Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa

Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa
Merasa Bodoh


__ADS_3

Tiara mengikuti Robi menuju ke kamarnya. "Kita makan bareng di kamar aku saja ya?", tawari Robi, ia melirik ke arah Tiara yang membuntutinya dari belakang.


"Tenang saja, kita buka saja pintu kamarnya, biar tidak ada orang curiga atau berprasangka buruk terhadap kita, kita tidak akan di grebeg lagi seperti kemarin", senyum Robi.


"Iya..., tapi tidak begitu juga, ini tempat umum, siang hari lagi, tidak apa-apa kita makan di dalam saja, lagi pula kita hanya mau makan kan?, tidak macam-macam", senyum Tiara.


Tiara mengikuti Robi masuk ke dalam kamarnya, mereka makan bersama di sana. Robi memperhatikan cara makan Tiara, ia harus menyingkap niqobnya setiap kali akan menyuapkan makanan ke mulutnya.


'Pantas saja ia tidak mau makan di sana, ini sebabnya', pikir Robi, ia tersenyum memperhatikan Tiara.


" Makan yang benar, aku tahu kamu sedang mentertawakan cara makan aku, iya kan?", ucap Tiara tanpa melihat ke arah Robi.


"Kenapa tidak dibuka saja niqobnya, itu akan mempermudahmu",


Tiara melebarkan kelopak matanya ke arah Robi.


"Tidak apa Tiara, lagi pula aku kan sudah pernah melihat wajah kamu", ucap Robi setengah berbisik.


"Aduh..., jangan bahas itu lagi, aku malu tahu, lagi pula itu tidak sengaja, aku lagi sakit, itu darurat, kalau aku sadar, mana mau ", cibir Tiara.


"Tiara...", panggil Robi, ia menghentikan kegiatan makannya. Lalu beralih menatap ke arah Tiara yang masih asik melahap makanannya, sampai ia tidak sadar kalau Robi kini sedang memperhatikannya.


Sampai Tiara baru sadar saat tak terdengar lagi suara piring menyentuh sendok, dan tidak ada lagi suara kerupuk yang digigit Robi.


"Kamu kenapa?", Tiara menunduk begitu sadar Robi kini sedang memperhatikannya.


"Hai..., kamu kenapa sih...", Tiara kini menaruh sendok yang sedang dipegangnya, dan beralih menutup semua wajahnya.


"Tiara..., apa tidak sebaiknya kita halalkan saja hubungan kita", ucap Robi.


"Apa...?, maksud kamu ....",


"Kita menikah saja Tiara", sambar Robi.

__ADS_1


"Apa...?, kita...?, di sini...?", tatap Tiara.


"Aku pikir itu yang terbaik bagi kita di sini, kita tidak tahu sampai kapan kita di sini, kalau sudah halal kan kita tidak perlu takut di grebeg lagi, kita juga bisa bebas kemana-mana berdua", jelaskan Robi.


Tiara diam, ucapan Robi ada benarnya. "Tapi bagaimana dengan Abah, masa kita menikah tanpa restu dari Abah?",


"Itu bisa kita atur, kita bisa telepon Abah dari sini, atau kita nikah pura-pura saja, yang penting, kita aman di sini, tanpa takut di grebeg warga, bagaimana?", ucap Robi.


"Maksudnya kita nikah bohongan kitu?", tatap Tiara.


"Mau nikah beneran juga tidak apa-apa", senyum Robi.


"Itu maunya kamu", Tiara mengerucutkan mulutkan ke arah Robi.


"Ini cara terbaik untuk kita berdua, kita minta bantuan sama Usep dan Dani saja, biar mereka yang urus semua",


"Sebentar..., aku tidak setuju, aku tidak mau, untung di kamu itu",


"Tapi...itu tidak baik Robi, kita sudah berbohong, kita sudah mempermainkan pernikahan",


"Ya...., kalau begitu kita nikah beneran saja", Robi menaik turunkan alisnya.


"Iihh...., itu mah maunya kamu",


"Memangnya kamu tidak mau gitu ?", Robi kembali menatap Tiara sambil mengulum senyum.


"Aku mau menikah dengan ijin dan restu dari Abah, aku tidak mau jadi anak durhaka", lirih Tiara.


