Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa

Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa
Waktunya Sudah Dekat


__ADS_3

"Maafkan Mang Den, Mang tidak sejak awal bicara terus terbuka soal Badrun. Karena masalah itu Mang anggap sebagai aib, jadi Mang takut untuk membicarakannya, apalagi kalau sampai Abah mengetahuinya", Mang Damsn menunduk.


"Sudahlah Mang, saya juga mengerti, saya yakin kok, sebentar lagi kebenaran akan terungkap", senyum Robi.


"Apalagi tadi Mang dengar sendiri, Badrun beberapa hari lagi bebas",


"Sekarang tinggal mencari Nyimas, dialah kunci dan saksi utama untuk menjebloskan pelaku utamanya",


Suara adzan Dhuhur sudah terdengar, Robi menepikan mobilnya ke halaman sebuah Masjid, ia dan Mang Daman melaksanakan shalat di sana.


Setelahnya Robi mengajak Mang Daman makan di warung nasi yang ada di sebrang Masjid.


Robi sudah tidak canggung lagi makan di tempat yang sederhana, padahal untuknya, makan di cafe mewah pun bukan lagi halangan, uangnya tidak akan kekurangan.


Mang Daman pun merasa kagum dengan perubahan Robi, bukan hanya pengetahuan agamanya saja, namun cara dan gaya hidupnya pun ikut berubah, tidak ada lagi Robi yang angkuh dan serba ingin mewah.


"Terima kasih Den, Mang jadi merepotkan saja", Mang Daman meneguk air minumnya setelah selesai makan.


"Ini sudah menjadi tanggung jawab saya Mang, karena saya yang telah mengajak Mang ke sini", senyum Robi.


"Ayo Mang, kita mampir dulu sebentar ke bengkel", ajak Robi. Ia dan Mang Daman kembali menaiki mobil menuju bengkel yang disebutkan Robi tadi.


"Nah...di depan saja Mang, sebentar lagi sampai",


Robi menepikan mobilnya ke sebuah bengkel, di sana tampak sepi, hanya beberapa sepeda motor terparkir di luarnya.


"Assslamu'alaikim", Robi mengucap salam, Mang Daman mengekor dibelakangnya.


"Siapa tuh, Loe lihat dulu sana?", perintah Aleks. Ternyata mereka sedang bicara dengan Fikri di dalam. Fikri mengintip dari celah tirai .


"Robi...?", gumamnya.


"Siapa?, Robi?", Joko ikut mengintip.


"Kenapa dia ke sini", tanya Joko.


"Biarkan saja, Aleks juga bisa mengatasinya", Joko dan Fikri mengawasi gerak -gerik Aleks yang sedang bicara dengan Robi.


Ronald dan Ilyas sedang shalat sekalian istirahat, sehingga mereka tidak bisa bertemu dengan Robi.


"Gimana kalau Aleks bicara macam-macam sama Robi", curiga Fikri.


"Ah..., tidak akan, Aleks itu tidak mungkin mengkhianati Dery, ia juga sama , membenci Robi", ucap Joko.


Tak lama kemudian, Robi dan Mang Daman terlihat memasuki mobilnya kembali, entah apa yang dibicarakannya dengan Aleks.


"Aman..., dia sudah pergi", Joko mengajak Fikri menghampiri Aleks.


"Ngapain dia ke sini?", tatap Joko.


"Dia menanyakan Ronald dan Ilyas", jawab Aleks datar.


Kalian jangan sampai berkhianat, kita bekerja untuk Dery", ingatkan Joko.


"Tenang saja, semua berkas sudah siap semua, jadi saat tempat ini dieksekusi, sudah aman, kita tinggal menunggu klaim asuransi saja", kekeh Aleks.


"Ini tempatnya, kalian pergi ke sini saja, di sana ada Dery", Fikri memberikan secarik kertas tempat tinggal Dery di desa.


"Oke, kalau begitu, Gue pulang dulu, kelamaan di sini nanti orang Pondok bisa curiga", pamit Fikri.


"Iya, siap , percayakan saja urusan di sini sama kita berdua", seringai Joko


Mereka saling beradu tinju sebagai tanda salam, dan Fikri pun segera meninggalkan bengkel. Ia ingin mendahului Robi sampai di Pondok.


Jelas saja Fikri menang, sepeda motornya bisa dengan leluasa menyalip kendaraan didepannya walau jalanan padat sekalipun.


Fikri sudah hampir sampai di Pondok, namun ia sempatkan membeli buah-buahan di kios buah yang ia lewati.


"Ini oleh-oleh untuk Abah, pasti ia akan merasa senang, ini kan buah kesukaan Abah", gumam Fikri. Ia membeli pepaya dan pisang raja.


Setelah itu ia kembali memacu sepeda motornya menuju Pondok.

__ADS_1


Fikri terlebih dahulu mampir ke rumah Abah dengan menenteng keranjang buah ditangannya.


"Assalamu'alaikum", Fikri mengucap salam, ia duduk di kursi yang ada di teras depan, menunggu yang punya rumah ke luar .


