Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa

Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa
Marisa dan Tiara


__ADS_3

Keinginan Dery untuk mengikuti Tiara terhenti , karena sedari tadi ponselnya terus bergetar. Ada panggilan masuk berkali-kali. Dery menepikan sepeda motornya, ia rogoh saku jaketnya, dan saat di cek ada beberapa pesan masuk dan panggilan vidio call dari Marisa.


"Kacau, pasti ngambek nih", gumam Dery. Ia baca satu per satu pesan dari Marisa. Dalam pesannya Marisa meminta Dery menjemputnya di salon, dan mengantarnya ke Kampus siang ini.


"Ck...ck...ck..., mulai lagi, selalu begini, padahal bisa berangkat ke Kampus bawa motor atau di antar supir", gerutu Dery. Ia merutuki tingkah manja Marisa.


Dery hanya dijadikan tameng saja, karena Marisa suka setiap kali teman-temannya memuji Dery, seorang pemilik bengkel, dan mempunyai motor yang keren.


Walau dengan hati kesal, Dery datang juga ke tempat Marisa berada.


"Kemana saja sampai pesan dan telepon dari aku tidak di jawab", cemberut Marisa begitu Dery datang menjemputnya di salon.


"Beb, kan aku kerja, masa harus mantengin ponsel melulu, apalagi akhir-akhir ini bengkel lumayan rame, jadi agak kewalahan", alasan Dery.


Padahal tadi dirinya asik mengikuti Tiara, wanita berbaju lebar yang menarik perhatiannya.


"Asik..., kalau begitu , bisa dong nanti pulang kuliah, traktir aku belanja lagi, lagi ada sale produk tas dan sepatu", senyum Marisa. Ia langsung bergelayut mesra di tangan Dery.


"Ya nggak bisa hari ini Beb, kan belum semua pekerjaannya selesai, jadi aku belum menerima Full pembayaran dari pelanggan", ucap Dery. Hatinya tidak suka dengan sikap Marisa yang selalu ingin berfoya-foya saat ada uang, dan merengek saat tiada uang.


"Yah..., lagi-lagi harus nunggu, kalau sama Robi itu , hari ini aku mau, hari ini juga ia belikan, nggak usah harus nunggu-nunggu dulu", gerutu Marisa.


"Jadi, sekarang gimana?, mau diantar ke Kampus nggak", Dery menatap Marisa yang lagi cemberut.


"Iya..., antar aku ke Kampus, hari ini ada acara pameran di Kampus, jadi aku harus terlihat cantik", Marisa memandangi gambar dirinya di cermin. Ia memperhatikan semua polesan make up diwajahnya.


"Aku cantik kan?", Marisa meminta penilaian Dery.


"Orang rabun saja pasti bilang cantik", goda Dery.


"Iihh..., aku serius, di sana aku akan jaga stand make up, jadi riasanku harus rapi dan aku harus terlihat cantik, biar para pengunjung tertarik untuk membeli make up yang aku pakai", Marisa tampak terus berlenggak lenggok di depan Putra.


"Ya jelas cantik, baru selesai nyalon", ucap Dery datar. Ia kembali teringat mata indah Tiara, dengan bulu mata yang lentik alami, no make up.


"Kita berangkat sekarang?, Marisa melirik Dery yang nampak sedang menatap kosong ke depan.

__ADS_1


"Kamu melamun?", Marisa mengibaskan telapak tangan kanannya ke depan wajah Dery.


"Nggak..., ayo kita berangkat!", Dery meraih tangan Marisa, mengajaknya pergi Dery tidak mau Marisa banyak bertanya ini itu lagi.


Setelah Marisa naik dengan sempurna di belakangnya, Dery melajukan sepeda motornya menuju Kampus Marisa.


Sepanjang jalan tangan Marisa melingkar di pinggang Dery, membuat iri para Mahasiswi yang dilewatinya.


Ini bukan untuk yang pertama kalinya Dery mengantar Marisa ke Kampus, namun hari ini keadaan Kampus rame sekali, Dery bisa melihat hampir semua para pengguni Kampus.


"Sudah, sampai sini saja", Marisa menepuk punggung Dery agar segera menghentikan laju sepeda motornya.


"Terserah kamu , mau nunggu atau mau pulang dulu , yang jelas , nanti jemput aku lagi", senyum Marisa.


Dery sudah mau memutar sepeda motornya untuk pulang, namun tepat dihadapannya , ada sebuah sepeda motor yang mau masuk, tapi terhalang oleh sepeda motor miliknya.


