Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa

Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa
Adakah Restu


__ADS_3

"Oh...ma...maaf", Aini menunduk dan melepaskan pegangan tangannya dari tangan Robi.


"Kenapa harus begini?, kenapa harus berpura-pura menjadi orang lain?", lirih Tiara.


"Sini, kita bicara di sini", Robi menuntun Gilang , mereka duduk di sebuah kedai baso.


"Teteh..., aku mau baso", teriak Gilang.


Aini baru mau bicara , namun Robi mendahuluinya.


"Mang, basonya tiga ya", pesan Robi.


"Baik Den", rengkuh tukang bado, ia dengan cekatan membuatkan pesanan Robi, hingga dalam sekejap tiga mangkok baso sudah tersedia di meja.


Gilang langsung mengambil satu. "Teteh..., potongin basonya", rengek Gilang.


Lagi- baso denga sendok menjadi ukuran kecil kecil.


Aini kembali di buat mati kutu.


"Ayo makan baksonya", Robi kini beralih kepada Tiara yang terlihat hanya duduk mematung saja.


"Apa mau dipotongin juga baksonya", senyum Robi.


"Degh", jantung Tiara berdebar, senyuman itu seperti menghipnotisnya.


"Makan dulu saja, nanti aku ceritakan",


Dengan agak kikuk, Tiara memakan bakso pemberian Robi. Ini agak sulit bagi Tiara , ia harus makan dengan perlahan karena harus menyingkap niqob yang dipakainya.


Hal itu yang menjadi pusat perhatian dari para pembeli lain. Mereka ada yang mencibir, bahkan ada yang mentertawai Tiara.


Robi mengetahui hal itu, ia tidak suka.


"Ada apa?, apa baru melihat orang makan bakso ya?", Robi berdiri mengedarkan mata elangnya kesemua pembeli yang ada di kedai bakso itu.


Sontak saja semua pembeli seketika menunduk. "Jangan urusin hidup orang!", teriak Robi. Ia duduk kembali dengan kesal.


"Aduh..., ini tempat umum, malu, jangan bikin ribut", ingatkan Tiara.


"Iya ..., tapi aku tidak suka kamu diremehkan dan ditertawai mereka",


"Biarkan saja, mereka tidak tahu", Tiara menelungkupkan sendok dan garfu di dalam mangkok yang sudah kosong.


"Mau tambah?", tawari Robi.


"Tidak, sudah cukup, terima kasih",

__ADS_1


"Gilang mau lagi", ucap Gilang, ia minta tambah.


Dengan tersenyum Robi meminta pedagang mengisi kembali mangkok baso Gilang yang sudah kosong.


Aini sesekali mencuri pandang kepada Robi yang masih berwajah Rahmat .


Aini tersenyum,"Kalau diperhatikan lucu begini",


"Apanya?", Robi balik bertanya.


"Robi lebih ganteng dengan dandanan Rahmat", cicit Tiara.


"Aku...?, aku ganteng...?", senyum Robi, ia menatap Tiara.


"Ups...", Tiara menunduk menyembunyikan wajahnya yang memanas.


"Iya, Aa ganteng", kekeh Gilang.


"Apa, Aa ini yang menolong Adik saat di sungai sore itu?", Tiara menatap Gilang.


Gilang nampak memperhatikan Robi, Gilang mendekati Robi.


"I....ya..., ini seperti Aa ganteng, tapi tidak ada ini dan ini", Gilang memegang kumis dan tompel buatan di wajah Robi.


Dan dua benda itu pun terlepas dari wajah Rahmat, jadilah Robi.


"Tuh...kan..., ini Aa ganteng, ini benar Aa ganteng Teteh", Gilang bersorak.


"Maafkan Gilang", Tiara menunduk di depan Robi.


"Nggak apa-apa, lebih baik kita cari Masjid saja, kita ngobrolnya di sana, di sini banyak orang", ajak Robi.


"Iya...", Tiara mengangguk.


Untung saja tidak harus jauh-jauh, di sebelah kanan lokasi Pasar Malam ada sebuah Masjid.


Tiara dan Robi duduk di teras Masjid, dan Gilang asik bermain balon, di depan mereka.


"Aku tuh sudah menduga, kalau Rahmat itu Robi, tapi belum ada bukti yang pasti.


Tiara merogoh ponsel dalam tas selempangnya, ia mendial nomor Robi. Dan tak lama terdengar suara dering ponsel dari jaket yang dipakai Robi.


Robi pun merogoh saku jaketnya dan setelah tahu siapa orang yang menghubunginya, Robi menatap Tiara yang juga sedang menatapnya.


