Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa

Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa
Aku Ingin Kembali


__ADS_3

Robi kembali memacu sepeda motornya, ia kali ini menuju lokasi balapan yang sudah disepakati bersama Eko. Tempat itu adalah tempat yang sama dengan tempat dia mengalami kecelakaan dulu.


Robi berputar -putar di sana, dengan kecepatan sedang, sehingga tidak membuat curiga pengguna jalan lain.


Robi sedang melakukan simulasi balapan di sana.


Biasanya balapan dilakukan menjelang pagi, saat jalanan sepi.


Robi menghentikan laju sepeda motornya tepat di titik dia terjatuh dulu. Ia memandang ke bawah, tidak terlihat ada kehidupan di bawahnya. Pantas saja Dery mengira dirinya sudah tiada saat kecelakaan itu.


Padahal di bawah sana ada kehidupan yang tenang dan damai, Robi jadi penasaran , ia ingin turun ke bawah.


Setelah berfikir beberapa lama, ia dorong sepeda motornya ke balik semak, lalu ia membeli sebuah tali tambang.


Robi mantap, ingin turun ke bawah. Pengalamannya dulu di kelompok pencinta alam sewaktu sekolahnya ia gunakan. Robi mengikatkan tambang itu ke sebuah pohon yang cukup kuat untuk menopang berat badannya, dan ia ikatkan juga tali itu ke tubuhnya.


"Bismillah..., Tiara" , gumam Robi. Ia menyebut nama Tiara karena memang Tiara lah yang menjadi motivasi dirinya untuk melakukan semua ini.


Setelah beberapa menuruni jurang terjal itu, tubuh Robi terantuk sebuah benda keras. Ia menggeser tubuhnya dan dilihatnya sebuah sepeda motor , itu adalah sepeda motor miliknya. Kini sudah tinggal rongsok, sisa terbakar.


"Di sini rupanya kamu", Robi menepuk benda besi itu. Lalu Robi kembali menuruni tebingnya yang sudah mulai landai, dan kini tubuhnya sudah tidak bisa bergerak turun lagi, karena panjang talinya sudah habis.


Robi melepaskan ikatan tali dari tubuhnya. Ia mulai berjalan hati-hati menuruni tebing yang mulai melandai, memang sekilas tidak menyangka kalau di bawah ada sebuah pemukiman, tepatnya sebuah Pesantren.


Jalan yang dilalui sudah makin landai dan datar, hanya saja banyak semak-semak belukar. Robi juga harus sangat berhati-hati karena tidak sedikit binatang berbisa disana, kalajengking dan ular.


Sayup terdengar kumandang adzan , ini menandakan Robi sudah dekat dengan tempat tujuan.


Hati Robi bergetar, saat dirinya sampai di sungai. Sungai inilah yang mengalir sampai ke Pesantren Abah Ilham. Dan di sungai itu juga ia pertama kali ditemukan oleh Mang Daman, hingga ia mengenal Tiara dan keluarganya.


"Aduh...aduh....aduh....", terdengar suara anak kecil menangis. Robi mencari sumber suara, ia melihat seorang anak laki-laki menangis di pinggir sungai, ia memegangi tangannya yang terlihat berdarah.


"Kenapa De?", Robi menghampirinya . Anak itu melihat ke arah Robi , ia tampak ketakutan.


"Jangan takut, sini!, Kakak ada obat dan makanan", Robi mendekati anak itu. Ia membuka tas ransel yang dibawanya. Ia keluarkan obat luka dan makanan ringan.


Awalnya anak itu terlihat takut, namun lama-lama ia mau juga menerima pertolongan Robi. Tangannya berdarah setelah di gigit kepiting yang tadinya akan ia tangkap.


Apalagi Robi memberinya ia beberapa makanan ringan, ia mulai menampakkan senyumannya kepada Robi.


"De...kenapa di sini sendiri?, pulanglah!, nanti Ayah Ibumu mencari", senyum Robi.


"Aku tidak ada Ayah dan Ibu, ada juga Teteh dan Pak Ustad", jawab anak itu datar. Ia adalah Gilang, tanpa sepengetahuan siapa pun yang ada dikobong, ia menyelinap ke belakang menuju sungai, ia terus menyusuri sungai sampai ditemukan oleh Robi sedang menangis.


"Ya sudah, Ade siapa namanya?", tatap Robi.


"Saya Gilang", ucapnya datar, ia terus saja mengunyah makanan yang diberikan Robi tadi.

__ADS_1


"Gilang masih tahu jalan pulang kan?", Robi kembali bertanya.


"Masih", jawab Gilang cepat


"Nah..., anak baik, sekarang pulang dulu, kasihan Tetehnya nanti bingung mencari Gilang", bujuk Robi.


Gilang, diam sebentar, ia masih duduk ditempatnya semula.


"Ya sudah, Gilang pulang dulu, terima kasih makanannya Om", sebyum Gilang, dia segera berlari ke arah kobong.


Robi memandanginya, hatinya bertanya-tanya, siapa Gilang?, selama dirinya di kobong, ia tidak pernah bertemu Gilang.


"Emh..., ternyata begini...", Robi memandang ke arah atas bukit yang tadi ia turuni.


