
"Cepat sana pakai !, tidak sulit bagi kamu untuk memakainya, pasti gampang, kamu sudah lama bergaul dengan orang-orang yang berpakaian aneh itu", ucap Eko, ia menyuruh Robi agar mencoba baju-baju muslimah itu.
"Aku tunggu di sini", ucap Eko lagi begitu Fikri menuju kamarnya kembali.
'Apa-apaan sih orang itu, masa aku harus pake baju kaya gini', gerutu Fikri, ia memasuki kamarnya dan segera membuka kantong berisi pakaian syar'i itu.
"Dari mana lagi orang itu bisa punya barang-barang seperti ini", gerutu Fikri. Ia mulai mencoba memakai baju muslim itu lengkap dengan jilbab panjang dan cadarnya. Lalu ia mulai bercermin, dan tertawa terbahak, namun segera ia tahhan dengan telapak tangannya, agar suara tawanya tidak terdengar ke luar.
"Wow..., apa ini aku?, beda sekali penampilanku, mana menyangka kalau ini aku, ha...ha....ha..., Abah..., Umi , Tiara, semua tidak akan mengenaliku lagi", seringai Fikri.
Fikri berjalan menuju luar, ia menghampiri Eko kembali.
Tanpa bicara Fikri berjalan melewati Eko yang masih duduk ditempatnya . Eko terperanjat begitu melihat ada wanita berjilbab di rumahnya.
"Hai..., siapa kamu?, beraninya masuk rumah orang tanpa permisi", teriak Eko sambil langsung berdiri menghalau Fikri.
"Ini saya Tuan?", ucap Fikri sambil menahan tawa.
" Kamu... Siapa?", tanyai Eko masih belum menyadari.
Lalu Fikri membuka cadarnya, hingga tampaklah wajahnya oleh Eko. Kumis tipisnya yang tidak bisa disembunyikan membuat Eko dengan cepat mengenalinya.
"Wow..., ferfect !, aku hampir tidak mengenalimu, ini sempurna untuk mengelabui mereka, hanya saja, suaramu dan gaya berjalanmu yang harus sedikit di ubah, masa ada seorang muslimah berkumis, dan jalannya kaku kaya robot begitu",
"Yah...itu butuh proses Tuan",
"Mulai sekarang kamu di sini harus seperti itu, biar terbiasa saat dihadapan mereka, santai saja dulu, kita nggak usah buru-buru, kalau bergerak sekarang , masih panas", ucap Eko.
"Ini ponsel buat kamu, pelajari segala hal soal wanita berbaju besar seperti ini, biar penyamaran kamu makin sempurna", Eko memberikan sebuah ponsel kepada Fikri.
"Terima kasih Tuan",
"Iya..., sudah sana kembali ke kamar, nanti makanan akan diantar ke sana", perintah Eko.
__ADS_1
"Dan satu lagi, kamu tidak boleh keluar sembarangan, apalagi masuk lebih dalamke area rumahku tanpa ijin, kamu cukup di kamar saja, semua keperluanmu akan diantar ", perintah Eko lagi.
Fikri mengangguk walau ada rasa aneh dalam pikirannya, tapi ia tidak berani bicara lagi.
Entah mengapa, Eko tidak mau Fikri sering bertemu dengan istrinya Rena, bukan tanpa alasan ia begitu, Eko menyadari wajah tampan Fikri bisa saja menggoda Rena.
Eko sangat tahu Rena, istrinya itu tifikal wanita penggoda, yang mudah merasa suka, bahkan jatuh cinta pada pria tampan yang ditemuinya.
Fikri dengan perasaan aneh, menuju ke kamarnya kembali.
"Banyak sekali aturannya, aku seperti binatang peliharaan saja, hanya diberi kandang, dan makan saja, kalau aku sedang tidak butuh, aku sudah pergi dari sini", gerutu Fikri.
Sementara Eko cepat-cepat berdiri untuk menemui istrinya yang sudah beberapa kali mengirim pesan menanyakan keberadaannya saat ini.
"Iya sayang, aku datang", ucap Eko menjawab panggilan masuk dari Rena. Ia bergegas menuju kamarnya.
"Lama sekali?, lagi apa?, apa ponselmu tidak ada suaranya?", cecar Rena begitu melihat suaminya muncul dihadapannya.
"Maaf sayang, aku ada sedikit urusan dengan orang tadi, dia sudah sadar, dan aku suruh pulang saja", alasan Eko.
