Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa

Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa
Jalan Kembali


__ADS_3

"Bagaimana kalian ini, sampai salah tangkap orang?", tatap Pak Rusman, ia tampak geram dan kesal.


" Maafkan kami Pak, kami tidak teliti", ucap Polisi yang bernama Wira, diikuti juga oleh ketiga temannya, Dida, Umar, dan Yana.


"Sudah....sudah...., sekarang cepat lepaskan borgolnya, dan minta maaf kepada Ustad Fadil", perintah Pak Rusman.


Keempat Polisi itu lantas meminta maaf kepada Ustad Fadil atas kelalaiannya.


Dengan lapang hati, Ustad Fadil memaafkannya.


Tak lama datang Pak Robani bersama Badrun.


"Assalamu'alaikum Pak, kabarnya ada anak santri yang dibawa ke sini?", tanyai Pak Robani to the point.


"Ah...iya...Pak, ini dia, tapi maaf, ini semua ternyata kesalahan, maafkan kami", ucap Pak Risman. Ia lalu mempersilahkan Pak Robani dan Badrun duduk.


"Jadi , ini seharusnya Ustad Fikri yang ditangkap, tapi malah Ustad Fadil yang dibawa ke sini , saya mohon maaf Pak, atas kesalahan ini", ucap Pak Rusman.


"Ah..., tidak usah dipikirkan, ini hanya masalah kecil saja, sekarang kita harus cepat-cepat tangkap Fikri yang asli, sebelum dia pergi", ucap Pak Robani.


"Sepertinya Ustad Fikri sudah menduga dengan ini semua, ia sudah punya firasat saat melihat keempat Polisi ini datang ke Mesjid, sehingga dia langsung minta digantikan oleh saya, dan pergi", jelaskan Ustad Fadil.


"Kemungkinan dia masih di Pondok Pak, kita cari lagi ke sana", usul Wira.


"Iya...cepat !!, kalian kembali ke sana, tangkap dan bawa Ustad Fikri ke sini", perintah Pak Rusman.


"Baik Pak, siap!, laksanakan!", keempat Polisi itu pun berlalu dari hadapan mereka.


"Maaf Pak, memangnya apa yang sudah Ustad Fikri lakukan?", penasaran Ustad Fadil.


"Jadi Ustad Fikri itu ternyata dalang dari hilangnya Tiara", ucap Pak Rusman.


"Hah...", semua yang baru mendengarnya merasa kaget , hanya Pak Robani dan Badrun saja yang terlihat tenang.

__ADS_1


"Kok bisa?, kenapa harus Tiara, kan dia itu calon istrinya", Ustad Fadil menatap Ustad Dzaqi.


"Ya...itu belum jelas, kita harus interogasi dulu orangnya, makanya Ustad Fikri harus segera di tangkap, biar kita tahu alasannya, kalau menurut Aleks dan Joko , mereka sebenarnya disuruh menculik Nyimas, tapi ya..., karena waktu itu gelap, jadi mereka malah membawa Tiara, ya ..., semuanya belum jelas juga", ucap Pak Rusman.


Badrun tampak mengulum senyum, mungkin hanya dia yang mengerti masalah ini. 'Rupanya Fikri sudah tahu juga siapa Nyimas, makanya dia ingin menjauhkan Nyimas dari sini, takut terbongkar kebusukannya rupanya', batin Badrun bicara.


'Nanti saja, jika memang dibutuhkan, aku juga akan menjadi saksi untuk memberatkan tuduhan kepada Fikri, tapi Nyimas juga harus mulai dilindungi, karena dia juga saksi kunci dalam kasus ini', kembali batin Badrun bicara.


"Kalau begitu, kita kembali ke Pondok saja, Abah pasti khawatir", ajak Ustad Dzaqi.


"Iya...ayo !, biar saya antar, sekalian menengok Abah juga", tawari Pak Robani.


"Aduh..., jadi merepotkan Pak, kita bisa pulang naik angkot saja", ucap Ustad Dzaqi.


"Tidak Nak, Bapak sekalian menengok Abah , ini sudah janji saya sama Abah, akan membawa pulang kalian dengan selamat", ucap Pak Robani.


"Terima kasih Pak", rengkuh Ustad Dzaqi dan Ustad Fadil.


Mereka akhirnya pulang, setelah mengisi Berita Acara yang diperlukan.