Hatinya kembali bergetar begitu ia dengar sayup suara lantunan sholawat dari cerobong Masjid. "Itu pasti Tiara", gumam Robi. Ingin rasanya ia menghampiri ke sana, tapi ingatannya kembali pada saat ia di usir Abah waktu itu, hatinya kembali membara.


"Tidak, aku harus selesaikan urusan dengan Dery dan Eko dulu , baru aku akan kembali lagi ke sini", gumam Robi.


"Aku akan memperjuangkanmu Tiara", gumam Robi lagi, ia berdiri dan memandangi deretan atap kobong dan puncak Masjid yang masih dapat ia lihat.


Sebelum pergi, Robi sempatkan shalat dulu di pinggir sungai. Ia berdo'a agar semua rencana dan impiannya berjalan lancar.


Robi pun memahat dengan pisau gunung miliknya di atas batu yang ada di pinggir Sungai. Ia menuliskan nama Robi dan Tiara .


Setelah itu , baru ia kembali ke atas bukit, mendakinya kembali sampai ke tempat ia menyembunyikan sepeda motornya.


*


*


"Tid...tid...tid...", Marisa membunyikan klakson begitu sampai di bengkel. Ia mengagetkan Dery yang hampir saja pergi untuk menjemputnya.


Marisa segera memarkirkan mobilnya dan segera turun menemui Dery.


"Beb, bikin kaget saja, aku baru mau menjemput nih, tumben", Dery menyambut Marisa dengan melingkarkan tangannya di pinggang Marisa.


"Kamu akan tambah kaget lagi setelah mendengar berita yang aku bawa", tatap Marisa.


Dery mentautkan aliskan, "Berita apa?", Dery penasaran.


Mereka berjalan menuju mini cafe, dan duduk di sana, seperti biasa, Marisa langsung memesan minuman dingin kepada Aleks.


Dengan segera Marisa menyedot minuman dingin yang dipesannya, sampai hampir habis.


"Kamu ini haus Beb", senyum Dery, ia menatap lekat Marisa.


"Hah...., aku haus, aku cape, dan aku kaget", ucap Marisa.

__ADS_1


"Ada apa sebenarnya, kok kayaknya kamu shok begitu", kekeh Dery.


Marisa menatap Dery, "Robi masih hidup", ucap Marisa.


"Apa?, Robi masih hidup?, ha...ha...ha..., kamu ini mimpi Beb, ngelindur kok siang-siang", kekeh Dery.


"Tuh...kan, kamu pasti bilang begitu, aku dikiranya sedang tidak waras",


"Kabar dari mana itu, jangan cepat percaya, kalau Robi masih hidup, dia pasti kembali ke sini", timpa Aleks, yang sedari tadi mendengarkan obrolan mereka.


"Iihh..., dasar penguping", Marisa memelototi Alexs.


"Sedari tadi aku di sini, ya jelas bisa mendengar kalian", cicit Aleks.


"Terus...bagaimana pendapat kamu , Robi masih hidup", ucap Dery.


"Hah...?", Alek melangkah keluar dan kini gabung dengan Dery dan Marisa.


"Jangan bercanda kalian, dari mana dapat berita ini?", Aleks memandangi Marisa.


"Bro...., sini!", Dery memanggil Ronald dan Ilyas yang tampak sedang duduk, sudah tidak ada lagi pelanggan yang datang.


"Ada apa?, ini sepertinya adakabar bagus, ginana..., kita mau konvoi lagi", ceketuk Ronal.


"Robi masih hidup", ucap Dery.


Ronald dan Ilyas saling pandang, sama, mereka pun merasa tidak percaya .


"Sebentar, ini kabar dari mana?, siapa yang bilang kalau Robi masih hidup", tatap Ronald.


"Tuh..., Marisa yang bilang", Dery melirik Marisa.


"Hari ini Gue je Rumah Sakit, di sana bertemu sama ART yang bekerja di rumah Robi, ternyata Tante Arimbi sudah beberapa hari pulang , dia bilang Robi yang menjemputnya dari Bandara, dan Robi juga yang mengantarnya ke Rumah sakit", jelas Marisa.


Ilyas, Dery, Ronald dan Aleks saling pandang.


"Menurut kalian bagaimana?, kalau Robi masih hidup, kenapa dia tidak mengabari salah satu dari kita", tatap Dery.


"Ah..., masa iya masih hidup, tapi buat apa juga Bu Arimbi bohong, pusing Gue", Ilyas menepuk kepalanya sendiri.


"Atau jangan-jangan...ini sengaja Robi lakukan untuk menjebak kita", Dery menerawang. Dalam hatinya ia mulai ketar-ketir.


"Si Rahmat kemana?, kok motornya tidak ada?", Dery melihat ke tempat yang biasanya sepeda motor Rahmat terparkir.


"Kan sudah sejak tadi belum balik, nggak tahu kemana dia", ucap Ronald.


"Nah..., kita harus mulai siaga lagi, aku yakin Robi sudah punya rencana untuk kita, makanya dia tidak memberi tahu kita, jika masih hidup", tatap Dery.

__ADS_1


__ADS_2