
"Sebentar-sebentar....", Pak Robani menepikan mobilnya.
"Saya sudah kenal lama sana kalian, sejak jaman sekolah kalian",
"Dari mana kalian tahu kalau Robi ke Pelabuhan?, ini janggal", ucap Pak Robani. Ia membalikkan tubuhnya menghadap Aleks dan Joko.
"Kalian berdua jujur saja, apa yang kalian ketahui tentang Tiara dan Robi", tatap Pak Robani.
"Pih...ada apa sih?", tanyai Bu Arimbi, ia agak kaget dengan sikap suaminya.
"Mih... ,Papih yakin mereka mengetahui sesuatu soal Tiara dan juga Robi", tegas Pak Robani.
"Kalian ini kan temannya Robi, coba bicara, apa yang kalian ketahui soal Tiara?, atau kalian ada hubungannya dengan hilangnya Tiara dari Pondok?", Pak Robani menatap tajam Aleks dan Joko bergantian.
Aleks dan Joko saling pandang, mereka jadi salah tingkah.
"Maksud Om apa?, kita ini hanya menebak saja, dugaan kita penculiknya pasti ke sini, habis mau kemana lagi, ke Bandara?, tajir amat itu penculik", senyum Joko.
"Saya kenal kalian sudah lama ya..., kalian tidak bisa berbohong, jadi lebih baik sekarang kalian jujur saja, dimana Tiara sekarang?, sebelum saya laporkan masalah ini kepada pihak yang berwajib, semua akan menjadi tambah sulit urusannya", jelaskan Pak Robani.
"Saya ini bukan orang sembarang,mata dan telinga saya ada dimana-mana, jadi kalau sampai kamu menyembunyikan sesuatu, cepat atau lambat saya akan mengetahuinya juga.
"Jadi, sebelum saya tahu dari orang lain, kalian sebaiknya bicara jujur saja, karena kalau sampai saya tahu dari orang lain, itu akan lebih menyulitkan hidup kalian", ancam Pak Robani.
"Pih...sudah..., masa mereka begitu, Aleks dan Joko kan temannya Robi, mereka tidak mungkin berbuat jahat pada Robi", bela Bu Arimbi.
"Papih sudah tahu siapa mereka Mih, kemarin Pak Rusman teman Papih yang Polisi itu, sudah memberikan hasil penyelidikan soal kebakaran bengkel Robi, dan dia bilang ada unsur kesengajaan yang menyebabkan terbakarnya bengkel Robi, dan kecurigaan itu tertuju pada dua orang ini nih", tegas Pak Robani.
Aleks dan Joko sontak terkejut, mereka saling pandang.
"Makanya..., sekarang kalian jujur saja, biar bisa meringankan kesalahan kalian , saya bisa membantu, asal kalian juga bisa bekerja sama, kalian tidak ingin kan menghabiskan masa muda kalian di balik jeruji besi", tatap Pak Robani.
Kini bahkan Pak Robani keluar dari mobilnya dan masuk dan duduk di jok belakang disamping Aleks dan Joko.
"Nah..., kalian sudah tidak punya pilihan lain, saya ini masih baik lho, tidak langsung membawa kalian ke Polisi", kembali Pak Robani menatap tajam ke arah Joko dan Aleks.
__ADS_1
"Ma...af..kan..kita Om...", Aleks menunduk.
"Kita...gelap mata Om", ucap Joko.
"Bagus...., kalian masih berpikir panjang, sekarang cepat katakan!, apa yang kalian ketahui tentang Robi dan Tiara?", tatap Pak Robani.
"Euh...euh..., mereka berdua ada di kapal kemarin, Robi mengejar Tiara yang ada di dalam mobil boks", aku Joko.
"Jadi mereka sekarang ada di sana, kemana tujuan kapal itu Pih?, Robi dan Tiara semoga sudah bertemu", sambar Bu Arimbi.
"Jadi benar kalian yang menculik Tiara dari Kobong?", kembali Pak Robani menginstrogasi.
"Sebenarnya bukan Tiara sasaran kita", aku Joko.
"Bukan Tiara?, lalu siapa?", Pak Robani sedikit bingung.
"Sudah Pih, biarkan mereka ceritakan semuanya", usul Bu Arimbi.