"Iya...saya juga setuju Pak", ucap Ustad Fadil, kita tidak usah bicara soal Ustad Fikri, bilang saja ini kesalahfahaman , kalaupun Abah bertanya, bilang saja tidak tahu", timpa Ustad Dzaqi.


Mereka sepakat untuk tidak memberitahu Abah, soal Ustad Fikri yang sedang dalam pengejaran pihak Kepolisian.


Tak selang berapa lama mobil yang membawa Ustad Fadil dan Ustad Dzaqi sudah sampai kembali di Pondok. Kedatangan mereka disambut gembira oleh para santri yang sedang berjaga di teras depan rumah Abah.


"Alhamdulillah..., Ustad Dzaqi dan Ustad Fadil pulang", teriak seorang santri, ia tampak senang melihatnya, begitu pun dengan yang lainnya.


"Alhamdulillah Ustad..., akhirnya pulang juga", Mang Daman langsung menyambutnya, ia menghampiri dan berjabat tangan dengan mereka semua yang baru datang


"Sebaiknya kita cepat temui Abah, biar beliau tidak khawatir, takutnya berpengaruh buruk terhadap kesehatannya", ucap Mang Daman.


Pak Robani dan yang lainnya masuk ke dalam rumah Abah.

__ADS_1


Abah tampak senang melihat Ustad Fadil dan Ustad Dzaqi sudah kembali.


"Alhamdulillah..., kalian sudah kembali, ini pasti karena bantuan Pak Robani, terima kasih, Abah sudah kembali merepotkan Bapak", ucap Abah sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dada saat menghadap Pak Robani.


"Bukan karena saya Abah, ini karena Ustad Fadil memang tidak bersalah, ini kesalahfahaman saja", ucap Pak Robani sambil tersenyum .


"Saya tidak melakukan apa-apa, saya hanya mengantar mereka pulang saja",


"Jadi..., apa yang sebenarnya terjadi?", tanyai Abah.


"Ini hanya salah faham saja Abah, bukan saya yang mereka cari, mereka salah informasi saja", alasan Ustad Fadil.


"Oh..., Alhamdulillah..., Abah lega, anak santri Abah tidak mungkin ada yang berbuat di luar aturan, mereka sudah tahu hukum, dan sudah tahu konsekuensi hukumannya bagi yang berani melanggarnya", ucap Abah dengan wajah berbinar penuh kesenangan.


"Tapi, sekarang di sini yang lagi bingung, Ustad Fikri tidak ada, semua santri sudah mencarinya, tidak ketemu, tidak tahu dia pergi ke mana", terangkan Abah.


Semua saling tatap, orang yang baru datang dari kantor Polisi, seperti Pak Robani, Badrun, Ustad Fadil, dan Ustad Dzaqi, sudah bisa menduganya, Fikri pasti kabur, karena ia sudah terus rasa, saat ini, kejahatannya sudah terendus.


"Kenapa harus pergi...?", ucap Ustad Fadil, ia bicara agar Abah tidak curiga.


"Ya..., semoga saja dia pergi dengan tujuan yang baik", ucap Abah, ia memandang jauh, seolah ingin menerawang dimana Ustad Fikri berada sekarang.


Lagi-lagi, kesehatan Abah yang lebih diutamakan, para santri tidak mau sesepuh pondoknya kembali jatuh sakit.


"Sudah..., Abah jangan banyak pikiran, Abah harus kembali sehat, lihat para santri Abah, mereka kembali kehilangan sosok pemimpin, Ustad Fikri yang sudah Abah tunjuk untuk menghandle semua kegiatan di sini pun, kini sama, tidak ada, tidak jelas kabarnya di mana, dan kapan kembali ", ucap Pak Robani.


"Semoga Tiara dan Robi pun cepat pulang, jadi Pondok ini akan kembali ramai", harap Mang Daman.


"Aamiin..., semoga saja", gumam Umi, terlihat raut wajahnya kembali muram, ia sudah sangat merindukan putrinya itu, sudah hampir dua minggu, Tiara tidak ada di rumah.


****


Sementara di seberang sana, ada sebuah kabar baik, cuaca selama dua hari ini cukup bersahabat, gelombang laut pun sudah tidak extrim.

__ADS_1


Hal ini pun tidak di sia-sia kan oleh Tiara dan Robi, dengan bantuan dari Dani dan Usep, mereka sudah bersiap untuk pulang.


Sengaja hal ini tidak dikabarkan dulu kepada orang tuanya, Robi ingin memberi kejutan kepada mereka.


__ADS_2