Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa

Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa
Aku Kembali


__ADS_3

Mobil yang dikendarai Badrun sudah sampai di Pondok. Badrun sengaja mengantar Tiara sampai ke deoan rumah.


Kebetulan Umi sedang ada di teras depan. Umi terlihat senang melihat kedatangan mereka, apalagi Tiara diantar Badrun.


Setelah berterima kasih pada Badrun, Tiara pun keluar dari mobil dan segera menghampiri Umi.


Tiara mengucap salam dan memeluk Umi. Seperti anak kecil yang sudah lama berpisah dari ibunya saja.


"Alhamdulillah..., kamu sudah pulang, itu ajak masuk dulu, kasihan, biar shalat dzuhur fulu di sini, sebentar lagi juga adzan", Umi melirik ke arah Badrun.


Tiara merasa aneh dengan ucapan Umi. "Dia itu sopir Umi", tegas Tiara.


"Iya..., Umi tahu", Umi menghampiri Badrun yang akan memarkir mobilnya.


"Nak..., mampir dulu !, sebentar lagi dzuhur, pamali nanti keadzanan di jalan", teriak Umi.


Tiara sampai bengong melihat tingkah Umi. Badrun pun merasa tidak tega kalau harus menolaknya.


Badrun menghentikan mobilnya dan ia segera turun dari mobil. Badrun menyalami Umi.


"Mampirlah sebentar, Umi tadi memasak makanan kesukaanmu, capcay, Umi banyakin kembang tahunya juga, eh...., nggak tahunya kamu benar-benar datang mengantar Tiara, jadi mampirlah!, kita makan dulu", senyum Umi.


"Aduh..., jadi merepotkan Umi", Badrun menunduk.


"Tidak, tidak merepotkan", senyum Umi.


Tiara merasa makin aneh saja melihat kedekatan Umi dengan Badrun, padahal setahu Tiara, mereka baru bertemu beberapa kali saja.


Namun Tiara tidak berani banyak bertanya, ia mengikuti Umi dan Badrun yang sudah lebih dahulu masuk menuju dapur.


"Sini, kamu pasti belum makan, ini ada capcay, masih hangat, Ayo Tiara makan sekalian?", Umi melirik Tiara yang makin bengong dengan tingkah Uminya.


"Euh, tidak usah Umi, sebentar lagi juga dzuhur, saya mau ke Masjid saja", tolak Badrun. Ia bisa melihat tatap penuh tanya dari Tiara.


"Ah...iya, biar nanti saja sesudah shalat mampir lagi ke sini", tatap Umi, ia sedikit kecewa rupanya.


"Iya...Insha Allah...Umi", rengkuh Badrun. Ia segera menuju Masjid, bukan hal baru baginya, Badrun sudah mengetahui dengan pasti ke mana ia berjalan.


Tidak butuh lama baginya untuk sampai di Masjid. Kebetulan Masjid masih terlihat sepi, Badrun pun inisiatif untuk mengumandangkan adzan.


Suaranya yang merdu, tidak kalah dari Ustad Fikri dan Robi. Semua santri yang mulai berdatangan saling pandang, mereka merasa asing dengan suara Badrun.


Namun berbeda halnya dengan Umi, ia merasa bahagia, "Alhamdulillah akhirnya dia kembali, Umi sudah merindukan suara itu", gumam Umi.

__ADS_1


Tiara pun sama, ia menatap Umi, "Suara siapa itu Umi?, rasanya asing",


"Itu suara orang tadi Ara?, sopir tadi", senyum Umi.


"Sopir ?, kok bisa", Tiara mentautkan kedua alisnya.


"Suaranya bagus, seperti lulusan Pesantren saja", gumam Tiara.


Umi melirik Tiara dengan tersenyum. Hatinya merasa bangga, ternyata walau Badrun lama di sel pun, ia tidak melupakan ajaran-ajaran dari Pesantren.


"Mungkin juga ", senyum Umi.


Ustad Fadil dan Ustad Dzaqi saling pandang begitu sampai di Masjid, mereka sudah tidak asing lagi dengan suara muadzin itu.


Namun mereka tidak banyak bicara, mereka langsung duduk di shaf depan bergabung dengan para santri.


Badrun kembali ke tempat duduknya, ia tersenyum terhadap para santri yang sudah hadir. Fadil dan Dzaqi kembali saling pandang. Mereka sepertinya sedang mengingat siapa orang yang ada disampingnya.


Apalagi bagi para para santri baru, mereka benar-benar asing dengan Badrun.


Ada orang yang sedari tadi memandangi Badrun, ia adalah Mang Daman.


Mang Daman sudah bertemu sekali dengan Badrun saat dibawa oleh Robi.


Selesai shalat, Badrun yang baru keluar dari Masjid, dijegal oleh Ustad Fikri yang berdiri di shaf belakang, ia digandeng paksa menuju tempat wudhu.


Badrun tidak bisa mengelak, ia menurut saja saat tubuhnya setengah diseret oleh Ustad Fikri. Sayangnya kejadian itu berlangsung cepat dan tidak diketahui oleh siapa pun.


