Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa

Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa
Ternyata Dia


__ADS_3

Tiara kembali ke Pondok bersama Fikri. Hatinya merasa teriris melihat Robi yang sudah seperti tidak peduli lagi padanya. Tiara melihat tidak ada usaha dari Robi untuk memperjuangkan dirinya. Robi malah tampak yakin untuk meneruskan usaha papihnya.


"Kenapa diam?, kamu pasti kecewa ya, pangerannya kini sudah berubah", Fikri melirik ke arah samping, ia berharap Tiara bisa mendengar ucapannya.


Tiara diam saja, ia pura-pura tidak mendengar ucapan Fikri. Padahal hatinya makin sakit saja.


'Pasti Robi sudah berubah, mungkin ia sudah bertemu dengan wanita pilihan orang tuanya, jadi sikapnya mulai berubah, pasti wanita itu sudah memikat hatinya', pikir Tiara.


Sampai mereka tiba di Pondok, Tiara tidak bicara sepatah kata pun.


"Terima kasih Ustad", ucap Tiara, ia langsung turun dari motor dan segera berlalu dari hadapan Ustad Fikri, tanpa melepas helm terlebih dahulu.


"Tiara...itu...helmnya lepas...", terisak Ustad Fikri. Namun Tiara tidak menoleh, ia langsung masuk ke dalam rumah, tanpa mengucap salam terlebih dahulu kepada Fikri.


Ustad Fikri meninju salah satu stang sepeda motornya, hatinya kesal, 'Ini pasti gara-gara Robi tadi, rupanya Tiara masih berharap sama si sombong itu', kembali Fikri bicara dalam hatinya.


Dengan kesal ia segera menuju kobongnya.


Begitu masuk rumah, Tiara langsung menuju meja makan . Tiara mengambil satu gelas dan mengisinya , lalu ia minum habis air tersebut.


Tenggorokannya terasa kering karena sedari tadi ia menahan rasa kesal, dan menahan rasa kecewanya atas sikap Robi tadi. Ingin rasanya Tiara menangis, tapi ia tahan karena malu dilihat banyak orang.


"Sudah pulang Neng?, kenapa kok sepertinya kesal begitu", Umi langsung menghampiri Tiara dan mengusap kepalanya.


"Iya Umi, tadi ada sedikit halangan di jalan", aku Tiara. Ia tidak bicara kalau bertemu Robi.


"Kenapa tidak diajak masuk dulu , diberi minum dulu, kasihan,pasti Ustad lelah mengantarmu", ucap Umi.


"Tiara tidak memintanya untuk mengantar, tadi juga bisa berangkat sendiri, hanya saja Tiara teringat sama Abah, jadi menurut saja", ucap Tiara kesal.


"Sabar ya Nak?, semoga ada jalan terbaik", ucap Umi .


"Umi...apa Umi yakin pada Ustad Fikri?, apa dia bisa menggantikan Abah mengurus Pondok dan menjaga Tiara?", tatap Tiara.


Umi terdiam, Umi menerawang, Umi menatap Tiara, ia seolah ingin mengatakan sesuatu. "Tiara...", gumam Umi.


Umi lalu duduk di kursi di samping Tiara.


"Kenapa Neng?,kamu sepertinya ragu", tatap Umi.


"Umi..., Tiara ingin tahu dari Umi, apa ada yang disembunyikan soal...soal....", Tiara bicara hati-hati, ia melirik ke arah kamar Abah. Di rumah hanya ada mereka bertiga, Nyimas dan dua anak kecil sedang di Madrasah.


"Soal apa Neng?", tanyai Umi, Umi juga terlihat sedikit gugup, tidak biasanya Tiara bersikap seperti ini.


"Umi...., Tiara ingin tahu dari Umi langsung..., soal...soal...itu..., soal...Ustad Fikri Umi", tatap Tiara, ia bicara hati-hati sekali.


"Degh...", Umi merasa tersentak, ia menatap Tiara.


"Ustad Fikri?", tatap Umi.


