
Ustad Fikri tampak bahagia, kini ia sudah memegang ijin dari Abah untuk mulai mengurus Pondok, dan bahkan Abah juga sudah mulai memperbolehkan ia mengantar dan menjemput Tiara, ini sebuah sinyal bagus bagi dirinya.
Dengan begitu ia jadi makin leluasa untuk menguasai Pondok, Fikri akan mulai mengambil alih semua kebijakan Abah di Pondok. Dan nanti semua dana yang masuk dari para donatur bisa ia kelola sendiri.
"Eumh...ada apa ini, rupanya ada yang lagi bahagia ?", senyum Ustad Fadil begitu melihat Ustad Fikri memasuki kobongnya.
"Iya, Alhamdulillah Ustad, kini semua sudah lega rasanya", Fikri membalas senyuman Ustad Fadil.
"Barakallah Ustad, ada kabar bahagia ini, boleh tahu?",
"Itu ..., tadi Abah sudah membuat keputusan, mengingat kondisinya yang sudah sepuh, jadi Abah mulai mempercayakan semua urusan Pondok kepada saya, begitu", senyum Fikri.
"Barakallah..., Ustad, ini awal yang bagus, berarti Ustad akan segera melamar Tiara juga kan?", tatap Ustad Fadil.
"Iya..., begitulah..., tapi nanti menunggu Tiara Wisuda dulu, biar tenang Ustad", senyum Ustad Fikri.
"Alhamdulillah..., saya ikut senang Ustad",
"Termasuk urusan undangan pengajian ke luar juga?, nanti Ustad sendiri yang akan menghandlenya?", kembali Ustad Fadil menatap Ustad Fikri.
"Ah...iya, nanti kita bisa atur jadwal saja, kalau saya ada halangan kan masih ada Ustad Fadil dan Ustad Dzaqi yang akan menggantikannya", jelasjan Ustad Fikri.
"Terima kasih sebelumnya Ustad, sudah memberi kepercayaan kepada kami",
"Kita kan besar bersama di sini sudah lama, jadi kita ini sudah seperti saudara, tiga serangkai dari Pondok Al-Furqon", kekeh Ustad Fikri.
"Nah...kalau yang kemarin itu rasanya saya pernah mendengar suara dia, tidak asing, tapi siapa ya?", Ustad Fadil menerawang.
"Assalamu'alaikum...", tiba-tiba Ustad Dzaqi masuk ke dalam dan ikut bergabung dengan mereka.
"Wa'alaikumsalam...", serempak Ustad Fikri dan Ustad Fadil.
"Wah...wah...ada apa ini?, sepertinya kalian sedang meeting penting, kelihatannya fokus sekali, ada apa sih?, bagi-bagi dong, biar saya juga ikut merasa senang", Ustad Dzaqi ikut duduk bersama mereka.
"Kamu ini kebiasaan sekali, kalau datang suka tiba- tiba begitu, bikin orang kaget saja, untung kita tidak sedang bicara yang bukan-bukan, bisa bahaya kan kalau ada yang tiba-tiba datang", Ustad Fikri mengerling kearah Ustad Dzaqi yang sedang mengulum senyum.
"Maaf....maaf..., kirain tidak sedang ada meeting penting", kekeh Ustad Dzaqi.
"Tuh kan jadi lupa , tadi itu kamu bertanya apa?", Ustad Fikri menatap Ustad Fadil.
"Euh...yang mana ya...", Ustad Fadil mentautkan kedua alisnya. Ia tampak sedang berfikir.
"Itu...soal orang baru yang kemarin adzan di sini kan?", tatap Ustad Dzaqi.
"Nah...itu, benar soal itu?, apa kalian punya dugaan yang sama?, suaranya seperti tidak asing kan?", tatap Ustad Fadil .
__ADS_1
Ustad Fikri menatap kedua Ustad temannya itu, Fikri bisa menduga kalau mereka juga pasti masih mengenalnya.
"Apa yang ada dalam pikiran kalian?", Ustad Fikri mendekati keduanya , ia bicara dengan suara pelan.
Ketiganya saling pandang, mereka sepertinya mempunyai dugaan yang sama.
"Tunggu, aku punya ide", Ustad Fikri mengambil satu lembar kertas dan tiga pensil, lalu ia membagi kertas itu membagi tiga dan memberikannya masing-masing satu.
Ustad Fadil dan Ustad Dzaqi saling pandang, ia tidak mengerti dengan maksud Ustad Fikri.
"Kalian tuliskan satu nama di sini sesuai dengan apa yang ada di pikiran kalian, mengerti kan?", tatap Ustad Fikri.
"Nama..., nama siapa Ustad?, tatap Dzaqi.
Ustad Fikri membulatkan matanya ke arah Dzaqi, "Nama pacarmu....?, ya....nama orang yang kemarin adzan di sini Ustad, menurut kaluan, siapa orang itu?", ucap Ustad Fikri kesal.
"Ha...ha...ha..., Ustad ini lucu", Ustad Fadil tertawa.
