
"Terima kasih Pak, saya sungguh tidak menyangka ", ucap Badrun dengan wajah terkaca-kaca.
Badrun sedang bicara dengan kepala penjara .
Hari ini ia mendapat keringanan tahanan, sehingga tepatnya pada saat perayaan tahun baru Islam nanti, ia sudah bisa bebas.
"Selamat Badrun, ini semua karena kamu selalu bersikap baik selama di sini, semoga di luar sana , kamu bisa lebih memperbaiki hidup kamu, dan tidak mengulangi kesalahan yang sama, kamu tidak ingin menginap di sini kembali kan?", senyum kepala penjara.
"Iya, Inshaa Allah Pak",
"Sudah , kamu bersiap , tinggal beberapa hari lagi kamu bebas",
"Iya Pak, sekali lagi terima kasih", rengkuh Badrun. Ia kembali memasuki ruangan ysng sudah beberapa tahun ini menjadi tempatnya untuk menebus kesalahan orang lain yang dituduhkan kepadanya.
"Alhamdulillah..., semua ini akan segera berakhir, dan sudah saatnya , giliran kamu yang menempati tempat ini, Fikri", gumam Badrun.
Rentetan peristiwa silam kini kembali berseliweran dalam ingatannya, bukan dendam, tapi Badrun ingin menegakkan keadilan, jangan sampai orang yang benar-benar bersalah, bisa hidup bebas di luar sana.
'Ini adalah berkah tahun baru Hijriah, aku bisa bebas dari sini, tapi harus kemana nanti?, aku tidak punya tujuan pasti', batin Badrun bicara.
Bandrun kini bingung, ke mana ia harus pergi saat bebas nanti, karena ia sedari kecil hidup di Pondok, setelah terpisah dengan keluarganya saat terjadi bencana yang melanda desanya.
Tidak mungkin juga ia kembali lagi ke Pondok, orang-orang di sana sudah terlanjur menganggap dirinya bersalah.
"Hah..., dunia ini luas, mungkin masih banyak tempat yang bisa menerima dirinya, selama ia berbuat baik.
*****
Mang Daman sedang termenung di kebun belakang, ia masih merasa terganggu dengan ucaoan Robi soal Badrun.
Peristiwa itu sudah berlalu dab sudah dikubur dalam-dalam, karena gara-gara kejadian itu, Pondok Al-Furqon hampir di serang massa kala itu.
Hampir semua penduduk desa menyerang ke Pondok, meminta Pondok di bubarkan dan ditutup, namun kesediaan Badrun untuk menyerahkan diri kepada pihak yang berwajib, bisa meluluhkannya.
Namun waktu itu, Pondok sempat di tutup beberapa bulan, sampai penyidikan selesai, dan mereka memenjarakan Badrun.
"Mang..., ada yang bisa saya bantu?", Fikri menghampirinya.
Karena sedang melamun, Mang Daman tidak menyadari kehadiran Robi disampingnya.
"Eehhh..., Mang..., kok malah bengong, awas kesambet lho...", cicit Robi .
"Astaghfirullah..., Aden bikin kaget saja, sudah lama di sini?", kekeh Mang Daman, ia melirik ke arah Robi dengan menggaruk kasar kepalanya.
"Mang mikirin apa sih, anteung begitu", sebyum Robi.
"Euh...., tidak apa-apa , Den, Mang sedang mengingat masa lalu saja",
"Oohh..., sedang bernostalgia rupanya", kemeh Robi.
Robi sekilas melihat raut wajah Mang Daman yang terlihat resah.
'memikirkan ala ya Mang Daman', pikir Robi.
"Mang..., besok aku mau mengunjungi teman, mau ikut tidak?", ajak Robi,
"Biar tidak suntuk di sini terus", senyum Robi.
"Ah...boleh Aden?, Mang boleh ikut?", Mang Daman tampak senang.
"Iya..., makanya di ajak juga, boleh ikut Mang",
"Ya mau attu Den, sudah lama Mang tidak jalan-jalan, terakhir waktu nganter Aden nyari ATM ", cicit Mang Daman.
"Iya, besok setelah Dhuha kita langsung berangkat ya Mang",
"Baik Aden",
Robi meninggalkan Mang Daman yang sedang menyesaikan pekerjaannya, ia kini tampak semangat karena besok akan dibawa jalan-jalan ke Kota, jadi semua pekerjaan untuk besok, harus bisa diselesaikan hari ini.
