
"Gue bingung, kenapa Eko dan kawannya datang tiba-tiba , siapa di antara kalian yang memulai keonaran ini, tadi Eko bilang ada yang menghajar anak buahnya, siapa?, orang itu yang harusnya bertanggung jawab, bukan kita", Dety menatap Tonald dan Ilyas.
"Kita kan selalu di sini, Bos juga tahu", bela Ronald.
"Si Aleks, atau joko?", Dery menerawang.
"Tidak mungkin mereka, mereka kan nggak bisa bertarung, kalau kabur duluan, itu keahlian mereka", kekeh Ronal.
"Terus ....siapa?, nggak mungkin ada asap kalau tidak ada api", Dery menatap kedua kawannya.
"Apa jangan-jangan, Loe Rahmat?" Ronald menatap ke arah Rahmat yang masih berdiri.
"Aku?, kenapa aku?, bertemu mereka juga baru hari ini?, bagaimana aku bisa tahu kawan-kawannya Dery", alasan Robi. Ia memasang wajah datar, padahal hatinya kaget juga..'Bahaya kalau sampai ketahuan, tujuanku belum tercapai", batin Robi bicara.
Sayup-sayup terdengar suara ponsel berdering dari arah kamar kostnya, Robi segera memburunya, sebelum Dery dan rekannya banyak bertanya lagi.
Robi ambil ponselnya, dan di layar tampak tulisan 'Mommy', Robi hanya pandangi saja ponselnya, ia masih kesal karena Mamihnya pulang bersama pacar bulenya.
Dan sambungan pun terputus, namun untuk kedua kalinya ponselnya berdering lagi, Robi masih tidak bergeming, membiarkan panggilan itu terputus lagi.
Dan untuk yang ketiga kalinya, ponselnya berdering lagi, Robi baru menerimanya, sepertinya ada hal penting, karena Mamihnya hanya meneleponnya sekali saja, kalau tidak Robi angkat, ya sudah, ia juga tidak akan menelepon lagi.
Namun hari ini sepertinya benar-benar ada hal penting, sehingga terus-terusan menelepon.
[Robi...., dimana kamu, pulanglah Nak, Mami sakit], terdengar suara Bu Arimbi di ujung sana begitu Robi mengangkat ponselnya.
[Mamih kenapa?, di rumah kan ada Bibi, bisa minta bantuan Bibi saja], Robi menjawabnya dengan ketus,
[Tidak Nak, Mamih butuh kamu, pulanglah!], terdengar suara Bu Arimbi makin lemah.
Robi bimbang, apa ini benar?, atau hanya pura-pura saja, ini akting mamihnya saja biar dirinya pulang.
Sambungan telepon masih tersambung, tapi suara mamihnya tidak terdengar lagi.
Robi memandangi layar ponselnya, dan ia hendak menutupnya, namun tiba-tiba terdengar suara lagi dari ponselnya.
[Ya Allah Nyonya..., Nya...Nyonya...bangun?], terdengar suara Bi Mimi panik.
[Aduh Nyonya....bagaimana ini, Bibi harus bagaimana?], terdengar lagi suara Bi Mimi.
Seyengah melompat, Robi menyambar jaket dan koncii motornya, ia bermaksud segera pulang ke rumah, Mamihnya benar-benar sakit sekarang.
"Woi..., mau kemana?", teriak Dery. Ia tidak ingin Robi memakai motor miliknya sendiri, karena ia juga akan menjemput Marisa ke Kampus.
"Gue ada urusan, harus cepat -cepa", teriak Robi, ia tidak mengindahkan teriakan Dery.
Robi benar - benar memacu cepat sepeda motornya, ia ingin segera sampai di rumah, dan bertemu mamihnya.
Sialnya, jalanan mulai padat, Robi tidak bisa leluasa memacu sepeda motornya.
"Tiara?, itu benar tiara kan?, tapi siapa anak laki-laki itu?", Robi melayangkan pandangannya ke sisi kanan . Disana ada seorang wanita bercadar diatas sepeda motor bersama seorang anak laki-laki.
Robi makin memperpendek jarak diantara mereka, dan kini motor Robi sudah ada disamping motor Tiara.
"Ah...benar , itu Tiara", gumam Robi. Dadanya mulai bergetar, ia merasakan sesuatu didalam sana, walau wajahnya tertutup helm, tapi Robi masih mengingat sepeda motor yang ditunggani Tiara, itu sepeda motor yang ia pinjam saat pulang dari Pondok.
