
"Aku harus menemui Abah, siapa tahu beliau sudah menentukan tanggal untuk aku dan Tiara menikah, aku tidak mau menunggu lebih lama, bisa-bisa Tiara keburu suka sama Robi.
Fikri sudah bersiap untuk berangkat ke rumah Abah, namun ponselnya keburu berdering. Ada sebuah pesan singkat masuk.
Fikri pun membuka ponselnya, disana ada pesan dari adiknya, dia mengabarkan kalau dirinya sedang di Rumah Sakit untuk melahirkan, sudah dua hari ia tersiksa dengan kontraksi yang dialaminya.
Kontraksi terus -menerus, tapi belum ada tanda-tanda melahirkan.
Kata Dokter, kalau tidak ada perubahan selama dua hari ke depan, maka harus segera dilakukan tindakan operasi.
Begitu isi pesan singkat dari Adiknya.
"Heum..., sudah ada suami juga , kok masih ngerepotin aku sih", gerutu Fikri.
"Sudah ah, mendingan ke rumah Abah dulu",
Fikri segera keluar dari kobongnya , ia menuju rumah Abah. Namun langkahnya terhenti saat dia melihat sedang ada tamu di rumah Abah.
Fikri yang penasaran, tidak langsung meninggalkan rumah Abah, namun dia malah menguping di balik tembok.
"Abah..., kami pamit dulu, sudah beberapa hari merepotkan di sini", senyum Pak Robani.
"Ah..., tidak..., Abah justru senang rumah ini jadi rame, kalau kaluan ada di sini.
"Abah..., sebenarnya saya sangat berharap hubungan keluarga kita lebih erat lagi", senyum Bu Arimbi.
"Saya ingin melamar Tiara untuk Robi", ucap Pak Robani.
"Abah juga berharap begitu, seandainya Abah belum mempunyai janji, pasti Abah akan menjodohkan Tiara dengan Robi, tapi..., Abah sudah berjanji sama seseorang soal itu",
"Coba..., mana Tiara Umi?, ke sini sebentar , Abah ingin bicara",
"Baik, Abah...",
"Sini Neng!, duduk dekat Abah",
"Nak Robi melamar kamu, Abah sendiri tidak bisa menjawab, karena Abah sudah terlanjur punya janji pada seseorang, Ara juga tahu itu, hanya saja Abah juga tidak akan memaksakan kehendak, jika Ara bersedia, Abah akan memenuhi janji Abah, jika tidak, Abah tidak akan memaksa",
"Tiara mau menerima lamaran Nak Robi?, atau mau memenuhi janji Abah, dengan Fikri?", Abah menatap Tiara.
Sejenak semua diam, semua menunggu jawaban dari Tiara.
"Jawab saja yang jujur Neng, ini untuk masa depan Neng, keputusan ini akan Neng jalani sepanjang usia Neng, jadi harus sesuai dengan keinginan Neng, biar tidak ada masalah apa pun kedepannya", sarankan Umi.
"Bismillah Umi, Tiara mau menerima lamaran Robi", lirih Tiara.
__ADS_1
"Alhamdulillah...", seru Pak Robani dan Bu Arimbi.
Begitu juga Robi, hatinya begitu bahagia, ternyata Tiara pun menyambut baik maksud hatinya.
"Ini keputusan kalian, Abah tidak akan memaksa, karena kalian juga yang akan menjalani",
"Kurang ajar...., berani-beraninya dia menikung , dan kenapa Abah juga jadi ikut-ikutan, ini tidak bisa dibiarkan, aku juga bisa berbuat lebih dari itu, yang akan membuat kalian semua menyesal karena telah meremehkanku", geram Fikri.
Fikri meninju tembok yang ada dihadapannya sekuat tenaga, lalu segera pergi meninggalkan rumah Abah.
"Astaghfirullah..., suara apa itu?", Abah langsung berdiri dan menuju luar, menuju suara yang tadi didengarnya.
Robi pun mengikutinya, "Ada apa Abah?",
"Tidak tahu, tadi suaranya dari sini, tapi entah apa, tidak ada yang mencurigakan.
Robi berdiri dan melemparkan pandangan ke sekeliling kobong yang ada, dia bisa melihat sekilas, bayangan orang berlari di antara deretan kobong-kobong.