Dery sudah hampir ngambek, namun saat Tiara yang dilihatnya, ia sedikit Luluh.


'Oh God, ini wanita yang tadi', pikir Dery. Ia memundurkan sepeda motornya dan memberi jalan untuk sepeda motor di depannya.


"Terima kasih", Tiara merengkuhkan tubuhnya saat melewati Dery.


Dery terkesiap saat mendengar suara lembut Tiara, dan mencium harum body wash nya.


'Ternyata kuliah di sini ?,' Dery bicara dalam hatinya. Ia terus memperhatikan Tiara, sampai ia hilang berbaur dengan teman-temannya.


'Apa Marisa mengenalnya?', kembali hati Dery Bicara. Karena telah melihat Tiara, Dery memutuskan untuk menunggu Marisa dikampusnya.


"Bisa menyelam sambil minum air", gumam Dery sambil tersenyum evil.


Dery jadi penasaran ingin mengikuti acara di dalam. Terutama ia ingin mencari informasi tentang Tiara.


Namun Dery tidak berhasil, Tiara seperti menghilang dari pantauannya. Dery kembali menunggu Marisa di luar Kampus.


"Nanggung jadinya, mau pulang dulu, nanti telat datang ke sini, bisa kena ngambek lagi", gumam Dery. Akhirnya ia menunggu Marisa sampai ketiduran di warung , ia duduk menyandar di kursi luar.

__ADS_1


Hingga tidak mengetahui Tiara pulang melewatinya. Tiara bisa pulang lebih cepat karena ia tidak mengikuti acara pameran di kampusnya.


Di jalan, tiba-tiba ban sepeda motornya kempes, ia bingung, celingukan mencari tempat tambal ban. Ini jalan yang tidak biasa ia lewati, jadi ia sedikit kebingungan.


"Ada bengkel di depan sana Neng", beritahu seorang pengendara yang kebetulan lewat.


"Alhandulillah, terima kasih", Tiara memapah sepeda motornya, lumayan jauh juga, hingga ia menemukannya.


Sebuah bengkel yang cukup besar dan komplit, suasananya nyaman, sepertinya ada mini cafenya juga. Jadi para pengunjung bisa sambil mengisi perut saat menunggu kendaraannya di service.


"Bang, aku ke Masjid dulu", pamit Rahmat , ia meninggalkan bengkel seperdetik sebelum Tiara masuk.


"Assalamu'alaikum, Mas, tolong , ini bannya kempes", Tiara menghampiri Ronal yang menggantikan Rahmat.


Ronal menatap Tiara , ada rasa cemas dihatinya, ia takut Tiara berbuat jahat, Ronal memperhatikan cara berpakaian Tiara yang berbeda dengan kebanyakan wanita yang pernah dilihatnya.


"Oh...baik, silahkan tunggu dulu!", Ronal agak takut saat menyuruh Tiara menunggu.


Sementara Ronal menangani sepeda motornya, Tiara menuju mini cafe disebelah bengkel, ia memesan sebotol air mineral, tidak lupa ia pun meminta sedotan, biar lebih mudah saat meminumnya, secara ia memakai niqob.


"Terima kasih", ucap Tiara kepada Aleks yang berjaga di cafe. Ilyas, Joko, Ronal, sering kali mencuri pandang ke arah Tiara. Mereka merasa aneh dengan cara berpakaian ala ninja seperti Tiara.


"Tidak panas apa?, siang bolong begini bajunya kaya kalong", kekeh Ilyas .


"Sttt...., nggak boleh begitu", masing-masing orang mempunyai keyakinan berbeda, kita harus hargai itu, yang terpenting kita mempunyai alasan yang kuat untuk keyakinan kita, dia tampaknya orang baik", Ilyas melirik Tiara yang sedang minum.


"Ayo cepat ngerjainnya?, biar dia cepat pergi dari sini, jadi parno Gue melihatnya", ucap Joko.


Tiara menghampiri sepeda motornya, "Sudah Mas," tanya Tiara.


"Sudah, ini kena paku kayaknya ", terangkan Ronal.


"Tapi sudah bisa jalan kembali, hati-hati Neng!",


Ia membiarkan Tiara menstarter sepeda motornya. Tiara memberikan sejumlah uang kepada Ilyas untuk ongkos menambal bannya. Lalu ia kembali ke jalan untuk melanjutkan perjalanan yang tertunda.

__ADS_1


"Terima kasih sudah menggantikan aku", senyum Robi yang baru datang dari Mushola.


__ADS_2