
Di Pondok, keadaan Abah makin lemah saja, sepertinya sakit Abah kembali kambuh, Tiara dan Umi sudah membujuknya untuk membawa Abah ke Rumah Sakit, namun Abah menolaknya.
Abah ingin menyaksikan Tiara wisuda dulu, itu alasannya. Tentu saja keadaan ini dimanfaatkan Fikri untuk berkuasa di Pondok.
Tiara mau tidak mau harus mulai menerima Ustad Fikri , ia kini mulai diantar jemput oleh Fikri saat ke Kampus.
Seperti pagi itu, Tiara akan menyerahkan tugas akhirnya ke Kampus, yang hanya tinggal menunggu jadwal sidang saja.
Tiara kembali diantar oleh Ustad Fikri. Hal itu bisa dilihat oleh Robi yang kebetulan sedang di jalan menuju Kantor.
Hati Robi bergetar, ia baru kali ini melihat Tiara diantar oleh Fikri. Rasanya tidak rela tapi mau bagaimana lagi, Robi tidak bisa berbuat apa-apa.
'Eum..., rupanya Tiara sudah makin dekat dengan Ustad Fikri, ia pun sudah mau berangkat bersamanya', pikir Robi.
Sengaja Robi mengikutinya dari belakang, ia tidak ingin melewati sepeda motor yang dikendarai oleh Fikri.
"Awalnya sih biasa saja, jalanan yang mulai lengang, tampak tenang, sampai ada empat sepeda motor yang kini mengikuti Tiara dan Robi.
Mereka tampak garang, sepertinya mereka berniat buruk sama Tiara dan Fikri .
"Siapa mereka?", gumam Robi. Ia melihat keempat pemotor itu dan ia mengenali salah satu dari mereka.
"Eko...?, ngapain lagi dia?, apa Tiara tujuannya?", Robi bicara sendiri sambil tetap menjaga jarak aman dari mereka.
"Bagaimana Bos, kita sikat sekarang?", Andra melirik ke arah Eko.
"Dia cewe yang dekat sama Robi kan?, dia target kita, sikat saja, aku ingin Robi menderita", teriak Eko.
Mereka berempat segera mengepung sepeda motor yang dikendarai Ustad Fikri.
"Ya Allah..., siapa mereka?", teriak Tiara kaget. Fikri pun menghentikan sepeda motornya. Ia sama terlihat kaget dengan kedatangan Eko dan temannya.
"Siapa kalian?", teriak Fikri begitu sepeda motornya menepi.
Eko dan teman-temannya pun ikut turun.
"Ha...ha...ha...., ini cewenya Robi kan?", tanyai Eko. Ia mendekati Tiara dan bermaksud menyentuh lengan Tiara, namun Tiara segera menghindar.
__ADS_1
"Kalian siapa?, jangan coba mengganggu ya!", tegas Tiara.
"Jangan galak-galak cantik?, kamu kan cewenya Robi?", tanyai Eko kembali. Ia menatap lekat terhadap Tiara.
"Memangnya kalian mau apa?", tegas Tiara, ia tampak tidak takut dengan Eko dan temannya.
"Aku akan sikat habis siapa pun yang dekat dengan Robi, termasuk kamu, cantik!!!", Eko kembali melayangkan tangannya ke arah tubuh Tiara.
"Jangan sentuh dia?", teriak Robi yang sudah berdiri dibelakang mereka.
Eko dan temannya melirik ke arah sumber suara. Mereka tampak kaget melihat Robi yang sudah kembali berdiri tegak dihadapan mereka.
Tiara tampak senang melihat Robi . Berbeda dengan Ustad Fikri yang tampak mendengus kesal.
"Robi....?!!, masih hidup rupanya, kirain riwayatmu sudah tamat malam itu", seringai Eko.
"Oohh...., jadi kamu pelakunya?, kamu yang sengaja mencelakai aku malam itu?", tatap Robi.
"Kalau iya kamu mau apa hah?, lihat penampilan kamu sekarang anak Papih..., ha...ha...ha....", Eko terbahak melihat penampilan Robi, yang kini sudah menjelma bak seorang eksekutive muda, dengan dasi dan jas yang serasi .
"Kamu yakin mau meninggalkan dunia yang telah membesarkanmu, dan menjalani hidup seperti ini, penampilan yang kemayu", kekeh Eko.
