Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa

Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa
Sedikit Tragedi


__ADS_3

Robi dan Tiara tidak menyadari akan kehadiran Ustad Fikri, mereka keasikan ngobrol sambil merangkai kembali rasa yang sudah ada.


"Lihat saja , kalian sudah berani mencuri waktu berdua dibelakang aku, kaluan belum tahu siapa aku", geram Fikri. Ia segera berlalu meninggalkan cafe itu dengan membawa kemarahan.


"Sudah malam Tiara..., kita pulang dulu, katanya masih ada tugas yang belum selesai", tatap Robi.


"Masya Allah, iya...tidak terasa ", Tiara melirik kearah pergelangan tangan kirinya.


"Kita kelamaan di sini, kenapa tidak mengingatkan dari tadi", Tiara terlihat panik, ia segera merapikan tasnya.


"Kita pulang sekarang, tidak enak datang ke Pondok terlalu malam ", Tiara bangkit dari duduknya.


Robi tersenyum melihatnya, ia maklum karena memang Tiara itu anak rumahan, ia tidak pernah keluar rumah dan pulang terlalu malam seperti saat ini.


"Iya...iya..., kita pulang sekarang", Robi pun berdiri, sebelumnya ia memanggil waiters dan memberinya sejumlah uang. "Ambil saja kembaliannya", ucap Robi sambil berjalan menuju ke luar cafe diikuti Tiara.


"Ha...ha...ha...., ini malam yang istimewa, lihat ada seorang ninja yang datang ke sini juga", teriak seorang pengunjung laki-laki, ia memperolok penampilan Tiara.


Tiara yang merasa tercegal, menghentikan langkahnya. Pengunjung mabuk itu berdiri tepat didepannya.


"Apa ini?", laki-laki itu hendak menyentuh kerudung panjang yang dipakai Tiara.


Tiara mundur beberapa langkah untuk menghindarinya.


"Ouw..., lincah juga kamu ya", laki-laki itu mengejarnya.


"Stop !!!, kamu mau apa?",teriak Tiara dengan nada yang ketakutan.


"Pasti di sana ada barang istimewa yang kamu sembunyikan kan?", laki-laki itu hendak menyingkap kain niqob Tiara.


"Stop...!!!', teriak Robi yang segera menghalau tangan laki-laki itu dari depan wajah Tiara.


Robi langsung berdiri di depan laki-laki itu dengan menatap tajam kearahnya.


"Ha....ha...ha...., ini lagi ada pahlawan datang, siapa kamu?", tatap laki-laki itu, ia balas menatap Robi dengan wajah yang tidak kalah sangar.


"Mundur kamu, jangan ganggu dia!!", tegas Robi.


"Memangnya siapa kamu hah?, berani sekali, orang baru ", bentak teman yang satunya.


"Aku memang baru, di sini tempat umum kan?, siapa saja boleh datang, siapa saja boleh mampir, termasuk dia", tunjuk Robi kepada Tiara.

__ADS_1


"Oh...jadi dia itu cewe kamu?, ha...ha...ha...., lucu ya, bisa-bisanya kamu, tampan, tajir...., tertarik sama dia, apa yang kamu lihat?, badannya saja tertutup begitu, siapa tahu dia menyembunyikan borok didalamnya, iya kan?", kekeh kaki-laki itu.


"Diam kamu!, jangan hina dia!, dia itu justru istimewa, keindahannya tidak diumbar dan tidak dinikmati oleh pandangan mata-mata liar seperti kamu",bentak Robi.


"Ouw....makin berani saja kamu", laki-laki itu mendekati Robi dan hendak meninju Robi, namun Robi menghindar dan mendorong badan limbungnya, hingga laku-laki itu tersungkur ke atas meja.


Tanpa di duga teman pria itu mengambil botol dan memukulkannya ke tubuh Robi.


"Awas.... !!!", teriak Tiara. Robi menepis botol itu dengan lengannya hingga pecah. Untung saja ada beberapa orang security yang masuk dan melerai perkelahian itu.


Pemilik cafe pun datang, dan ia mengenali Robi ternyata. Ia adakah Robert yang dulu sempat mensuplay makanan dan minuman ke mini cafe milik Robi yang bersatu dengan bengkelnya dulu .


,"Aduh...Bro...maaf ya atas keributan ini, senang banget bisa bertemu lagi dengan bos muda, hampir saja tidak mengenali, penampilannya beda sekarang", Robert bersalaman dan menepuk pundak Robi.


Setelah semua kembali kondusif, Robi dan Tiara segera meninggalkan cafe itu.


