
Shalat subuh berjama'ah sudah mau di mulai, hari ini untuk pertama kalinya Abah bisa shalat berjama'ah lagi di Masjid.
Semua santri menyalaminya dengan takjim. Semua senang, Abah akan kembali mengajar mereka.
Seperti biasa, Ustad Fadil berdiri untuk membaca iqomat. Dengan langkah pasti, Fikri berjalan menuju mimbar imam, ia yang akan kembali mengimami shalat.
"Allahu Akbar...", Fikri mulai takbiratul Ikram.
Lalu dengan fasih ia membacakan surat berikutnya, sengaja ia pillih surat yang panjang.
Dan pada rakaat ke dua, Robi lupa , ia langsung sujud, tanpa membaca do'a qunut.
Padahal Abah selalu mengajarkan untuk membacanya setiap shalat subuh.
Salah satu jama'ah membaca bacaan tasbih untuk mengingatkan Fikri. Dan di akhir sujud, semua jama'ah melakukan sujud sahwi.
Sesudahnya Fikri tampak menunduk, ia merutuki dirinya sendiri yang sampai lupa tidak membaca do'a qunut.
Sebagian santri sudah meninggalkan Masjid, Fikri tampak enggan bangkit, ia memilih tetap duduk di mimbar imam, ia sengaja lakukan menunggu semua jama'ah pulang semua. Mungkin ia merasa malu dengan kelalaiannya tadi, apalagi ada Abah.
Robi dan Abah pun meninggalkan Masjid, Robi sudah janji dengan Gilang yang akan mengajarinya iqro lagi.
"Nah, hal seperti tadi sudah biasa terjadi, lupa itu manusiawi, hanya saja yang terpenting itu, kita harus senantiasa fokus, dan jangan sombong, jangan angkuh, jangan merasa paling pintar, ingat!, masih ada Allah", nasehati Abah.
"Sekaya apa pun orang, sepintar apapun orang, kalau sombong, mudah sekali bagi Allah untuk menjatuhkannya", sambung Abah.
"Iya...terima kasih Abah",
"Abah duluan, hari ini ada pengajian di acara khitanan", pamit Abah.
Di depan kobongnya Gilang sudah berdiri, ia senyum-senyum kecil . "Nah...lho...ini anak kecil kenapa tidak ke Majid?", Robi mengacak lembut rambut Gilang.
"Iya..itu ...., Gilang kesiangan bangunnya, habis semalam tidak bisa tidur, keingetan terus sama Teteh",
"Memangnya ada apa dengan Teteh?", tatap Robi.
"Hari ini, Teteh mengajak Gilang ke taman kota, sekalian ke pasar",
"Memangnya Teteh tidak kuliah hari ini?",
"Ga tau, pokoknya Teteh hati ini ngajak Gilang jalan-jalan",
"A Robi mau ikut?, kita jalan-jalan ",
"Nggak ah, kalau Teteh yang ngajak, tidak akan menolak", kekeh Robi.
"Yah..., pagi ini tidak belajar Iqro dong, gurunya mau jalan-jalan", goda Robi.
"Nanti saja, pulang jalan-jalan, Gilang ajarin Iqro lagi",
"Iya boleh, jangan lupa oleh-olehnya ya?", senyum Robi.
"Ah...oleh-oleh..., A Robi mau apa, permen apa roti?",
"Mau kalian cepat pulang saja", senyum Robi.
"Sudah sana, Teteh sudah menunggu tuh", Robi melihat Tiara sudah mengeluarkan sepeda motornya.
Benar saja, Tiara melambaikan tangannya ke arah Gilang, melihat itu, Gilang segera berlari menghampirinya.
Robi mengawasi dari tempatnya berdiri, ia mengagumi sosok Tiara yang mandiri, Tiara tidak pernah merepotkan Abah dan Umi. Walau dirinya anak tunggal, tetapi Tiara tidak manja.
Robi segera memasuki kobongnya, ia kembali membaca kitab yang kemarin dibelikan Tiara. Sampai tidak terasa ia terlelap dalam duduknya.
Sebuah mobil mewah memasuki pekarangan Pondok Al-Furqon, ia adalah Bu Arimbi dan Bi Mimi yang baru saja sampai.
Bu Arimbi terlihat berbeda, kini ia memakai setelan gamis beserta kerudungnya. Mereka berjalan menuju rumah Abah.