"Euh...., jadi sebenarnya .....", Aleks lalu menceritakan semuanya, dari awal sampai akhir.
"Tiara itu mau sidang skripsi Pih, Abah masih sakit lagi, kasihan...", sambar Bu Arimbi.
"Sebentar...., Papih cek dulu, apa ponsel Robi sudah bisa dihubungi?", Pak Robani merogoh ponselnya dan terlihat sedang menghubungi Robi.
"Aduh..., masih tidak bisa Mih, Papih hanya ingin tahu apa mereka sudah bertemu atau belum?, takutnya belum bertemu, kapal itu besar kan, dan kalau sudah merapat, bisa tambah sulit lagi bagi mereka untuk bertemu, di tempat asing lagi", Pak Robani tampak khawatir.
"Awas saja ya..., kalau sampai terjadi sesuatu pada Tiara dan Robi?, kalian akan berhadapan dengan saya", tegas Pak Robani.
"Om ..., biar kita susul mereka , anggap saja ini sebagai penebus kesalahan kami", ucap Aleks.
"Tidak usah !!, kalian jangan kemana-mana, kalian harus mulai menghadap yang berwajib untuk mempertanggungjawabkan kesalahan kalian, tenang, selama kalian bisa bekerja sama, saya akan membantu", tegas Pak Robani.
"Robi dan Tiara biar saya yang urus", ucao Pak Robani lagi, ia mencoba menghubungi salah satu nomer dari ponselnya.
[Halo Pak, saya lagi membutuhkan bantuan nih, tolong cari dua orang yang baru saja merapat di Pelabuhan , tolong lindungi mereka, nanti saya share foto mereka, kalau sudah ada kabar, segera hubungi saya, Ok!!], ucap Pak Robani sebelum menutup kembali ponselnya.
__ADS_1
"Sekarang, kita bagaimana Pih?", tatap Bu Arimbi.
"Kita pulang saja, tidak efektif juga jika harus menyusul mereka ke sana, biarkan mereka sudah ada yang urus, ada kenalan Papih di sana, pasti dia bisa menemukan mereka", yakinkan Pak Robani.
"Ya sudah kalau begitu, yakin tidak akan menyusul mereka?", tatap Bu Arimbi.
"Kita pulang saja, kita urus Fikri sekarang, ternyata dia dalangnya", geram Pak Robani.
"Kalian berdua nurut saja, biar selamat, biar saya saja yang usut kasus ini, sudah jelas Fikri dalangnya", jelas Pak Robani.
"Tapi kita tidak akan dipenjara kan Om?", tatap Joko.
"Ya..., itu tergantung sikap kalian, kalau dinilai kooperatif, walau harus dikurung, ya ...akan ada keringanan, tenang saja, saya akan membantu kalian", ucap Pak Robani, ia menepuk pundak Aleks dan Joko.
"Terima kasih Om", rengkuh Aleks.
Mereka kembali memasuki mobil dan melaju menuju kantor Polisi untuk memproses Aleks dan Joko.
*****
Tiara membuka kelopak matanya, ia terbangun karena mendengar suara semburan air di kamar mandi, ada orang yang sedang mandi di sana.
Tiara yang masih berada di bawah selimut sedang mengingat-ingat, " Astaghfirullah...", Tiara terperanjat dan menyingkap selimut, ia mendapati dirinya masih berbusana lengkap, niqobnya pun masih terpasang.
"Alhamdulillah...", gumsm Tiara, ia merasa lega sekarang, itu artinya tidak terjadi apa-apa antara dirinya dan Robi semalam , walau mereka tidur hanya dibatasi guling saja.
Robi keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melingkar dipundaknya.
"Sudah bangun?, ini masih pagi lho", senyum Robi begitu melihat Tiara yang kini sudah duduk di atas tempat tidur.
"Aku terbangun gara-gara kamu, kenapa harus mandi segala sih?, bikin curiga saja, aku kan jadi...", Tiara menggantung ucapannya.
"Kenapa ?, takut aku macam-macamin kamu?", senyum Robi.
"Aku ini memang mantan berandalan Tiara, tapi aku tidak bajingan", kekeh Robi.
__ADS_1
"Aku sangat menghormati wanita, tenang saja, kamu aman bersamaku", senyum Robi kembali.