Robi mencoba menyapa Tiara dengan membunyikan klakson berkali-kali, namun Tiara tidak bergeming, ia hanya melirik sekilas sambil mengangguk dan kembali fokus ke depan.
__ADS_1
'Ada apa dengan dia?, apa mungkin sudah lupa?, atau ini hanya aku saja yang baper duluan', pikir Robi. Ia kembali melaju dan belok ke kanan menuju rumnahnya, Tiara lurus menuju Pondok.
'Kenapa respon Tiara dingin sekali?', Robi terus kepikiran Tiara sepanjang jalan. Hingga ia berhenti di depan gerbang rumahnya.
Pak Karman segera membuka gerbang, dan Robi pun segera melaju menuju dalam, ia sudah sangat khawatir memikirkan mamihnya.
Benar saja,di dalam Bi Mimi sedang memangku kepala Bu Arimbi yang tergeletak di lantai . "Mih...., kenapa Mamih Bi,", Robi menghambur menghampiri mamihnya.
"Tadi waktu di meja makan, Nyonya mengeluh pusing, lalu berniat tiduran di kamar, tapi belum sampai atas, Nyonya sudah terjatuh di sini, sepertinya pingsan", Bi Mimi terisak, ia merasa panik dan khawatir terjadi sesuatu kepada majikannya itu.
"Ya, sudah Bi, kita ke rumah sakit saja", Robi langsung memangku Bu Arimbi menuju mobil, dan membawanya ke Rumah Sakit.
"Mih...sadar Mih", Robi tampak menepuk-nepuk bahu Mamihnya yang ada di dalam ruang pemeriksaan.
"Pak, harap tunggu di luar, saya periksa dulu ibunya", seorang Dokter wanita yang masih muda memasuki ruangan.
Robi pun keluar, ia menunggu dengan cemas. Tak lama Dokter itu pun keluar dan memberitahu kalau keadaan ibunya baik-baik saja, Bu Arimbi mengalami sesak nafas karena perubahan cuaca yang mencolok sewaktu di luar negeri dan di sini, jadi tubuhnya masih memerlukan penyesuaian.
Robi lega mendengarnya, ia segera masuk untuk menemui Mamihnya. Di dalam terlihat Bu Arimbi sedang berbicara dengan seseorang lewat ponselnya dan segera mematikannya begitu Robi mendekat.
"Mih, sudah baikkan?", Robi memegang tangan Mamihnya.
"Sudah, terima kasih sudah membawa Mamih ke sini, kamu selama ini dimana?, kok tidak pernah pulang", tatap Bu Arimbi.
Ia menatap lekat putranya itu, wajahnya begitu mirip ayahnya , Pak Robani. Andai saja Rena tidak hadir diantara mereka, mungkin kini mereka akan hidup bahagia.
"Tadi Papah ya Mih?", tanya Robi...,
"Bukan, tadi itu salah satu klient yang akan bekerja sama dengan Mamih di sini , minggu depan mungkin kita akan memulai projek baru.
"Ya, nunggu Mamih sembuh dulu saja", Robi menatap mamihnya. Dalam hati ia merasa begitu sayang kepadanya, tapi kehadiran Briant yang selalu mengikis semua rasa itu.
"Hah..., kamu masih kecil, tahu apa?", Bu Arimbi tampak kesal, ia memalingkan wajahnya dari Robi.
"Ya, Mamih minta tolong sama bule itu saja, aku juga sibuk", Robi dengan kesal meninggalkan mamihnya.
"Bi, tolong jagain Mamih, saya masih ada urusan", Robi meninggalkan ruangan perawatan Mamihnya dengan kesal.
"Baik Den", rengkuh Bi Mimi, ia menatap kepergian Robi dengan nanar. 'Kasihan Den Robi', Bi Mimi membetulkan selimut majikannya.
"Bi, sana beli makanan buat Bibi", Bu Arimbi memberikan sejumlah uang , ia tahu tadi tidak sempat membawa makanan apapun ke sini.
"Baik Nyonya, Nyonya mau dibelikan apa?",
"Buat Bibi saja, saya masih kenyang", senyum Bu Arimbi. Dari dulu memang Bu Arimbi sangat perhatian padanya.
"Aduh, sebelah mana ya, kantinnya", Bi Mimi tampak kebingungan mencari kantin, ia sampai menabrak seseorang di koridor. "Aduh...maaf...maaf..., saya tidak sengaja", Bi Mimi berdiri di depan orang yang ditabraknya.
