
"Bagaimana sudah siap?", tatap Pak Robani setelah mereka duduk berhadapan. Ada seorang Petugas yang akan menginterogasi mereka. Didampingi juga oleh Pak Rusman.
"Iya..., kami sudah siap", ucap Aleks dan Joko hampir bersamaan.
"Oke kita mulai saja", perintah Pak Rusman. Aleks dan Joko kemudian menjawab satu per satu pertanyaan yang dilontarkan oleh Penyidik, kali ini Aleks dan Joko bicara apa adanya, mereka menjawab dengan gamblang, tidak ada lagi yang disembunyikan.
Dari awal mereka bertemu, kenal dan mulai dekat dengan Fikri, hingga mereka terlibat dalam rencana jahat, yang ingin mencelakai Robi, dan memisahkan Robi dengan Tiara.
Mereka juga bercerita kalau mereka sudah salah sasaran, seharusnya bukan Tiara yang mereka culik, tetapi Nyimas.
Aleks dan Joko pun tidak bisa menjawab, kenapa dengan Nyimas, sehingga ia harus diculik segala.
Ini yang menjadi PR besar bagi pihak Kepolisian, mereka juga menduga kalau ada sesuatu antara Nyimas dan Fikri. Tidak akan ada asap jika tidak ada api, begitu peribahasanya.
Aleks dan Joko dipersilahkan kembali ke selnya. Kini pihak Kepolisian sudah mempunyai bukti baru untuk bisa menangkap Fikri.
"Bagaimana?", tatap Dery , ia langsung bertanya begitu Aleks dan Joko kembali ke sel.
"Beres..., semua bukti dan saksi sudah kuat, tinggal menunggu waktu yang tepat untuk mengeksekusi Ustad itu", jelaskan Aleks.
"Rencananya kapan?", kembali Dery menatap kedua temannya itu, dalam hatinya Dery merasa bimbang, ia tidak ingin anak dan istrinya sengsara kalau Fikri sampai di tahan bersamanya.
"Tidak tahu juga sih..., kita tidak berani untuk menanyakannya. Semoga saja secepatnya, sebelum Tiara dan Robi kembali", jelaskan Joko.
"Robi..., lama kita tidak bertemu, mungkin kamu akan meledek aku jika tahu aku sekarang seperti apa, aku mau minta maaf Robi, ternyata ini balasannya, aku sudah mendapatkannya", gumam Dery.
"Sudah..., jangan terlalu dipikirkan, Robi itu baik, dia sudah banyak berubah kini, pasti dia akan memaafkan kita", ucap Aleks.
"Iya ...semoga saja, aku sendiri ragu, kesalahanku kepada Robi banyak sekali, aku ini memang teman yang tidak tahu diuntung, sudah diberi fasilitas cukup, masih mau yang lebih, bahkan aku mendapatkannya dengan jalan licik, segala cara aku coba untuk menyingkirkannya, bahkan Marisa dan bengkelnya pun aku rampas paksa dari dia", Dery menunduk.
"Sudah..., jangan terus dibahas, tak ada manusia yang sempurna, semua orang pasti pernah melakukan kesalahan, apalagi kita, orang yang jauh dari agama", Joko menepuk pundak Dery, mantan bosnya itu kini benar-benar tampak frustasi.
__ADS_1
Di luar terdengar kegaduhan , suara tangis tiba-tiba pecah, terdengar juga suara tangis anak kecil di sana.
Setelah diselidiki, ternyata ada seorang anak yang sedang menangisi bapaknya, rupanya Bapaknya itu baru saja tertangkap Polisi saat melakukan pemalakan liar dipasar.
Hati Dery mulai terenyuh, ia kembali mengingat Marisa dan anaknya. 'Marisa juga akan seperti itu jika kakaknya sampai dipenjara', pikir Dery.
"Ada apa?, apa yang sedang kamu pikirkan?" , tatap Aleks kepada Joko.
"Ah ...tidak, tidak ada, sebaiknya kita istirahat saja, sebentar lagi Maghrib", ucap Dery, ia menggandeng tangan kedua temannya itu.
Mereka kembali duduk bersandar di tembok sel yang dingin.
Suara tangis anak kecil makin menjadi-jadi, sepertinya ia merajuk karena tidak ingin dipisahkan dengan bapaknya.
