
"Mih..., Pih..., aku pergi sebentar", pamit Robi.
"Kemana kamu?, ini sudah malam", tatap Pak Handoko.
"Ada urusan Pih, aku penasaran kenapa Dery datang ke Rumah Sakit ini, padahal dia tahu ini bahaya, kalau tidak ada hal penting, mana mungkin dia sampai mengabaikan dirinya sendiri", bisik Robi kepada papihnya.
"Tapi apa hubungannya dengan kamu?, Papih khawatir, jalanan pasti masih kacau, belum lagi kita harus segera meninjau keadaan Bengkel",
"Itu besok saja Pih, aku janji, akan segera kembali", Robi menyalami tangan Pak Handoko, ia sudah bulat, ingin mendatangi penjara, apa benar Fikri juga ada di sana?",
"Ya, sudah, hati-hati !, awas jangan lama-lama, kalau sudah beres, langsung pulang",
"Iya Pih", senyum Robi, hatinya senang, kini Papihnya mulai terlihat perhatian pada dirinya
Abah dan Umi, masih menunggu di ruangan tempat dua anak itu dirawat.
Sedang Bu Arimbi dan Tiara ikut bersama Bi Iroh.
Robi bisa pergi dengan leluasa. Ia langsung menuju tempat yang ia curigai menjadi tempat bertemunya Dery dan Fikri.
Benar dugaan Robi, sesampainya di Penjara, dari luar Robi sudah bisa melihat sepeda motor Fikri terparkir di halaman depan.
'Eum...aku langsung masuk saja gitu ?, biar aku pergoki mereka langsung?', pikir Robi.
Robi segera turun dari mobil papihnya, ia langsung masuk saja apalagi petugas yang ada di sana, masih mengenali Robi.
"Wah...ada Pak Ustad kita nih?", goda seorang petugas yang bertemu Robi di pintu masuk.
"Assalamu'alaikum", rengkuh Robi,
"Wa'alaikumsalam, mau bertemu Pak Rusman?", tebak Petugas penjara.
"Iya...mampir saja Pak", basa-basi Robi.
"Pak. Ada pasien baru?", selidik Robi sambil tersenyum.
"Oh...iya..., baru datang, masih di instrogasi kayaknya",
"Teman Aden?, silahkan temui, mumpung masih bebas Den, siapa tahu Aden bisa membantu meringankan kasusnya", senyum Petugas penjara.
"Ada temannya juga tuh, siapa tahu Aden kenal?", kabari petugas.
'Apa dia seorang Ustad?", tatap Robi.
__ADS_1
"Euh...iya, setelannya sih seperti Aden, tapi tetep gantengan Aden", kekeh Petugas.
"Ah...Bapak, ada-ada saja", boleh saya lihat ke dalam ya?",
"Silahkan Aden..., dari tadi juga dipersilahkan", senyum Petugas. Ia sudah mengenal Robi, dan mengetahui kalau Atasannya Pak Rusman dan ayahnya Robi, Pak Robani adalah teman baik.
Dengan leluasa Robi bisa masuk ke dalam. Tapi ia pantang untuk jadi pecundang, Robi tidak menguping atau pun mengintip, tapi ia langsung menemui Dery yang sedang duduk berhadapan seorang petugas yang sedang menginstrogasinya.
Robi juga bisa melihat, di sana ada Ustad Fikri.
"Assalamu'alaikum....", suara Robi mengagetkan semuanya, terutama Ustad Fikri, dia tidak menduga Robi akan menyusulnya ke Penjara.
"Assalamy'alaikum semua", senyum Robi.
Ia bersalaman dengan semua yang ada di sana. Semua terlihat kaget dengan kedatangan Robi.
"Wa'alaikumsalam ...., Robi?", Dery menatapnya.
"Bagaimana keadaan kamu Der", lama kita tidak bertemu", Robi mengulurkan tangan bermaksud menyalami mereka.
Namun Dery tidak menyambutnya, ia malah menyeringai dan membuang muka.
"Jangan basa-basi kamu, pasti kamu ke sini untuk mentertawai aku saja kan?", tuduh Dery.
"Robi....", sapa petugas, ia baru ngeh, dulu Robi sampai di penjara juga, karena berbuatan curang Dery.
Dery yang telah menabrak Abah dan Umi saat memakai sepeda motor Robi.
