnya dia ngelamunin apa sih?" tanya Rangga, dihinggapi rasa penasaran.


"Dia inginnya Rama, kembali sama Amel!" ucap Tante Fani.


Kemudian Rangga terdiam sejenak, dia teringat dengan ucapan Gerry, bawa Amel adiknya Angga. Dia pun penasaran dengan sosok Amel seperti apa.


Rangga memejamkan mata, timbul niat dia untuk mempersatukan Amel dengan Rama.


"Kalau aku bisa mempersatukan Amel dengan Rama, nanti aku bisa menarik simpati Fani. Dengan cara itu mungkin aku akan bisa mengambil hati Fani," gumam hati Rangga.


Rangga tidak tahu sesungguhnya Amel dan keluarganya, padahal sudah membenci sosok Rama.


"Tenang Fan! Aku mau mempersatukan Rama kembali dengan Amel," ucap Rangga.


Sontak Tante Fani terkesiap dengan ucapan Rangga tersebut, dalam benak Tante Fani berpikir "Memangnya Rangga kenal dengan sosok Amel!".


"Memangnya kamu tahu Amel?" tanya Tante Fani.


"Aku sudah cari Info, tenang saja!" ucap Rangga tersenyum kemenangan.

__ADS_1


_____


Tante Fani pun seakan berat untuk melepas Amel dia berpikir Rama yang dulu mengkhianati Amel dan Bianca.


Dia pasti akan berubah sifatnya dan Tante Fani seakan tidak mau jika Rama harus kehilangan sosok Amel.


Meskipun Rama sifatnya dulu tidak terpuji, tapi sekarang Rama berusaha untuk lebih baik perilakunya. Tante Fani ingin berusaha untuk menyenangkan hati sang kakak, karena Ibunya Rama sedang sakit memikirkan perpisahan Rama dan Amel.


_____


Tante panik menghela napas panjang.


"Pokoknya, aku harus bisa mempersatukan Rama dan Amel, gimana pun caranya. Aku sangat menyayangi Rama, utang yang 100 juta ke Bapak Amel pun aku bayar, demi Rama. Aku juga ingin menyenangkan hati sang kakak karena aku kasihan dengan Kakak sendiri, sakit-sakitan, terus menerus memikirkan anaknya itu!" ucap Tante Fani.


"Mungkin Rama sangat mencintai Amel?" tanya Rangga.


"Ya, dia sangat mencintai Amel," jawabnya.


•••


Tiba di Bandung.


Akhirnya mereka tiba juga di Bandung, mereka langsung menuju Kafe temannya Rangga yang berada di Jalan Cihampelas Bandung.


Mata tante Fani berselancar ke arah lokasi di mana Kafe tersebut berada. Tante Fani matanya berbinar karena tempat tersebut begitu strategis dan nyaman.


"Kita beruntung memiliki Kafe ini, karena tempatnya begitu strategis dan nyaman," ucap Tante Fani tersenyum sumringah sambil melirik Rangga yang sedang melihat para pengunjung yang sedang ramai di datang ke Kafe tersebut.


Dalam hati Rangga dihinggapi rasa gembira karena Fani merasa senang setelah melihat keadaan Kafe yang akan dia kelola ke depannya nanti.


•••


"Asik ya, jadi kita tidak perlu lagi cari karyawan untuk Kafe kita, karena karyawan Pak Helmi yang bekerja di Kafe ini, mereka masih bekerja di Kafe kita nanti," ucap Tante Fani tersenyum bahagia.


Meskipun Kafe tersebut sudah beralih ke tangan Rangga dan Tante Fani, tapi Pak Helmi tidak semena-mena membawa semua karyawan yang bekerja di sana.


"Iya betul Bu Fani mulai besok bisa kok ready untuk langsung terjun, karena setengah dari transaksi pembayaran tinggal transfer kan," ucap Pak Helmi yang sedang butuh uang untuk membayar utang-utangnya ke Bank.


Dia berpikir daripada disita tempat tersebut oleh Bank mending dijual saja semua asetnya, jadi setidaknya dia ada pegangan dari uang tersebut walaupun tidak tersisa banyak.


Dia perlu untuk membiayai berobat sang istri, kebetulan istri dari Pak Helmi sedang dirawat di Rumah Sakit.


"kami ikut prihatin Pak Helmi dengan cerita Pak Helmi, dan saya doa kan semoga Pak Helmi dan keluarga diberikan ketabahan dengan ujian ini, juga kepada istri Pak Helmi yang berada di Rumah Sakit cepat sembuh," ucap Rangga terlihat terharu mendengar cerita Pak Helmi.


