
" Sepertinya Tiara sedang mencari bukti baru, ia sepertinya ingin melihat rekaman CCTV, bisa gawat nih, kalau sampai ia tahu pelaku sebenarnya, itu petaka buat Gue", gumam Dery.
"Gue ,harus bertindak cepat, sebelum semua bukti mengarah kepada Gue", Dery tampak memutar balik sepeda motornya , ia menuju ke bengkelnya lagi.
Dery merasa posisinya sudah tidak aman, ia bisa kapan saja menggantikan posisi Robi di sel sana.
'Gue harus segera menjalankan rencana kedua, mumpung Robi masih berada di penjara' pikir Dery. Ia terus memutar otaknya, mereka-reka rencana, menyusun siasat jahatnya.
Pak Robani tampak sudah memarkirkan mobilnya di sebuah cafe yang disebutkan Anton tadi, ia masuk dan mencari meja yang sudah dipesankan Anton.
Sengaja mereka memilih tempat agak jauh dari Kantor, karena untuk menghindari sorotan media.
Pak Robani dan Anton pun tidak memakai pakaian kerja, melainkan pakaian biasa, biar tidak mencuri perhatian orang.
Apalagi ini urusan yang sensitif, kalau sampai bocor kemana-mana, reputasi Perusahaan yang jadi taruhannya.
Tampak di meja dekat jendela, Anton melambaikan tangannya ke arah Pak Robani, dan Pak Robani pun segera menghampiri .
Anton sudah duduk bersama seorang laki-laki yang Pak Robani sudah bisa menduganya, itulah Pengacara yang dipintanya kepada Anton.
"Selamat sore, maaf sudah membuat menunggu", Pak Robani menyalami laki-laki itu dan juga Anton. Setelahnya ia pun duduk bersama mereka.
"Pak, ini Pak Rusli, beliau Pengacara hebat, saya pastikan beliau bisa membantu masalah Robi", senyum Anton sembari melirik ke arah Pak Rusli.
"Aahhh...., jangan terlalu berlebihan Pak, Insha Allah saya akan membantu semaksimal yang saya mampu", rengguh Pak Rusli.
"Kalau boleh tahu, kasus apa yang harus saya tangani?",tanyai Pak Rusli.
"Hah....", Pak Robani menarik nafas panjang.
"Ini kasus anak saya Pak, dia di tuduh sudah melakukan tabrak lari, dan sekarang ia sudah di tahan, karena bukti sepeda motor miliknya yang ada TKP, padahal istri saya saksinya, kalau Robi bukan penabrak, melainkan Robi lah yang menolong kedua korban itu, hanya saja itu tidak menguatkan, jadi kita perlu mencari saksi dan bukti lain", jelaskan Pak Robani.
"Oohhh....begitu", Pak Rusli mengangguk-anggukkan kepala pertanda ia sudah bisa menangkap inti dari penjelasan Pak Robani.
"Baik, saya sudah mengerti, Bapak percayakan masalah ini sama saya, saya akan datang langsung ke TKP untuk mencari bukti dan saksi baru", ucap Pak Rusli.
"Baik, saya minta terus dikabari jika ada bukti baru", Pak Robani melirik ke arah Pak Rusli.
"Baik Pak",
Merek tampak sedang menikmati sajian dari cafe itu, sambil sesekali saling bicara. Setelah di rasa cukup, mereka bertiga meninggalkan cafe itu.
__ADS_1
"Ternyata tidak semudah yang dikira", gumam Tiara. Ia kembali melajukan sepeda motornya menuju Rumah Sakit, ini sudah terlalu sore , pasti Abah dan Umi sudah menunggu.
Benar saja, begitu Tiara datang, ia mendapati ruangan Umi sudah kosong. Tiara beralih menuju ruangan Abah.
"Hah...., rupanya mereka di sini", gumam Tiara. Ia langsung memasuki ruangan Abah.
"Assalamu'alaikum",
"Wa'alaikumsalam..",
"Kok sampai sore?", tatap Abah.
Tiara menunduk, "Iya..., tadi nunggu dosennya lama", alasan Tiara. Lagi-lagi ia harus berbohong.
"Abah dan Umi sudah boleh pulang, Abah ingin tahu, dari mana uang yang dipakai untuk membayar perawatan Abah, katanya itu Ara yang urus?", tanyai Abah.
"Oh..., iya..., Ara sampai lupa, waktu Abah mau dioperasi, semua berkasnya sudah siap, Ara tinggal tanda tangan saja, Ara juga tidak tahu siapa orang yang sudah membayar semua biayanya", jelaskan Tiara.
Abah dan Umi saling pandang, hanya Ustad Fikri yang memalingkan muka ke arah pintu, ia bisa menebak, pasti Robi orangnya, karena waktu itu, ia sempat melihatnya meninggalkan Rumah Sakit.