"Iya...",
"Sekilas aku lihat dia itu tampan juga", seringai Rena.
"Ah biasa saja, dia itu kucel dan bau lagi, makanya aku suruh pergi lagi", lagi-lagi Eko beralasan.
"Sudah...kamu mau tidur kan?, aku temani", Eko tidak ingin Rena banyak bertanya lagi, ia langsung naik ke atas ranjang untuk memuaskan istrinya itu biar cepat tidur.
Sementara Fikri, ia langsung saja berkutat dengan ponsel pemberian Eko, ia mencoba mengingat nomer ponsel teman-temannya yang ada di Pondok.
Namun Fikri mengurungkan niatnya itu, ia sudah mengetik nomer Ustad Fadil , namun segera di hapus kembali. "Ah...bodoh, hampir saja, kalau aku telepon mereka, bisa-bisa keberadaan aku bisa dilacak. Lebih baik seperti ini saja, lebih baik mereka tidak tahu dan melupakan aku, jadi aku akan mudah masuk ke sana lagi", seringai Fikri.
Seharian itu dia baca setiap tutorial cara berpakaian dan cara berdandan wanita bercadar, dia pun memesan celak mata yang biasa di pakai para wanita bercadar, biar penyamarannya makin sempurna.
__ADS_1
"Hmn...., aku bebas pesan online apa saja, biar saja Tuan Eko yang pongah itu yang membayarnya", seringai Fikri, ia tersenyum sambil memilih barang-barang yang ia butuhkan.
"Enak juga, walau kebebasanku sebagai Fikri sudah hilang, tetapi dengan penampilanku yang baru ini, aku menemukan kembali kebebasanku sebagai..., siapa ya...?", Fikri menerawang, ia sedang mencari nama yang cocok untuk dirinya nanti dengan penampilan barunya.
" Fatma..., ya itu saja, nama aku sekarang Fatma, bukan lagi Fikri.
"Abah..., Umi..., Tiara , aku sebentar lagi datang menemui kalian, aku akan kembali , tunggu aku Tiara", kembali Fikri tersenyum evil.
****
"Assalamu'alaikum", terdengar suara orang mengucap salam di luar. Hati Tiara tambah berdebar saja, ia bisa mengenali suara itu, itu jelas sekali suara Robi.
Tiara yang sedang di dapur segera beranjak menuju ke pintu depan, namun ia kalah cepat oleh Umi yang sudah lebih dulu sampai di depan pintu dan membukakannya.
"Wa'alaikumsalam", Umi langsung membukn pintu dan tampaklah Robi sedang berdiri , dibelakangnya berdiri Pak Robani.
Robi bisa dengan jelas melihat Tiara yang masih berdiri mematung di ambang pintu dapur , dia sedang memandang kearahnya, Robi pun seketika tersenyum.
Umi melirik ke arah Tiara sambil tersenyum, ia bisa melihat dengan jelas kalau pandangan Robi langsung tertuju kepada putrinya itu.
"Silahkan masuk Nak Robi, Pak Robani", persilahkan Umi sambil tersenyum.
"Terima kasih Umi", Robi dan Pak Robani masuk dan mereka tanpa rasa canggung lagi langsung menuju dapur, mereka tahu Bu Arimbi sedang ada di sana memasak.
"Lho...lho...lho..., Papih?, Robi? Langsung ke sini, tunggu dulu di depan, Mamih siapkan dulu makanannya, malu ih sama tuan rumah, main nyelonong ke dapur saja, kaya orang kelaparan saja", senyum Bu Arimbi .
"Justru itu Mih, kita ini sudah kelaparan, kita tidak sempat istirahat, sampai di sini langsung disuguhkan aroma sedap masakan Mamih, ya sudah..., ini perut tambah keroncongan saja", senyum Robi.
"Umi, Abah, tidak apa-apa ya, kita langsung ke dapur?", Robi melirik ke arah Abah dan Umi yang baru muncul di dapur.
"Tidak apa Nak Robi, anggap saja rumah sendiri, lagi pula Bu Arimbi juga yang sudah belanja dan memasaknya sendiri", ucap Umi.
"Maaf nih Umi, saya sudah acak-acak dapurnya, kita sekalian makan bersama saja", ajak Bu Arimbi.
__ADS_1
Akhirnya mereka kini duduk bersama di meja makan untuk menikmati hidangan.