Robi segera menepis tangan Eko dari hadapannya. " jangan ganggu Tiara lagi ?!!, kamu akan berhadapan dengan aku jika mengganggunya lagi", tegas Robi.
"Hah...?, siapa kamu?, pacarnya?, suaminya?, mau-mau kita dong , lagian aku penasaran sama gadis bercadarmu itu, pasti ia menyembunyikan sesuatu yang istimewa di balik baju lebarnya itu", kekeh Eko.
"Aku akan ganggu siapa pun yang dekat dengan kamu Robi, termasuk dia", tunjuk Eko pada Tiara.
"Heh..., aku yang calon suaminya Tiara, bukan dia", tegas Fikri, ia baru berani bicara setelah dari tadi hanya diam saja.
" Oh...ini, ya...ini..., baru cocok, seorang Ustad berdampingan dengan seorang wanita berhijab, bukan dia, bekas penjahat jalanan", kekeh Eko.
"Lihat tuh Robi, tinggalkan saja Tiara, biarkan dia bahagia dengan Ustad tampan ini, dia lebih cocok mendampingi Tiara dibandingkan kamu, kamu dan Tiara itu bagai langit dan bumi", kembali Eko terkekeh, mentertawai Robi.
Robi jadi terpancing juga, ia mulai mendekati Eko dan tangannya menjambak baju Eko, tinjunya pun hampir mendarat di wajah Eko. Namun sebuah suara menghentikan Robi.
"Hentikan Nak!!", teriak Pak Robani. Ia keluar dari mobilnya dan menghampiri Robi.
__ADS_1
"Sudah, lepaskan Nak!!, jangan kotori lagi tanganmu , biarkan saja dia pergi!", bujuk Pak Robani, ia menggandeng pundak Robi.
Robi melirik papihnya dan mulai melerai pegangan tangannya dari baju Eko.
Eko tersenyum sinis " Benar -benar sudah jinak ya kamu Robi", cibir Andra.
Robi membulatkan matanya ke arah Andra. "Sudah...sudah..., jangan didengarkan!, kita pergi saja nanti telat, hari ini ada meeting penting", ajak Pak Robani, ia menggandeng pundak Robi dan membawanya pergi.
"Ha...ha...ha...., benar-benar sudah jinak dia, nurut saja di tuntun juga", kekeh Eko dan temannya.
Eko dan temannya pergi begitu saja meninggalkan Tiara dan Fikri.
"Ngapain mereka?, hanya memancing kemarahan Robi saja kayaknya, tidak ada kerjaaan", gerutu Tiara.
"Kita pulang saja, sudah siang", ajak Tiara. Hatinya merasa senang melihat perubahan Robi, tapi Tiara juga merasa sedih karena sepertinya Robi sudah tidak peduli lagi sama dirinya. Sepertinya Robi sudah merelakan dirinya bersama Ustad Fikri.
Fikri menatap kepergian Eko dan temannya. Ia tersenyum dan segera menghidupkan kembali sepeda motornya dan membawa Tiara pulang ke Kobong.
Hati Fikri merasa senang, tindakan Eko tadi diharapkan bisa menjauhkan Tiara dari Robi.
Mobil Robi dan papihnya sudah memasuki pekarangan sebuah kantor.
"Terima kasih Nak, kamu sudah menuruti Papih, ini baik untukmu ", Pak Robani menepuk pundak Robi.
Mereka sudah memasuki kantor bersamaan. Itu pemandangan yang membuat para staf saling berbisik. "Kok Pak Robani akrab begitu dengan Robi, siapa dia sebenarnya", bisik Sinta kepada Rani.
"Iya..., jadi curiga", Sinta melemparkan senyuman kepada Pak Robani dan Robi yang baru akan memasuki ruangannya.
Tak lama datang juga Pak Sugiri dan Anton. "Apa Pak Robani sudah datang?", tanyai mereka kepada Sinta.
"Sudah Pak, tadi bersama tamunya sudah ada di ruangan", senyum Sinta.
"Tamu dari mana ya?", tatap Pak Sugiri.
"Itu, yang kemarin , Pak Robi kalau tidak salah", ucap Sinta.
"Oh...Robi..., dia itu anaknya, bukan tamunya", senyum Pak Sugiri, ia tersenyum dan berlalu meninggalkan meja Sinta.
__ADS_1
"Anaknya...?", Sinta membulatkan matanya.
"Aduh..., pantas saja akrab begitu",