Pernikahan Dua Hati

Pernikahan Dua Hati
Bab: 77 Pertemuan Tidak Terduga


__ADS_3

"Assalamualaikum..."


Tiba-tiba terdengar suara bunyi salam dari teras rumah.


"Siapa ya, Pak, malam-malam ada tamu datang," ucap sang istri memandangi raut wajah sang suami yang terlihat masih gagah.


Ibu dan Bapak pun penuh tanya karena kedatangan tamu malam-malam.


"Wa'alaikumsalam.." balas sang Ibu.


Ibu pun bangkit di kursi dan berjalan menuju ke arah depan rumah.


Krekkk


Pintu pun terbuka lebar dan nampak sesosok wajah perempuan muda cantik dan lelaki yang sedang menggendong anaknya. Ibu tersenyum ramah.


"Mau cari siapa ya?" tanya sang Ibu, tersenyum merekah dan menatap lekat kepada tamu yang datang


"Angga, ada Bu," ucap lelaki tersebut tersenyum lebar dan pandangannya mengarah ke dalam rumah. Nampak sang Bapak sedang meneguk secangkir air dan tatapan sang Bapak, tatapannya sedang menuju ke arahnya.


"Oh, ini siapa ya, apa temannya Angga yang kerja di Bandung?" tanya sang Ibu dihinggapi rasa penasaran yang teramat karena terlihat dari cara berpakaian mereka berasal dari kota dan terlihat rapih. Mobil pun nampak terparkir di depan luar halaman rumah.


"Betul Bu, saya rekan kerjanya," jawabnya terlihat ramah dan sopan.


"Oh, silahkan- silahkan, masuk," ucap sang ibu. Mempersilahkan masuk kepada tamu yang datang.


Tamu pun masuk.


"Pak, ini loh, temannya Angga yang dari Bandung," ucap sang Ibu memperkenalkan tamunya kepada suaminya tersebut.



"Pak, saya rekan kerjanya Angga," ucap tamu tersebut tersenyum ramah dan dia pun mengulurkan tangannya. Begitupun dengan sang istri dia mengulurkan tangannya dengan senyum terbaiknya.



"Anaknya usia berapa?" tanya sang Ibu menatap ke arah anak yang tengah di gendong oleh lelaki tersebut.



"Usia Eman tahun," jawab lelaki tersebut.



"Nak, ayo salam," ucap lelaki tersebut mengajarkan sang anak agar berperilaku sopan kepada orang yang baru saja dia kenal.


Sang anakpun mencium punggung tangan Ibu dan Bapaknya Angga.



"Pintar ya, anaknya," ucap sang Ibu, sambil mencium lembut kepala rambutnya.



"Ibu dan Bapak sedang sibuk ya, Angga nya mungkin sudah tidur juga. Maaf kalau kedatangan kita kemari mengganggu waktu istirahatnya," ucap lelaki tersebut.



"Ng-nggak, ko. Kami lagi santai," ucap sang Bapak. "Silahkan-silahkan, duduk," sambung kembali Bapaknya Angga, sambil menggeserkan kursi.

__ADS_1



"Bentar, ya, Ibu panggilkan dulu Angga nya," ucap sang Ibu.


Dia pun berlalu dari hadapan tamu yang tengah ngobrol bersama suaminya itu.


Sampai di kamar Amel.


"Angga, ada tamu," ucap sang Ibu.


"Siapa Bu?" tanya Angga mengernyitkan dahi.


"Sepasang suami, istri dan bawa anaknya satu.Tapi kelihatannya dia orang berada terlihat dari penampilannya," jawab sang Ibu.


"Siapa ya," tanya Angga dalam hatinya, dihinggapi rasa penasaran. Ada tamu malam-malam datang berkunjung.


"Coba lihat dulu sana, Ibu juga baru lihat," ucap Ibunya Angga.


Tanpa pikir panjang Angga pun bangkit dari ranjang dan menepuk lembut pundak sang adik pertanda harus sabar menghadapi situasi yang tengah menimpa dirinya kini.


"Jangan melamun, gak baik. Semangat," ucap sang Kakak mencoba membangkitkan suasana hati sang adik yang hatinya sedang gundah gulana.


"Mel, ayo, tamunya kasih minum. Buatkan minum buat tamu. Iya benar yang di katakan Kakakmu itu, kamu harus kuat jangan nangis terus," ucap sang Ibu mencoba menghibur anaknya itu.


Sengaja sang Ibu berucap seperti itu agar Amel tidak terkungkung di kamar dan menangis lagi.


Angga berlalu dari kamar Amel di ikuti oleh Ibu dari arah belakang.


•••


Amel menatap Amera lalu dia mengusap lembut rambut sang anak yang ikal yang mirip dengan Rama.