"Aduh...Nyonya ini tempatnya?, tenang sekali, masih asri", Bi Mimi melihat kesekeliling.
__ADS_1
"Pantas saja Den Robi betah di sini", gumam Bi Mimi.
"Assalamu'alaikum", Bu Arimbi mengucap salam di depan pintu.
"Wa'alaikumsalam ..., suara jawaban dari dalam, dan tak lama pintu pun terbuka, Umi mematung di ambang pintu, ia memabdangi Bu Arimbi.
"Umi, sehat?",
"Alhamdulillah..., ini ..?",
"Saya ibunya Robi Umi", Bu Arimbi tersenyum. Ia memaklumi tingkah Umi yang pasti tidak mengenalinya dengan penampilan barunya.
"Alhamdulillah, ini ibunya Robi, cantik sekali, Umi sampai pangling", senyum Umi Anisa, ia memeluk Bu Arimbi.
"Ayo silahkan masuk, kita di dalam ngobrolnya", ajak Umi.
"Iya, terima kasih Umi", Bu Arimbi masuk ke dalam diikuti Bi Mimi.
Mereka duduk di ruang tamu, sebentar Umi buatkan dulu minuman", pamit Umi.
"Oh...tidak usah Umi, tadi di d jalan saya sudah membeli ini", Bu Arimbi mengeluarkan bungkusan yang dibawa Bi Mimi.
Ada bandrek dan bajigur, lengkap dengan kue basahnya.
"Aduh ..., kok malah repot-repot begini, padahal kalau mau datang, datang saja", senyum Umi.
"Ini tadi di jalan bertemu pedagang bajigur, jadi sekalian saja saya bungkus buat bekal ke sini, silahkan Umi", persilahkan Bu Arimbi.
"Wah...ini jadi kebalik, tamu yang menjamu ", senyum Umi.
"Tidak apa Umi, sekali-sekali boleh, jangan saya melulu yang di jamu Umi, oh iya Tiara kemana?, kok sepi?", Bu Arimbi melihat ke dalam.
"Tiara lagi ke pasar, sekalian mengajak jalan-jalan Gilang",
"Gilang?, anak kecil yang waktu itu?", tanya Bu Arimbi.
'Tiara saja yang masih sendiri, bisa merawat Gilang, masa aku tidak bisa?', pikir Bu Arimbi. Ia teringat usul Bi Mimi tadi, soal mengambil anak dari Panti.
"Oh ..., mulia sekali dia, sudah punya rasa empati pada orang lain", puji Bu Arimbi.
"Alhamdulillah, Tiara sedari kecil sampai sekarang, tidak pernah merepotkan orang tua", senyum Umi.
"Saya lihat di sana ada mesin jahit, siapa yang bisa menjahit?", tatap Bu Arimbi.
"Tiara, dia biasa menjahit bajunya sendiri",
"Wah...cocok nih Umi, saya sedang berencana ingin memulai bisnis busana muslimah, kalau Tiara bisa menjahit, bisa bekerja sama, kan Tiara yang lebih tahu model-model busana muslimah yang sedang diminati saat ini, saya senang sekali", Bu Arimbi tampak sumringah.
"Alhamdulillah..., Umi ikut senang, apa Ibu mau bertemu Robi juga?, Umi antar ke kobongnya",
"Iya Umi, saya sudah kangen, walau sudah besar tetap saja kangen, saya juga sering kesepian di rumah",
"Iya, namanya juga sama anak, kasih sayang tidak akan pudar, walau anak sudah besar sekalipun, mari Umi antar ", Umi berdiri menuju kobong Robi, diikuti Bu Arimbi dan Bi Mimi.
"Nah..., ini kobongnya", Umi berhenti tepat di depan kobong Robi, tak lama datang Mang Danan yang baru beres dari kebun belakang.
"Mang, ini ibunya Robi", perkenalkan Umi.
"Assalamu'alaikum, sebentar, Den Robi pasti ada di dalam", Mang Daman segera membuka pintu kobong dan menpersilahkkan Bu Arimbi masuk.
"Robi...?", Bu Arimbi merasa terenyuh, saat dilihatnya Robi sedang duduk tertidur di atas kasur lipat, ia masih memegang kitab pemberian Tiara yang tadi sedang dibacanya.
Bu Arimbi dan Bi Mimi duduk diatas tikar plastik, Umi pun ikut duduk, sementara Mang Daman memilih pergi ke Masjid, ia membersihkan diri di sana.
