
Walau dengan hati galau, Tiara bisa menyelesaikan bimbingan skripsinya. Hatinya tidak tenang karena ponselnya ketinggalan , dan belum ada kabar tentang keberadaan Robi.
Namun hatinya sedikit lega karena tidak terlalu banyak revisi yang harus dilakukan pada draft skripsinya.
"Oke class, kita bertemu kembali awal bulan depan, kita akan jadwalkan untuk sidang, selamat bekerja semuanya", ucap sang Dosen sebelum meninggalkan ruangan.
Tiara pun segera melenggang lemas menyusuri lorong kampus menuju gerbang. Rasanya malas sekali pulang, apalagi harus kembali bertemu Fikri.
Berbeda dengan teman-temannya yang terlihat ceria karena sebentar lagi mau wisuda, Tiara sebaliknya, ingin rasanya wisudanya di undur saja, ia tidak bisa membayangkan, setelah wisuda nanti dirinya sudah tidak bisa menolak lagi pernikahan dengan Ustad Fikri.
'Hah...., semoga saja ada keajaiban, dan pernikahan itu batal dilaksana⁸kan', batin Tiara bicara.
"Hai...hati-hati!!!, melamun saja, kita duluan ya?", dua temannya yang berkendara sepeda motor menyapanya, dan ampuh mengembalikan kesadaran Tiara pada tempatnya.
Dari kejauhan Tiara bisa jelas melihat Ustad Fikri yang masih duduk di atas sepeda motornya.
"Hah...., kenapa tidak pulang saja sih...", gerutu Tiara kesal. Tiara sengaja duduk dulu di kursi taman dekat gerbang. Ia menunggu semua temannya pulang semua, tidak enak rasanya bila mereka mengetahui dirinya diantar oleh Ustad Fikri.
Bisa terlihat oleh Tiara, Ustad Fikri terlihat gelisah menunggunya. Ia berkali-kali melirik ke arah gerbang mencarinya.
Bahkan Ustad Fikri terlihat bertanya kepada salah satu temannya , sudah bisa ditebak pasti dia menanyakan keberadaan dirinya.
"Masih ada kuliah Neng?, menunggu kuliah siang?", tanya satpam kampus .
"Oh...tidak Pak, saya menunggu yang menjemput", alasan Tiara.
"Oh..., sudah sepi, apa yang itu?, tinggal satu orang lagi di luar, apa mungkin itu yang akan menjemput Neng?", kabari Satpam.
'Aduh...Pak....Pak...., kepo banget sih...', gerutu Tiara dalam hatinya.
Mau tidak mau ia beranjak dari tempat duduknya, ia menengok ke luar gerbang. "Oh...iya, sepertinya itu , terima kasih Pak, saya pulang dulu", senyum Tiara.
Tiara kembali berjalan dengan malas menuju Fikri yang kini sedang menatapnya dengan beribu pertanyaan untuk dirinya sepertinya.
Benar dugaan Tiara, Ustad Fikri menatapnya tajam, ada kekesalan dalam sorot matanya.
"Kenapa lama sekali?, aku sampai mau jamuran di sini", gerutu Fikri.
"Aduh...., kan sudah aku bilang dari awal juga, nggak usah mengantar segala, urusan di Kampus itu tidak bisa di tebak, kita baru bisa pulang kalau semua urusan sudah sekesai", ucap Tiara.
"Oh...maaf..., aku tidak marah kok, hanya belum terbiasa saja, jadi menunggu sebentar juga, rasanya lama", ralat Fikri, ia terkejut, takutnya Tiara merasa tidak nyaman dengan ucapannya barusan.
"Sekarang mau kemana lagi?", tatap Fikri.
"Ya...kemana lagi, kita pulang saja, ponselku ketinggalan", ucap Tiara datar.
__ADS_1
"Ya...mumpung ada waktu, bisa kan jalan-jalan sebentar, ini pertama kalinya kita pergi berdua lho", Fikri menatap Tiara.
"Abah juga tidak akan marah, apalagi kamu perginya d sengan calon suami",
"Mau ya?", bujuk Fikri.
Tiara berpikir sejenak, ia baru ingat kalau ia memerlukan buku untuk menambah referensi yang menunjang penyempurnaan skripsinya.
"Bagaimana?, mumpung aku sedang lengang, urusan di Pondok sudah di handle oleh Ustad Fadil dan Ustad Dzaqi", kembali Ustad Fikri bertanya.
"Iya..., aku lagi mau ke toko buku, ada yang harus di beli, bisa mengantarku ke sana kan?",
"Ya..., ayo..., pokoknya hari ini adalah harimu, aku siap mengantarmu kemana pun", Fikri tersenyum penuh kemenangan, ia telah berhasil membujuk Tiara lagi.