"Iya...iya...iya..., saya ngerti", Ustad Dzaqi mengangguk sambil mulai menulis satu nama dalam kertas kosong itu.
Sama, Ustad Fikri dan Ustad Fadil pun melakukan hal yang sama.
"Sudah?, ayo taruh di depan kita masing-masing dalam keadaan terbalik, yang ada tulisannya di bawah ", kembali Ustad Fikri memberikan instruksi.
"Nih...sudah...Ustad", seru Fadil, ia menaruh kertas miliknya di depannya . Diikuti oleh Usrad Dzaqi dan Ustad Fikri.
"Dan kalian ambil silang satu-satu ", perintah Ustad Fikri.
"Dan sekarang buka dan baca, bersama -sama ya?", kembali Ustad Fikri memberi instruksi.
"Sudah ah..., aku penasaran, aku baca saja ya", ucap Dzaqi , ia langsung membaca tulisan yang ada dalam kertas Ustad Fadil.
"Badrun", ucap Ustad Dzaqi ,
"Badrun", ucap Ustad Fadil ,
"Badrun", ucap Ustad Fikri.
Ketiganya kembali saling pandang.
"Badrun...?", kalian yakin ?", tatap Ustad Fikri.
"Iya, Ustad, saya yakin dia Badrun, suaranya, dan raut mukanya, itu Badrun", ucap Ustad Fadil.
"Kita pernah bersama cukup lama, kita awalnya kan empat serangkai, dia dan Ustad Fikri yang paling unggul dari kita, banyak kenangan sudah kita torehkan bersama, suka dan duka sudah kita lewati saat di sini, itu tidak mudah terlupakan, sampai kejadian tak terduga itu nenimpa dan memisahkan kita", kenang Ustad Fadil.
__ADS_1
"Iya..., Badrun itu orang yang baik, dari dia aku banyak belajar, tidak menyangka, dia bisa berbuat nista seperti itu, sayang..., sayang sekali, padahal dia itu yang akan menggantikan posisi Abah, ah....sayang, dia malah terbujuk rayuan syetan", ucap Ustad Dzaqi.
'Heum...ternyata kalian masih mengingat dia, kenapa dia muncul lagi di sini, bisa kacau', pikir Ustad Fikri.
"Benar kan Usrad?", tatap Ustad Fadil, ia menatap Ustad Fikri yang terlihat sedang melamun.
"Ah..., iya..., sepertinya memang dia, tetapi kenapa dia bisa bebas lebih cepat?, dan kenapa dua kembali lagi ke sini, tetapi tidak memberitahu siapa dirinya?, seharusnya kan ia langsung mendatangi Abah, apa tujuannya coba?", celoteh Ustad Fikri, ia kembali membangun kecurigaan pada diri kedua temannya itu .
"Iya juga ya...", Ystad Fadil mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Kalian dengar ya, ini bahaya, kita harus lebih hati-hati lagi, siapa tahu dia datang dengan rencana jahat baru", kompori Ustad Fikri.
"Kalau dia tidak punya niat buruk, dia seharusnya datang baik-baik ke rumah Abah, meminta maaf, atau bagaimana lah caranya, biar Abah bisa menerimanya kembali di sini, bukan datang diam-diam, seperti tidak kenal saja, iya kan?", kembali Ustad Fikri mengompori.
"Iya juga, Ustad , ini baru masuk akal", ucap Ustad Dzaqi.
"Nah..., ini tugas kita bersama, jangan biarkan orang itu masuk lagi ke sini, di sini tidak ada tempat bagi seorang narapida, jelas !!", tegas Ustad Fikri.
"Iya Ustad", serentak Fadil dan Dzaqi.
Ustad Fikri tampak mengulum senyum, ia sudah berhasil menghasud kedua temannya itu.
"Sudah, kita istirahat saja dulu, masih banyak yang harus dilakukan esok hari", senyum Fikri.
*****
Pagi hari di rumah Pak Robani, mereka sedang sarapan bersama, hari ini Robi untuk pertama kalinya akan ikut ke Kantor bersama papihnya.
Pak Robani dan Bu Arimbi berkali-kali melirik ke arah kanar Robi.
"Kemana dia, sarapan dulu , ini hari pertama ke kantor", ucap Bu Arimbi.
"Sebentar lagi Mih, sabar!, ini hari pertamanya ngantor", senyum Bu Arimbi.
"Mih...Pih..., aku sudah siap!", ucap Robi.
"Kamu mau kemana?, kok begitu bajunya?", tatap Bu Arimbi. Ia mengomentari Robi yang masih mengenakan celana jeans, walau keatasannya pake kemeja ditambah dasi.
"Biar, saja Mih..., bagaimana nyamannya Robi saja, ini baru perdana, perlu proses", ucap Pak Robani
"Nah...itu dia, aku suka Pih", senyum Robi.
"Sarapan dulu!", ajak Bu Arimbi.
"Tidak, aku tunggu di mobil saja, tidak biasa makan pagi Mih", ucap Robi, ia nyelonong saja menuju luar.
__ADS_1
"Biar saja, perlahan kita arahkan", senyum Pak Robani.