Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa

Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa
Ini Bahaya


__ADS_3

Badrun melajukan mobilnya cepat menuju Rumah Sakit, ia harus menjemput Robi. Di jalan, Badrun dapat melihat ada dua pengendara motor yang sedari tadi mengikutinya.


"Apa ini perasaan aku saja, sepertinya mereka sedang mengikuti aku", gumam Badrun. Ia sengaja memperlambat laju mobilnya, ingin tahu apa yang akan mereka lakukan padanya.


Benar saja, dijalanan yang mulai sepi, salah satu dari mereka menghadangnya dengan sengaja memarkir sepeda motornya di depan mobil yang dikendarai Badrun. Mereka adalah Eko dan Andra.


Mereka mengenali kalau itu mobil yang biasa dipakai oleh Robi.


"Hai...turun !! Cepat!!", teriak seorang dari mereka yang berada di samping mobil, bahkan ia sampai menggedor-gedor kaca pintu depan.


Takut mereka berbuat brutal dengan merusak mobil, Badrun pun turun dari mobil.


"Ada apa Mas?, ada perlu sama saya, bisa dengan cara yang baik kan, tidak harus begini", tatap Badrun.


Eko dan Andra saling tatap, ternyata yang mereka ikuti bukan Robi.


"Siapa Loe?", teriak Eko.


"Iihh...Loe yang siapa?, ada perlu apa pake membuntuti mobil ini segala", Badrun balik bertanya.


"Gue ini utusannya Pak Rusman, kepala Kepolisian untuk mengembalikan mobil ini", alasan Badrun, ia ingin membuat gentar Eko dan Andra.


"Oh...maaf..., salah orang", Eko melirik Andra, lalu tanpa basa-basi, ia melesat kembali dijalanan diikuti oleh Andra.


"Iihh...kenapa malah kabur?, tanggung kan?, padahal sikat saja dia", gerutu Andra, kali ini ia merasa kesal dengan sikap Eko.


"Loe nggak dengar apa?, dia itu siapa?, Gue cari aman saja, nggak mau juga Gue berurusan dengan pihak Kepolisian, bisa-bisa terbongkar semua kartu kita",,geram Eko.


"Kita cabut saja , kembali ke bengkel", ajak Eko dengan nada tinggi.


"Lagi pula, Si Robi mungkin masih terluka akibat ulah kita kemarin, ha...ha...ha....",


"Sekarang sudah tidak ada yang bisa menyaingi kita lagi Robi dan Dery sudah tamat, ha ...ha...ha....", ucap Eko sambil tertawa, ia merasa menang kini.


Mereka melesat dijalanan menuju markasnya kembali.


"Euh ...dasar orang aneh", guman Badrun, ia segera melajukan kembali mobilnya setelah Eko dan Andra hilang dari pandangannya.

__ADS_1


"Ah...apa mereka musuhnya Robi?, apa mereka juga yang sudah membuat Robi celaka", Badrun bicara sendiri sambil tetap menyetir.


"Ah...aku juga tidak sempat melihat wajahnya, tertutup helm, cuma mendengar suaranya saja, kalau benar mereka pelakunya, awas saja, akan kucari sampai dapat", geram Badrun.


Badrun menepikan mobilnya di jalan yang tepat berada di depan Rumah Sakit, di depan dilihatnya Pak Robani menyetop mobil yang dikendarainya.


Badrun pun berhenti dan keluar dari mobil, lalu menghampiri Pak Robani yang sedang berdiri di samping sebuah mobil.


"Pak, kenapa di sini?, bukannya Den Robi mau pulang hari ini?", tanyai Badrun.


"Kaca mobil yang ada di samping Pak Robani terbuka, dan kepala Robi nongol. "Aku di sini, kita menunggu kamu, takutnya kamu mencari aku ke atas", kekeh Robi.


"Sudah..., kita pulang sekarang, biar Robi bisa ceoat isturahat di rumah", ajak Pak Robani. Ia masuk ke dalam mobil dan menyetir sendiri membawa Robi dan Bu Arimbi menuju rumahnya, diikuti oleh Badrun.


"Setelah kamu pulih pun jangan dulu kembali ke Pondok, Robi, kamu harus mulai mengikuti jejak Papih Nak, kamu harus mulai membantu Papih di Kantor",


"Iya Pih...", jawab Robi dengan nada malas.


Pak Robani melihat Robi sekilas dari spion, ia melihat Robi yang tampak tidak bersemangat, Robi seperti tidak senang dibawa pulang ke rumahnya sendiri.