"Iya...Umi, Ustad Fikri , apa yang Umi tahu soal Ustad Fikri, dan Umi sembunyikan dari Tiara", tatap Tiara.


Umi diam, ia membalas tatapan Tiara. Umi memegang tangan Tiara. "Soal apa?, memangnya apa yang Neng tahu?, jangan mudah percaya sama omongan orang, siapa tahu mereka ada tujuan tertentu",

__ADS_1


"Makanya Tiara bertanya langsung pada Umi, karena Tiara yakin Umi tidak aksn bicara bohong, apa lagi ini menyangkut kehidupan Tiara, apa Umi tega membiarkan Tiara seumur hidup bersama seorang yang punya masa lalu buruk?", Tiara menunduk.


'Masya Allah..., apa yang Tiara ketahui?, dan siapa orang yang telah membocorkan aib masa lalu kepada Tiara?', pikir Umi.


"Umi...., bicaralah..., Tiara ingin tahu yang sebenarnya dari Umi", lirih Tiara.


"Tiara....", Umi memeluk Tiara dan kembali mengelus lembut kepala Tiara.


"Apa yang sudah kamu ketahui Neng?",


"Umi..., apa benar Ustad Fikri sudah mempunyai seorang anak?", bisik Tiara.


"Degh", kembali Umi terasa tersentak.


"Kata siapa Neng?, siapa yang bicara begitu?", Umi melerai pelukannya.


"Umi..., Tiara tahu dari ibu anaknya Ustad Fikri, dia bilang, Ustad Fikri sudah memaksanya sampai punya anak, tapi mereka belum menikah Umi, dan Badrun, siapa dia Umi?",


"Degh...", untuk kesekian kalinya Umi tersentak. 'Ya Allah..., siapa orangnya yang sudah membocorkan aib ini kepada Tiara', pikir Umi.


"Tiara..., kamu bicara apa?, kok tambah ngelantur saja", bela Umi.


"Umi..., ini yang Tiara ketahui, kenapa bukan Umi yang bicara langsung, kenapa Tiara mengetahuinya dari orang lain?, dan kenapa Tiara mengetahui hal ini setelah semuanya terlambat Umi",


"Dan Abah juga, kenapa memilih orang seperti Ustad Fikri untuk Tiara, padahal jelas-jelas Abah tahu siapa Ustad Fikri?", Tiara menatap Umi.


"Umi..., Abah sedang sakit, tidak mungkin Tiara bicara hal ini kepada Abah, jadi hanya Umi yang Tiara andalkan",


"Apa Umi masih mau membiarkan Tiara bersama Ustad Fikri?",


"Tidak Umi...", Tiara melerai pelukan Umi dan memegang tangan Umi.


"Bukan Badrun yang bersalah Umi, tapi Ustad Fikri",


"Itu Fitnah Neng, siapa yang bilang begitu?", tatap Umi.


"Wanita itu yang bicara Umi, ia tidak mungkin bohong, ia yang mengalamminya, ia yang tahu jelas pelakunya",


"Wanita yang mana, memangnya siapa wanita itu?, ada dimana dia sekarang?, Umi ingin bertemu dan mendengarnya langsung dari dia", Umi menatap lekat Tiara.


"Jadi..., Badrun tidak bersalah?, Umi sudah menduganya, sejak awal Umi tidak percaya kalau Badrun pelakunya",


"Umi..., minggu depan Tiara sudah wisuda, itu artinya Tiara harus menepati janji Abah kepada Ustad Fikri, Tiara tidak mau Umi...",


"Bbruuuukkkk....", terdengar suara benda jatuh.


"Masya Allah..., suara apa itu?", Tiara dan Umi terperanjat ",


"Abah .... Umi...?, sepertinya suara tadi dari kamar Abah", seru Tiara. Mereka berdua segera memburu ke sana.


Umi membuka pintu kamar dan sangat terkejut begitu melihat Abah sudah tersungkur dilantai.


"Allahu...Akbar..., Abah.....", Umi dan Tiara memburunya.

