Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa

Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa
Malam Japak


__ADS_3

Mobil yang ditumpangi Robi dan Tiara terus melaju, sepertinya mobil itu akan membawa mereka menuju ke luar kota.


Mobil itu dilengkapi juga dengan showcase mini yang lengkap dengan makanan dan minuman siap saji, namun untuk kali ini, semua itu tidak menarik bagi Robi, ia lebih tertarik terus memeluk istrinya yang kini sudah kembali terlelap.


Dan Robi pun akhirnya tertidur sambil memeluk Tiara. Hingga saat mobil sudah sampai dan berhenti pun mereka masih tetap betah di dalam.


Pak Sopir tidak berani untuk membangunkan mereka, dia lebih memilih duduk di kedai yang menjual makanan, dia membeli segelas kopi dan beberapa kue basah.


Ternyata mereka sudah berada di depan sebuah resort yang berada di pinggir pantai.


Deburan ombak mulai terdengar seiring dengan semilirnya angin pantai.


Perlahan Tiara membuka matanya, ia merasa sedikit sesak karena kini kepala Robi sudah menindih punggungnya, dan dia ternyata tertidur di pahanya Robi.


Tiara menepuk pelan paha suaminya itu. Robi pun mulai duduk tegak sambil mengucek-ngucek matanya. Tangannya langsung mengusap lembut kepala Tiara yang masih berada dipangkuannya.


"Sudah bangun?", tanyai Robi.


Tiara lalu mengangkat kepalanya dan duduk disamping Robi.


"Sudah, aku hampir sesak nafas tadi, kok tidur di punggungku", Tiara sedikit menggeliatkan tubuhnya.


"Ketiduran..., tidak sengaja, maaf...", senyum Robi, ia mengusap punggung Tiara.


"Nanti juga terbiasa aku....", Robi menggantung ucapannya.


"Terbiasa apa ?", tatap Tiara.


" Terbiasa aku tidur....",


"Hap...", Tiara langsung menutup mulut suaminya itu dengan tangannya.


"Iihh...., mau bilang sih..., malu..., nanti ada yang dengar", Tiara membulatkan matanya ke arah Robi.


Dan Robi malah mengambil kesempatan, ia pegangi tangan Tiara yang sedang menutup mulutnya itu, dan langsung ia ciumi. Tiara langsung kaget, ia berusaha menarik kembali tangannya, namun Robi memegangnya erat.


"Eit..., kamu yang kasih..., mana mungkin aku tolak", senyum Robi sambil kembali menatap mata Tiara.


Tiara menunduk, sungguh sentuhan bibir Robi dijari tangannya membuatnya berdesir dan jantungnya berdebar hebat.


" Mo...mobil ini seperti ini berhenti, apa kita sudah sampai?", Tiara berusaha mengalihkan perhatian Robi.


Robi pun baru ngeh, ia memegang lengan Tiara, dan membuka tirai yang menutup kaca mobil, dan benar saja, di luar sana tampak pemandangan yang begitu indah.

__ADS_1


" Masya Allah..., indah sekali...", gumam Tiara.


"Aku mau melihat ke luar, kita sudah sampai", Tiara tersenyum merekah, Robi bisa melihatnya.


"Ayo...!", Robi membuka pintu mobil dan menarik tangan Tiara untuk ke luar.


"Tuan Muda, ...Nona ", sapa sopir yang sedari tadi duduk di luar menunggui mereka sambil minum kopi.


"Jadi..., ke sini kita ?", Robi mengedarkan pandangannya ke sekeliling, kini mereka sudah berada di sebuah pulau yang sangat indah, deburan ombak pun sesekali terdengar.


"Iya Tuan, ini kunci kamar hotelnya, tugas saya sudah selesai", ucap sopir.


"Tuan bisa tinggal di sini sesuka Tuan, nanti kalau mau pulang, tinggal hubungi saya lagi", ucap sopir itu lagi.


"Ini semua Papih yang rencanakan?", tanyai Robi.


"Iya Tuan, ini semua rencana Pak Robani, kalau sudah tidak ada yang lain lagi, saya permisi Tuan", ucap sopir itu dengan tersenyum. Sopir itu jadi salfok , karena sedari tadi lengan Robi terus saja melingkar di pinggang Tiara.


"Oh..., iya Pak, terima kasih banyak", senyum Robi, ia menatap kepergian sopir itu yang melajukan kembali mobilnya, meninggalkan Robi dan Tiara.


"Sekaranglah saatnya...", tatap Robi kepada Tiara.


