Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa

Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa
Semua Mulai Terbuka


__ADS_3

"Bagaimana sudah ada dana masuk lagi belum?", Surya yang sedang menyetir mobil melirik ke arah Rena yang sedang duduk malas disampingnya.


"Belum..., sepertinya kita harus lebih hati-hati, si tua itu sudah mulai curiga, ia mulai memperketat pengawasan terhadap divisi keuangan, jadi untuk sementara aku stop dulu, kita tunggu aman dulu",


"Makanya kamu itu harus bisa jaga sikap kalau di kantor , di sana anggap saja kita tidak kenal, jangan mesra-mesra", Rena mencubit paha Surya.


"Aaww...., hati-hati, aku sedang nyetir nih", gerutu Surya, ia mengusap kasar pahanya.


"Habisnya, kamu suka nyeleneh, bikin orang curiga tahu", Rena cemberut.


"Aku sudah tidak tahan, kamunya gemesin sih", kini Surya yang mencubit pipi Rena gemas.


"Dasar...gombal", senyum Rena.


"Bukk....aawww...", teriak Rena, dia tersentak ke arah depan karena Surya tiba-tiba menginjak rem.


Dia hampir menyerempet pedagang buah, gara-gara ia mencubit pipi Rena tadi.


Surya segera menepikan mobilnya, "Maaf...", gumam Surya. Ia segera mendekati Rena.


"Maaf sayang, kamu tidak apa-apa?", Surya mencoba memegang pundak Rena.


"Kamu hati-hati dong!, kita hampir celaka", Rena meninju lengan Surya.


Rena mengedarkan pandangan ke sekeliling. "Owh..., ini sebentar lagi sampai ke Kantor, cepat kamu pindah ke belakang, biar aku yang menyetir", perintah Rena.


Ini sudah kesepakatan bagi mereka, untuk menghindari kecurigaan, mereka akan bersikap seperti orang lain.


Surya segera keluar dari mobil, ia pindah ke jok belakang, Rena pun sama, ia berpindah duduk di belakang kemudi.


Itu semua mereka lakukan agar sandiwaranya berjalan lancar, mereka sepasang kekasih, tetapi demi melancarkan rencana jahatnya, mereka berpura-pura sebagai saudara dihadapan orang banyak.


"Sudah!, kita berangkat sekarang, ingat!, jangan macam-macam di Kantor, jangan sampai si tua itu mengendus hubungan kita, bisa hancur semuanya", tegas Rena.


"Iya...iya..., aku janji!", cicit Surya. Mereka meluncur menuju Kantor.


Padahal, tanpa mereka ketahui, Pak Robani sudah memerintahkan Anton, untuk mengawasi mereka.


Anton sudah mngumpulkan beberapa bukti kedekatan Rena dan Surya. Dan hal itu membuat Pak Robani murka, ternyata selama ini Rena hanya memanfaatkannya saja.


Anton sudah mengirimkan bukti foto kemesraan antara Rena dan Surya.


"Dasar tidak tahu terima kasih, kurang apa aku padamu, apartement, mobil, gaji besar, karier bagus, tapi ini ternyata kamu balas dengan pengkhianatan", geram Pak Robani.


Ia sampai melempar ponselnya ke lantai, dan dengan seketika ponsel itu pecah berantakan. Untung saja, itu ponsel pribadinya yang khusus ia beli untuk berhubungan dengan Rena saja.


"Hah...", Pak Robani langsung keluar dari kantornya, ia kembali menuju garasi dan menghidupkan kembali mobilnya, ia melajukan mobilnya dijalanan.


Pak Robani tidak menyadari saat mobilnya berpapasan dengan mobil yang dikendarai Rena.


"Kenapa dia balik lagi?", gumam Rena. Ia tidak menghiraukannya, Rena terus saja melajukan mobilnya menuju Kantor.


Sementara Pak Robani , ia pun terus melajukan mobilnya, ia ingin menemukan tempat untuk menenangkan hati dan pikirannya.


Pak Robani memperlambat laju mobilnya, ia bingung, ke mana harus pergi, setelah berpikir sejenak, terlintas dalam pikirannya untuk pergi ke Pondok Al-Furqon saja, sekalian dia menemui Robi. Sudah lama ia tidak bertemu dengan anaknya itu.


"Ya, Pondok Al-Furqon, itu tempat yang tepat untuk menenangkan diri", gumam Pak Robani.


Ia segera menancap gas menuju Pondok, namun di depan pasar, ada seorang wanita bercadar menabrak mobilnya , ia terlihat panik.


Pak Robani pun segera menghentikan mobilnya.


"Tolong...., tolong....", teriak wanita itu, ia mengetuk-ngetuk pintu mobil Pak Robani.


Pak Robani bingung, ia tidak tahu harus berbuat apa, namun disebrang jalan terlihat empat orang lelaki kekar tampak akan menyebrang, dan memperhatikan wanita itu, mereka tampak sedang mengejar wanita itu.


