
Jalanan yang awalnya lengang, kini mulai macet. Apalagi saat melewati pasar dan area sekolahan, di sana banyak kendaraan diparkir di bahu jalan, hingga menyulitkan para pengguna jalan untuk bisa sat set-sat set berjalan cepat.
"Aduh....,pake macet segala", gimam Tiara, ia terlihat jelas dalam kepanikan.
"Ini tidak akan lama Neng, lewat Pasar juga pasti lancar", Abah mencoba menenangkan Tiara.
"Ini kapan kejadiannya, Nak?, oh iya Anak ini siapa?, biar Abah tidak bingung memanggilnya", tatap Abah kepada Badrun.
Badrun berpikir sejenak, 'lebih baik berbohong saja, karena Abah juga seperti tidak mengenalinya lagi', pikir Badrun.
"Saya..., Badar Abah, baru beberapa minggu menjadi sopirnya Bu Arimbi", aku Robi.
"Oh...iya ..., kapan Robi kecelakaannya?", ulangi Abah.
"Dua hari yang lalu Abah, Robi diminta menemui Papihnya , namun di jalan ia terjatuh, sepertinya kecelakaan tunggal, karena tidak ditemukan korban lain di lokasi", jelas Badrun.
"Ah...rasanya tidak mungkin Robi itu sudah handal dalam berkendara, dia itu mantan pembalap, masa bisa terjatuh begitu saja, rasanya tidak mungkin", Tiara berargumen.
"Namanya kecelakaan, ya siapa yang tahu, walau sudah ahli sekalipun, kalau memang harus celaka, ya tidak bisa dicegah", ungkap Abah.
"Kita mah hanya bisa ber'doa dan bertawakal saja, semoga keselamatan dan kesehatan selalu melindungi kita", ucap Umi.
Badrun tampak sedang menelepon Pak Robani, ia mengatakan takutnya tidak bisa menjemput, karena Ia sedang menuju Rumah Sakit membawa Abah, Umi dan Tiara, dan kini sedang antri dijalanan .
Perlahan, mobil pun mulai bergerak walau melambat tapi pasti. Tiara terlihat pasrah, ia hanya bisa duduk diam, menerawang ke luar.
Berkali-kali ia cek ponselnya, ada banyak panggilan masuk dari Bu Arimbi tadi pagi. Tiara menyesali kelalaiannya, andai saja ponselnya tidak ketinggalan, mungkin kini ia sudah berada di sisi Robi.
Rasanya seabad, Tiara menghabiskan waktu yang sangat lama untuk bisa sampai di Rumah Sakit.
Rasanya tak karuan saat Tiara bisa melihat bangunan Besar didepannya .
"Alhamdulillah..., sampai juga", ucap Abah.
Mereka semua keluar dari mobil. Badrun membimbing mereka menuju ruangan tempat Robi dirawat.
Hati Tiara sudah tidak karuan, ia merasa tubuhnya begitu ringan, sehingga tampak kleyengan. Umi pun menggandengnya.
"Tenang..., Neng, sabar...", Umi menepuk pundak Tiara, sekilas Umi melihat kelopak mata Tiara yang mulai berembun.
Tanpa mereka ketahui, ternyata Fikri mengikuti mereka diam-diam , ia merasa tetap tidak setuju Tiara menemui Robi.
Rombongan Abah sudah berada di luat ruangan Robi. Badrun pun segera mengetuk pintu.
Tak lama Bu Arimbi pun muncul dari balik pintu. Ia telihat sangat bahagia begitu melihat Abah dan keluarga.
"Abah, Umi, Tiara", Bu Arimbi menghampiri dan menyalami mereka. Bu Arimbi memeluk Umi dan tangisnya pun pecah, sejak kemarin ia sendiri menunggui Robi, hati Ibu mana yang tidak hancur melihat anak satu-satunya kini tergolek tidak berdaya.
__ADS_1
"Sabar...Ibu, kita berdo'a saja semoga Robi cepat sadar", Umi balik memeluk Bu Arimbi. Umi paham dengan apa yang Bu Arimbi rasakan.
Tiara pun sama, ia memeluk Bu Arimbi. "Maafkan saya Ibu, tadi ponselnya ketinggalan di kamar, Tiara tadi ke Kampus", ucap Tiara penuh penyesalan.
"Tidak apa-apa Nak, Ibu minta tolong sama Tiara, temani Robi, tadi pagi juga dia memanggil namamu berkali-kali, Dokter bilang itu baik, kamu yang masih Robi ingat dalam keadaan koma sekalipun", tatap Bu Arimbi.
"Boleh kami melihat Robi?", tanyai Abah, sepertinya sudah tidak sabar untuk melihat keadaan Robi.
"Oh iya, sampai lupa, ayo Abah masuk, tapi maaf harus satu-satu", ucap Bu Arimbi. Ia mempersilahkan Abah terlebih dahulu yang masuk bersamanya.
"Ya...Allah....Nak....Nak....", Abah langsung menghampiri Robi, ia duduk di samping kanan Robi.
"Assalamu'alaikum Nak, ini Abah sudah di sini, kamu cepat bangun, cepat kembali lagi ke Pondok, masiih banyak yang harus dipelajari, santri-santri juga sudah banyak yang merindukanmu", ucap Abah.
Abah terus saja bicara, seolah ia sedang berhadapan dengan orang yang sehat saja.
Abah yakin Robi pasti masih bisa mendengar apa yang dibicarakannya olehnya.