"Robi...", lirih Bu Arimbi, ia tidak menyangka anaknya mampu meninggalkan semua kemewahan dirumahnya, kobong ini tidak lebih besar dari kamar mandi dirumahnya. Dan kasurnya juga sangat jauh berbeda dengan kasur yang ada dikamarnya, tapi Robi tampak lelap.
Bu Arimbi perlahan menyentuh tangan Robi, dan Robi pun membuka matanya, ia mengerjap-ngerjapkan matanya, mengumpulkan kembali semua ingatannya.
Ia mendapati sosok berjilbab sedang tersenyum didepannya, "Ti...a...ra...?",
__ADS_1
"Ini Mamih Nak, bukan Tiara", kekeh Bu Arimbi.
"Mamih...?", Robi langsung terperanjat .
"Mamih..., ini benar Mamih...?", ulangi Robi.
"Lihat yang jelas!, Mamih atauTiara?", senyum Bu Arimbi.
Robi menatap lekat orang didepannya.
"Mamih...?, kok bisa begini?", Robi memegangi tangan mamihnya.
"Bagaimana ....cantik kan?, seperti Tiara kan ...", senyum Bu Arimbi.
"Euh...Mamih", Robi menunduk.
"Kamu sehat Nak ?", Bu Arimbi mengelus lembut rambut Robi .
"Seperti yang Mamih lihat, Robi baik-baik saja di sini",
"Ibu jangan Khawatir, Robi anak penurut, Abah akan mengajarinya", sambar Umi.
"Iya...terima kasih Umi",
"Mamih ke sini mau bicara dengan Tiara, tapi Tiara sedang ke luar, Mamih tunggu saja di sini", senyum Bu Arimbi.
"Nah...mumpung Ibumu ada di sini, ajak jalan-jalan keliling Pondok", suruh Umi.
"Iya, Mamih penasaran ingin melihat sungai, ada suara gemericik air sepertinya", Bu Arimbi melirik Robi.
"Boleh Mih, siapa tahu Papih tertarik membuat Villa di sini", cicit Robi.
"Kalau begitu, Umi kembali ke rumah, menunggu Abah dan Tiara pulang, kalian jalan-jalan saja dulu",
"Iya Umi", Robi mengantar mamihnya melihat sekeliling Pondok, ditemani Bi Mimi.
Santri-santri banyak yang memperhatikan mereka.
"Tuh lihat, dia sudah berani membawa pacarnya ke sini, cantik juga ya?",
"Iya .., kirain masih jomblo", celetuk para santri yang melihat keakraban Robi dan Bu Arimbi.
Mereka mengira Bu Arimbi pacarnya Robi, karena Bu Arimbi terlihat awet muda dalam usianya sekarang, maklumlah ia rajin melakukan perawatan kecantikan yang mahal.
"Heuh..., kalau saja Tiara melihat ini, dia pasti kecewa, tapi rasanya wanita itu tidak asing, siapa dia?", gumam Ustad Fikri yang memperhatikan mereka dari kejauhan.
****
Setelah puas bermain di taman kota, Tiara membawa Gilang ke pasar, ia membelikan kebutuhan dapur. Tiara belanja dengan menggandeng tangan Gilang. Takutnya ia hilang dalam keramaian
"Nah...itu sepertinya wanita bercadar itu, ia bersama anak kecil, pasti itu anakku", wanita pedagang kue mengikutinya, dengan menenteng keranjang dagangan yang berisi kue.
"Kuenya Neng?", tawari wanita itu.
Tiara membalikkan badannya, "Gilang mau kue?", tawari Tiara kepada Gilang.
'Gilang...?, anak itu..., bukan Risman?', pikir wanita penjual kue. Ia mematung memandangi Gilang, yang ia sangka anaknya, ternyata bukan.
"Dimana kamu Nak",gumamnya.
"Ibu ini jadi berapa?", Tiara memperlihatkan kue yang sudah di ambil Gilang.
"Oh...itu...semuanya jadi lima ribu", ucapnya .
Tiara segera memberikan uang sejumlah yang disebutkan pedagang itu.
"Terima kasih", ucap pedagang itu, kini ia terlihat sedih. Ia memandangi kepergian Tiara dan Gilang.
"Itu bukan kamu Nak?, kamu di mana?", isak pedagang kue itu.
__ADS_1