Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa

Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa
Sabar ya..?,


__ADS_3

"Sial..., sial...., sial....!!!", teriak Eko yang kini sedang berdiri di ruang tamu yang ada di sebuah rumah yang ada komplek Permata . Sengaja ia kontrak rumah itu agar semua gerak-geriknya untuk Robi tidak diketahui Rena.


Eko mengetahui, Rena juga sempat tergila-gila oleh Robi yang notabene anak dari mantan bosnya yang juga selingkuh dengannya.


Eko mengetahui semua masa lalu Rena, tetapi rasa cintanya mengalahkan segalanya, Eko pun sadar, sebagai bad boy, dia adalah seorang casanova, yang biasa tidur dengan banyak wanita.


Bahkan banyak wanita yang dengan sukarela menawarkan dirinya untuk bisa bersama Eko. Tetapi setelah bertemu Rena, mata dan hatinya seolah tertutup untuk wanita lain. Bahkan Eko menjadi begitu possesive terhadap Rena. Hingga petualangan cintanya berakhir setelah mengenal Rena.


"Maaf Bos, ternyata mereka sudah menipu kita, Robi ternyata tidak ada di mobil pengantin itu", tunduk Bima, salah satu anak buah Eko yang ditugaskan menabrak mobil pengantin Robi.


"Siapa yang sudah membocorkan rencana kita ?", teriak Eko lagi sambil menatap satu per satu anak buahnya yang kini terduduk sambil menunduk didepannya.


"Tidak mungkin Bos, rencana kita ini rahasia kan?, tidak mungkin ada orang yang mengetahuinya, dan kita pun setelah merencanakan penyegatan Robi, langsung bergerak ke lokasi", bela Bima memberanikan diri.


"Jadi...., kenapa Robi bisa tidak ada di mobil itu, berarti mereka sudah mengetahui rencana kita", geram Eko.


"Dan kini..., Robi pasti sudah bersama wanitanya, mereka pasti sedang mentertawakan kegagalan kita", geram Eko.


"Masih ada waktu Bos, biarkan saja dia nikmati surganya dulu, setelah itu kita ciptakan neraka untuknya", kompori Roni.


"Kita tetap stand bye dijalanan, terus pantau dan cari tahu kemana perginya Robi", ucap Eko.


"Baik Bos, kita pergi sekarang juga, kalau ada kabar tentang Robi, langsung kita hubungi Bos", ucap Bima dan Roni, mereka langsung berdiri dan pergi dari hadapan Eko.


"Ayo cepat, kamu yang bawa motornya!", perintah Bima begitu mereka sudah berada di luar rumah.


"Kita pergi saja dulu, kupingku sudah panas mendengar ocehan si Bos", ucap Bima lagi sambil langsung menaiki motor yang sudah dihidupkan oleh Roni.


Tak lama sepeda motor mereka sudah berada di jalanan. Padahal tanpa mereka ketahui, kini sepeda motornya sudah beriringan dengan mobil yang membawa Robi.


Robi pun tidak menyadari hal itu, karena kini sedang fokus dengan Tiara yang sudah tertidur , dan menjadikan pundaknya sebagai sandaran.

__ADS_1


Ingin rasanya ia membelai wajah Tiara yang kini begitu dekat dengan wajahnya, namun ia tahan, karena di depan ada sopir yang tetap terjaga di belakang kemudi.


Tak lama, mobil yang Robi tumpangi berhenti di sebuah hotel, dan langsung masuk ke dalam area parkiran.


"Tuan, Silahkan turun, dan beralih ke mobil itu", ucap Sopir, tanpa melihat ke arah Robi.


"Kenapa Pak?", Robi tampak bingung.


"Ini instruksi dari Papih Tuan", ucap sopir sambil tersenyum.


"Iya, saya mengerti Pak, tapi sebentar", Robi tampak sedang berusaha menggendong tubuh istrinya, Robi tidak berani untuk membangunkannya.


Sopir turun dan membantu membukakan pintu untuk Robi.


Kini Robi dan Tiara sudah berada di dalam mobil kembali, dan sopirnya pun sudah ganti. Mobilnya tampak lebih mewah dari yang sebelumnya.


"Selamat menikmati perjalanannya Tuan", senyum sopir sebelum melajukan mobilnya.