"Nak, cepat sadar, cepat pulih kembali, kita akan sama-sama ngurus Pondok, Abah sudah kangen mendengarmu Adzan, sudah kangen melihatmu menjadi imam",
"Oh...iya..., Abah juga sudah menyiapkan kitab baru , kita belajar lagi", tatap Abah.
Namun tidak ada respon dari Robi, ia tetap saja terpejam.
"Bu, nanti bisa diperdengarkan murotal Al-Qur'an, biar pendengarannya selalu terjaga dengan kalimah-kalimah baik", saran Abah.
"Abah bawa serta Umi dan Tiara, kamu juga ingin kan bertemu dengan mereka?", Abah menatap Robi yang masih terpejam.
Bu Arimbi keluar ia bermaksud menjawab panggilan masuk ke ponselnya. "Tiara", panggilnya.
"Ayo masuk Nak!", Bu Arimbi menyuruh Tiara masuk ke ruangan Robi, sementara dirinya menjawab panggilan masuk yang ternyata dari Pak Robani.
Tiara menurut, ia memasuki ruangan dengan perasaan yang tidak menentu. Ruangan yang terasa sejuk itu sungguh mengerikan dirinya.
Apalagi saat Tiara bisa melihat sendiri, sosok Robi yang kini hanya bisa terlentang dan terpenjam dalam tidur panjang ada didepannya.
Hatinya sangat teriris, sosok yang ia kagumi dalam diam, kini benar-benar diam.
Tiara tidak tahu, dirinya harus bagaimana sekarang, ia sungguh canggung.
"Neng, sini duduk!", tawari Abah, ia berdiri dan menyuruh Tiara duduk di kursi yang tadi ia duduki.
Tiara menurut, ia duduk masih dengan diam, hanya matanya yang terus menatap Robi, mata yang kini sudah kembali berembun.
"Bicaralah, ajak Robi Bicara, !", perintah Abah.
Tiara pun mulai bicara, dengan suara yang berat, ia menyapa Robi.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum Robi, kamu pasti bisa mendengar, ini aku Tiara, Tiara sudah ada di sini, ayo bangunlah!, kata Ibu tadi pagi kamu memanggil aku, sekarang aku sudah ada di sini, jadu, cepat bangun!",
"Aku tidak ada teman ngobrol lagi kalau kamu tetap begini, di Pondok, Gilang juga selalu menunggu kamu, oh iya, kamu juga masih punya utang lho sama Gilang, kamu sudah berjanji mengajaknya ke pasar malam kan?, ayo bangun!",
Tiara menatap Robi, ia ingin melihat reaksi darinya. Tapi tetap, hanya diam dan terpejam.
"Kamu mungkin masih lupa sama aku?, aku bacakan sholawat ya, mungkin dengan ini kamu bisa mengingat aku", Tiara pun melafaskan sholawat yang biasa ia baca saat memulai pengajian di Madrasah, dan cukup itu, Tiara pun membaca surat Ar-Rahman setelahnya, sambil tetap menatap Robi.
Abah yang sedang memegang jari tangan Robi bisa merasakan ada gerakan dari salah satu jari Robi.
"Neng..., Alhamdulillah..., Ini...ini...", reflek Abah menarik tangan Tiara dan menempelkannya ke tangan Robi.
Tiara terhenyak, ia tidak menyangka Abah melakukan ini, Tiara untuk pertama kalinya menyentuh langsung tangan Robi.
Tiara berdesir begitu merasakan rasa hangat yang kini menjalar dari tangan Robi.
"Ayo baca lagi !, barusan Abah bisa merasakan gerakan tangannya", ucap Abah.
Tiara kembali membaca salah satu surat dari Al-Qur'an sambil memegang tangan Robi. Hingga beberapa menit kemudian ia juga bisa merasakan gerakan halus dari salah satu tangan Robi. Dan tangannya dipegang erat oleh Robi.
"Abah", lirih Tiara. Ia menatap Abah.
Abah mengerti, ini untuk pertama kalinya Tiara bersentuhan langsung dengan laki-laki.
"Tidak apa-apa, ini darurat Neng, teruskanlah, Robi bereaksi positif dengan kehadiranmu", Abah mengusap kepala Tiara.
Di luar terdengar ribut-ribut, Abah sampai menghampirinya.
Ternyata di luar sudah ada Ustad Fikri, ia sedang menanyakan keberadaan Tiara.
"Ada apa ini, ini Rumah Sakit, kenapa ribut-ribut?", tegur Abah.
"Di mana Tiara Abah?, saya akan membawanya pulang", tegas Robi.
"Ada, Tiara ada di dalam, Tiara tidak akan pulang, ia masih dibutuhkan di sini", tegas Abah.
"Tidak bisa Abah, Tiara harus pulang, aku tidak rela calon istriku berduaan di dalam sana", keukeuh Fikri.
"Di dalam sana Robi sedang koma, dia tidak akan berbuat apa-apa sama Tiara", tegas Abah.
"Sekarang lebih baik, kamu pulang !, Abah sudah menyuruhmu tetap di Pondok kan!!!",
"Tapi Abah...",
"Pak Ustad, saya ibunya Robi, saya minta tolong , ijinkan Tiara di sini dulu, hanya Robi anak Ibu", Bu Arimbi memohon.
"Kalian memang sama saja", Fikri langsung pergi dari hadapan semua dengan membawa kemarahan.
__ADS_1
.