Pandangan mereka pun kini terkunci. Tiara tersenyum, ia yakin seratus persen kalau laki-laki yang kini duduk disampingnya, adalah Robi.


"Alhamdulillah..., kamu benar Robi yang aku aku cari", senyum Tiara.

__ADS_1


"Kenapa nggak kembali lagi ke Pondok, marah ya?", Tiara kini menunduk , ada getaran dihatinya saat pandangan mereka beradu.


"Uangmu masih aku simpan, aku selalu menunggu kedatanganmu, maafkan Abah ya?",


"Itu sudah berlalu, uang itu untuk Abah, anggap saja sebagai ucapan terima kasih dari aku, dan sebagai uang untuk membayar sewa kamar aku selama di sana",


"Oh iya, jangan lupa beri Mang Daman, aku sangat berutang budi kepada dia",


"Kenapa tidak berikan sendiri saja, pasti mereka sudah pada kangen", senyum Tiara.


"Mereka siapa?, bukannya mereka yang menginginkan aku pergi dari sana?", Robi bicara dengan nada kesal.


"Jangan begitu, aku sudah meminta maaf untuk mereka, apa tidak ada alasan lain yang bisa membuatmu kembali ke Pondok?, apa tidak ada hal yang bisa mengikatmu untuk kembali d ke sana?", Tiara menunduk.


Robi diam sejenak, ia nampak sedang mencerna ucapan Tiara tadi.


'Apa ini sebuah pertanyaan, atau pernyataan?, kok sepertinya Tiara berharap aku kembali ke Pondok', batin Robi bicara.


"Aku masih banyak urusan di sini, Mamih juga sudah pulang, dia kini ada disini.


"Alhamdulillah..., jadi kamu sudah ada teman di rumah?", senyum Tiara.


"Tidak..., aku belum tinggal di rumah, aku masih di tempat kost.


"Lho ...kenapa?,


"Mamih kamu pulang ke sini kan untuk kamu, masa malah pergi?",


"Bukan!, Mamih pulang bukan untuk aku, tapi untuk mengurus bisnisnya di sini, buktinya aku tinggal di tempat kost pun, Mamih santai saja, sudah tidak peduli",


"Jangan berburuk sangka begitu, tidak ada seorang ibu yang tidak peduli kepada anaknya, tidak ada seorang ibu yang tidak khawatir kepada anaknya, mau masih kecil, mau sudah besar, seorang anak, rasa sayang seorang ibu itu sama",


"Ingat saja, surga itu ada di telapak kaki ibu, jadi sebagai anak, kita harus bisa menerima kekurangan ibu kita, karena mungkin Mamih punya alasan yang kuat , sehingga bersikap begitu ke kamu", Tiara melirik Robi.


"Jadi, lebih baik kamu yang mengalah, temui Mamih, mumpung masih ada", senyum Tiara.


"Oh...iya..., kemarin kamu bilang besok mau balapan?, apa itu harus?, aku khawatir lho, takut terjadi sesuatu lagi sama kamu", kembali Tiara menunduk. Tiara malu kalau sampai Robi bisa membaca apa yang kini sedang dirasakannya.


"Aku senang, masih ada orang yang peduli dan khawatir sama aku, padahal aku sudah pasrah, walau terjadi hal buruk sekalipun, aku sudah tidak peduli dengan hidupku sendiri",


"Astaghfirullah..., jangan begitu, hidup itu perlu disyukuri, masih banyak hal baik yang bisa dikerjakan",


"Ya...semoga saja, kehidupan ini cepat memihak kepadaku, semoga saja ada cahaya yang menerangi hidupku, dan ada alasan yang kuat untuk aku biar semangat menjalani hidup ini", Robi menerawang.


Dia sendiri masih ragu, untuk apa dirinya hidup lebih lama, dan untuk siapa?, selama ini hidupnya hampa, tidak ada yang ingin ia kejar, kalau soal uang, dengan hanya rebahan saja pun, rekeningnya tetap gendut.


"Tidak adakah cinta yang ingin kau kejar?, biasanya itu yang bisa memupuk semangat", senyum Tiara.

__ADS_1


Robi menatap Tiara yang sedang memandang lurus ke depan. Terus terang saja, setelah Marisa, belum ada lagi wanita yang mengisi relung hatinya.


'Apa mungkin jika aku mengharapkan dia?, bagaimana caranya?, jaraknya sangat jauh, dia seperti langit dan bumi', pikir Robi


__ADS_2