Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa

Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa
Semangat Baru


__ADS_3

"Wah..., ide bagus itu, boleh dipikirkan lebih serius lagi nih", Robi menyikut lengan Badrun.


Semua tersenyum sambil melirik ke arah Nyimas dan Badrun.


"Lalu Ustad Fikri sekarang dimana?", Robi tampak penasaran, ia bertanya hati-hati,


"Jangan panggil Ustad lagi, Abah malu, punya anak santri ilmunya tinggi, tapi kelakuannya seperti itu", sambar Abah.


"Euh...iya, Fikri sekarang dimana?", ulangi Robi.


"Dia sekarang buron, lagi di kejar sama Polisi, Abah juga baru tahu tadi pagi dari televisi",


"Wah..., kasihan juga ya, tidak enak hidup begitu", Robi menerawang.


"Sudah..., buat apa mengasihani orang seperti Fikri, sudah saatnya dia menebus semua kesalahannya, Abah sudah tidak peduli lagi, mau bagaimanapun dia", geram Abah.


"Sudah Abah, serahkan saja sama yang berwajib, Abah tidak usah mikirin dia lagi, orang seperti Fikri sudah saatnya menerima akibat dari perbuatannya, cepat atau lambat pasti akan terlihat", Umi mengingatkan Abah.


"Abah harus semangat untuk sehat, lihat para santri masih membutuhkan Abah, apalagi kini Ust...., euh Fikri sudah tidak ada, tinggal Ustad Fadil dan Ustad Dzaqi saja yang bisa diandalkan", imbuh Umi.


"Sudah ada Badrun Umi", sambar Abah.


"Kamu mau kan membantu Abah lagi di sini?", tatap Abah.


Semua terkejut, terutama Badrun, ia tidak menyangka Abah bicara seperti itu.


"Saya Abah?, saya ini kan sudah lama tidak mengaji, pasti banyak ilmu yang sudah saya lewatkan, saya bisa apa?", Badrun merendah.


"Abah percaya sama kamu Nak, Abah tahu kapasitas kamu, Abah yakin kamu bisa", Abah kini menatap Badrun.


"Iya..., Umi juga yakin kamu bisa, kemampuan kamu itu diatas Fikri, Umi tahu itu", senyum Umi.


"Iya..., biar bisa bantuin Nyimas juga kan Umi, satu paket komplit, Nyimas juga kan sudah mengajar di Madrasah, ditambah lagi dengan Badrun", senyum Robi.


"Iya..., sekalian Nak Robi juga boleh kok ikut membimbing santri di sini", senyum Umi.


"Ah...kalau saya malu Umi, saya ini masih dangkal, lagi pula saya harus membantu Papih, bagi-bagj tugas saja, biar Badrun saja yang di sini, kalau saya, bisa sekali-kali saja, sambil menengok Abah",


"Menengok Abah...apa....Abah...?", senyum Badrun.


"Apaan sih...", Robi terlihat kembali menyikut lengan Badrun.


"Drtt....drtt....", terdengar ada panggilan masuk ke ponsel milik Robi. Robi tersenyum mendapat panggilan Vidio Call dari Pak Robani.

__ADS_1


[Wa'alaikumsalam Pih, Alhamdulillah Robi masih di rumah Abah],


[Iya , Papih senang kalian selamat, tapi ada sedikit masalah nih kantor, secepatnya kamu harus pulang, bantuin Papih, Badrun sudah datang ke sana kan untuk menjemput kamu],


[Iya Pih ada, sekarang juga Robi pulang],


[Iya..., salam buat keluarga Abah semua, Papih tunggu, Assalamu'alaikym]


[Wa'alaikumsalam], Robi lalu menaruh kembali ponselnya ke dalam saku jaket.


"Mohon maaf Abah, panggilan tugas, Papih sudah menunggu, ada urusan penting di kantor, saya pamit pulang dulu", Robi bangkit dan menyalami semua, diikuti Badrun.


"Oh iya Tiara, kalau membutuhkan sesuatu bisa langsung minta tolong saya saja, Fikri masih berkeliaran, aku takut saja terjadi sesuatu lagi sama kamu", ucap Robi sebelum benar-benar beranjak pergi dari rumah Abah.


Setelah mengucap salam, Robi dan Badrun bergegas menuju mobil, mereka langsung menuju kediaman Robi.