"Untuk apa kamu kembali ke sini hah...?!!", bentak Fikri saat sudah berada di tempat wudhu. Fikri mendorong tubuh Badrun ke tembok dan menahannya dengan lengannya yang memegangi kerah baju Badrun.


"Oh...rupanya kamu masih mengenali aku ..., baguslah", senyum Badrun. Ia tetap bersikap tenang, tidak terprovokasi oleh tindakan Fikri.


"Kini saatnya kamu mempertanggungjawabkan semua ulahmu Ustad", senyum Badrun.


"Tutup mulutmu!!!, lihat saja, kalau sampai mulutmu ini banyak bicara, aku akan bungkam untuk selamanya", Fikri menutup kasar mulut Badrun dengan tangannya.


"Lepaskan !!, tidak perlu kasar begini Ustad, malu , ini masih di Pondok, apa begini sikap calon mantu Abah, calon pengganti pimpinan di Pondok ini?, andai Abah tahu aslinya kamu, Tiara tidak mungkin akan diberikan padamu", tegas Badrun.


"Abah tidak akan tahu kalau mulutmu ini tidak berkicau", Fikri bicara dengan penuh penekanan dan kali ini dia tinju juga perut Badrun.


"Ingat, ini baru peringatan !!, kalau kamu banyak tingkah, kamu akan kembali merasakan dinginnya lantai hotel prodeo", Fikri menghempaskan tubuh Badrun dari kungkungannya. Dan ia pun segera berlalu meninggalkan Badrun yang terhuyung.


Namun ada seseorang yang menangkapnya, ia menopang tubuh Badrun yang limbung. Ia adalah Mang Daman, yang sedari tadi mengikuti Badrun. Ia melihat semua yang dilakukan Fikri kepada Badrun.

__ADS_1


Mang Daman membawa Badrun duduk di teras samping Masjid.


"Nak Badrun tidak apa-apa?, memang sudah keterlaluan Fikri, Abah harus segera tahu, sebelum terlambat, menyerahkan Tiara kepada orang bejat itu", geram Mang Daman.


"Kenapa Nak Badrun tidak melawan?", tatap Mang Daman.


"Tidak Mang, saya tahu, Fikri itu licik , kalau dilawan, bisa-bisa saya lagi yang jadi korban, dia itu pintar memutarbalikkan fakta, seperti yang dulu ia lakukan kepada saya Mang", jelas Badrun.


"Kenapa Nak Badrun ada di sini?",


"Saya bekerja menjadi sopirnya Pak Robani dan Bu Arimbi Mang, saya mendapat remisi, jadi bisa bebas lebih cepat",


"Oh..., apa Abah sudah tahu?", tatap Mang Daman.


"Sepertinya Abah tidak mengenali saya Mang, sudah beberapa kali bertemu juga, tapi kalau Umi langsung mengenali saya saat pertama bertemu juga",


"Mungkin Abah takut keliru, jambangmu ini yang hampir membuat Mang tidak mengenali Nak Badrun, tapi tak apa, lama-lama Abah juga pasti mengingatmu Nak",


"Tolong, awasi Tiara, jangan sampai jadi dengan Ustad Fikri, apalagi katanya kini Den Robi pulang ke rumahnya, makin luas saja kesempatan Ustad Fikri",


"Iya...Mang, saya akan berusaha, semoga Abah cepat mencium kebusukan Fikri",


"Terima kasih Mang, saya harus segera kembali ke Rumah Sakit, hari ini Robi sudah boleh pulang", pamit Badrun. Ia berdiri dan bersalaman dengan Mang Daman, setelah mengucap salam, ia pun berlalu menuju rumah Abah .


"Umi..., maaf saya mau langsung pamit saja, sekarang Robi sudah bisa pulang dari Rumah Sakit, dan untuk sementara akan dibawa pulang je rumah dulu", ucap Badrun begitu sampai di rumah Abah.


"Iya, Tiara juga sudah cerita soal itu, Umi harap Nak Robi cepat pulih dan segera bisa mondok lagi di sini",


"Iya Umi, kalau begitu saya permisi, Assalamu'alaikum",


"Wa'alaikum salam", serentak Umi dan Tiara.


Di halaman, Badrun bertemu dengan Abah yang baru datang dari pengajian.


Entah apa yang terjadi, kali ini Abah menatap lekat Badrun yang ada dihadapannya, Abah sampai menahan dada Badrun dengan tangannya.


"Tunggu !!!, tunggu...., kamu ...kamu ini...", Abah menatap Badrun lekat.


"Kamu Badrun kan??!!, anak tidak tahu diuntung itu?, anak yang sudah mencorengakan aib ??!!, berani sekali kamu kembali ke sini ??!!", Abah tanpa di duga menampar wajah Badrun.


"Abah...., hentikan !!....", Umi setengah berlari menghampiri dab berdiri diantara Abah dan Badrun.


"Abah..., dia sudah menebus semua salahnya, maafkan dia!!!", lirih Umi.

__ADS_1


Tiara yang mengikuti Umi mematung melihat kejadian itu, ia sungguh tidak mengerti.


__ADS_2