"Toko buku yang ada di Mall, dekat Pasar saja", ucap Tiara sambil segera menaiki sepeda motor Fikri.
"Siap..., kemana pun aku antar, ke surga sekalipun", kekeh Fikri.
"Iihh...apaan, aku masih mau hidup kok", sambar Tiara.
"Maksudku akan kuantar kau menuju surga dunia",
"Iihh....", Tiara mendesis.
"Nah..., sudah sampai, silahkan Tuan Putri...", senyum Fikri, ia memarkir sepeda motornya.
Tiara turun tanpa merespon ucapan Fikri, ia langsung membuka helm, dan segera menuju pintu masuk Mall.
Namun langkahnya terhenti saat dilihatnya sebuah mobil terparkir. Ia mengenali mobil itu.
"Robi...?, apa dia juga ada di sini?", gumam Tiara, ia segera menuju pintu masuk berharap bisa menemukan Robi di dalam.
"Eit...Tiara tunggu!!", teriak Fikri. Setengah berlari ia mengejar Tiara yang nyelonong masuk tanpa menunggu dirinya.
"Buuukkk", Fikri bertabrakan dengan pengunjung yang keluar.
"Aduh...maaf...maaf...Mas, tidak sengaja, saya terburu-buru", Fikri meminta maaf sambil membantu membereskan belanjaan yang terserak di lantai.
Tiara yang melihat kejadian itu segera menghampiri Fikri
"Tidak apa-apa, saya juga terburu-buru ", ucap pengunjung yang ditabrak Fikri.
Sejenak mereka saling pandang, sepertinya keduanya sama-sama sedang menggali ingatannya.
'Orang ini.....?', batin Fikri bicara.
__ADS_1
'Fikri.....?, benarkah dia?', batin Badrun pun ikut bicara.
Ya, orang yang ditabrak Fikri itu adalah Badrun.
"Ada apa?", Tiara menghampiri mereka.
"Tiara..., kamu buru-buru sekali, aku mengejarmu sampai menabrak Mas ini", jelaskan Fikri.
"Aduh..., Mas nya tidak kenapa-kenapa?", tatap Tiara.
"Alhamdulillah tidak, saya pergi dulu, ini sudah ditunggui", pamit Badrun. Ia segera meninggalkan Tiara dan Fikri.
Sekilas Tiara bisa melihat kalau orang itu memasuki mobil Robi.
'Kok dia sih, siapa?, kok memakai mobilnya Robi?', kini batin Tiara yang bicara.
"Siapa?, kamu mengenalnya?", tanyai Fikri, begitu dilihatnya Tiara terus menatap orang tadi.
"Ah...tidak, hanya saja...", Tiara menggantung ucapannya. Rasanya tidak pantas ia membicarakan Robi dihadapan Fikri.
"Hanya saja apa?", tatap Fikri. Ia merasa curiga dengan sikap Tiara, apalagi dirinya juga sedang mengingat sesuatu, wajah orang itu mengingatkannya pada seseorang.
"Eum..., aku kira dia orang yang aku kenal, tapi bukan", ucap Tiara .
Fikri mentautkan alisnya, ia bingung dengan maksud dari ucapan Tiara . Ia juga bingung, ingatannya mengarah kepada temannya yang sedang di Penjara.
'Tapi tidak mungkin dia, masa kurungannya masih satu tahun lagi', batin Fikri kembali bicara.
"Sudah...., katanya mau mencari buku, malah ngurusin orang yang tidak jelas begitu", Fikri meraih tangan Tiara, maksudnya mau ia pegang dan membawanya memasuki Mall kembali.
"Sudah..., tidak usah", Tiara segera mengibaskan tangannya, dan ia berjalan sejajar dengan Fikri menuju Toko buku.
Fikri mendelik kesal, Tiara masih saja menolak, padahal di Mall sana banyak pasangan muda-mudi yang berjalan sambil bergandengan tangan.
Badrun yang kembali menuju Rumah Sakit menerka-nerka dalam hatinya, apa Fikri tadi masih mengenalinya?
"Wanita yang tadi itu Tiara?, orang yang pernah Robi ceritakan , Fikri pasti punya niat buruk sama Tiara", gumam Badrun.
"Den Robi masih koma, Fikri jadi punya banyak kesempatan untuk mendekati Tiara, ini tidak bisa dibiarkan, aku harus mengawasi mereka, tapi bagaimana?", gumam Badrun.
"Apa aku temui Abah saja?",
"Aku kembali ke Pondok?",
Badrun terus saja memikirkan cara untuk bisa mengawasi Tiara.
__ADS_1