Nyimas yang kebetulan mendengar ucapan salam di luar, menghampiri pintu, ia membukanya dan mendapatkan seseorang sedang duduk membelakanginya.


"Wa'alaikumsalam, mau bertemu siapa?", tanyanya tanpa menaruh curiga apa pun, ia juga tidak tahu siapa orang yang kini duduk membelakanginya itu.


"Ti...a...ra....", Fikri mematung begitu melihat sosok lain dihadapannya.


Seketika mata Nyimas membulat, ia benar-benar tidak menyangka, orang itu kini sudah ada didepannya. Ingin sekali ia mencakar wajah dan menjambaki rambutnya.


"Oh...maaf, saya kira Tiara", Kekeh Robi, ia tidak ngeuh dengan wanita yang kini ada dihadapannya.


Namun yang jelas Fikri melihat sorot mata penuh kebencian dari wanita itu.


'Siapa dia?, kenapa memandangku dengan pandangan seperti itu', batin Fikri bicara.


"Tiara tidak ada di rumah, Abah juga belum pulang, Umi sedang shalat", jawab Nyimas datar .


"Kalau begitu, saya titip ini, tolong sampaikan pada Abah", pesan Fikri, ia menunjuk pada keranjang buah yang kini ia taruh di atas meja depan.


"Iya..., nanti saya sampaikan", jawab Nyimas masih dengan nada datar, pandangannya menunduk.


"Terima kasih, saya pergi dulu", Fikri berucap salam dan meninggalkan Nyimas yang segera menyambar keranjang buah di atas meja dan segera masuk dan menutup pintu dengan kasar. Hingga Fikri terperanjat.


"Siapa wanita itu, dasar aneh", gerutu Fikri.


Ia segera menuju kobongnya.


"Dasar wanita aneh, amit-amit, bakalan jadi perawan tua dia, laki-laki mana yang akan meliriknya, judes dan angkuh begitu", gerutu Fikri.


"Siapa yang kau bilang angkuh", Ustad Fadil terkekeh mendengar gerutuan dari Fikri yang baru memasuki kobongnya.


"Itu..., wanita bercadar yang ada di rumah Abah, sombong sekali dia, sepertinya wajahnya lebih mengerikan, makanya ia tutupi dengan cadar", gerutu Fikri.


"Eehh..., jangan salah, dia itu pintar mengaji lho, suaranya bagus", puji Ustad Fadil.


"Kita harus mulai bersiap, akan ada perayaan meriah saat tahun baru Islam kali ini, akan ada Fashion on the Sreets gitu, pokoknya anak -anak santri Putri akan tampil dengan busana rancangan Tiara dan ibunya Robi",


"Selain itu, akan ada pawai obor, seperti biasa", terangkan Ustad Fadil.


"Wah...pasti akan meriah, ini kegiatan perdana di Pondok kita, pasti meriah", senyum Fikri.


'Akan tambah meriah lagi kalau ada kebakaran hebat di Bengkel Robi, dan Robi nya keracunan lagi, tamat riwayat kamu Robi!', Fikri menyeringai sambil bicara dalam hatinya.


"Iya, makanya harus ikut membantu agar acaranya sukses", senyum Ustad Fadil.


"Oke...siap..., setiap tahun juga selalu kita kan yang bekerja", ucap Fikri datar.


'Kapan aku bisa menjadi pimpinan Pondok ini, Abah sudah jarang menyinggung hal itu lagi, aku yang harus sering jemput bola, biar tidak ada yang mencuri star', pikir Fikri.


Malam ini ia bermaksud untuk mengunjungi Abah.


Robi dan Mang Daman baru kembali ke Pondok. Robi kembali memarkirkan mobil di halaman Abah.


"Mang, saya minta kejadian hari ini hanya kita yang tahu",tatap Robi.


"Tenang Aden, percayakan sama Mang, Mang akan bicara jika dibutuhkan", Mang Daman memegang pundak Robi.


"Terima kasih Mang, sudah ada gambaran kan, siapa pelakunya?", kembali Robi menatap Mang Daman.


"Tidak usah diucapkab, cukup tahu saja", senyum Robi.


"Iya...Den...", Mang Daman mengangguk.


Mereka lalu keluar dari mobil.


Tak lama, Abah pun datang, ia di antar sampai rumah oleh keluarga yang mengundangnya .


"Assalamu'alaikum", Robi menyambut kedatangan Abah. Mereka bersalaman, Mang Daman juga.

__ADS_1


"Hadeuh..., baru pulang ?, Mang Daman kesampaian juga bisa naik mobil mewah", senyum Abah.


"Iya...Abah, Alhamdulillah...", senyum Mang Daman.


"Den, Mang langsung ke Kobong", pamit Mang Daman.


Robi mengangguk, ia segera menyertai Abah berjalan menuju Rumahnya.