Robi hanya tersenyum, ia melihat mobilnya yang ini tertutup bagian depannya, sehingga sopir tidak akan tahu apa yang penumpangnya lakukan di dalam.


Tiara menggeliat, ia serasa bermimpi tubuhnya terasa melayang. "Ah..., maaf...", Tiara langsung terduduk tegak, saat menyadari dirinya sedang menyandar di pundak Robi.


"Kenapa minta maaf?, ada apa?, lupa ya, kita ini sudah sah, lihat ini masih setelan pengantin", senyum Robi, ia menatap tajam wajah istrinya itu yang masih lengkap dengan cadarnya.


Tiara menunduk , "Boleh aku buka cadarnya, aku ingin melihat wajah pengantinku", ucap Robi dengan suara pelan , ia bicara tepat di telinga Tiara, hingga membuat Tiara menggeleng karena geli.


"Tapi...", Tiara menatap ke arah depan, ia sangka di situ ada sopir yang bisa melihat mereka berdua, tetapi ternyata ruangan itu tertutup, artinya mereka aman.


"Ini mobil yang berbeda?", Tiara tampak keheranan, karena ia tidak merasa pindah mobil.


"Iya, tadi kita ganti mobil, ini semua rencana Papih, Papih memang paling mengerti keinginan pengantin baru", senyum Robi.

__ADS_1


"Tapi..., bagaimana caranya aku pindah ke sini?", tatap Tiara lagi.


"Tadi aku yang gendong kamu ke sini, karena tidak tega , kamu tidurnya pulas sekali", senyum Robi.


"Jadi..., tadi aku digendong?", tatap Tiara lagi.


"Iihh..., nyuri kesempatan ya ?, kan bisa dibangunkan dulu", Tiara menunduk, berarti tadi Robi sudah menyentuh tubuhnya, pikir Tiara.


" Memangnya tidak boleh?, kita sudah sah kok, melakukan hal yang lebih dari itu juga sudah boleh", senyum Robi. Ia tampak makin mengikis jarak dengan Tiara, membuat Tiara kian menunduk dengan hati yang berdebar.


Perlahan Robi melepas cadar Tiara dengan tetap menatap tajam ke arahnya.


"Masya Allah..., cantik", gumam Robi , ia menatap lekat istrinya, dan mulai menyentuh lembut kulit wajah istrinya itu.


"Kamu menyembunyikan permata , aku sangat beruntung mendapatkanmu", Robi makin mendekatkan wajahnya dengan wajah Tiara, hingga kini dahi dan hidung mereka saling beradu.


"Aku beruntung mendapatkanmu Tiara", Robi mulai menyentuh bibir Tiara dengan jarinya, Tiara hanya bisa memejamkan mata, mengatur nafasnya yang kini memburu dan jantungnya pun berdebar lebih kencang, itu pun yang dirasakan Robi saat ini. Ia sudah tidak sabar ingin segera mencicipi istrinya.


Robi mengecup lembut dahi istrinya itu dengan lembut, lalu menutup kembali wajah cantik istrinya dengan cadar.


"Tetaplah seperti ini, aku tidak mau wajah cantikmu di lihat pria lain", senyum Robi.


"Boleh aku memelukmu Tiara?",


"Aku ini sudah menjadi milikmu, apa pun boleh kamu lakukan, semaumu", senyum Tiara.


"Ah..., aku sudah tidak sabar ingin segera sampai", Robi meraih pinggang Tiara dan mendekapnya sambil mengusap lembut pucuk kepala Tiara dan tidak lupa mengecup dahinya.


"Tidurlah lagi, kita masih di jalan, tidak mungkin juga aku...",


"Apa...?", ucap Tiara dengan sedikit mendongakkan kepala melihat wajah suaminya.

__ADS_1


"Tidak mungkin juga aku unboxing kamu di sini", kekeh Robi dengan setengah berbisik di telinga Tiara, karena takut kedengaran sopir.


Padahal, ruangan tempatnya duduk denganTiara itu sudah dilengkapi peredam suara, jadi jika mereka melakukannya di sana pun, tidak ada yang akan tahu. Hanya Robi tidak tahu saja, Pak Robani sudah membuat rencana yang begitu sempurna untuk anak dan menantunya itu.


__ADS_2