'Anakku..., kamu dimana?, aku ayahmu Nak, ayah tidak ingin kamu sengsara, ayah juga tidak ingin kamu tahu kejahatan ayah', kembali Dery bicara dalam hatinya, ada segores luka yang terasa perih dihatinya.
Dery kini merasa menyesal, ternyata kejahatan yang ia lakukan akan menyengsarakan anak dan istrinya nanti, hal ini sama sekali tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
'Mungkin aku harus berkorban demi anak dan istriku, aku tidak mungkin membiarkan mereka sengsara tanpa aku dan tanpa Ustad Fikri, ya....biar aku saja ', pikir Dery.
'Aku harus bertindak cepat, sebelum terlambat', lagi-lagi Dery bicara dalam hatinya
"Aku akan membuat pengakuan baru,biar mereka semua bebas', entah apa yang akan direncanakan Dery saat ini, tapi yang jelas ia terlihat sedikit gelisah.
Kumandang Adzan Maghrib pun terdengar bersahutan, Dery mengajak dua temannya itu untuk shalat.
"Hah...?,,shalat...?", Aleks menatap tidak percaya kepada mantan bosnya itu.
"Iya..., itu yang aku tekuni sekarang, aku ingin hidup tenang, kalian juga harus memulainya, Sekarang !!", tegas Dery. Dery pun beranjak menuju kamar kecil diikuti oleh Aleks dan Joko.
Aleks dan Joko memperhatikan cara Dery berwudhu, lalu mereka pun mengikuti cara Dery berwudhu walau harus sesekali dibimbing.
__ADS_1
Ini adalah pengalaman pertama lagi bagi mereka, setelah sekian lama mereka mengabaikannya. Mereka juga tahu kewajiban untuk shalat, namun mereka selalu melewatkannya begitu saja.
Dery pun mencoba untuk menjadi imam shalat bagi dua temannya itu, walau sama, Dery pun masih meraba-raba, ia hanya mengingat dan mengikuti imam shalat waktu dirinya shalat berjama'ah di Masjid pada awal-awal kedatangannya ke LP.
"Apa shalat kita akan diterima?", ucap Aleks sesaat setelah selesai shalat.
"Inshaa Allah..., kita sudah berusaha semampu yang kita bisa, soal diterima dan tidaknya, itu urusan Allah SWT", ucap Dery.
" Tadi aku bahkan bacaan shalatnya pada lupa", Aleks menunduk.
"Sama, aku juga shalat hanya ngikutin gerakan kamu saja Der, malu rasanya, sampai seperti ini hidup aku, terlalu lama terbuai urusan dunia saja", Joko pun menimpali.
"Tidak apa, bertahap saja, kita ulangi lagi belajarnya, dan langsung praktekkan, Allah SWT Maha Pengampun", ucap Dery, ia menirukan ucapan Ustad yang menuntunnya belajar shalat lagi di Masjid Lapas.
"Aku menyesal, kenapa tidak waktu bebas dulu, kita belajar agama, dulu kita malah sibuk mengejar popularitas dunia saja, bahkan dengan menghalalkan segala cara lagi", ucap Aleks lagi.
"Ya..., mungkin sudah begini jalannya, kita di cambuk dulu , baru sadar, ini juga sudah Alhamdulillah, kita masih di sayang oleh-Nya, segera diingatkan sebelum benar-benar terjerumus lebih dalam lagi", Joko berujar.
"Semoga saat kita bebas nanti, kita masih diberi umur panjang, agar bisa terus belajar menjadi pribadi yang lebih baik lagi", harap Dery.
"Kalian masih mau bersamaku nanti?", tatap Dery.
"Ya jelas mau, kita sudah lewati banyak hal bersama, kita sudah seperti saudara", senyum Aleks, kini ketiganya tampak saling berpelukan kembali.
****
Di kamar Hotel, Robi terlihat sedang bersiap untuk shalat Maghrib, inginnya ia mengajak serta Tiara untuk shalat berjamaah bersamanya.
"Apa mungkin dia mau?, tapi takut juga, nanti dicurigai lagi", gumam Robi.
"Ya, Allah..., aku benar-benar menyesal, kenapa tidak sejak dulu berada di jalan yang Engkau Ridhoi, mungkin aku akan lebih cepat bertemu dengan Tiara, orang yang telah Engkau kirim untuk mengubah arah hidupku menuju jalan yang lebih baik", kembali Robi bergumam, ia jadi mengingat semua masa lalunya yang kelam.
__ADS_1