'Pasti ada orang yang menguping di sini', batin Robi bicara. Kecurigaannya langsung tertuju kepada Fikri.
'Heum..., lihat saja, nanti semua keburukanmu segera terbongkar Fikri', kembali Robi bicara dalam hatinya.
"Sudah Abah, kita masuk kembali, mungkin tadi itu suara benda jatuh", Ajak Robi.
"Tidak ada apa-apa", senyum Abah.
"Kami pulang dulu Abah, lusa ke sini lagi, kita siapkan acara buat kegiatan di malam peringatan tahun baru Islam , saya juga titip Risman, lihat!, dia pasti sudah tidur bersama Gilang", ucap Bu Arimbi.
"Kenapa tidak pagi hari saja Pih, pulangnya", usul Robi.
"Sudah kelamaan di sini, Papih juga ada proyek baru nanti malam, siapa tahu gol", senyum Pak Robani.
Robi mentautkan kedua alisnya, ia merasa tidak mengerti dengan ucapan papihnya tadi.
"Ya udah, hati-hati di jalan", senyum Robi. Ia memeluk papihnya, Robi baru mengerti maksud dari ucapan papihnya tadi.
Setelah bersalaman, Bu Arimbi dan Pak Robani meninggalkan rumah Abah.
"Awas kalian ya!, beraninya menggeser aku", geram Fikri, ia terengah-engah begitu sampai di kobongnya.
"Kali ini kalian bisa tertawa bahagia, tapi tunggu, sebentar lagi, derita kalian akan datang, ha...ha...ha....", Robi tertawa lepas.
Malam ini, Nyimas mempunyai kesempatan untuk lebih dekat dengan Gilang dan Risman.
Dua anak kecil itu kini sedang berada dikamarnya, mereka bermain di sana, karena semua orang sedang berkumpul di ruang tamu Abah.
__ADS_1
Gilang tampak sudah tertidur di atas karpet, dan Risman masih asik main pazzle bersama Nyimas.
"Nak..., apa kamu masih ingat dengan wajah ibumu? ,tanya nyimas kepada Risman.
Risman mengangguk, ia sekilas menatap Nyimas.
"Apa seperti ini wajah ibumu?", tanyai Nyimas, ia perlahan membuka kain penutup wajahnya.
Risman menatap ibunya, ia seperti sedang mengingat sesuatu," Ini Ibu...?", Risman menatap Nyimas.
"Iya sayang..., ini ibu, Ibu senang, kamu selamat Nak", Nyimas memeluk Risman.
"Kamu jangan bilang-bilang dulu pada orang lain", perintah Nyimas.
"Iya Bu", Risman mengangguk.
"Bu Arimbi baik kan?",
"Iya.....", senyum Risman.
"Jangan sering-sering main ke kobong Ustad Fikri ya?, kalau mau belajar, di sini juga bisa, ada Ibu, ada Teh Tiara, ada Gilang juga",
"Kenapa tidak boleh?, Ustad Fikri baik Bu?",
"Iya, Ibu tahu, tapi lebih baik di sini saja, biar Ibu bisa mengawasimu", senyum Nyimas.
"Risman juga tidak boleh bilang sama siapa-siapa dulu kalau Ibu, Mamahnya Risman, biar nanti Ibu yang memberitahu mereka ya?",
"Iya Bu", Risman memeluk ibunya.
*****
"Semua sudah siap?, kamu hubungkan semua tali ini dengan bahan bakar yang sudah kita sembunyikan dalam botol, jadi saat kita nyalakan sumbunya, api akan cepat menjalar ke dalam", Aleks dan Joko sedang membaca denah, yang berisi rencana mereka untuk membakar bengkel Robi.
"Kamu sudah hubungi Dery juga kan?",
"Sudah, tenang saja, semua rencana sudah siap", kekeh Joko.
"Kita akan kaya, kalau klaim asuransi itu sudah cair, kita bisa terbang ke luar negeri, kita aman di sana", kekeh Aleks.
"Jangan lupa, kita kosongkan dulu itu bengkel, barang-barang berharga kita ambil dulu semuanya",
"Siap!, mumpung mereka lagi pada pergi, kita preteli dulu barang-barang yang berharganya", seringai Joko.
Tidak lama lagi mereka akan melancarkan rencananya, Robi yang menjadi sasarannya.
__ADS_1