Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa

Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa
Kesempatan Ke Dua


__ADS_3

"Alhamdulillah..., kalian pulang juga, Abah dan Umi pasti senang", sumringah Nyimas, ia melerai pelukannya pada Tiara.


"Abah..., Umi..., dimana mereka?", Tiara menatap ke dalam dengan pandangan penuh kerinduan kepada kedua orang tuanya itu.


"Ada, Abah dan Umi sedang di kamar, tampaknya Abah mengeluh sakit lagi", ucap Nyimas.


"Masuklah !!, saya buatkan minuman dulu, atau kalian mau sekalian makan?", tawari Nyimas.


"Tidak , kami sudah makan tadi", ucap Robi, maunya ia mengikuti Tiara yang langsung nyelonong menuju kamar Abah dan Umi, tapi ia memilih untuk duduk saja di ruang keluarga.


Sementara Tiara, ia sudah sabar untuk bertemu orang yang selama ini sangat ia rindukan. Di depan kamar yang pintunya tampak terbuka, ia berdiri menatap ke dalam.


Dengan jelas ia melihat Abah yang sedang terbaring di atas tempat tidur dengan mata terpejam, dan Umi duduk disampingnya sambil mentautkan tangannya dengan dengan tangan Abah, Umi tampak sedang menatap sendu orang yang ada dihadapannya.


Tanpa suara Tiara masuk ke dalam, ia melangkah perlahan seakan takut menimbulkan kegaduhan yang bisa membangunkan Abah.


"Assalamu'akaikum Umi", Tiara langsung memeluk Umi dari belakang.


"Wa'alaikumsalam...", setengah terperanjat kaget, Umi memegang erat tangan yang melingkar dilehernya, dan menengok perlahan.


"Alhamdulillah....Ya Allah..., Ara...., kamu pulang Nak", dengan suara tercekat Umi berdiri dan langsung menghambur memeluk tubuh putrinya itu sambil menangis bahagia.


Tanpa sadar, mereka sudah membuat kegaduhan hingga Abah tersadar dari tidurnya.


"Umi..., ada apa?", panggil Abah dengan mata terpejam.


Umi dan Tiara tersadar, mereka melerai pelukannya , lalu menghampiri Abah. Tiara langsung memegang tangan Abah dan menciumnya takjim.


Perlahan Abah membuka matanya, ia merasa ada perlakuan berbeda, dan itu bukan Umi.


Perlahan matanya menangkap sosok putri yang selama ini begitu ia rindukan. "Tiara..., ini ...Tiara..., putri Abah..., kamu sudah pulang Neng?", seketika sorot mata Abah berbinar, ia tampak begitu bahagia, digenggamnya erat tangan Tiara, dan Abah pun terlihat ingin bangkit dari tidurnya.


"Iya...ini Tiara...Abah, sudah..., berbaring saja", Tiara berdiri, ia lebih mendekatkan wajahnya dengan Abah.


"Alhamdulillah..., Abah senang kamu sudah pulang dengan selamat, mana Nak Robi, dia pulang juga kan?", tanyai Abah.


"Iya..., Robi ada di ruang depan", ucap Tiara.


"Panggilkan ke sini, Abah juga ingin bertemu dengan Nak Robi", pinta Abah dengan pandangan yang susah dijelaskan. Perasaan Abah campur aduk, antara senang dan sedih, senangnya karena Tiara dan Robi sudah kembali pulang dengan selamat, dan sedihnya karena mengetahui perihal Ustad Fikri yang sedang jadi buronan Polisi


"Sebentar ", Tiara melangkah ke luar untuk memanggil Robi. Dan tak lama kembali bersama Robi.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum Abah", Robi langsung meraih tangan Abah dan menciumnya takjim.


"Wa'alaikumsalam, terima kasih sudah menjaga Tiara, Nak Robi", Abah langsung memegang erat tangan Robi yang sedang menyalaminya.


Matanya berkaca-kaca menatap Robi.


"Abah harus sembuh, Tiara sudah kembali", senyum Robi.


"Iya..., Abah ingin cepat sehat, Abah ingin menyaksikan Tiara menjadi pengantin, Abah juga ingin melihat cucu dan cicit Abah lahir", selorok Abah, ia tersenyum melirik ke arah Tiara.


Tiara menunduk, ia sudah pasrah, pasti Abah akan memenuhi janjinya kepada Ustad Fikri, untuk menikahkannya dengan dirinya.


Umi bisa melihat perubahan raut wajah Tiara, ia tersenyum. 'Tenang Neng, kamu tidak akan menikah dengan Fikri', batin Umi bicara.


"Tapi sepertinya Abah harus lebih bersabar , karena harus mencari calon menantu lagi ", senyum Umi.


Tiara dan Robi saling menatap, "Maksudnya apa Umi?", tatap Tiara.