*****


Di Pondok para santri mulai ramai membicarakan orang yang adzan tadi. Mereka bilang suaranya merdu, tidak kalah oleh suara Ustad Fikri dan Robi.


Bahkan saat adzan Maghrib tiba, semua berharap orang tadi kembali mengumandangkan adzan.


"Sudah waktunya adzan, kok malah pada diam saja begini", tegur Ustad Fikri begitu memasuki Madjid.


"Orang yang tadi mana Ustad ?, suaranya merdu sekali, suaranya ngangenin", celetuk salah satu santri.


"Siapa?", Ustad Fikri merasa bingung, tadi ia belum pulang, saat Badrun Adzan.


"Ah...iya..., tadi Ustad kan datanf terlambat, jadi tidak tahu ada orang baru yang suara adzannya merdu", ucap santri tadi.


Ustad Fikri diam, ia sedang berfikir, 'apa yang dimaksud mereka itu Badrun?, berani sekali dia, pake adzan di sini segala, mau cari muka kayaknya dia', Ustad Fikri mengepalkan tangannya.


Ustad Fikri tidak banyak bicara, ia cepat -cepat menuju mimbar, dan segera mengumandangkan Adzan.

__ADS_1


"Masih bagus suara yang tadi , ya?", gumam para santri yang masih bisa didengar oleh Ustad Fikri yang baru saja mau duduk kembali di tempatnya tadi.


'Awas kamu Badrun, kamu tidak akan berhasil', pikir Ustad Fikri


Kali ini Abah kembali yang mengimami shalat berjamaah. Namun setelah salam, Abah tampak limbung, badannya tersungkur di atas sajadah. Sontak semua jamaah berteriak dan memburunya.


Alhamdulillah Abah tidak aoa-apa, beliau hanya mengeluh pusing saja, dan Abah pun tidak mau dibawa berobat ke Rumah Sakit.


"Tidak usah ....Abah tidak apa-apa, ini pengaruh usia saja, Abah sudah tua, sudah saatnya beristirahat", Jelaskan Abah.


Hal ini membuat Ustad Fikri senang, Abah akan segera mencari pengganti untuk pimpinan Pondok, dan sudah pasti Ustad Fikri orangnya.


"Abah kini sudah berada dirumahnya, duduk di kursi sofa dengan pandangan tertuju kepada Tiara dan Ustad Fikri.


"Lihat..., kalian sudah tidak punya banyak waktu lagi, Abah sudah tidak mampu mengurus para santri, sudah saatnya Abah mencari pengganti", Abah menatap Tiara.


Tiara menunduk, ia tahu arti tatapan Abah, Abah ingin dirinya segera menerima Ustad Fikri sebagai suaminya, apalagi waktu wisuda sudah makin dekat.


"Iya Abah, Tiara menurut saja bagaimana baiknya", lirih Tiara.


"Jadi..., bagaimana Abah?", tatap Ustad Fikri, ia sudah menyunggingkan senyuman tanda kemenangan.


"Kita percepat saja, sebelum menikahi Tiara pun, Ustad sudah boleh menggantikan peran Abah di sini, mulai sekarang urusan Pondok Abah serahkan pada Ustad", jelas Abah.


Ustad Fikri melengos kecewa, ia kira Abah akan mempercepat pernikahannya dengan Tiara, tak tahunya hanya memberikan mandat untuk mengganti posisi Abah sebagai pimpinan Pondok.


"Iya...Abah..., baik", rengkuh Ustad Fikri, ia berusaha menyembunyikan kekecewaannya.


'Alhamdulillah..., kirain... ", Tiara menatik nafas panjang, ia merasa lega, setidaknya ia masih memiliki waktu untuk mengharapkan sebuah keajaiban datang yang bisa melepaskannya dari perjodohan ini.


Nyimas yang berada di samping Tiara, rasanya ingin bicara lantang menyerang Ustad Fikri, tapi ia masih bisa menahannya, karena kalau terkuak hari ini, tidak ada yang akan membelanya, Fikri bisa saja balik menyerangnya.


'Aku harus segera memberitahu Robi tentang hal ini, iya..., besok saja sekalian mengantar Risman ke sana', pikir Nyimas.


Tanpa Nyimas ketahui, Ustad Fikri sedari tadi mencuri -curi panjang kepada Nyimas, rupanya Fikri pun mulai curiga kepada Nyimas, walau sebagian wajahnya tertutupi cadar, tapi mata sayunya tidak bisa disembunyikan.


Fikri masih jelas bisa mengingatnya, sorot mata itu yang dulu membuatnya gelap mata.

__ADS_1


__ADS_2