"Baik..., untuk sementara cukup, semua informasi sudah sudah di catat, tinggal menunggu bukti dan saksi dari kasus ini. Petugas itu pun meninggalkan mereka bertiga.
"Kalian berdua sudah saling mengenal?", Fikri tampak kaget melihat Robi dan Dery sudah saling kenal.
" Iya , dulu dia itu teman sekaligus sahabat saya Kak".
"Hah...., Kakak?, Robi menatap Dery",
"Euh...iya, dia itu Kakak dari istri aku", aku Dery.
"Kamu sudah menikah?, jangan bilang kalau istri kamu itu....", Robi menggantung ucapannya.
Fikri dan Dery saling pandang, mereka kini merasa terpojok, dengan sendirinya Robi akan bisa menebak, siapa mereka?
Robi menatap Fikri dan Dery bergantian. Sekilas Robi baru bisa melihat, raut wajah Fikri begitu mirip dengan seseorang.
__ADS_1
"Ya...Allah..., aku tahu...aku tahu...., kenapa baru kepikiran sekarang, yang mau kau temui di Rumah Sakit itu adalah Marisa kan?, dia istrimu dan..., Marisa itu adik...dari Ustad Fikri?, benar kan?", Robi menatap Fikri dan Dery bergantian.
Kini Fikri dan Dery yang gantian saling pandang. Mereka sudah tidak bisa mengelak lagi dari Robi. Ɓ
"Ya..., begitulah, seperti yang kau pikirkan, inilah kami", Fikri menatap Robi, pandangan mereka kini beradu.
'Jangan bangga dulu kamu Robi, ini masih pagi', pikir Fikri.
"Sudah...cukup..., aku paham sekarang, Marisa itu adiknya Ustad, dan Dery suaminya", Robi tersenyum puas.
"Aku yang bodoh..., padahal Marisa itu seraut wajahnya dengan Pak Ustad, ck...ck...ck...., dunia ini ternyata sempit ya", kembali Robi tersenyum, mentertawakan dirinya sendiri.
"Aku hanya inginkan tanggung jawab dari kamu saja Dery, kamu sudah menabrak Abah dan Umi, kamu juga sudah merekayasa kematian aku, dan kemarin kamu juga hampir mencelakakan aku lagi saat balapan dengan Eko", Robi menatap Dery.
"Sudahlah..., ini masih bisa dibicarakan, sekarang, ikuti saja proses penyidikannya, karena Polisi juga tidak akan memberi vonis tanpa saksi dan bukti otentik", Fikri menatap Dery.
Fikri cepat-cepat memotong pembicaraan, ia takut Dery banyak bicara, sehingga bisa membocorkan rahasianya.
"Baik..., tapi ini kayaknya akan lama, karena aku dan Papih menaruh kecurigaann, kalau ini adalah paket teror untuk kami ", ucap Robi.
"Ya...., silahkan , kalian proses saja sesuai keinginan kalian, karena percayalah setiap niat baik akan membawa kebaikan ", senyum Robi.
"Dan akan ada kasus baru lagi kayaknya, tadi Dokter menemukan ada kandungan racun dalam tubuh Gilang dan Risman, ini sepertinya salah sasaran, entah ditujukan untuk siapa racun itu?, ini masih dalam penyidikan", terangkan Robi,
"Aduh..., ada-ada saja", Dery menatap Fikri , ia yakin itu racun yang ia berikan untuk diminumkan kepada Robi.
"Alhamdulillah..., aku selamat, tapi kasus ini akan segera diselidiki, dan semoga pelakunya segera tertangkap",
"Degh", seketika jantung Fikri berdebar . Itu ulahya, itu salahnya, pasti kalau ada saksi dan baru, ia yang akan terseret .
Robi beranjak dari tempat duduknya, ia merogoh ponselnya yang berbunyi,
[Iya Mih ada apa]
[Cepat ke Rumah Sakit, antar Abah dan Umi ke Pondok, biar mereka bisa istirahat]
[Iya Mih, aku langsung ke sana sekarang]
Robi menutup sambungan teleponnya, dan ia pun segera pergi dari hadapan Dery dan Fikri.
"Oh iya, coba Ustad Fikri bantu cari tahu kenapa minumannya bisa mengandung racun , Tiara bilang anak-anak itu diberi minum Ustad sebelum ketahuan kejang-kejang", Robi menghentikan langkahnya sebentar.
Ia tatap Fikri dan Dery sebelum benar-benar berlalu dari hadapan mereka.
__ADS_1