
Bi, rumah ini sepi, sejak Robi tinggal di Pondok, ia pasti akan jarang pulang ke sini", terawang Bu Arimbi.
"Andai saja, saya masih bisa punya anak, pasti tidak akan kesepian seperti ini, akan ada adik-adik Robi yang lahir", tapi semua itu hanya tinggal harapan yang tidak akan mungkin tercapai.
"Kalau mau, masih ada cara lain Nyonya", tatap bi Mimi.
"Nyonya bisa mengangkat anak dari Panti, di sana pasti banyak anak yang sudah tidak mempunyai orang tua, mengurus anak yatim itu baik sekali, banyak berkahnya", jelas Bi Mimi.
"Emh..., boleh juga Bi, nanti kita cari ke sana, siapa tahu ada anak yang berjodoh dengan saya.
"Bi, saya itu berencana mulai merancang busana muslimah, panca pasarnya lokal saja dulu, saya lihat di sini banyak wanita yang berhijab",
"Wah..., bagus itu Nyonya, jadi selain mendapat penghasilan , Nyonya juga akan mendapat pahala, karena membuatkan pakaian yang dapat menutup aurat pemakainya", senyum Bi Mimi.
"Ah..., Tiara..., saya akan menjadikan Tiara sebagai modelnya", senyum Bu Arimbi.
"Iya Nyonya, dengan begitu, Nyonya tidak akan bolak-balik ke luar negeri lagi, dan Bibi tidak akan tinggal sendiri terus di sini", senyum Bi Mimi.
"Iya Bi, nanti akan saya pikirkan dulu konsepnya, dan yang bagus itu, nanti saat perayaan tahun baru islam, apa itu namanya Bi, yang suka ada rame-rame, pawai obor",
"Oh..., itu tahun baru islam, satu Hijriah, Nyonya",
"Nah...itu, moment yang bagus buat launcing pakaian muslimah model terbaru", Bu Arimbi tampak antusias.
"Besok, antar saya menemui Tiara, sambil menengok Robi, kita bicarakan hal ini dengan Tiara", ajak Bu Arimbi.
"Kenapa tidak bersama Tuan saja, Nyonya?", Bi Mimi bertanya hati-hati.
"Tidak usah Bi, ini urusan saya, bisnis saya, biar saya saja yang urus", senyum Bu Arimbi.
Bukan tidak mau melibatkan suaminya dalam setiap urusannya, tapi Bu Arimbi tidak ingin merasa kecewa, saat suaminya itu bertindak di luar keinginannya, apalagi kalau harus mendengar suaminya bicara soal Rena.
****
Robi tampak masih duduk sambil membaca buku-buku yang Abah berikan padanya, ia tampak antusias, tidak bosan-bosannya ia bertanya kepada Abah.
"Jangan terlalu di porsir, sedikit-sedikit saja dulu, dan mulai amalkan, karena ilmu kita akan terjaga jika diamalkan",
"Contohnya, hari ini Nak Robi mulai menghafal surat -surat pendek, maka biar terjaga hafalannya, bacakan surat tersebut dalam setiap shalat, Inshaa Allah, hafalannya akan terjaga", jelas Abah.
"Abah..., ini kok banyak sekali, apa saya akan bisa mempelajari semua ini", Robi memegang satu per satu kitab yang ada dihadapannya.
"Inshaa Allah bisa..., yang terpenting tahu kuncinya", senyum Abah.
"Kunci?, kunci apa?", Robi menatap Abah.
"Kunci mendapatkan ilmu dan dimudahkan dalam mencarinya",
"Bagaimana itu Abah?", Robi kembali menatap Abah.
"Ilmu itu milik Allah, kita akan memperolehnya dari seorang guru, jadi kalau kita ingin dimudahkan dalam mendapatkan ilmu, ya harus takjim kepada guru, taat dan patuh kepada guru", senyum Abah.
__ADS_1
Robi tampak manggut-manggut mendengar setiap penjelasan dari Abah.
"Yang utama itu, luruskan dulu niatnya, mencari ilmu untuk mendapat Ridho Allah, dan berbuat baik kepada sesama manusia, jangan sombong, dan tetap rendah hati saat kita sudah mendapatkan apa yang kita kejar",
"Yang selanjutnya, sempurnakan ikhtiar, jangan hanya berpangku tangan, jangan cepat puas dengan apa yang sudah kita raih, ingatlah!, di atas langit masih ada langit",
"Ikhlas saja, semua sudah ada yang mengatur, kita tinggal ikuti jalurnya saja yang sudah ada", jelas Abah.
"Kalau di lihat memang berat, kalau di pikir , memang sulit, bagaimana kita bisa mempelajari semua ini, tapi kalau Ikhlas dalam menjalaninya, semua akan terasa ringan, dan mudah", Abah menepuk pundak Robi.
"Semua akan terasa mudah dengan seijin Allah", senyum Abah.
"Semangat saja Nak!, Abah yakin, kamu pasti bisa, pelajari saja yang dasar-dasar dulu, yang dirasa perlu, agar begitu dipelajari, bisa langsung diamalkan, biar terjaga hafalannya", kembali Abah menasehati",
"Baik Abah", senyum Robi.
"Sekarang Abah tinggal dulu, Abah juga ada yang harus dipelajari untuk materi ceramah besok, kalau sudah lelah, istirahat saja dulu, di sana sudah ada tempat tidur, Abah sudah siapkan", tunjuk Abah ke ruangan disebelahnya.
"Baik Abah, terima kasih",
Abah meninggalkan Robi sendiri di ruang baca, beliau segera menuju kamar tidurnya.