"Tolong...., tolong....", teriak wanita itu sambil kembali mengetuk pintu mobil Pak Robani sambil melirik ke arah keempat laki-laki dibelakangnya.


Suara klakson dibelakang mobil Pak Robani terdengar ramai, ternyata sudah antri mobil dibelakangnya, refleks Pak Robani membuka pintu mobil untuk wanita itu, dan segera menginjak gas meninggalkan pasar dan keempat laki-laki yang hampir mengejarnya.

__ADS_1


"Sial ..., hampir saja, siapa orang itu?, cari masalah dengan kita, berani-beraninya dia membawa target kita", geram salah satu dari keempat pria itu.


Sementara Pak Robani melirik wanita yang kini duduk disampingnya, ia tampak ketakutan , dia memeluk boks dagangannya.


Pak Robani sampai lupa, ia membawa wanita itu sampai ke Pondok. Wanita itu tertidur, jadi Pak Robani tidak berani membangunkannya untuk bertanya alamatnya.


Mobil sudah berhenti, dan wanita itu pun terbangun, ia melirik ke arah Pak Robani. "Terima kasih", ucapnya dengan mata berkaca-kaca.


"Kenapa kamu sampai di kejar mereka?, siapa mereka?", tanyai Pak Robani.


"Mereka Preman Pasar, tidak tahu alasan mereka mengejar saya, tapi ini sudah beberapa kali mereka lakukan", ucap wanita itu sambil menunduk.


"Lalu kamu sendiri tinggal di mana?", tanya Pak Robani.


"Saya ngontrak di belakang pasar, tapi sepertinya kini sudah tidak aman, saya tidak akan kembali lagi ke sana, dan sekarang, saya sendiri tidak tahu harus kemana?", isak wanita itu.


"Ya sudah, kamu ikut saya dulu, oh iya..., kamu siapa?",


"Saya, Imas Pak, lengkapnya Nyimas Lisnawati", ucap wanita itu.


"Kamu ikut dengan saya, siapa tahu ada tempat untuk kamu di sini, sepertinya ini tempat yang cocok untuk kamu", Pak Robani keluar dari mobil, diikuti Nyimas.


"Pondok Al-Furqon?", gumam Nyimas.


'Ya Allah..., ini tempatnya, apa rencana-Mu, sehingga membawaku ke tempat ini', batin Nyimas bicara.


Seketika tubuhnya terasa lunglai, air matanya pun tiba-tiba tumpah, ia terduduk di pinggir mobil.


Pak Robani merasa kaget, ia kembali merasa bingung, harus berbuat apa, ia tidak memegang wanita itu, untung saja Tiara segera menghampiri mereka, Tiara mengenali kalau itu Ayahnya Robi.


"Assalamu'alaikum Pak, ada apa ini?, dia siapa?", Tiara segera menghampiri Nyimas dan memapahnya untuk bangkit dan berjalan menuju rumah Abah.


"Tolong bawa dulu Neng, nanti Bapak jelaskan di rumah", ucap Pak Robani , ia berjalan lebih dulu sambil membawakan boks dagangan Nyimas.


Sengaja Pak Robani berjalan di depan mereka karena ia tahu, Tiara tidak akan berjalan di depan laki-laki.


"Assalamu'alaikum...Umi...", teriak Tiara begitu sampai di dalam teras rumahnya, ia segera mendudukkan Nyimas di sana.


"Ada apa ini, kenapa dia Ara?, ada Bapak juga?", sapa Umi.


"Ini dia tadi menabrak mobil saya karena dikejar beberapa orang pria, jadi saya bawa ke sini, tapi entah kenapa begitu keluar dari mobil, dia seperti ini", jelaskan Pak Robani.


"Kalau begitu, bawa masuk saja, kasihan, Umi buatkan minuman jahe dulu", perintah Umi.


Tiara dan Pak Robani berpindah ke ruang tamu, dan segera memberi minum Nyimas.


Setelah beberapa saat, Nyimas kembali sadar, ia juga mengenali Tiara, wanita yang ia sangka telah membawa anaknya Risman.


"Ibu ini penjual kue yang di pasar itu kan?", tanyai Tiara, ternyata ia pun masih mengenali wanita itu.


"Iya, saya Nyimas, penjual kue di pasar", jawabnya pelan.


"Dia ini katanya sudah tidak punya tempat kembali, kontrakannya yang di pasar, mungkin sudah diketahui oleh orang yang mengejarnya tadi, jadi dia ini tidak mau kembali ke sana lagi", jelaskan Pak Robani.


Tiara memandang Umi, ia seolah minta pendapat dari Umi.


"Eum...., untuk sementara Ibu ini bisa tinggal di sini, mungkin bisa bantu-bantu Tiara menjahit?", tatap Umi.


"Saya bisa menjahit Umi", jawab Nyimas.


"Alhamdulillah..., ini bagus Ara, Nyimas bisa bekerja di sini", senyum Umi.