__ADS_1


Abah sudah tidak sadarkan diri. "Umi kita harus segera ke Rumah Sakit, Abah harus segera di rawat", Tiara tampak mengambil ponsel dan menghubungi Robi, hanya Robi yang bisa menolongnya saat ini.


Tak lama terdengar suara mobil dari halaman rumahnya. Tiara memburu ke luar dan mendapati Badrun datang.


"Maaf..., Robi sedang rapat, jadi saya yang ke sini, mana Abahnya?", tanyai Badrun.


"Euh...Abah ada dikamarnya, masuk saja, cepat tolong Abah", Tiara terlihat panik.


Badrun pun langsung masuk ke dalam dan membawa Abah ke dalam mobilnya, kebetulan ada Mang Daman juga.


Abah langsung di bawa ke Rumah Sakit bersama Tiara dan Umi .


"Ada apa Mang?, ada apa di rumah Abah?", Ustad Fikri menjegal Mang Daman yang terlihat tergesa menuju Masjid untuk mengabari Ustad Fadil dan Ustad Dzaqi.


"Itu..., Abah terjatuh dari tempat tidur, tadi Nak Badrun sudah membawanya ke Rumah Sakit", kabari Mang Daman, ia keceplosan.


"Apa...?, Badrun....?", gumam Fikri.


'Berani sekali Tiara minta tolong sama dia, aku kan ada di sini?', Fikri menerawang dengan mengepalkan kedua tangannya.


"Maaf...Ustad, saya ke Masjid dulu", pamit Mang Daman, ia segera berlalu dari hadapan Ustad Fikri.


"Tiara...., kenapa kamu lagi-lagi berbuat kesalahan, kenapa tidak minta tolong ke aku saja, malah sama Badrun", gerutu Ustad Fikri.


Ia segera mengambil sepeda motornya dan berniat menyusul Tiara ke Rumah Sakit.


Kabar Abah kembali ke Rumah Sakit sudah menyebar di Pondok, para santri bahkan sudah berdo'a bersama memohon kesembuhan untuk Abah, Nyimas dan dua anak kecil pun merasa sedih, mereka ingin menyusul ke Rumah Sakit, tapi tidak ada yang mengantar.


"Kalian mau ke mana?",Ustad Fikri yang baru sampai gerbang mendapati Nyimas dan dua anak kecil di sana.


"Saya mau menyusul ke Rumah Sakit", tunduk Nyimas.


"Kalian anak kecil tunggu di sini saja, anak kecil tidak boleh ada di Rumah Sakit", ucap Fikri .


"Kalian tunggu bersama Mang Daman saja ya, do'akan Abah cepat sembuh, biar bisa berkumpul bersama kita lagi", bujuk Nyimas, ia menyuruh Risman dan Gilang menuju kobong Manng Daman.


"Iya Teteh", ucap Gilang


"Iya Umi...., euh....Teteh...", ucap Risman.


Hampir saja Risman memanggil Umi kepada Nyimas.


"Ah....iya..., anak pintar..., kalian ke sana ya, tunggu Teteh", Nyimas mengusap kepala kedua anak kecil itu.


"Ayo cepat naik, nanti keburu malam", ajak Fikri.


Namun tiba-tiba, Nyimas merasa pusing, ia hampir terjatuh, kalau tidak menyandar pada sepeda motor Fikri, Nyimas kehilangan kesadaran hingga pingsan dihadapan Fikri.


"Ya...Allah..., ini malah pingsan lagi, ngerepotin saja, Fikri menghampiri Nyimas yang tersandar ke motornya.


Fikri menatap Nyimas, timbul dalam hatinya niat untuk melihat wajahnya yang selalu tertutup cadar.


Fikri melirik ke arah kiri dan kanan, setelah dirasa aman, ia menyingkap pelan kain niqob dan melihat wajahnya.

__ADS_1


"Nyi...mas...., kamu...ini Nyimas...",


Fikri tersentak kaget saat mengenali wajah wanita yang pingsan dihadapannya.


__ADS_2