Mata Amel terpejam. Dia terlihat sedang memikirkan nanti kedepannya akan seperti apa. Jika dia jadi bercerai dengan Rama, anaknya yang bernama Amera mungkin nanti tidak ada sosok Ayah.


Kemudian dia menghela napas secara perlahan. Amel pun berpikir kembali, dengan keadaan sekarang pun ada Rama sang suami, tapi itu hanya formalitas saja. Keberadaannya tidak bersama dia dan anak.


"Ya Allah, aku pasrah sekarang. Aku harus menerima kenyataan hidup ini. Buat apa mempertahankan lelaki pengkhianat itu," gumam hati Amel. Amel menghela napas panjang.


Di dekapnya erat anaknya itu dan di cium lembut. Begitu sayang Amel terhadap Amera


Di ruang tamu.


"Pak Gerry.." ucap Angga, yang tiba-tiba datang dari arah kamar Amel.



Ternyata yang datang Gerry bersama sang istri Tyanca dan anaknya Mischa. Mereka pun bersalaman. Dan nampak keduanya tersenyum lebar.



"Tahu dari mana Pak, alamatku," ucap Angga tersenyum penuh tanya kepada Gerry



"Dari KTP kamu, Hehehe.." Gerry penuh canda ketika berucap. "Ini loh, maksud saya kedatangan kesini mau kasih berkas yang ketinggalan di kantor, kan kamu ambil cuti cukup lama dua minggu. Gimana bisa fokus kerja, kalau berkasnya gak ada," Gerry tersenyum tipis.


Angga pun tersipu malu karena berkas yang seharusnya jadi pekerjaan dia selama cuti ternyata ketinggalan di kantor.


\_\_\_\_\_

__ADS_1


"Oh, ya, Pak, Bu, ini Bos nya, Angga, di tempat kerja. Alhamdulillah menemukan Bos, seperti Pak Gerry yang berhati lembut," ucapnya tersenyum manis.



Ibu dan Bapaknya Angga pun tersenyum ramah ketika menatap Gerry.


\_\_\_\_\_



"Berkasnya ketinggian ya, aku lupa, Pak," ucap Angg tersipu malu.


"Terima kasih Pak, sudah mau mampir kesini, mengantarkan berkasnya. Memangnya kalau rumah Ibunya, di Bandung nya, dimana?" tanya Angga lekat ke wajah Tyanca.



"Rumah Ibu saya, di Jalan Mawar," ucap Tyanca. "Deket kan, dari sini kalau Jalan Mawar, kesini," sambungnya kembali.


Tyanca menatap Bapaknya Angga, kemudian tatapannya lekat ke arah Ibunya.


"Sepertinya aku sudah tidak asing lagi melihat wajah dari Ibunya Angga," gumamnya.


"Angga berapa bersaudara?" tanya Tyanca, ketika menatap foto keluarga Angga, di dinding. Jaraknya nampak jauh posisinya dekat kamar Angga. Foto tersebut terlihat samar tidak jelas.


"Dua bersaudara, dia anak paling besar. Tapi adiknya sudah nikah dan punya anak. Ibu sudah tua Neng, usianya. Sudah punya Cucu. Hehehe...," sang Ibu tertawa terkekeh.


"Nggak kelihatan ko, Bu. Ibu awet muda," ucap Tyanca kembali tersenyum.


"Keluarga Angga, ramah sekali kelihatannya," gumam hati Tyanca.


"Oh, ya sampai lupa, belum di suguhi minum. Bentar ya," sang Ibu berlalu dari hadapan tamu, menuju ke dapur.


•••••


Nampak disana Amel sedang mengaduk-aduk air teh manis hangat.


"Maaf Bu, lama. Amera barusan nangis jadi aku gendong," ucap Amel sambil berusaha membuka matanya dengan lebar karena sehabis nangis matanya seakan susah untuk dibuka.


"Nggak apa-apa, ayo Sayang, kita kedepan sambut Bosnya Kakakmu, sini Amera biar Ibu gendong," ucap sang Ibu.


Ibu pun menggendong Amera dan di ikuti oleh Amel yang tengah membawa minuman.


•••••


Tiba di ruang tamu.


"Ini loh, Cucunya Ibu," nampak sang Ibu memperkenalkan anaknya Amel kepada Tyanca dan Gerry.


Sementara Tyanca sedang fokus menatap layar ponselnya.


"Silahkan di minum," ucap Amel tertunduk. Dia menyodorkan dua cangkir teh manis hangat di meja.


"Nah, ini adiknya Rama," ucap Ibu.


Sontak Tyanca pandangannya tertuju kepada adiknya Angga, dan betapa terkejut ketika Tyanca melihat sosok adik dari Angga itu adalah Amel.


"Amel.." ucap Tyanca.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2