Robi terdiam, ia kini menunduk, raut mukanya kini terlihat sedih. "Oh...iya, aku lupa Tiara..., kamu itu sudah dijodohkan dengan Ustad Fikri, aku ini bodoh, masa mengajak calon istri orang menikah, maafkan aku ya, sudah !, tidak usah dipikirkan ucapan aku tadi, anggap saja aku mengigau",


"Habiskan dulu makananmu, jangan sampai mubazir, iya kamu ini bagaimana, jam segini sudah ngelindur saja", senyum Tiara, dia mencoba mencairkan suasana lagi , ia tahu Robi sedang kecewa. Padahal sebenarnya Tiara pun merasa senang , ia bisa saja langsung mengiyakan ajakan Robi tadi, tapi ia takut, ini akan mengundang kemarahan dari Abah, itu yang sangat Tiara hindari.


Robi pun akhirnya terdiam sambil melanjutkan makannya, ia mengunyah dengan malas, namun isi piringnya habis juga.

__ADS_1


"Alhamdulillah..., habis juga", gumam Robi, ia lalu kembali melirik ke arah Tiara.


"Tiara, apa kamu tidak curiga dengan seseorang?",


"Seseorang siapa?", Tiara bicara sambil membereskan bekas makan mereka.


"Orang yang sudah membuatmu berada di sini, orang yang berusaha menculikmu", jekaskan Robi.


"Siapa?, aku tidak tahu, mungkin mereka orang iseng saja",


"Iseng bagaimana Tiara, mereka jelas-jelas sudah merencanakan ini, mereka tahu sedang tidak ada Abah di rumah , hanya saja aku juga sempat bingung, apa tujuan mereka menculik kamu?, uang?, rasanya tidak mungkin, ini ada orang dalam yang terlibat",


"Maksud kamu...., ada santri yang sengaja mekakukannya begitu?, ah tidak mungkin, untuk apa dan siapa lagi, mereka semua baik",


"Iya sih, mereka semua baik, apalagi Ustad Fikri, ia itu kan calon suami kamu, mana mungkin ia melakukan hal buruk pada kamu kan?",


"Kenapa?, kamu mencurigai Ustad Fikri yang menculik aku, begitu?, tidak mungkin", Tiara mengerling ke arah Robi.


"Iya, sudah aku duga, kamu tidak akan mencurigai dia, lalu siapa?, tapi seandainya Ustad Fikri yang bersalah, atau dia yang menyuruh orang berbuat jahat gimana?", selidiki Robi.


Kembali Tiara mengerling ke arah Robi, "Kamu ini aneh, Ustad Fikri itu baik, tidak mungkin dia, dia itu bahkan sangat mencintai aku, mana mungkin ia begitu, ini mah akal-akalan kamu saja, untuk menyingkirkan Ustad Fikri, biar kamu bisa bersama aku kan?", tuduh Tiara.


Robi terkesiap, ia tidak menyangka Tiara bisa bicara begitu terhadapnya. Ini membuat Robi merasa bodoh dihadapan Tiara karena ia dianggap sudah menyebarkan berita bohong, bahkan ia sudah dianggap menyebarkan fitnah terhadap Ustad Fikri.


"Astaghfirullah...., bukan itu maksud aku Tiara, tapi ini baru dugaan saja, aku hanya minta pendapat dari kamu saja, memang iya, tidak mungkn Ustad Fikri yang mendalangi penculikan kamu, dia itu kan mencintai kamu, dia itu calon suami kamu, dia itu calon pengganti Abah untuk menjadi pimpinan Pondok, pasti ada orang lain", ralat Robi.


"Sudah !, jangan pikirkan ucapan aku hari ini ya?, anggap saja aku mengigau, anggap saja aku meracau, atau anggap saja aku sedang kacau, hingga ucapanku ngawur", ucap Robi sambil menggaruk kasar kepalanya.


Tiara hanya melihatnya sekilas dengan pandangan sedikit aneh, namun Robi tidak ambil pusing, ia paham, tidak seharusnya ia bicara soal Fikri kepada Tiara .


"Mungkin ini ada hubungannya dengan Nyimas", gumam Robi.


"Apa, Nyimas ..., kok Nyimas sih?, kamu tambah ngawur saja", Tiara kini melotot ke arah Robi.

__ADS_1


__ADS_2