"Fikri, nanti kamu cari tahu ke bagian Administrasi, siapa orangnya?, Abah ingin mengucapkan terima kasih, dan nanti kalau sudah ada rezekinya, Abah akan menggantinya", ucap Abah.
"Baik Abah", rengkuh Fikri.
"Kita pesan grab saja, sebentar", Tiara merogoh ponselnya di dalam tas. Bertepatan dengan itu, ponselnya pun berdering, ada panggilan masuk.
"Assalamu'alaikum, Tiara?",
"Wa'alaikum salam, ini siapa?", Tiara tampak kaget.
"Saya ibunya Robi, ini dapat nomer ini juga dari ponselnya Robi, bagaimana Abah dan Umi sekarang?, apa mereka sudah sehat?",
"Alhamdulillah Bu, Abah dan Umi sehat, hari ini sudah mau pulang, kita lagi mau pesan grab ini", kekeh Tiara.
"Oohh..., sudah mau pulang ya?, nggak usah pake grab, biar Ibu suruh Sopir ke sana, minta antar Tiara dan Abah pulang",
"Aduh..., kok jadi merepotkan Bu",
"Tidak, ibu suruh ke sana sekarang, kamu tunggu saja di depan Rumah Sakit", pinta Bu Arimbi.
"Oh...terima kasih banyak, iya....., nanti kita tunggu di depan, Assalamu'alaikum", Tiara menutup telepon, dan tetap mengucapkan salam walau tadi Bu Arimbi sudah lebih dahulu memutus hubungan teleponnya, dan dia pasti tidak mendengar ucapan salamnya.
__ADS_1
Umi menatap Tiara ia sepertinya sudah bisa menduga kalau Tiara sedang bicara dengan ibunya Robi.
"Kita tunggu di depan saja, nanti mobilnya datang sebentar lagi", ajak Tiara. Mereka berjalan menuju luar, Abah dan Umi masih duduk di kursi roda, Tiara dan Ustad Fikri yang mendorong mereka satu-satu.
"Abah dan Umi pulang duluan saja dengan Tiara, saya nanti menyusul, sekarang mau cek bagian administrasi dulu", pamit Fikri.
"Oh...iya, jangan lupa tanyakan siapa orangnya", sahut Abah.
"Baik Abah", Ustad Fikri segera kembali ke dalam.
Tak lama, sebuah mobil menghampiri Tiara.
"Mari Neng!", senyum Pak Sopir yang sudah mengenal Tiara.
"Alhamdulillah..., ayo Abah..., Umi..., mobilnya sudah ada, kita pulang sekarang", Tiara membimbing Abah dan Umi menaiki mobil di bantu Pak Sopir yang membawakan tas dan dimasukkannya ke dalam bagasi.
"Sudah Neng?, kita berangkat sekarang?", tanyai Pak Sopir.
"Iya Pak, kita ke pondok Al-Furqon, nanti saya yang kasih tahu arahnya", pinta Tiara .
"Baik Neng", Mobil mulai melaju meninggalkan halaman Rumah Sakit.
Umi mengedarkan pandangannya ke bagian dalam mobil, Umi masih bisa mengingat, ini mobil yang sama yang telah membawanya ke Rumah Sakit, saat kecelakaan waktu itu.
"Ini mobil yang membawa Abah dan Umi ke Rumah Sakit, Ara", bisik Umi ke telinga Tiara, ia pura-pura mengambil semut yang ada di hijabnya.
Tiara memandang Umi dengan menyunggingkan senyuman.
"Itu bukan grab, itu mobil yang sama yang sering Tara naiki, siapa dia?", gumam Ustad Fikri, diam-diam ia mengintip kepergian Tiara.
"Maaf Sus, saya ingin tahu, biaya administrasi atas nama Abah Ilham dan Umi Anisa, dilunasi oleh siapa?", tanyai Ustad Fikri begitu berada di depan loket pembayaran.
"Oh...tunggu sebentar Pak, saya cek dulu", Perawat itu tampak melihat data dari laptop di depannya.
"Oh... , ini tidak ada namanya, tapi yang jelas, dia seorang Pemuda, ya... kira-kira seumuran anda", jelas Perawat.
"Oh iya, terima kasih", Fikri segera meninggalkan loket itu, 'Tidak salah lagi, ini pasti Robi', pikir Fikri.
Ia segera menuju parkiran dan menghidupkan sepeda motornya menyusul Tiara.
Dan Robi, kini ia sudah hafal bacaan shalat, ia pun sudah bisa membaca Al -Qur'an walau masih terbata-bata, dan meraba-raba dalam mengenali huruf-huruf, tapi itu suatu pencapaian yang luar biasa, mengingat Robi masih sangat awam .
__ADS_1
Ternyata menuntut ilmu bisa di mana saja , dan kepada siapa saja, walau berguru kepada teman napi,dan di penjara juga tempatnya, itu sudah membuat Robi berubah dengan singkat.