Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa

Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa
Menjemput Impian


__ADS_3

"Sepertinya aku harus segera pergi dari kota ini, di sini sudah tidak ada tempat lagi untukku, aku juga malu kalau semua teman-teman mengetahui keadaanku yang sebenarnya, Robi sepertinya akan membenciku, apalagi Dery", Gumam Marisa yang tampak sedang duduk di samping jendela kamar tidurnya .


Suasana pagi itu sangat cerah, sinar matahari mulai terasa menghangatkan tubuhnya.


Marisa beranjak menuju dapur , ia mendapati Bi Iroh sedang menata makanan di atas meja makan.


"Lho ...kok masih setelan tidur, tidak kuliah lagi hari ini?", tanya Bi Iroh begitu melihat Marisa yang langsung duduk di meja makan dan mencomot tahu goreng yang masih hangat, ia mengunyahnya dengan malas.


"Bi..., kita pergi saja dari sini, aku sudah bosan di sini", ucap Marisa , ia menyandarkan tubuhnya ke kursi.


"Pergi dari sini?, ke mana?, terus kuliahnya bagaimana, dan rumah ini juga, nanti akan terlantar", Bi Iroh menatap Marisa.


"Aku sudah malas di sini Bi, kuliah juga sudah tidak bersemangat, rumah ini kita kontrakan saja, uangnya bisa buat biaya hidup, atau buat modal", jelaskan Marisa.


"Terus...kita pergi kemana?", kembali Bi Iroh menatap Marisa, yang kini sedang menuangkan air ke dalam gelas.


"Kita ke Kampung Bibi saja , sepertinya di sana akan lebih tenang",


Bi Iroh terdiam, ia sedang menimbang-nimbang ucapan Marisa. Kalau kembali ke Kampung, berarti mereka harus bertemu kembali dengan keluarganya Nyimas.


Dulu, orang tua Marisa di usir dari kampung gara-gara aduan keluarga Nyimas.


'Tapi itu sudah lama, mereka mungkin sudah lupa kejadian itu karena sudah hampir sepuluh tahun berlalu.


Dan waktu itu Marisa masih kecil, dia tidak tahu apa-apa. "Mungkin itu lebih baik, tapi orang tuamu nanti akan marah kalau kita kembali ke sana", ucap Bi Iroh.


"Ya...jangan bilang ke Ibu kalau kita pindah , Ibu kan jauh, ia tidak akan mengetahuinya",


"Tapi...Bibi takut",


"Takut...?, memangnya kenapa?", Marisa menatap Bi Iroh.


"Oh...tidak..., maksud Bibi kita kan sudah lama di sini, jadi merasa takut tidak betah di sana", alasan Bi Iroh, hampir saja ia bicara keceplosan.


"Andai saja tahu dimana Kak Fikri, mungkin kita lebih memilih bersamanya", Marisa menerawang.


"Fikri?, Neng masih ingat?", Bi Iroh menghampiri Marisa dan duduk disampingnya.


"Ya...iya lah Bi, dia itu kan Kakak Marisa, masa lupa?, aneh ", kekeh Tiara.


"Euh...iya, tapi lebih baik kita ke Kampung saja Neng, dari pada mencari Fikri",

__ADS_1


Marisa menatap Bi Iroh, ia merasa aneh dengan ucapannya.


"Sudahlah..., makan dulu, kita bicarakan lagi nanti, kalau rumah ini sudah ada yang mau menyewa, baru kita pindah ke Kampung", jelas Bi Iroh.


Mereka berdua makan dengan menu sederhana, karena sudah hampir dua bulan ini, Bu Irma yang tidak lain Kakak dari Bi Iroh , dan Ibu dari Marisa, mentransfer uang hanya setengah dari biasanya, jadi mau tidak mau mereka harus irit.


"Aku harus pergi sekarang, sebelum Polisi mencariku", gumsm Dery. Ia sudah siap dengan tas ransel besar, semua uang kes yang ada di bengkel, ia bawa semua, padahal itu uang gaji milik teman-temannya.


Ia keluar perlahan meninggalkan teman-temannya yang masih tidur, mereka semua baru tidur menjelang pagi , karena habis pesta-pesta lagi semalam.


Saat Dery pergi dengan sepeda motornya pun, mereka masih tidur pulas.


Dery memacu cepat sepeda motornya, ia menuju arah yang berlawanab dengan arah ke Kota, ya...sepertinya Dery pun akan pergi ke luar Kota untuk menghindari endusan pihak Kepolisian.


"Tunggu Robi, aku belum selesai denganmu, aku akan tetap mencari cara untuk membuatmu menderita", geram Dery. Ia makin mempercepat laju sepeda motornya.