Abah langsung beristirahat sambil menunggu waktu Ashar. Robi baru akan melangkah ke luar dari ruang baca Abah, saat terdengar suara isak tangis dari bilik sebelah.


'Suara siapa ini?', pikir Robi. Namun ia tidak berani mengintip, apalagi Tiara dan Umi sedang di Madrasah bersama ibunya.


Mereka sedang mensosialisasikan rencana yang akan dilaksanakan pada malam tahun baru Islam nanti.


Robi langsung kembali menuju Kobong,


"Tiara..., aku harus bagaimana?, Fikri itu orang jahat, dia tidak boleh bersamamu, bukan di sini tempatnya" gumam Nyimas.


Nyimas sedang menangis di kamarnya, ia selalu merasa terguncang setiap kali bertemu Fikri. Ia telah mencorengkan noda dalam keluarganya, dan dirinya yang paling sengsara, harus diasingkan sampai bayinya lahir, dan harus berjuang sendiri membesarkan anaknya, karena kedua orang tuanya sudah tiada dua tahun setelah anaknya lahir.


Rumahnya di sita karena dijadikan jaminan kepada rentenir untuk biaya hidup mereka dulu.


Dan Nyimas pun mengira, orang yang mengejarnya di pasar waktu itu adalah suruhan rentenir tua yang menginginkan dirinya.


"Aku ke Madrasah saja, mungkin dengan mengajar mengaji di sana, pikiranku akan sedikit tenang", gumam Nyimas. Ia segera bersiap menuju Madrasah .


*****


"Apa yang sedang kalian lakukan?", bentak Pak Robani saat membuka pintu ruangan Rena, sekretarisnya itu sedang duduk di atas pangkuan laki-laki dan mereka tampak sedang saling bercumbu , tampak noda lipstiknya menempel di wajah laki-laki itu.


Sontak mereka berdua terperanjat, mereka tidak menyangka Pak Robani akan masuk kantor hari ini, karena sudah dua hari beliau tidak ngantor.


"Surya...?", jadi benar kecurigaanku selama ini, kalian itu pasangan kekasih kan?", bentak Pak Robani.


"Pintar sekali kalian bersandiwara, dan kamu Rena!, berani sekali bermain-main dengan aku", bentak Pak Robani. Kini suaranya terdengar bergetar, ia tampak marah.


"Sekarang sudah tidak ada lagi tempat untuk kalian di sini, kalian berdua saya pecat!!!, pergi kalian..., sebelum saya semua orang tahu, kunci mobil dan kunci Apartement tinggalkan di meja, kamu sudah tidak membutuhkannya lagi", petintah Pak Robani.


"Sayang...., ini tidak benar..., dia yang menggoda aku", bela Rena. Ia menghampiri Pak Robani bermaksud memeluknya. Namun Pak Robani menghindar, hingga Rena menabrak meja kecil yang tadi ada di belakang Pak Robani.


"Sudah...sudah..., aku sudah muak dengan semua sandiwaramu, sekarang cepat kalian pergi, sebelum aku panggilkan security untuk menggusur kalian keluar", ancam Pak Robani.


Rena mengambil tas dan meraih pinggang Surya yang sudah berdiri di hadapannya.


"Sayang..., ayo kita pergi, siapa yang sudi terus bersama Kakek tua, yang letoy begini", ucap Rena.


"Tunggu!", suara keras Pak Robani menghentikan mereka.


"Taruh kuncinya!!", bentak Pak Robani lagi.


"Rena segera merogoh tasnya, ia simpan seruntuy kunci di atas meja, dan segera meninggalkan Pak Robani sendiri di sana.


"Hah..., seharusnya sejak dulu ini aku lakukan, dia hanya ingin hartaku saja, maafkan Mih...", Pak Robani membayangkan istrinya yang sempat ia khianati dengan wanita tidak tahu diri itu.


******


"Suara siapa yang sedang mengaji ini?", tanyai Fikri kepada Ustad Fadil.


"Euh..., kalau tidak salah, itu suaranya Nyimas, orang yang tinggal di rumah Abah , betul kan?, suaranya merdu, ia ikut mengajar di Madrasah juga", terangkan Ustad Fadil.


"Dari mana dia?", selidiki Ustad Fikri. Hatinya sudah curiga, Orang yang ia lecehkan dulu juga seorang guru mengaji di Masjid yang ada di desanya.


"Ia datang bersama ayahnya Robi, katanya sih ia baru di kota ini, tapi entah dari mana asalnya",


'Jangan-jangan..., dia Nyimas yang sama , ah...tapi tidak mungkin, dia tidak bercadar', batin Fikri bicara.


"Kenapa?, naksir juga?", goda Ustad Fadil.


"Iihhh..., enak saja ..., dia tidak ada apa-apanya dibanding Tiara", cibir Robi.


Jangan sombong Fikri, sebentar lagi masa lalumu akan terungkap , tapi agak ketar -ketir juga nih, takutnya rencana Fikri untuk Robi berhasil. Penasaran?, ikuti terus ceritanya...

__ADS_1


__ADS_2