Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa

Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa
Selalu Tiara


__ADS_3

"Astaghfirullah...apa itu", Robi segera menepikan mobilnya, ia pun keluar dan melihat kalau kaca pintu mobil yang sebelah kiri sudah pecah.


"Siapa orang tadi?, kenapa berbuat seperti ini?, apa dia itu mengenal aku?", Robi memandang jauh ke depan berharap bisa melihat si pelaku.


Namun kegelapan malam menenggelamkan sepeda motor yang tadi sempat memepetnya.


"Awas saja kalau sampai ketahuan, kamu akan tahu siapa aku, kamu yang mulai, maka akan aku ladeni", geram Robi.


Robi kembali memasuki mobil dan melaju kembali menuju Rumah sakit.


"Lho...lho...lho..., itu Den Robi baru datang, pantesan mobilnya hilang", Badrun yang lagi kebingungan di parkiran tersenyum melihat mobilnya baru datang bersama Robi.


Namun Badrun terkejut saat melihat kaca mobil yang sudah pecah berantakan, bahkan pecahannya masih berserakan di jok.


"Ya Allah..., ini kenapa Den Robi?, sampai berantakan begini", Badrun memburu Robi yang baru turun dari mobilnya.


"Ya Allah..., ini kenapa lagi?, Den ada apa?, ini tangan sampai terluka begini?", cecar Badrun, ia meneliti seluruh tubuh Robi.


"Tenang...ini cuma luka kecil saja, aku tidak apa-apa, tadi ada sedikit tragedi", senyum Robi.


"Sedikit tragedi apa Den, ini tangan terluka, dan ini kaca mobil juga sampai pecah berantakan begini", Badrun meneliti keadaan mobil Robi.


"Ini...tadi dilempar orang tidak dikenal, seorang pengecut, yang bisanya main belakang", geram Robi.


"Oh..., tapi ini kenapa tangan Den, sudah diperban?", tatap Badrun.


"Ini tadi dipukul orang di cafe, dan sudah diobati oleh Tiara ", terangkan Robi.


"Bagaimana keadaan Abah?", Robi mengalihkan pembicaraan.


"Abah masih koma" Badrun menunduk. Raut kesedihan kini tampak jelas diwajahnya.


"Tunggu sebentar, aku ingin mengunjungi Abah dulu", Robi segera meninggal Badrun dan bergegas menuju ruangan tempat Abah dirawat.


Umi yang melihat kedatangan Robi, segera menyambutnya, Umi menyuruh Robi menemui Abah.


"Assalamu'alaikum Abah...", ucap Robi sambil memegang tangan Abah. Abah..., cepat sadar, masih banyak hal yang belum Robi pelajari dari Abah", tatap Robi.

__ADS_1


Robi teringat saat dirinya koma dulu, saat itu ia serasa sendirian di tempat yang sangat luas, ia mencari-cari orang yang selalu ada dalam ingatannya.


Robi serasa bermimpi, namun mimpinya itu terasa nyata, dalam mimpinya ia selalu melihat Tiara memanggilnya, melambaikan tangan kepadanya.


Padahal saat itu Robi sedang berjalan menuju lorong yang terang, namun ada suara yang terus memanggilnya dari arah belakang.


Dan itu adalah suara Tiara, Robi yang akan menuju lorong, berbalik kembali menuju ke sumber suara Tiara.


Hingga akhirnya Robi sadar, ia terus berjalan mengikuti suara panggilan dari Tiara.


"Ah..., sepertinya Abah juga sama, saat ini Abah sedang merasakan apa yang aku rasakan dulu, Apa Umi, atau Tiara yang bisa membuatnya cepat sadar kembali?", gumam Robi.


"Umi, maaf saya terlalu malam datangnya", Robi tersenyum saat Umi memasuki ruangan.


"Tidak apa Nak Robi, terima kasih sudah menyempatkan menjenguk, Umi tahu , Nak Robi sekarang pasti sibuk dengan kegiatan barunya di Kantor",


"Astaghfirullah...ini tangannya kenapa?", Umi melirik je arah tangan Robi .


"Ah..., ini hanya luka kecil saja Umi, tadi ada kecelakaan, tapi sudah diobati, besok juga sembuh ", senyum Umi.