Robi baru saja selesai shalat subuh, ia merasa ingin terus belajar, tapi tidak ada yang membimbingnya. Tidak seperti waktu di penjara , ia selalu bersama Badrun yang telaten mengajarinya.


"Eum...ternyata kamu Dery, kamu yang sudah menabrak lari Abah dan Umi, aku sudah bisa menduganya. Robi mengingat kembali rekaman CCTV yang sempat dilihatnya kemarin di penjara.


"Oh...iya, bagaimana dengan Abah dan Umi?, apa mereka sudah pulang dari Rumah Sakit?", Robi menerawang. Ia masih belum berani untuk bertemu dengan Abah, karena sepertinya Abah masih marah kepadanya.


"Robi mana?, tumben belum turun?, ini sudah waktunya makan", Pak Robani melirik ke arah tangga.


"Sepertinya serius itu anak", tatap Pak Robani.


"Apa Papih titipkan saja di Pondok, Papih punya tempat yang bagus untuk belajar agama, pengasuhnya itu sahabat mendiang Bapak, pasti beliau senang jika cucu sahabatnya ikut mondok di sana", usul Pak Robani.


"Coba saja bicarakan dulu dengan Robi , kalau dia mau dan setuju, silahkan saja",


Robi terlihat menuruni tangga dengan lemas , ia seperti tidak semangat.


Bu Arimbi dan Pak Robani menatapnya, mereka saling pandang.


"Kenapa kamu, kok kaya orang sakit saja, kemas begitu, ini di rumah, kamu sudah bebas, ayo cepat sarapan!", perintah Pak Robani.


"Hah, rasanya lebih nyaman di penjara daripada di sini", ucap Robi datar, ia duduk di samping Bu Arimbi.


"Kenapa?, ada apa?, bicara saja", tatap Bu Arimbi.


"Kamu harus semangat dong, katanya mau membantu membebaskan Badrun?", tatsp Pak Robani.

__ADS_1


"Iya..., Robi ingin belajar ilmu agama Pih, rasanya semakin minum semakin haus begitu", kekeh Robi.


"Bagus itu , tapi ingat!, kamu itu penerus Papih, pewaris tunggal , harus mampu juga kamu mengelola Perusahaan, jangan hanya soal agama saja",


"Iya...iya..., itu nanti Pih gampang",


"Sekarang siap-siap, kita akan ke tempat yang kamu mau", ucap Pak Robani.


"Kemana Pih?", tatap Robi.


"Sudah..., ikut saja , lihat dulu tempatnya, kamu suka atau tidak, katanya mau belajar agama , makan dulu yang benar!, setelah itu kita langsung berangkat ke sana", ucap Pak Robani.


Mereka menyelesaikan makannya, dan setelah itu bersiap pergi membawa Robi ke suatu tempat.


"Kemana Papih akan membawaku?, sebenarnya ingin ke tempatnya Tiara, tapi takut sama Abah", gumam Robi. Lama-lama ia terlelap juga , karena semalam tidurnya hampir menjelang pagi.


Hingga saat mobil memasuki sebuah Pondok, Robi masih tertidur.


"Nah...ini tempatnya Mih, enak kan?, suasananya masih asri", senyum Pak Robani. Ia melirik ke arah Robi yang masih terlelap.


"Yah..., kok malah tidur", gumam Pak Robani.


"Biarkan saja, kasihan, dia pasti masih ngantuk", usul Bu Arimbi.


Kedatangan mereka dengan mobil mewahnya menjadi pusat perhatian para santri.


Apalagi saat melihat Bu Arimbi yang berpakaian berbeda, walau pun ada kain pasmina panjang yang menutup sebagian rambutnya saja.


"Siapa Mereka?, tamu dati kota sepertinya", gumam para santri.


"Ini pondoknya Mih, Pondok Al-Furqon, pasti Robi akan betah di sini, di mana rumah Kyai nya, Papih lupa lagi", Pak Robani tampak menatap satu per satu bangunan dihadapannya.


"Sudah banyak sekali yang berubah di sini",


"Assalamu'alaikum..., Ada yang bisa saya bantu?", seseorang menghampiri mereka, ia tampak memakai topi dan ada sebuah sapu di tangannya.


"Wa'alaikum salam...", saya mencari rumah Pak Kyai?", senyum Pak Robani.


"Oh..., yang cat putih itu rumahnya, saya Daman, penjaga kebun di sini",


"Oh ..iya, terima kasih, kami ke sana dulu", senyum Pak Robani.

__ADS_1


Mereka menuju rumah yang ditunjuk Mang Daman tadi dan meninggalkan Robi sendiri yang tertidur di dalam mobil.


__ADS_2