
Amel sakit.
Amel terlihat meremas selimut yang nempel di tubuhnya dengan erat. Nampak dia mengigil kedinginan, Amel sakit sudah 3 hari ini. Dia terus-menerus memanggil nama Rama sang suami yang telah di usir dari rumah oleh Bapaknya sendiri.
"Sudah Nak, kamu jangan terus menerus memikirkan Rama, pasti Rama baik-baik saja, dia sedang mencari uang, buat ganti bayar ke Bapakmu," ucap sang Ibu mencoba menyabarkan hati sang anak.
Karena Amel sakit, otomatis sang Bayi tidak mau menyusui sang Mama, karena ASI yang di keluarkan oleh Amel terasa hambar. Amel 3 hari ini tidak selera untuk makan.
"Bu, kenapa ASI ku, tidak keluar?" Amel terkejut dengan ASI yang akan di berikan kepada sang Bayi tidak Keluar.
"Mungkin kamu stres dan kurang asupan makanan jadi ASI tidak keluar," jawab sang Ibu dengan rasa khawatir karena sang Bayi merengek terus menerus kehausan.
Ibunya Amel lalu menggendong Bayi tersebut, lalu membawa keluar dari kamar dengan mengayunkan Bayi tersebut agar diam.
"Mungkin sementara harus diberi susu botol saja untuk Bayi," gumam hati Ibunya Amel.
Ibunya Amel kemudian menyuruh Angga untuk membeli susu formula di Mini market, untuk sang Bayi.
Angga datang dari Mini market.
Setelah sang Bayi di beri susu formula dari dalam botol, barulah sang Bayi bisa berhenti menangis. Ibunya Amel hanya bisa menghela napas panjang.
"Ada apa Bu," ucap sang Bapak.
Tiba-tiba sang Bapak datang dari dalam kamar, nampak dia terlihat bangun tidur.
Manakala sang Bapak melihat Cucunya sedang di gendong dan diberikan susu formula dalam botol. Bapak pun dihinggapi rasa penasaran.
"Bu, kenapa diberi susu botol?" tanya sang Bapak menatap lekat kepada Cucunya, yang terlihat air mata terlihat menetes disana.
"Amel nggak keluar ASI nya!" ucap Ibu, terlihat sedih dari raut mukanya.
"Mungkin mikirin lelaki yang sudah Bapak usir!" ucap sang Bapak terlihat kesal dan masih menyimpan rasa amarah.
"Pak, sudahlah. Ngomongnya jangan keras-keras nanti terdengar oleh Amel. Anak kita nanti akan sakit hati," ucap sang Ibu terdengar kesal dan tersinggung dengan ucapan sang suami yang menyudutkan terus menantunya itu.
"Loh, iya kan. Sudah Bapak usir, karena aku kesal dengan Rama, uang 100 juta akan Bapak pakai untuk modal usaha. Eh, malah dia serahkan begitu saja sama temannya sendiri," tegas sang Bapak.
"Bukan loh, bukan di serahkan oleh Rama, tapi Rama di tipu!" terdengar Ibu membela sang menantu.
"Iya berarti dia tidak amanah, kenapa tidak memakai uang tersebut dikelola sendiri, bukannya suruh orang lain. Itu uang besar Bu, bukan puluhan, atau ratusan!" Bapak kembali terdengar kesal ketika berucap.
Karena tidak mau ada pertengkaran antara dia san sang suami. Ibu pun berlalu dari hadapan sang suami. Dia kemudian masuk ke dalam kamar, menemui Amel kembali.
__ADS_1
Nampak terlihat Amel sedang termangu di sudut kamar, melihat sang Ibu sedang menggendong Bayinya, dan memberikan susu formula di dalam botol sontak Amel berdiri dan menghampiri.
"Bu, apakah anakku mau diberi susu formula?" tanya Amel dihinggapi rasa khawatir karena takut Bayinya tidak mau meminum susu formula yang diberikan oleh sang Ibu. Kemudian sang Ibu menatap Amel lalu tersenyum lebar.
"Kamu tenang saja dan Istirahat, Bayinya mau ko, diberi susu formula," ucap sang Ibu.
Amel terlihat menghela napas secara perlahan, dia merasa tenang. Karena sang Bayi mau diberikan susu formula.
"Bu, Bapak masih marah ya?" tanya Amel.
