Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa

Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa
Ikhlas saja


__ADS_3

"Assalamu'alaikum", Tiara memasuki rumahnya dengan lemas, ia menaruh belanjaannya di kursi. Dan ia setengah melemparkan tubuhnya ke atas kursi. Lalu memejamkan matanya, mengingat kejadian tadi.


"Apa yang tadi Rahmat?, lalu Robi di mana?, apa Robi benar-benar marah dan sakit hati oleh Abah?, Ya....Allah...", gumam Tiara.


"Wa'alaikumsalam..., Neng kenapa?, sakit?", Umi menghampiri dan duduk disamping Tiara yang masih terpejam.


"Eh Umi, Ara tidak apa-apa, cuma kecapean saja", senyum Tiara, ia tidak ingin membuat uminya khawatir.


"Kalau begitu, cepat mandi!, Umi sudah memasakkan air, mandi dengan air panas akan membuat tubuhmu lebih baik", Umi menatap Tiara.


Memang benar Tiara terlihat lesu, kurang bersemangat, berbeda dengan biasanya, Tiara yang selalu ceria .


"Gilang mana Umi?", Tiara menengok ke arah Umi Anisa.


"Gilang di bawa Abah ke Kobong Ustad Fikri, biar dia tidur di sana saja, biar bisa terpantau setiap waktunya, kalau di sini kan pasti akan kurang mendapat perhatian, Ara kuliah, Abah juga sering pergi , Umi juga sering sibuk dengan pengajian Ibu-Ibu", jelas Umi.


"Oh..., bagus kalau begitu, biar dia bisa bergaul dengan para santri putra juga", senyum Tiara.


"Sudah..., mandi dulu sana!, biar segar!", kembali Umi mengingatkanTiara yang malah bengong.


"Oh...i..i..iiya Umi", setengah terperanjat Tiara berlalu dari hadapan Umi menuju kamarnya. Tiara membersihkan tubuhnya. Ia menuruti perkataan Umi, mandi dengan air panas. Benar saja, setelah berpakaian dan shalat, tubuhnya terasa segar, pikirannya pun menjadi tenang.


Tiara kembali menemui Umi di ruang keluarga.


"Bagaimana sudah ada tanda-tanda keberadaan Nak Robi sekarang?", Umi menatap Tiara.


"Belum Umi, mungkin Robi masih marah kepada Abah. "Kasihan anak itu", gumam Umi. Tiara melirik Umi Anisa .


Di luar terdengar suara langkah kaki menghentak di lantai.


"Sepertinya Abah sudah pulang", tebak Tiara. Sama, Umi Anisa juga menghentikan obrolannya, kupingnya menangkap suara langkah kaki itu.


"Assalamu'alaikum", Abah mendorong daun pintu dan masuk ke dalam rumah, ia mendapati Umi dan Tiara sedang duduk di ruang keluarga.


"Wa'alaikumsalam, tu1h kan benar, Abah", Tiara tersenyum .


"Kenapa..., lagi ngomongin Abah ya?", senyum Abah Ilham.


"Nggak Abah..., Ara cuma menebak saja, jam segini yang masuk ke rumah, ya pasti Abah, siapa lagi?", senyumTiara.

__ADS_1


"Bagaimana Gilang Abah, apa dia baik-baik saja?", tanya Tiara ia menatap Abah.


Q, am qsyaz @22-#


"Gilang?, Alhamdulillah..., dia sepertinya senang tinggal bersama Ustad Fikri", senyum Abah.


"Syukurlah kalau begitu, jadi dia tidak akan kembali lagi ke jalanan", senyum Tiara.


"Abah..., Nak Robi bagaimana?, uangnya masih di sini, tetapi dia tidak datang -datang juga ke sini", Umi menatap Abah.


"Sudah Umi, jangan pikirkan orang yang tidak jelas asal usulnya, biarkan saja!, dia itu orang lain, kalau dia butuh juga, pasti akan datang mengambilnya ke sini", sewot Abah.


Tiara dan Umi saling pandang, mereka tidak menyangka Abah bisa bicara seperti itu.


"Lebih baik, kita pikirkan saja Tiara", ucap Abah


"Ara..?, kenapa dengan Ara Abah? Tiara menatap Abah dengan penuh tanda tanya.


"Kamu sudah dewasa Neng, kuliah kamu juga sebentar lagi lulus, diwisuda", senyum Abah.


"Kamu harus mulai memikirkan pendamping", tegas Abah.


"Kamu tidak perlu mencari, karena wanita itu hanya bisa menerima ,bukan memilih, apalagi mencari", tegas Abah.


Tiara dan Umi kembali saling pandang. Pembicaraan ini sudah mulai serius, Abah mulai menunjukkan taringnya sebagai kepala keluarga.


Kalau sudah begini, tidak ada yang akan bisa menolak keputusan Abah. Tiara mendekati Umi, ia memegang tangan Umi.


