Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa

Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa
Menyusun Rencana


__ADS_3

"Awas saja kalau kamu macam-macam di sini, aku juga akan menyingkirkanmu dari sini", gerutu Fikri begitu sampai di Kobongnya.


"Ada apa lagi?, datang-datang langsung ngedumel begitu", Ustad Dzaqi ternyata sudah ada di dalam.


"Aduh..., kamu ya, kirain tidak ada orang, lagi ngapain kamu di sini?, pasti kamu juga mendengar semua yang aku ucapkan tadi", tatap Fikri.


"Bisa iya..., bisa tidak", senyum Dzaqi


"Eehh..., aku serius nih, ini bukan waktunya bercanda", Fikri memukul tangan Dzaqi dengan bantal yang ada disamping Dzaqi, kini mereka berdua duduk di atas kasur lipat yang biasa ditiduri Fikri.


"Aku lihat akhir-akhir ini kamu kacau sekali, jarang ke Madrasah, shalat berjamaah pun sering terlambat",


"Apa ini gara-gara Tiara?, aduh..., masih ada Allah Ustad, serahkan semua pada-Nya, ikhlas saja", senyum Dzaqi.


"Ngomong tuh gampang, teori itu !, coba kalau Ustad Dzaqi yang alami sendiri, apa iya masih bisa tenang dan tetap ikhlas, sementara calon istrinya sedang bersama orang lain di tempat yang jauh, sama orang yang mencintainya lagi, tidak mustahil kan bisa menumbuhkan benih-benih kasih diantara mereka, bisa kacau kan?",


"Lah..., kenapa juga tidak disusul sekalian ke sana", senyum Ustad Dzaqi.


"Gila kamu !, mau pakai apa aku ke sana, sudah tahu di sana lagi cuaca buruk", Ustad Fikri meninju lengan Ustad Dzaqi.


"Lah katanya cinta gunung kan kudaki, lautan kusebrangi, mana buktinya", kekeh Ustad Dzaqi.


"Nekad itu namanya, bisa-bisa mati konyol", lagi-lagi Ustad Fikri meninju lengan Ustad Dzaqi.


"Hadeuh..., jadi terbukti , cinta sebelum nikah itu, banyak gombalnya, indahnya hanya dalam untaian kata saja, tidak bisa dikecap oleh rasa", timpali Ustad Dzaqi, ia terus saja mengoceh, membuat Ustad Fikri berkali-kali meninju kaki dan lengannya.


****


Di rumah Pak Robani


Mereka baru saja datang dari rumah Abah, Pak Robani masuk ke dalam rumah sambil menggandeng pundak Badrun. Tidak ada rasa sungkan lagi bagi Pak Robani. Sedangkan Bu Arimbi langsung masuk ke ruang kerjanya, karena ada hal penting yang harus ia kerjakan.


"Sini kita ngobrol dulu di sini", ajak Pak Robani, ia membimbing Badrun ke taman belakang, yang tepat ada di sebelah dapur.


"Bi, buatkan jus dua ya?, perintah Pak Robani saat bertemu Bi Mimi di sana.


"Baik Tuan", renggkuh Bi Mimi sambil langsung membuatkan pesanan tuannya itu, dan segera membawanya belum selesai di buat.

__ADS_1


"Ini Tuan jusnya", Bi Mimi menaruh dua gelas jus di depan Pak Robani dan Badrun.


"Iya, terima kasih Bi",


"Ayo diminum dulu !" , persilahkan Pak Robani, ia lebih dulu mengambil gelas berisi jus dan langsung menyeruputnya hingga tertinggal setengahnya. Begitu juga Badrun.


Secara, tadi selama di rumah Abah mereka tidak minum apa pun, karena mereka setengah diusir oleh Ustad Fikri.


"Alhamdulillah..." , gumam keduanya hampir bersamaan.


"Badrun, boleh saya bicara ?, ini untuk menguatkan dugaan saya saja", ucap Pak Robani, ia terkesan hati-hati.


"Euh..., soal apa ya Pak?, tampak Badrun menunduk, ia tidak berani menatap ke arah Pak Robani.


"Soal semua, soal kamu, soal Abah, soal Tiara juga",


"Memangnya ada apa Pak?", Badrun tampak sedikit kikuk.


"Saya ingin tahu apa hubunganmu dengan keluarga Abah?, dan kenapa sikap Abah begitu?, berbeda jika sedang berhadapan dengan kamu", selidiki Pak Robani.


"Euh..., saya..., saya...",


"Bicara saja, ini untuk mendukung bukti kalau Ustad Fikri yang bersalah, saya sudah ada saksi yang bisa menjerat Fikri, tapi saksi kuncinya belum ketemu, mungkin kamu bisa membantu",


"Saya akan bantu sebisa saya Pak, saya siap menjadi saksi", aku Badrun.