Umi menatap Abah. "Tiara..., kalian belum tahu soal Ustad Fikri ?, ucap Abah.


"Be...l...um...Abah, kita kan baru sampai, memangnya ada apa?",


Umi kembali menatap Abah, kini Abah menganggukkan kepalanya kepada Umi, pertanda ia menyuruh Umi untuk menjelaskan semuanya perihal Ustad Fikri.


Begitupun Tiara, hatinya merasa lega, kini ia sudah tidak ada beban lagi untuk memenuhi janji Abah kepada Ustad Fikri.


"Nah begitu ceritanya", Umi memungkas ceritanya.


"Alhamdulillah...", gumam Tiara dan Robi hampir bersamaan.


Abah dan Umi saling tatap sambil tersenyum.


Sama, Tiara dan Robi pun saling tatap , tak lama Tiara menunduk, menyembunyikan wajahnya yang kini memanas.


"Sekarang, Tiara bebas mau dengan siapa pun, Abah tidak akan memilihkan pendamping untuk Tiara, Abah yakin akan banyak yang mengantri , pilihlah sendiri", senyum Abah.


"Atau mungkin Neng sudah punya pilihan sendiri?", senyum Umi.


"Saya yang akan daftar pertama Abah, saya sudah lama memendam rasa ini untuk Tiara", celetuk Robi.


"Alhamdulillah..., tuh...Neng, langsung ada yang nyangkut", senyum Abah.

__ADS_1


"Kalau Abah terserah Tiara saja, Abah tidak akan ikut campur lagi masalah ini", senyum Abah.


"Nanti saja Abah, Tiara kan masih punya utang sama Abah, Tiara mau urus-urus wisuda dulu, baru setelah selesai wisuda, kita bahas lagi masalah ini", Tiara menunduk, karena Robi terus saja menatapnya.


"Baik..., nah Nak Robi harus bersabar lagi rupanya", senyum Abah.


"Tidak apa Abah, Allah kan selalu bersama orang-orang yang sabar", senyum Robi.


"Lebih baik kita makan dulu, kalian kan baru saja pulang, dari tadi malah diajak ngobrol terus, ayo kita makan!!", ajak Umi.


Umi pun mendudukkan Abah kembali ke kursi roda, mereka menuju meja makan.


*****


Mobil yang membawa Eko dan Rena sudah memasuki halaman luas sebuah rumah mewah tinggkat dua yang tidak kalah besar dengan rumahnya Robi .


Eko dan Rena terlihat keluar dari mobil setelah sopir membukakan pintu untuk mereka. Eko terlihat menggandeng tangan Rena.


"Pak, tolong bawa orang yang ada di jok belakang ke kamar samping ya?", periintahnya sebelum melangkah masuk ke dalam.


"Baik, Tuan", rengkuh Pak Tejo.


Ia langsung menuju bagian belakang mobil dan membukakan pintu. Terlihat olehnya seorang pria muda masih terpejam dengan posisi tubuh meringkuk.


"Hmm..., tidur..., apa pingsan ....?", gumamnya sambil mencoba memegang bagian tangan Fikri.


"Jangan !, lepaskan !", teriak Fikri sambil buru-buru menarik tangannya yang dipegang oleh Pak Tejo. Rupanya Fikri hanya tertidur.


"Maaf Den, kita sudah sampai, saya diperintahkan untuk membawa Aden masuk, kita aman, ini sudah ada di rumah Tuan saya", beritahu Pak Tejo, ia bisa memaklumi sikap Fikri tadi.


Fikri mengedarkan pandangannya ke luar , ia melihat dirinya sudah berada dihalaman luas sebuah rumah mewah.


"Ayo..., kita masuk , biar Aden bisa istirahat dan membersihkan badan dulu sebelum bertemu Tuan Muda saya", lagi-lagi Pak Tejo mengajak Fikri turun dari mobil.


Fikri pun menurut, perlahan ia melangkahkan kakinya ke luar mobil dan mengikuti Pak Tejo menuju kamar samping.


Fikri terkagum-kagum melihat rumah mewah yang kini ia masuki.


'Hhmmm ..., siapa dia?, kok menyelamatkan aku dari kejaran Polisi tadi' , batin Fikri bicara. Kini sudah berada di dalam kamar, tak lama Pak Tejo kembali dengan membawa pakaian ganti untuknya.


"Ini baju gantinya Den, setelah itu Aden di tunggu di taman belakang dekat kolam renang oleh Tuan Muda saya, dari depan pintu, lurus saja ke kanan",

__ADS_1


"Mmmm...baik Pak, Terima kasih", ucap Fikri, ia segera mengambil baju gantinya dan memasuki kamar mandi, ia pun sudah tidak sabar untuk bertemu orang yang sudah membawanya ke sini.


__ADS_2