"Apa...?", Tiara merasa kurang jelas mendengar ucapan suaminya itu.


"Sekarang saatnya aku masuk...", bisik Robi.


Tiara membulatkan kembali kelopak matanya ke arah suaminya .


"Sekarang saatnya kita masuk...", Robi kembali meraih lengan istrinya dan membawanya masuk menuju kamar yang tertera dalam kunci yang kini sudah dipegangnya.


"Ceklek...", kunci kamar sudah dibuka, Robi mendorong daun pintu dan pintupun terbuka.


Ternyata itu bukan hanya kamar hotel saja, tapi di dalamnya sudah dilengkapi dengan dapur dan ruang tamu, ruangan itu sudah seperti apartement saja


"Wah..., mewah sekali", gumam Tiara, ia langsung menghambur ke dalam. Tiara tampak menuju dapur, disana sudah lengkap, semua bahan makanan sudah tersedia di lemari pendingin.


"Ini juga pasti sudah Papih siapkan untuk kita", Robi tiba-tiba memeluk Tiara dari belakang, tangannya melingkar erat dipinggang Tiara.


Lagi-lagi, Tiara merasa desiran yang lebih hebat, bahkan jantungnya berdebar lebih hebat dari tadi saat lengannya disentuh bibir Robi.


"Papih memang the best, kita harus bawakan ia oleh-oleh sepulang dari sini", bisik Robi.


"Oleh-oleh..., apa...?", ucap Tiara sambil berusaha mengatur ritme nafasnya. Kini tubuh Robi sudah benar-benar menempel dengan punggungnya.

__ADS_1


"Papih ingin oleh-oleh cucu", bisik Robi.


"Ayo kita mulai saja, aku sudah tidak sabar", ucap Robi sambil langsung mengangkat tubuh Tiara , ia menggendong Tiara menuju kamar utama.


Tiara hampir menjerit karena kaget, ia kini makin gugup saja, tangannya melingkar sempurna dileher Robi.


Dengan susah payah Robi membuka pintu kamar karena sambil menggendong Tiara.


Begitu terbuka, harum semerbak bunga langsung tercium oleh mereka berdua.


Dan tampaklah tempat tidur ukuran big size dengan taburan bunga mawar merah dan bunga melati yang dibentuk hati ditengahnya.


Dengan susah payah juga Robi menutup kembali pintu kamar, lalu ia berjalan menuju tempat tidur dan dengan perlahan menidurkan Tiara di sana.


Robi mengecup mesra bibir istrinya yang masih tertutup cadar.


"Kita mandi dulu", Robi melepas cadar Tiara dan tampaklah kecantikannya.


"Kita mandi bersama, biar sekalian beresnya", bisik Robi.


Tiara kembali membulatkan kelopak matanya.


"Tidak apa, kita sudah halal", bisik Robi lagi. Tanpa menunggu persetujuan Tiara, Robi kembali memangku Tiara menuju kamar mandi. Tiara sudah pasrah, karena ini memang sudah menjadi haknya Robi.


Di dalam kamar mandi, Robi mulai membuka pakaian istrinya satu per satu. Tiara kini hanya tertutupi pakaian dalam saja.


"Masya Allah..., kamu benar-benar menyembunyikan mutiara, kulitmu seputih susu, kamu cantik sekali istriku", Robi terus memandangi tubuh polos istrinya itu.


"Apa kamu gugup?", bisik Robi, suaranya bergetar, ia sedang berusaha mengendalikan deburan rasa yang kian bergejolak, matanya sudah diliputi gairah.


Dan Robi pun mulai membuka pskaiannya, untuk pertama kalinya mereka saling melihat aurat setelah sah menjadi suami istri.


Selesai mandi, Robi dan Tiara melaksanakan shalat sunat dua rakaat.


Robi duduk menghadap istrinya, Tiara meraih tangan Robi dan menciumnya takjim, Robi pun mengecup pucuk kepala istrinya.


"Kita mulai sekarang", bisik Robi.


"Apa kamu gugup?, atau takut?", senyum Robi, ia meraih dagu istrinya, lalu menemkan wajahnya dengan wajah Tiara. Robi mengec*p lembut bibir istrinya itu. Hembusan nafas mereka saling beradu.


"Tidak..., aku sudah siap memberikan hakmu suamiku sayang", ucap Tiara dengan suara bergetar.


Robi tersenyum, ia langsung membuka sarung dan mukena Tiara, lalu kembali menggendong istrinya dan membaringkannya di atas kasur empuk.

__ADS_1


__ADS_2