"Iya..., kebetulan kemarin Bu Arimbi juga meminta tambahan pegawai", jelas Tiara.


"Alhamdulillah...ini sudah jalan-Nya", senyum Umi.


"Mungkin Nyimas juga bisa membantu mengajar anak-anak di Madrasah juga", tatap Umi.


"Iya, Inshaa Allah Umi", Nyimas menunduk. Hatinya merasa tak karuan, dengan tinggal di sini, berarti ia akan bertemu dengan Fikri, orang yang sudah merusak masa depannya.

__ADS_1


Tetapi Nyimas juga ingin membuat Fikri bertanggung jawab atas perbuatannya dulu, dan Fikri pun mungkin tidak akan langsung mengenalinya, karena kini wajahnya tertutupi dengan niqob.


"Sebaiknya Nyimas makan dulu, setelah itu istirahat", perintah Umi.


"Saya mau menemui Robi dulu", pamit Pak Robani.


"Iya..., silahkan!, jam segini Robi ada dikobongnya", senyum Umi.


Pak Robani pun segera menuju kobong anaknya.


Tiara membawa Nyimas ke kamarnya, dan membiarkan ia beristirahat di sana.


Pak Robani berjalan diantara deretan kobong-kobong. Hatinya seketika terasa tenang begitu mendengar alunan tilawah dari para santri.


Apalagi saat ia sampai di ujung kobong, ada sungai yang airnya gemericik menenangkan pikirannya.


"Pantas saja Robi betah di sini", gumamnya.


"Iya..., Robi, di mana dia", Pak Robani teringat kembali pada tujuan awalnya menemui Robi


Ia segera menuju kobongnya Robi.


Pak Robani kembali mematung begitu sampai di depan kobongnya Robi, dengan jelas, ia bisa mendengar suara Robi yang sedang tilawah Al-Qur'an. Hatinya bergetar, sebagai seorang ayah, ia belum bisa mengajari anaknya kebaikan, sehingga Robi memilih tempat ini untuk meraihnya.


"Assalamu'alaikum...", Pak Robani mengucap salam dengan suara lirih, namun masih dapat didengar oleh Robi yang ada di dalam.


"Wa'alaikumsalam", terdengar jawaban dari dalam. Dan pintu pun terbuka.


"Papih...", ucap Robi. Ia tidak menyangka papihnya yang sedang berdiri di luar


"Pih..., silahkan masuk!, dengan siapa ke sini?", Robi melihat ke sekeliling, dan mendapati Papihnya datang sendiri.


"Kamu sehat Nak?", tanyai Pak Robani.


"Alhamdulillah...seperti yang Papih lihat, aku lebih nyaman di sini", senyum Robi, ia mempersilahkan papihnya masuk dan duduk di tikar plastik disamping kasur lipatnya.


"Iya..., kamu terlihat gemuk, dan lebih putih di sini", senyum Pak Robani.


"Pih..., nilai kebahagian itu tidak melulu diukur oleh materi, buktinya Robi lebih nyaman dan tenang tinggal di sini, walau ya...keadaannya seperti ini, seadanya", senyum Robi.


"Tapi kalau kamu begini terus, bagaimana nasib Perusahaan Papih, ingat!, kamu itu penerus dan pewaris satu-satunya", tatap Pak Robani.


"Tenang Pih, kalau semua tujuan Robi di sini sudah tercapai, Robi pasti akan kembali ke Papih", senyum Robi.


"Memangnya Apa sih tujuan kamu di sini?", selidiki Pak Robani.


"Eit..., itu rahasia Pih, nanti Papih juga tahu", kekeh Robi.


"Kamu ya...", Pak Robani merebahkan tubuhnya fi kasur lipat tempat Robi tidur.


"Awas jangan tidur di sana Pih, nanti bisa betah di sini", kekeh Robi.


"Biar saja, agar kamu ada teman kan, kalau Papih di sini", ucap Pak Robani datar.


Robi membiarkan papihnya di sana, dan ia kembali melanjutkan tilawahnya, ia ingin membacakan surat yang sedang dihafalnya saat menjadi imam shalat maghrib nanti.


Robi melirik papihnya yang kini sudah terlelap tidur.


****


"Kakak mengenal Robi?", Ucap Dery.


"Iya..., tapi apakah ini Robi yang sama?, di Pondok juga ada santri baru yang namanya Robi, Kakak membencinya karena ia bakal menghalangi langkah Kakak buat menjadi pimpinan Pondok", jelas Fikri.


"Ini Robi yang saya maksud Kak?", Dery menyodorkan ponselnya, di sana terpampang Foto dirinya dengan teman-teman bengkelnya, termasuk Robi.


Di sana foto Robi ia lingkari dengan tinta warna merah.


Fikri menatap tajam foto itu, jelas sekali itu Robi yang sama yang kini ada di Pondok.

__ADS_1


Fikri mengepalkan tangannya, hampir saja ponsel itu ia kena tinjunya kalau Dery tidak cepat-cepat menyambarnya kembali.


__ADS_2