Namun di tengah jalan , Tiara melihat ada bercak darah dikemeja yang dipakai Robi, ternyata lengan Robi yang dipakai untuk menepis botol tadi terluka.


"Maaf..., gara-gara aku kamu jadi terluka", Tiara menatap Robi yang sedang fokus mengendara.


"Aku tidak apa-apa, lihat!!, aku masih sadar, masih bisa mengendara", senyum Robi.


"Ini tanganmu terluka", Tiara memegang lengan Robi.


"Tuh...kan, lenganmu ini terluka, lihat ada darahnya", Tiara memperlihatkan kemeja Robi yang ada bercak darahnya.


"Tuh...di depan ada klinik dua puluh empat jam, kita mampir dulu, ini tidak boleh dibiarkan", desak Tiara.


"Biar nanti saja, nanti kemalaman di jalan", tolak Robi. Ia tidak menuruti keinginan Tiara, ia tetap melaju menuju Pondok.


"Iihh...., kamu itu kebiasaan...", Tiara mendesis dengan rasa khawatir.


Tak lama mobil pun sudah sampai di Pondok, Tiara menatap Robi. "Mampir dulu, masuk dulu!!, aku obati dulu lukamu", pinta Tiara.


"Ini sudah malam Tiara, tidak enak, kita kan cuma berdua di sini", tolak Robi.


"Ada Nyimas, ayo mampir sebentar, aku akan terus dihantui rasa bersalah jika kamu tidak diobati dulu", bujuk Tiara.


Robi tersenyum melihat Tiara, "Iya..., aku mampir", senyum Robi.


Robi dan Tiara segera masuk ke rumahnya, mereka duduk di teras depan."Tunggu sebentar !", Tiara masuk dan segera mengambil kotak P3K dan membangunkan Nyimas yang sudah tertidur.

__ADS_1


"Nyimas..., maaf..., aku bangunin, aku butuh ditemani, ada orang terluka", Tiara bicara begitu Nyimas keluar dari pintu kamarnya.


"Siapa yang terluka?", Nyimas terlihat kaget, ia melirik ke luar rumah.


"Dia ada di luar, Robi terluka Nyimas", beritahu Tiara.


Nyimas dan Tiara segera ke luar menghampiri Robi, tak lupa Nyimas membawa air minum.


Tiara dan Nyimas duduk di depan Robi. "Minum dulu", Tiara menyodorksn segelas air teh hangat kepada Robi.


"Iya terima kasih", Robi mengambil gelas yang diberikan Tiara, walau tidak haus, tapi Robi tetap meminumnya untuk menghargai Tiara.


"Terus..., bagaimana caranya mengobati lukamu itu", Tiara menatap lengan Robi yang kini kemejanya sudah basah dengan darah.


"Aku ambil air hangat dulu, lukanya perlu dicuci", Nyimas menuju ke dalam rumah.


"Biar aku sendiri saja ", Robi menyingkap lengan kemejanya ke atas untuk melihat kondisi lukanya.


"Ya Allah..., Tiara bisa melihat luka dan darah yang masih terlihat merembes.


"Tak lama Nyimas pun datang membawa air hangat dalam baskom.


"Ini, cuci dulu lukanya", Nyimas memberikan baskom berisi air hangat kepada Tiara.


Dengan hati-hati Tiara mengompres dan membersihkan luka di tangan Robi.


"Maaf ya...", memberikan obat luka dan membu,ngkus luka itu dengan kasa.


Tiara sedikit canggung, karena ini untuk pertama kalinya ia bersentuhan langsung dengan Robi.


"Sudah...., maaf ya, ini mungkin terasa sakit", Tiara menatap lengan Robi yang kini sudah terbalut rapi.


"Ini cuma luka kecil saja, jangan khawatir, pasti cepat sembuh, apalagi dirawat oleh Perawat yang penuh kasih", senyum Robi.


"Aku pulang dulu !, kamu baik-baik di sini, di rumah ksn cuma ada kalian", tatap Robi.


"Di sini kan banyak santri, jangan khawatir", senyum Tiara.


Robi segera berdiri dan kembali menuju mobil, setelah berucap salam, ia segera berlalu meninggalkan Pondok.


Di tengah jalan, ia dihadang sebuah sepeda motor, namun motor itu segera berlalu kembali melewati mobil Robi, namun ada sebuah batu yang ia lemparkan mengenai kaca pintu mobil sampai pecah.

__ADS_1


"Rasain kamu Robi !!",


Ternyata itu sepeda motornya Fikri.


__ADS_2