Dia sangat mengkhawatirkan keadaan sang Bapak yang masih marah kepada Rama, dan imbas kemarahannya itu kepada dirinya juga, karena beberapa hari ini sang Bapak tidak mau menegurnya sama sekali terlihat cuek dan tidak peduli.
"Mungkin Bapakmu perlu waktu Nak, nanti juga nggak apa-apa ko, kamu tenang saja. Biar Ibu yang menyelesaikan semuanya," ucap sang Ibu.
"Bu, Angga pamit pergi ya," ucap Angga. Dia kemudian mencium punggung tangan sang Ibu, dan nampak matanya berkaca-kaca.
"Loh, mau kemana?" tanya sang adik.
"Aku ada bisnis ke Bandung, semoga betah. Doakan ya," Angga memeluk sang adik.
Amel seketika terlihat sedih.
"Loh, ko' ngedadak sih!" Amel seakan tidak mau ditinggikan oleh sang Kakak.
Meskipun Angga itu jahil kepada Amel, tapi dia sangat perhatian dan baik.
"Sudah dari minggu kemarin ko, bilang ke Ibu!" Rama menatap sang Ibu.
Sang Ibu menghela napas, Ibu pun seakan tidak rela kalau Angga harus pergi.
"Iya, nggak apa-apa. Bandung dekat ko' bisa pulang seminggu sekali ke Jakarta," ucap sang Ibu mencoba menyabarkan dirinya sendiri.
"Yasudah Bu, mohon doanya ya, semoga Angga betah tinggal disana," ucapnya.
__ADS_1
"Sudah pamit ke Bapakmu belum?" tanya Ibu kembali.
Angga pun menganggukkan kepalanya.
~~
Nampak terlihaterlihat sahabatnya yang bernama Andri datang menjemput dengan memakai mobil sedan.
Mereka berencana di Bandung akan buka Kafe di daerah Jalan Cihampelas.
Amel membuka gorden jendela kamar, nampak Angga memasuki mobil temannya itu. Entah mengapa ada rasa sedih ditinggalkan sang Kakak tercinta. Bulir putih kembali menetes di pelupuk matanya.
Melihat sang anak terlihat sedang sedih, lalu Ibu menidurkan Bayi kedalam Box, kemudian menghampiri Amel dan mengelus lembut pundak sang anak seakan mencoba menyabarkan nya.
"Nak, kamu kan masih ada Ibu, kalau ada apa-apa, tinggal bilang ke Ibu." ucap sang Ibu.
Selama ini Amel sangat tergantung terhadap Kakaknya tersebut, apa-apa selalu mengandalkan sang Kakak, jadi disaat sang Kakak pergi Amel merasa kehilangan.
Amel kemudian memeluk erat sang Ibu, dia terlihat menangis sesunggukkan. Teringat kepada sang Kakak yang selalu dia suruh dengan seenaknya, tanpa ada jarak dan tidak ada rasa hormat sama sekali. Sang Kakak nurut begitu saja karena rasa sayang begitu tulus kepada sang adik tercinta.
"Bu, kesalahanku banyak kepada Kak Angga, aku merasa bersalah," ucapnya lirih.
"Ya, Kakakmu sangat sabar menghadapi sifat kamu yang cendrung manja dan kalau segala sesuatu harus dituruti hari itu juga," sang Ibu pun seakan tahu isi hati anaknya tersebut.
"Iya Bu, aku berharap Kak Angga bisa membahagiakan Ibu dan Bapak. Jangan seperti aku yang selalu bikin ulah dan sampai saat ini belum bisa menyenangkan hati kedua orang tua. Maafkan aku Bu," ucap Amel. Pelukannya erat sekali kepada sang Ibu.
Tiba-tiba sang Bapak datang.
"Ya, lihat contoh Kakak kamu, dia anak baik. Tidak menyusahkan kedua orang tua. Dari semenjak SMA dia sudah ada bisnis kecil-kecilan dan menghasilkan uang, bisa memberi sedikit-sedikit kepada Ibu.
Nah kamu, walaupun kemarin kerja sebelum menikah, mana ada kamu memberi kepada Ibumu, yang ada uangmu di hambur-hamburkan pakai belanja," terdengar sang Bapak sangat memojokkan Amel, dan kembali mengungkit masa lalu.
__ADS_1
"Sudah Pak," Ibu kemudian menggandeng Bapak, dan menarik Bapak untuk keluar dari dalam kamar Amel, karena Ibu tidak mau Bapak berkepanjangan memojokkan Amel.
Bersambung...