"Saya tahu semuamya tentang kebusukan Ustad Fikri, tadinya saya tidak akan mengungkit masalah ini lagi, tapi melihat gelagat dia yang tidak berubah menjadi baik, saya pun berubah pikiran, apalagi kini Tiara yang akan menjadi korbannya, saya tidak akan membiarkannya",


"Bagus , kita hanya butuh waktu yang tepat , kita tunggu sampai Tiara dan Robi pulang dulu, dan kita matangkan rencana kita, dan ternyata Fikri juga dalang dari hilangnya Tiara",


"Persis, saya sudah menduganya, Pak, bagaimana kalau kita langsung lapor dan tangkap saja Fikri, takutnya dia keburu kabur", saran Badrun.


"Ah..., tidak , tidak mungkin, selama kita masih baik sama dia, Fikri tidak akan curiga, kita bersikap biasa saja, seolah tidak tahu apa-apa, baru setelah semua bukti siap, kita jerat dia", tegas Pak Robani.


"Iya Pak, tapi apa semua ini tidak akan berpengaruh sama Abah, beliau kan baru saja sembuh, takutnya Abah drop lagi", Badrun tampak khawatir.


"Abah itu selalu bersikap buruk kepadamu, tapi mengapa sepertinya kamu begitu mengkhawatirkan Abah",

__ADS_1


"Bagaimana pun , Abah itu pengganti orang tua saya Pak, beliau yang merawat saya sedari kecil, saya banyak berhutang budi padanya",


"Iya, saya mengerti, kamu memang berhati baik, kamu mewarisi semua ilmu Abah, kamu lebih pantas menjadi penggantinya, menjadi pimpinan Pondok Al-Furqon", Pak Robani menepuk pundak Badrun.


"Nanti saya akan menemui Pak Rusman dulu, dia yang akan membantu kita memproses masalah Fikri, sekarang fokus sama kesembuhan Abah juga kepulangan Tiara dan Robi, baru setelah itu, kita eksekusi Ustad Fikri, sekarang kita istirahat saja dulu, kamu juga pasti cape ", senyum Pak Robani.


"Baik Pak , Bapak juga sebaiknya istirahat, biar Bapak juga tetap sehat", senyum Badrun.


Akhirnya mereka berdua beranjak menuju kamarnya masing-masing untuk beristirahat.


"Tuan, Aden, makan dulu, sudah Bibi siapkan, masih hangat", tawari Bi Mimi begitu bertemu pak Robani dan Badrun di ruang tengah.


"Saya masih kenyang Bi, biar Badrun saja, sana makan dulu !, saya lihat kamu belum makan apa pun sejak pagi",


"I...iya...Pak, kalau begitu saya makan dulu, istirahatnya nanti saja", senyum Badrun, ia melangkah menuju meja makan dan langsung mengisi piring dihadapannya dengan makanan, Badrun langsung melahapnya.


Bi Mimi melihatnya sambil tersenyum, ia seolah melihat sosok Robi dalam diri Badrun.


'Aduh Den Robi, dimana sekarang, Bibi rasanya sudah kangen, dulu hanya Aden yang biasa menyantap masakan Bibi, semoga Aden dan Neng Tiara cepat pulang dengan selamat, nanti akan Bibi masakkan makanan kesukaan Aden', Bi Mimi bicara dalam hatinya, sambil tetap menyapu .


*****


Tiara menatap ke arah restaurat yang ada di Hotel tempatnya menginap, ini adalah waktunya untuk makan malam.


"Ayo...kita ke sana, perutku sudah berdemo nih ingin segera diisi", ajak Robi, ia melirik Tiara yang sepertinya enggan untuk melangkahkan kakinya.


"Aku malu, lihat banyak sekali orangnya, aku.. Nggak jadi makan di sana, kamu saja", tolak Tiara.


"Nggak apa-apa Tiara, aku akan menjagamu, mereka tidak bisa berbuat apa pun sama kamu, selama aku ada disisimu", senyum Robi.


"Tapi tetap saja, aku malu", tetap Tiara menolak.


"Sudah..., kalau begitu, kita makan di kamar saja, biar kita suruh petugas mengantarnya ke kamar", usul Robi.


"Benar...?, kamu tidak marah kan?",


"Tidak, aku tidak bisa marah padamu Tiara", ucap Robi sambil melambaikan tangan ke arah waiters , ia memesan dua porsi makanan dan dimintanya untuk diantar ke kamar.

__ADS_1


__ADS_2