"Sepertinya ada yang sedang bahagia nih, jalan tol membentang luas di depan, sudah tidak ada halangan lagi, polisi tidur pun tidak ada", senyum Badrun.


"Ngomong apaan sih kamu, fokus nyetir tuh",


"Tenang Tuan Muda, aku akan mengantarkanmu pulang dalam keadaan selamat, takut ya", ledek Badrun.


"Aku masih ingin hidup tahu , masih banyak yang ingin dikerjakan",


"Iya...!, aku ingin menikahi Tiara dulu, ingin membantu bisnis Papih, dan ingin membesarkan anak-anak bersama Tiara", aku Robi.


"Aamiin..., saya juga mau Tuan", ucap Badrun.


"Tuan..., Tuan..., panggil nama saja, aneh rasanya",


"Tapi memang benar kan , saya hanya sopir",


"Kamu itu kakaknya Tiara, jadi kamu juga akan menjadi kakak aku, kita akan menjadi keluarga Badrun", tatap Robi. Ia memegang lengan Badrun.


"Iya..., aku juga ingin menjadi Abi sungguhan bagi Risman", aku Badrun.


"Tuh kan...., kita sama, masih punya misi yang sama untuk masa depan , jadi semangat Bro", kekeh Robi.


Mobil yang membawa Robi sudah sampai di halaman depan rumahnya, Pak Robani dan Bu Arimbi yang sedang duduk di tanan depan begitu senang menyambut kedatangannya.


Robi keluar dan langsung memburu kedua orang tuanya itu, mereka berpelukan.


Tampak sekali kebahagiaan kini meliputi wajah mereka.

__ADS_1


*****


"Wah..., besar sekali ini rumah, pasti pemiliknya bukan orang sembarangan, ini hampir sama dengan rumah Robi dulu", ucap Fikri yang kini sudah tampak lebih segar, ia sedang menuju taman belakang seperti yang disampaikan Pak Tejo tadi.


Terdengar gemericik air dari air mancur buatan , suaranya menarik perhatian Robi, dan benar saja tak jauh dari air mancur itu, duduk seorang pria , posisinya membelakangi Fikri.


'Apa itu orangnya?", Fikri menghentikan langkahnya sejenak.


"Iya benar, langsung ke sini saja", suara pria itu mengejutkan Fikri.


'Tahu dari mana dia?', pikir Fikri, sambil segera melangkah mendekati pria itu.


"Duduk!!", kembali pria itu memberi perintah begitu Fikri sudah berada dibelakangnya.


Fikri pun menurut, ia duduk di kursi yang ada di depan pria itu dengan tetap menunduk. Fikri bahkan tidak berani menatap wajah pria yang telah menyelamatkannya dari kejaran Polisi hari ini.


"Kamu Fikri kan?", tanya pria itu to the point, membuat Fikri kembali kaget, kok pria ini sudah mengetahui namanya juga.


"Di tanya kok malah diam, bilang terima kasih juga tidak, padahal aku ini yang sudah meloloskanmu dari kejaran dua pria tadi, pasti dua orang itu Polisi kan?, kamu bisa-bisa sudah meringkuk di sel kalau saya membiarkanmu tadi",


"Maaf..., terima kasih Tuan sudah membawaku ke sini", ucap Fikri .


"Ha...ha...ha...., jangan panggil aku Tuan, panggil saja aku Eko", ucap pria itu sambil tertawa.


"Iya..., tapi...Tuan..., euh...Den Eko yang sudah menyelanatkan saya, mana berani saya lancang begitu", timpa Fikri.


"Kita ini seumuran, panggil nama saja, itu lebih enak didengarnya", ucap Eko lagi.


"Baik kalau begitu..., kenapa Eko menyelamatkan saya?", tanyai Fikri.


"Eumh...., kenapa ya...?, saya juga tidak tahu, tapi yang jelas saya akan membutuhkan kamu , oh iya..., kamu itu bukannya santri dari Pondok Al-Furqon kan?",


"Iya...benar...",


"Berarti kenal juga sama Robi Kan?", tatap Eko.


"Robi...?, iya saya kenal orang sombong itu", ucap Fikri geram.


"Kenapa?, sepertinya kamu tidak suka sama dia?", selidik Eko.


"Iya..., dia itu saingan saya", aku Fikri.


"Good..., tepat sekali...., kita mempunyai tujuan yang sama, jadi kita bisa bekerja sama", Ucap Eko.

__ADS_1


__ADS_2