Robi kembali ke kobongnya, dari kejauhan ia melihat mobil Papihnya memasuki gerbang Pondok dan kembali di parkir di halaman Abah.
Robi menghampirinya. Ia melihat ada Tiara dan dua bocah di jok belakang.
__ADS_1
"Pih ..., Mih ...", sapa Robi begitu kedua orang tuanya keluar dari mobil.
"Alhamdulillah...ada kamu, sana bantuin bawa belanjaan Mamih ke dalam", senyum Bu Arimbi.
"Ooh...habis dari pasar ya?, hai ...kalian, tidak ajak-ajak Aa ya", senyum Robi begitu Gilang dan Risman keluar dari mobil.
"Penuh Aa ..., tidak ada tempat untuk A Robi duduk, lihat ...", celoteh Gilang. Ia dan Risman membawa mainan ditangannya, mereka langsung berlari menuju teras depan rumah Abah.
"Sini..., biar aku yang bawa", Robi mengambil kantong plastik yang sedang dijinjing Tiara.
"Terima kasih", senyum Tiara. Walaupun tertutupi niqob, tapi Robi bisa tahu kalau Tiara tersenyum kepadanya.
Tiara berjalan mengikuti Robi yang menjinjing belanjaannya.
"Aku berharap mereka bisa bersama Pih", bisik Bu Arimbi kepada Pak Robani yang sedang mengeluarkan satu per satu isi bagasinya.
"Iya... Papih juga setuju, Papih rasa, perubahan Robi juga pasti karena Tiara",
"Kalau kita bagaimana?", Pak Robani menatap istrinya.
"Bagaimana...., bagaimana...?", tatap Bu Arimbi
Akhirnya tatapan mereka terkunci, Pak Robani mendekati Bu Arimbi, ia raih tangan istrinya itu, dan menggenggamnya
"Mih ..., masih mau kan menerima Papih kembali?, Papih minta maaf...", Pak Robani menunduk. Ia menunggu respon dari istrinya.
Sejenak Bu Arimbi diam, 'Ini mungkin saatnya, sepertinya Papih juga sudah berubah', pikir Bu Arimbi.
"Mih...", suara Pak Robani tampak memelas.
"Iya..., Mamih maafkan Pih",
"Alhamdulillah...., uni yang Robi tunggu Pih...Mih...", seru Robi, sudah sedari tadi ia berada di dekat mereka, dan Robi bisa mendengar semuanya.
Robi langsung memeluk kedua orang tuanya itu. Ia merasa bahagia kini orangtuanya sudah saling memaafkan. Itu artinya mereka akan kembali menjadi pasangan orang tua uang utuh baginya.
"Ini perlu dirayakan Mih", senyum Robi.
"Kita liburan bersama?", kekeh Robi.
"Oh...iya ..", Robi pun tersenyum.
"Nanti kalau kamu menikah, kita liburan bareung, itung-itung ikut Honey moon lagi ya Mih", kekeh Pak Robani.
"Iya..., boleh..., makanya kamu cepat cari calon istri dong", goda Pak Robani, ia melirik ke arah Robi .
Robi hanya tertawa kecil mendengar ucapan kedua orang tuanya itu.
Ia kembali membawa belanjaan Mamihnya satu per satu menuju rumah Abah. Tiara yang berniat membantunya pun dilarangnya.
Al hasil, Robi yang jadinya bolak-balik mengangkut semua belanjaan ke rumah Abah.
Biasanya para santri putra membantunya, tapi kali ini bertepatan dengan waktunya shalat dhuha, jadi mereka semua sedang berada di Masjid.
Robi pun setelah selesai langsung pamit, ia sudah mempunyai janji dengan Mang Daman untuk mengajaknya pergi.
Setelah shalat Dhuha, Robi dan Mang Daman pun pergi, Robi pergi dengan mobil papihnya.
"Wah..., naik mobil kita Den?",
"Iya biar aman saja Mang, kalau naik motor, takutnya hujan", senyum Robi.
"Alhamdulillah...seumur-umur, baru kali ini naik mobil mewah", senyum Mang Daman, ia tampak senang .
Mereka sekarang sudah di jalanan. Mang Daman tampak tertidur, jadi ia tidak tahu kalau dirinya di bawa oleh Robi ke Penjara.
Ya ..., Robi berniat menemui Badrun, dan mempertemukannya di sana, ia ingin memastikan saja, apa Mang Daman mengenal Badrun?, jadi Robi bisa mengorek sedikit keterangan darinya.
