Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa

Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa
Akhirnya Ketemu Juga


__ADS_3

Marisa dan Dery sudah sampai di Rumah sakit, dimana Bu Arimbi di rawat.


Mereka langsung menuju ruangan rawat inap VIP . Mereka bertemu dengan Bi Mimi yang baru dari Kantin membeli makanan ringan dan tisue.


"Non Marisa?, pagi -pagi sudah sampai di sini?, pasti mau mengunjungi Nyonya ya", senyum Bi Mimi.


"Iya Bi, tidak mengganggu kan?, Tantenya sudah bangun?", tatap Marisa.


"Ya, tidak Non, dari pagi juga Nyonya sudah bangun, soalnya semalaman Nyonya juga tidak bisa tidur, menunggu Den Robi tidak datang lagi ke sini", jelaskan Bi Mimi.


"Jadi benar Bi, Robi masih hidup?", Dery menatap Bi Mimi.


'Aduh..., bagaimana ini, bicara apa adanya saja , kan Non Marisa juga sudah tahu dari Nyonya', pikir Bi Mimi. Ia sedikit bimbang.


"Euh...iya , Den Robi masih hidup, itu yang Bibi lihat, dia beberapa kali pulang ke rumah, keadaannya baik-baik saja", terangkan Bi Mimi.


"Tapi kenapa sekarang tidak ada di sini?", penasaran Marisa.


"Kemarin Den Robi sempat marahan dengan Nyonya, jadi dia pergi, dan sampai saat ini belum kembali ke sini", kembali Bi Mimi menerangkan.


Marisa dan Dery saling pandang, kini mereka makin yakin saja kalau Robi memang masih hidup.


"Ayo, attu Non, Den, bukannya mau mengunjungi Nyonya?, Bi Mimi menatap Dery dan Marisa.


"Euh..., iya Bi, Bibi duluan saja, kami ada urusan sebentar, ini mau mengambil hasil tes kemarin", alasan Marisa. Ia menggaet tangan Dery dan segera menjauh dari Bi Mimi.


"Kenapa kok malah pergi, katanya mau bertemu ibunya Robi, tapi malah buru-buru pergi", Dery menggerutu sambil mengikuti langkah cepat Marisa.


"Kita sudah dapat informasinya, itu yang penting, Robi masih hidup Dery, itu bahaya bagi kita, kamu harusnya mikir, kenapa Robi tidak langsung menemui kita kalau masih hidup, dia lagi merencanakan sesuatu buat kita, itu yang harus kita selidiki", sewot Marisa.


Mereka sudah sampai kembali ke parkiran dan memasuki mobil kembali. Sejenak mereka diam, dengan pikiran masing-masing yang melayang.


"Sekarang kita harus cari tahu, dimana Robi", Marisa menatap Dery.


"Aku yakin, Robi sedang menjalankan rencana , dan entah apa itu, yang pasti kita yang jadi sasarannya",


"Ah..., jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan", Dery melirik Marisa.


"Kamu itu yah, diberi tahu ngeyel, nanti nyesel ", cemberut Marisa.


"Terus..., Gue harus berbuat apa?, kita kan belum tahu sekarang Robi ada dimana?, kita balik saja dulu ke bengkel, kita bicarakan hal ini dengan kawan-kawan di sana", ajak Dery.


"Nah gitu dong..., kamu itu harus bertindak cepat, kalau Robi bertindak, kamu yang bakalan menyesal, ingat..., bengkel itu akan kembali menjadi milik Robi", ingatkan Marisa.


"Iya...iya..., kita susun rencana bareng anak-anak di bengkel", Dery segera melajukan mobilnya menuju bengkel.

__ADS_1


"Bro...Bro...Bro..., bangun!, Bos balik tuh", Ronald mengingatkan Ilyas yang masih rebahan di kursi sambil mantengin ponselnya.


Seketika Ilyas melompat dan menghampiri Robi yang sedang mengecek sepeda motornya.


"Teliti banget Loe, memangnya ini yang mau dipake balapan nanti?" , Ilyas ikut memegang salah satu alat bengkel di sana biar kelihatan kalau dia juga sedang bekerja.


"Iya..., cuma ini motor milik Gue", Robi melirik Ilyas.


"Hai, kalian, ngumpul sini, ada hal penting ysng harus kalian tahu", seru Dery begitu sampai di bengkel.


Di sini saja ngobrolnya mumpung bengkel sedang sepi", ajak Dery lagi. Mereka duduk bersama di kursi yang ada di depan mini cafe.


Hanya Robi yang tidak ikut , dia sengaja tidak di ajak karena dianggap anggota baru. Namun Robi masih bisa mendengar pembicaraan mereka walau samar-samar.


"Apa?, Robi masih hidup?", terdengar suara Ronald . Robi melirik dengan ujung matanya.


'Eum..., sepertinya mereka sudah tahu', batin Robi bicara. Ia kembali pura-pura menyibukan diri dengan sepeda motornya.


"Kita harus segera tahu, dimana Robi sekarang?, kita harus tahu juga kenapa Robi menghindar dari kita, kalau dia masih hidup, harusnya kembali ke kita, ini nggak kan?, kenapa?", Dery bicara dengan suara keras, hingga Robi dengan jelas bisa mendengarnya.


"Dengarkan Gue , kita semua harus hati-hati!, Robi sudah kembali, tetapi bukan untuk kita", jelas Dery.