"Iya..., Umi akan bacakan tilawah Al-qur'an lagi seperti yang Tiara lakukan dulu saat Nak Robi koma", senyum Umi.


"Jadi..., waktu itu, Tiara yang membacakan saya Al-Qur'an?, pantesan selama koma kemarin, saya terus bermimpi Tiara memanggil-manggil saya terus Umi", Robi menerawang.


"Itu kebesaran Allah SWT, Nak Robi", senyum Umi.


"Iya..., dan sekarang, Abah juga sedang dalam keadaan yang sama dengan saya dulu, mungkin kalau Umi bacakan kembali tilawah Al-Qur'an, Abah akan segera sadar",


"Iya Nak Robi, Umi akan bacakan kembali Al-Qur'an, semoga dengan Ijin Allah SWT, Abah bisa segera sadar", senyum Umi.


"Umi..., do'akan juga semoga dengan ijin Allah saya bisa bersama Tiara, walau kini Tiara sudah mempunyai janji dengan seseorang, apalagi sebentar lagi Tiara wisuda", tatap Robi.


"Iya, Umi ngerti, Umi selalu berdo'a agar kalian diberikan jalan terbaik yang diridhoi Allah untuk masa depan kalian berdua", senyum Umi.


"Kalau begitu, saya pamit dulu Umi, ini sudah malam, Umi juga perlu istirahat, semoga Umi tetap sehat, saya pamit Umi, assalamu'alaikum", Robi mengucap salam sambil menyalami Umi takjim.


"Wa'alaikum salam", Umi menatap punggung Robi yang menghilang di balik pintu.

__ADS_1


Robi bergegas menuju parkiran, ia segera menemui Badrun yang sejak tadi menunggunya di samping mobil.


"Kenapa tidak menunggu di mobil saja", Robi menghampiri Badrun yang sedang berdiri mematung di samping mobilnya.


"Aku takut ada orang yang pengecut lagi, jadi sedari tadi mengawasi sambil berjaga di luar sini saja", aku Badrun.


"Kamu ini, tidak mungkinlah, ini tempat ramai, kalau dia berulah di sini, sama dengan bunuh diri", kekeh Robi.


"Ya...namanya juga orang sudah nekad, Bi, sudah gelap mata, mana ada kepikiran ke arah sana, mereka akan main sikat saja, selama ada kesempatan",


"Sudah...kita pulang saja, biar besok kamu bawa mobil ini ke bengkel, biar cepat diperbaiki", perintah Robi.


"Iya, siap..., besok pagi aku langsung bawa ke bengkel, coba kalau bengkel kamu sudah jalanlagi, tidak perlu susah-susah kan",


"Iya..., sebentar lagi lagi juga beres, nanti kamu juga boleh belajar ngebengkel, biar kalau ada apa-apa dengan kendaraanmu, bisa benerin sendiri", senyum Robi.


"Kita pulang, ayo !!", ajak Robi.


Robi dan Badrun memasuki mobil, mereka meninggalkan halaman rumah sakit menuju rumah.


*****


Tiara dan Nyimas sudah berada di dalam rumah, malam ini mereka hanya berdua di rumah, dua anak kecil masih di kobong bersama Mang Daman.


"Kita tidur satu kamar saja di kamar aku ya", ajak Tiara.


Nyimas tidak menjawab, rasanya canggung jika harus tidur berdua bersama Tiara.


"Tidak apa, biar kita bisa saling menjaga satu sana lain, kita kan hanya berdua", bujuk Tiara.


"Iya...", rengguh Nyimas.


Mereka tidur satu kamar. Tiara yang merasa lelah, langsung tidur lelap begitu menyentuh kasur. Sedangkan Nyimas masih terjaga, ia tidak bisa terpejam, pikirannya terus melayang.


Sampai ia mendengar ada kretek-kretek di belakang rumah, ia lihat Tiara, sudah terlelap. Ada rasa takut, namun juga penasaran, hingga ia nekad menengoknya.


Nyimas berjalan mengendap, ia menuju sumber suara, diluar sudah ada dua orang bertopeng yang sama sedang mengendap juga, kini mereka sudah berada diposisi yang sama, hanya terhalang pintu saja.

__ADS_1


__ADS_2