Umi menepuk-nepuk tangan Tiara untuk menenangkannya. Dalam hal ini juga, Umi sebenarnya kurang setuju dengan sikap Abah.


"Abah sudah mempunyai calon yang sesuai untuk Putri Abah, dia anak baik, Abah mengasuhnya dari kecil di Pondok ini, kemampuan agamanya sudah tidak bisa diragukan lagi, dia akan bisa membimbingmu, dan kelak dia juga yang akan menggantikan Abah", terangkan Abah.


"Jadi mulai sekarang , Ara harus mulai biasakan diri berinteraksi dengan dia, biar saling memahami sifat masing-masing", lanjut Abah.


"Siapa orangnya Abah?", penasaran Umi.


"Ustad Fikri", senyum Abah. Abah sudah merencanakan hal ini sejak awal, bagaimana?", Abah memperhatikan Tiara.


"Tiara mengeratkan genggaman tangannya ke tangan Umi, ia ingin menolak, tetapi segan, takut Abah kecewa padanya.

__ADS_1


"Ya, ini kan baru rencana, ini baru keinginan kita, tapi ingat, masih ada yang lebih berkuasa dalam mengatur itu semua, sekarang kita jalani saja dulu", senyum Umi.


Dari awal Tiara sudah menduga ini semua bakal terjadi. Abah selalu saja melibatkan Ustad Fikri dalam setiap kegiatannya, ternyata ini maksudnya, Abah ingin menjodohkan Tiara dengan Ustad Fikri. Dan menjadikan Ustad Fikri sebagai penerusnya di Pondok.


Perasaan Tiara kian tidak menentu saja, pikirannya masih dipenuhi oleh Robi dan Rahmat, kini Ustad Fikri lagi. Tiara hanya bisa menunduk, ia menatap nanar Umi Anisa, ini memang sudah nasibnya, sebagai Putri tunggal dari seorang pemimpin Pesantren, tidak bisa menolak dengan keputusan Abah untuk menjodohkannya dengan Ustad terbaik, ini semua juga demi kelangsungan Pondoknya, karena Abah akan semakin tua, ia butuh seorang pengganti yang mumpuni.


"Ini akan mudah, kalian tumbuh bersama di Pondok ini, akan mudah menumbuhkan rasa cinta diantara kalian, Abah juga dulu menikahi Umi tanpa perkenalan lebih dulu, dulu kita ta'aruf, dan langsung menikah ya Umi?", senyum Abah.


Umi tersenyum.


"Cinta setelah pernikahan itu lebih indah Neng", senyum Umi. Ia berusaha meyakinkan Abah kalau setuju dengan keputusannya.


"Sudah, ini kan masih lama, baru rencana kita jalani sewajarnya saja dulu, masih ada waktu kan, Ara kuliahnya satu tahun lagi ya Neng?", Umi melirik Tiara.


"Tiara mengangguk, ia sudah tidak bisa berkata-kata lagi, bahkan sekedar untuk berkata tidak pun, ia tidak bisa.


"Sudah malam, besok masih ada kuliah kan?, Neng istirahat saja, hal ini masih bisa dibicarakan lain waktu, yang penting Neng sudah tahu, itu rencana Abah, Neng harus mulai lebih mengenal Ustad Fikri, dia itu yang akan menjadi imam Neng", Umi mengelus lembut kepala Ara.


"Iya Umi", jawab Tiara singkat, ia ingin cepat berlari saja ke kamarnya.


"Ya sudah, Istirahatlah!, mulai besok, jangan lupa harus sering bertemu dengan Ustad Fikri, biar kalian bisa lebih saling mengenal", Abah menyandarkan tubuhnya di kursi.


Sementara Tiara di antar Umi menuju kamarnya. Pikiran Tiara tambah kacau saja, hari ini ia dikejutkan secara bertubi-tubi.


"Tidurlah!", Umi membaringkan tubuh Putrinya di atas kasur.


"Umi..., apa ini harus?", panggil Tiara.


Umi Anisa yang hampir berjalan ke luar kamar, kembali menghampiri Tiara.


"Apanya ?",


"Apa harus Tiara menuruti keinginan Abah, apa tidak boleh Tiara mengejar keinginan Tiara sendiri?", tatap Tiara nanar.


Umi duduk di samping Tiara, ia mengelus kepala Tiara, "Ini ksn baru rencana Abah, bukan rencana Allah", senyum Umi.


"Sudah, tidurlah!, serahkkan semuanya kepada yang Maha Pengatur saja", senyum Umi.


"Iya Umi..., terima kasih", Tiara sangat mengerti dengan ucapan Umi tadi. Hal ini membuat hatinya sedikit tenang. 'Sabar dan Ikhlas saja Ara', pikirnya, sebelum akhirnya ia bisa terlelap.

__ADS_1


__ADS_2