"Sudah sampai Mang, bangun!", Robi melirik ke arah Mang Daman.
Mang Daman menggeliatkan badannya, ia membuka kedua matanya, dan mulai melihat ke sekeliling.
Mang Daman tidak banyak bertanya, karena ia tidak begitu mengenal tempat yang ia datangi, jadi Mang Daman ikut saja saat Robi membawanya masuk ke dalam.
__ADS_1
"Saya mau berkunjung Pak", senyum Robi. Petugas pun tidak banyak bertanya, ia sudah tahu maksud kedatangan Robi ke sini.
"Silahkan Pak", senyum petugas. Robi membawa Mang Daman duduk di ruang tunggu, dan tak lama datang petugas beserta seorang laki-laki berpakaian tahanan.
"Assalamu'alaikum", sapanya begitu berada dihadapan Robi dan Mang Daman.
"Wa'alaikumsalam", serentak Robi dan Mang Daman menjawab
Robi tampak tersenyum sambil menyodorkan tangan kepada Badrun. Sementara Mang Daman menatap lekat Badrun dengan mulut menganga.
"Badrun....", lirih Mang Daman.
Ia seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Sehat Mang?", senyum Bsdrun.
"Alhamdulillah..., sehat, Aden gimana?, sudah lama ..., serasa mimpi", mang Daman memegang pundak Badrun.
Mereka kini duduk berhadapan, "Mang, ini Badrun, saya pernah cerita juga kan?, lirik Robi.
"Iya..., dialah orangnya, dia orang yang sama
Mang Daman menunduk.
" Iya ,ini orang yang saya maksud",
"Mang Daman mengenalnya kkan?, dia orang yang tidak bersalah",
"Maksud Aden?",
"Kasusnya belum tuntas, ia sudah dipenjara, tanpa ada yang membela lagi, padahal saksi dan buktinya masih kurang",
"Setahu Mang, dulu kasus ini keburu di tutup, karena yang menjadi korbannya menghilang, dia yang menjadi saksi utamanya, dan Den Badrun inilah yang jadi tersangka dan jadi jaminan juga, agar Pondok tidak ditutup paksa oleh warga", jelas Mang Daman.
"Jadi, kita harus cari wanita itu?", tegas Robi.
"Nyimas namanya", ucap Badrun.
"Nyimas?, di Pondok juga ada , yang bersama Tiara kemarin namanya Nyimas , Mang lihat tidak?",
"Iya..., tapi dia pakai cadar Den, tidak terlihat jelas wajahnya",
"Iya juga, kita merasa risih untuk menyelidikinya juga",
"Biarlah dulu, masalah itu lambat laun akan terbuka, nanti aku bisa bantu, aku dapat remisi, jadi sebentar lagi juga bebas", senyum Badrun.
"Alhamdulillah..., kabar baik itu, kapan bebas?", tatap Fikri.
"Pas peringatan tahun baru Islam nanti", senyum Badrun.
"Wah..., berkah ini, kita jadi bisa merayakan tahun baru Islam bersama di Pondok", Robi tampak sumringah.
"Tapi..., Abah pasti tidak akan menerima kehadiranku lagi di sana, Abah sudah terlanjur benci , dan percaya kalau aku pelakunya",
"Ya kita pelan-pelan saja, nanti juga pasti ada jalan", yakinkan Mang Daman.
"Nanti pas keluar dari sini, kamu bisa tinggal di rumahku, biar kita lebih mudah berkomunikasi", sarankan Robi.
"Biar nanti aku yang jemput kamu saat bebas",
"Iya, terima kasih", senyum Badrun.
"Mang...., semua ini rahasia kita ya?, jangan sampai ada orang lain yang tahu", tatap Robi.
"Iya Den, percaya sama Mang",
"Kami pulang dulu, nanti tunggu aku menjemput kamu, kita susun susun rencana setelah kamu bebas nanti", jelas Robi.
Robi dan Mang Daman kembali bersalaman dengan Badrun, sebelum meninggalkannya.
"Den..., sebentar lagi tabir ini akan terbuka , awas!, Aden juga harus berjaga-jaga, siapa tahu mereka sudah mengetahui pergerakan kita",
"Siap Mang", senyum Robi.
__ADS_1
Mobil Robi kini melaju ke bengkel miliknya. Ia ingi menemui Ronald dan Ilyas. Akankah Robi bertemu dengan Fikri di sana?, ikuti terus ceritanya.