"Ngapain dia masih di sana, bukannya ini sudah waktunya pulang?", Dery melirik Robi yang masih anteung dengan sepeda motornya.


"Biarkan saja, dia lagi cek sepeda motornya, itu nanti yang akan dipake balapan dengan Eko", bela Ronald.


"Yah..., kita lihat saja nanti, dia kan yang mewakili kita, harusnya dukung dia", timpa Ilyas.


Robi segera membereskan sisa pekerjaannya, dia memarkir kembali sepeda motornya dan segera menuju kamar kostnya, meninggalkan Dery bersama teman-temannya.


"Eum..., mereka sudah tahu, dan sedang mencari tahu, aku harus lebih hati-hati!", gumam Robi.


*


*


Tiara baru sampai di rumahnya, setelah dari bengkel tadi, ia mampir ke pasar untuk membeli keperluan di rumah, tadi sebelum berangkat, Umi memberinya daftar belanjaan.


"Assalamu'alaikum", Tiara memasuki rumahnya. Di dalam tampak sepi, Abah dan Umi pasti masih di tempat pengajiannya masing-masing.


Tiara menuju dapur untuk menyimpan barang-barang belanjaannya, di sana pun tampak sepi.


Lalu Tiara menuju kamarnya. Dan alangkah kaget dan marahnya ia saat mendapati kamarnya dalam keadaan berantakan. Satu lemari yang berisi buku-buku kuliahnya tampak kosong, semua isinya berserakan di lantai, dengan beberapa kertas sudah dilipat menjadi bentuk pesawat.


"Astaghfirullah...., Ya Allah..., ini perbuatan siapa?", Tiara menggeretakkan giginya, ia sedang menahan marah.

__ADS_1


Tidak ada seorang pun yang ada di sana.


"Ini perbuatan siapa?", kembali Tiara bicara setengah berteriak, sambil melirik ke semua penjuru kamar untuk menemukan pelakunya, namun tidak ada.


Di luar terdengar suara orang mengucapkan salam, Tiara menjawabnya sambil memburu ke luar kamar.


Ternyata Abah dan uminya sudah pulang bersama Gilang yang bergelayut manja di tangan Abah.


"Kenapa cemberut begitu", tanya Umi Anisa.


"Umi, siapa yang tadi masuk ke dalam kamar Ara?", tanya Tiara.


"Tidak ada siapa-siapa..., selain Gilang", ucap Umi.


"Teteh...Teteh..., tadi Gilang buatkan pesawat yang banyak buat Teteh, bagus ya Teh?", celetuk Gilang polos sambil memburu Tiara.


"Oh...jadi semua ini ulah kamu, kenapa buku-buku Teteh di buat berantakan?, bagaimana kalau ada yang rusak dan sobek, itu buku-buku kuliah, mahal, nyarinya juga susah", bentak Tiara.


Gilang langsung merenggut, tertunduk, dan berlari ke belakang Abah, ia bersembunyi di sana",


"Neng..., jangan berlebihan begitu..., lihat!, Gilang sampai ketakutan", ingatkan Abah, ia memegangi tangan Gilang.


"Tapi ini sudah keterlaluan Abah, dia sudah berani memasuki kamar Ara tanpa ijin, dan malah mengacak-acak buku kuliah Ara lagi, pokoknya Teteh marah sama Gilang", Tiara langsung menuju kamarnya dan menutup pintu dengan keras.


"Sudah..., tidak apa-apa, nanti juga Teteh baik lagi, lain kali, kalau mau masuk ke tempat orang, harus ijin dulu, tidak boleh main masuk saja, apalagi membuat kekacauan, atau berantakan", Abah mendekap Gilang dan menasehatinya.


"Sekarang tidur dengan Abah, kita belajar lagi", Abah menggandeng Gilang menuju ruang bacanya.


Sementara Tiara menatap kamarnya yang penuh dengan kertas berbentuk pesawat buatan Gilang. Ia mulai merapikan buku-bukunya, dan menyimpannya kembali ke dalam lemari.


Ia juga punguti kertas-kertas berbentuk pesawat dari atas tempat tidur, dan lantai kamarnya.


Saat ia punguti kertas -kertas itu, ada satu lembar yang menarik perhatiannya, setelah ia ambil dan baca, itu adalah kwitansi pembelian motor Robi dulu, ia lihat nomer seri nya , dan ingatannya kembali pada saat ia mengikuti motor Dery, yang disangkanya Robi dulu.


"Alhamdulillah..., ketemu , ini yang dicari-cari", gumam Tiara. Ia simpan kertas itu dalam tas selempangnya. Dan melanjutkan kembali membereskan sisa kertas yang masih berserakan.


Setelah selesai, ia ambil ponselnya dan ia cari Foto yang dulu ia ambil di jalan.


"Aduh...., mana lagi, mudah-mudahan masih ada", gumam Tiara. Ia terus mengscroll galeri dari ponselnya.


"Nah...ini dia, D 2789 AR", lalu Tiara samakan dengan Nomer seri yang ada di kwitansi.


"Hah...., kok cocok", Tiara terdiam, ia mematung, berbagai spekulasi berseliweran di kepalanya.


"Ini flat nomer sepeda motor Robi", gumam Tiara dalam keterpakuannya.

__ADS_1


"Jadi apa hubungannya Robi, Dery, dan Rahmat, mana bisa sepeda motor mereka flat nomernya sama", gumam Tiara.


,


__ADS_2