Rangga sebelumnya sudah tahu tempat tersebut, tapi Tante Fani baru pertama kali mengunjungi Kafe tersebut.


Rangga membawa Tante Fani untuk mengelilingi sekitar Kafe tersebut, dari mulia dapur, kamar mandi dan ruangan lainnya.


•••


Keesokan harinya.


"Fan, gimana kalau sebelum kita pulang ke Jakarta, kita ketemu dulu dengan relasi bisnisku yang berada di Bandung," ucap Rangga.

__ADS_1


Rangga berpikir mau bertemu dengan Andri karena ada sesuatu hal yang harus dibicarakan, di Kafenya milik Gerry dan Rangga berpikir, Gerry dan Angga rencana akan pergi ke Surabaya tepat hari ini.


Jadi otomatis Tante Fani tidak akan bertemu dengan Gerry dan Angga di Kafe tersebut.


Rangga pun berpikir jika Gerry dan Angga bertemu dengan Tante Fani, pasti akan terjadi perselisihan karena menyangkut Rama.


"Aku sih nurut saja, soalnya aku baru merintis usaha di bidang kuliner yang penting kedepannya usaha kita lancar," ucap Tante Fani menatap lekat kepada Rangga.


"Rasanya Fani sudah mulai nurut sama aku," gumam hati Rangga dihinggapi rasa bahagia.


•••


Tiba di cafe


"Pak, rekanan bisnis di Kafe ini ada berapa orang?" tanya Tante Fani kepada Andri.


Dia seolah ingin tahu lebih banyak tentang Kafe yang dikelola oleh Andri karena pengunjung begitu ramai.


"Ada 3 tiga orang Bu, dan kebetulan orang Bandung semua." ucap Andri melirik kepada Rangga yang sedang menatap Tante Fani.


Rangga pun seakan tahu situasi keadaan, jika berbicara cukup jauh tentang rekanan Kafe tersebut adalah Gerry dan Angga, maka Tante Fani akan dihinggapi rasa terkejut. Rangga pun akhirnya mengalihkan pembicaraan.


"Oh, Iya, karyawan disini ada berapa orang?" tanya Rangga.


"Sekitar 100 orang ada," ucapnya.


•••


"Tiba-tiba saja Pak Jonas membatalkan pertemuannya, jadi aku tidak jadi berangkat hari ini ke Surabaya," ucap Gerry yang tiba-tiba datang dari arah depan.


Degh...


Gerry sontak terkejut saat melihat Tante Fani yang sedang duduk di samping Rangga, karena Gerry pernah melihat Tante Fani ketika dia datang kerumah.


Sedangkan Tante Fani tidak tahu bahwa yang tengah berada di hadapannya adalah Gerry suami dari kakaknya Bianca, karena Gerry sedang memakai masker penutup mulut dan hidung.


"Oh iya, Bu Fani, kenalkan ini Pak Gerry rekan bisnis saya di Kafe ini," Fani pun mengeluarkan tangannya ke hadapan Gerry.


Gerry pun membalas uluran tangan dari Tante Fani.


"Oh iya, silahkan dilanjut, saya mau ke belakang sebentar lihat karyawan yang kerja," ucapnya, Gerry pun berlalu dari hadapan Tante Fani.


Dia seakan menghindar takut pembicaraan mengarah ke masalah pribadi dan akhirnya Tante Fani tahu bahwa Gerry adalah suami dari kakaknya Bianca.


•••


Gerry berlalu dari halaman depan Kafe tersebut lalu dia langkahkan kakinya menuju ruangan belakanga, dimana tempat dia beristirahat jika berada di kafe.


Setelah berada di ruangan tersebut dia merebahkan badannya di atas kursi sofa, kemudian dia membuang napas kasar, dalam hatinya berpikir "Kenapa harus bertemu dan berhubungan lagi dengan keluarga Rama,".


Ting..


"Maafkan aku Gerry, aku tidak ada maksud untuk membawa Bu Fani, ke sini. Namun ini hanya kebetulan saja karena aku berpikir kamu dengan Angga jadi pergi ke Surabaya." pesan muncul dari Rangga yang berada di halaman cafe tersebut.

__ADS_1


Gerry hanya membaca isi pesan tersebut tanpa membalasnya sedikitpun.


__ADS_2