Sepeninggalnya Abah, Robi kembali melanjutkan belajarnya. Robi mulai mendalami tata cara shalat fardhu dan shalat berjama'ah, beserta bacaan-bacaannya.
****
Marisa mulai merasa gundah, ia merasa ada yang berubah dengan dirinya, sudah mau dua minggu ini ia telat, ini mungkin akibat dari pergaulan bebasnya dengan Dery, juga dengan Briant.
Hal ini belum berani ia bicarakan dengan Bi Iroh, Bibinya itu pasti akan merasa malu, dan pasti akan sangat marah kepadanya.
"Aduh..., bagaimana ini?, jika benar-benar terjadi, aku dan Bibi pasti akan di usir dari sini", gumam Marisa.
Ia masih tampak terjaga di dalam kamarnya.
Sampai terdengar ada suara langkah kaki cepat dan mulai mengendap di belakang rumahnya.
"Tangkap...!, tangkap...!, suara orang berteriak semakin mendekati rumahnya.
Walau takut , Marisa mulai mengintip situasi di luar , ia melihat melalui celah jendela.
Tidak ada yang aneh, namun setelah itu, ia melihat bayangan hitam di depannya, tepat di depan wajahnyaa
"Dery...?, ini benar Dery, ngapain dia di sini?", Marisa dengan jelas melihat Dery.
"Tapi..kok, sepertinya dia sedang sembunyi?, dari siapa? Siapa yang mengejar dia", gumam Marisa.
Marisa masih berdiri di depan jendela kamarnya.
Sampai dua orang yang berjalan setengah berlari mendekati rumahnya. "Kemsna dia?, cepat sekali menghilang", salah seorang dari pria itu bicara.
Mereka melewati rumahnya dan berlalu menyusuri gang . Namun tak lama mereka kembali dan berhenti di depan rumahnya.
__ADS_1
"Tidak ada Pak, mungkin dia sembunyi, kita cari disekitar sini, terakhir dia terlihat di sini", ucap seorang dari mereka.
Mereka tampak mulai mencari, dan Dery pun kian resah, ia tampak mulai mendorong jendela kamar Marisa.
"Aku harus menolong Dery", gumam Marisa, perlahan ia buka kunci jendelanya dan "Bruk", tubuh Dery terjatuh ke atas kasurnya.
Marisa cepat-cepat mengunci kembali jendelanya.
"Aww",Dery yang kaget mengaduh kesakitan, namun buru-buru Marisa menutup mulut Dery dengan telapak tangannya.
Dery melotot begitu mengenali Marisa, namun dia pun terdiam. Ia sadar di luar sana ada dua Polisi yang sedang mengejarnya.
"Tidak ada Pak, dia tidak ada di sini", ucap orang dari luar.
"Mungkin dia benar-benar sudah lolos, ayo kita lanjutkan pengejaran", terdengar percakapan dari dua orang di luar sana.
Dan kedua orang itu, kini sudah meninggalkan rumah Marisa.
Perlahan Marisa melepas tangannya dari mulut Dery, mereka berdua kini saling pandang, mereka tidak menyangka, bisa bertemu kembali dalam keadaan yang sangat berbeda.
Marisa tampak tampil biasa dengan daster tidurnya, dan tanpa riasan. Begitu pun Dery, ia kini tampak kucel dengan rambut gondrongnya, dan di kejar Polisi juga.
"Kamu?", ucap mereka bersamaan.
"Iya..., beginilah aku sekarang", tunduk Marisa. Terbersitlah dalam pikirannya, ini kesempatan Marisa untuk membuat Dery bertanggung jawab atas semua yang terjadi pada dirinya.
Marisa langsung memeluk Dery, "Maafkan aku", lirihnya. Marisa sengaja mengeratkan pelukannya.
Dery yang awalnya ingin marah, kini merasa terpancing oleh aksi agresif Marisa.
Dery pun malah membalas pelukan Marisa. Bagaimana pun Marisa pernah ada dihatinya.
Namanya juga kucing, tidak diberi ikan pun, ia akan mencari dan mencuri, ini ikannya sendiri yang datang, ya langsung dieksekusi saja. Tahu kan apa yang mereka lakukan selanjutnya?.......
****
Ustad Fikri sudah bangun untuk mengumandangkan adzan awal. Sebelum pergi ke Masjid, ia menuju gerbang depan dulu untuk mengecek keamanannya.
Ia dapati gerbang masih terkunci. "Aman", gumamnya. Ia segera kembali menuju Masjid, namun langkahnya terhenti saat dilihatnya seseorang keluar dari pintu depan rumah Abah.
"Siapa jan segini",gumamnya, ia menajamkan penglihatannya, mengenali siapa orang yang baru saja keluar dari rumah Abah.
"Robi....?, itu Robi....?, ngapain dia di rumah Abah?, dasar maling?, ", geram Ustad Fikri. Ia sudah mau berlari mengejar Robi, namun Abah pun tak lama keluar dari rumahnya.
"Abah..., apa iya Abah mengijinkan Robi menginap dirumahnya?", geram Ustad Fikri.
"Ini tidak bisa dibiarkan", Ustad Fikri mengepalkan kedua tangannya. Ia pun mengikuti Abah dari belakang menuju Masjid.
***
Di sebuah rumah kontrakan, seorang wanita tengah sibuk membuat aneka kue basah, kue-kue itu yang akan ia jual besok di pasar.
__ADS_1
"Ibu harus bertemu kamu, Ibu sudah kangen, dan untuk meyakinkanku kalau itu benar kamu, anakku", gumamnya sambil tangannya terus mengeluarkan bolu kukus dari cetakannya.