"Bibi, di sini, lagi apa?", tanya wanita yang ditabraknya.
"Aduh..., Non Marisa?, Non disini juga?, siapa yang sakit?", Bi Mimi mengenali wanita di depannya. Ya...dia Marisa, pacarnya Robi dulu.
"Ah...cuma periksa biasa saja Bi, Bibi lagi apa, siapa yang sakit?",
"Emh..., Nyonya yang sakit",
"Nyonya...., Bu Arimbi?, Bu Arimbi ada di sini?, kapan pulang?", Marisa tampak senang.
__ADS_1
"Sudah mau seminggu Non, tadi pingsan di rumah, jadi dibawa ke sini, ini Bibi lagi bingung mencari Kantin", jelas Bi Mimi.
"Ya sudah, kita ke Kantin dulu, baru antar saya menemui Bu Arimbi", pinta Marisa.
"Baik Non", Bi Mimi dan Marisa menuju Kantin, setelah itu menuju ruangan Bu Arimbi.
Tampak Bu Arimbi sedang memejamkan mata, tetapi ia tidak belum tidur.
"Tante..., apa kabar", Marisa mendekati Bu Arimbi.
Bu Arimbi membuka matanya, dan dilihatnya Marisa di sana
"Marisa?, kamu kok tahu Tante di sini?", Bu Arimbi bangun, merentangkan tangan dan memeluk Marisa.
"Tadi bertemu Bibi di lorong, katanya Tante yang sakit",
"Maaf ya Tan, saya turut berduka, pasti ini juga gara-gara itu ya",
Bu Arimbi menatap Marisa, merasa tidak mengerti dengan ucapannya.
"Berduka?, kenapa?",
"Jadi...Tante belum tahu?", tatap Marisa.
Bu Arimbi makin bingung saja dengan ucapan Marisa.
"Kok Tante jadi bingung, ada apa ini?",
"Jadi ...Tante..belum tahu, kalau Robi..., Robi sudah...., Robi sudah tiada Tante", Marisa memeluk kembali Bu Arimbi sambil menangis.
"Apa?, Robi anak Tante sudah tiada, jangan bercanda Marisa",
"Iya...Tante...., Robi kecelakaan saat balapan, ia dan motornya jatuh ke jurang, dan tidak ditemukan sampai sekarang" , isak Marisa.
"Ha...ha...ha.... ,kamu ini bercanda ya, Robi baik-baik saja kok, kabar dari mana itu", kekeh Bu Arimbi.
Marisa melerai pelukannya, ia pun menyeka air mata palsunya, ia menatap Bu Arimbi.
"Maksud Tante apa...?, Robi masih hidup?", tatap Marisa.
"Iya ..., Robi yang membawa Tante ke sini", senyum Bu Arimbi.
"Ah ...Tante jangan bercanda, saya melihat sendiri kalau Robi dengan motornya jatuh ke jurang ", yakinkan Marisa.
"Tante kurang tahu soal itu, tapi yang pasti, Robi baik-baik saja, dia yang datang ke Bandara saat Tante pulang, dan tadi Robi juga yang mengantar Tante ke sini", senyum Bu Arimbi.
"Terus...Robinya mana sekarang?", Marisa menatap Bu Arimbi dan Bi Mimi bergantian.
"Tadi Den Robi sudah pergi lagi, katanya masih ada urusan", terangkan Bi Mimi.
Marisa mematung, ia merasa tidak percaya dengan semua yang baru didengarnya.
'Jadi selama ini Robi masih hidup?, tapi kenapa dia tidak kembali ke bengkel?, terus sekarang dia dimana?, apa maksudnya semua ini?', pikiran Marisa jadi tidak karuan.
"Kok malah diam, harusnya kamu senang dong, Robi masih hidup", tatap Bu Arimbi.
"I...iya...Tante, saya hanya kaget saja, kok Robi tidak mengabari saya, kalau begitu, saya pamit dulu Tan, semoga Tante cepat sembuh", pamit Marisa, ia menyalami Bu Arimbi , lalu pulang dengan pikiran yang tidak karuan.
__ADS_1
'Robi masih hidup..., Robi masih hidup..., lalu dimana dia', sepanjang jalan Marisa memikirkan itu.
"Dery harus tahu ini", gumam Marisa. Dia melajukan mobilnya menuju bengkel Dery.