
"Catat Nopolnya", perintah cepat Pak Rusman kepada Umar, begitu mobil yang dikendarai Eko meninggalkan gerbang Pondok Al-Furqon.
"Siap Pak", Sigap Umar, ia sudah mencatat Nopol mobil Eko .
"Awas hati-hati !, kita harus jamin kalau acara besok berlangsung lancar", ucap Pak Rusman lagi.
"Siap Pak", tegas Umar.
"Kita laksanakan sesuai rencana , selamat bertugas", Pak Rusman menepuk pundak Umar, lalu kembali ke dalam Pondok.
Tanpa sepengetahuan Robi, Pak Robani sudah menghubungi Pak Rusman untuk melakukan penjagaan dan pengamanan acara akad nikahnya Robi dan Tiara.
Bukan tanpa alasan Pak Robani berbuat demikian, ini semata-mata untuk mengantisipasi kemungkinan buruk, mengingat Fikri yang masih buron.
Bukan tidak mungkin Fikri kembali datang dan mengacaukan segalanya, mengingat wanita yang akan Robi nikahi adalah calon istrinya Fikri.
Dari dalam Pondok terdengar lantunan sholawat dari para santri, semua santri ikut merasa senang dengan akan digelarnya akad nikah Tiara dan Robi esok hari.
Ini adalah acara pernikahan pertama yang di gelar di Pondok, karena memang Abah hanya mempunyai satu anak saja, Tiara.
Walau hanya akad saja, tapi area Aula dan Masjid sudah dihias . Aneka bunga menghiasi setiap sudut ruangan, seketika aroma harum semerbak tercium oleh setiap orang yang melewatinya.
"Sial, pake ada Polisi segala, ngapain juga harus ada Polisi, kaya mau ada nikahan anak jenderal saja", gerutu Eko.
"Tapi saya senang juga, sepertinya mereka tidak mengenali...", Fikri menggantung ucapannya, ia baru ingat, di sini ada Rena, dia tidak tahu siapa dirinya yang sebenarnya.
Eko melirik dengan agak melotot ke arah Fikri, hampir saja Fikri keceplosan, dan itu bisa bahaya, karena Rena bisa tahu yang sebenarnya.
"Sayang, bukannya mau ke salon?, aku antar sekarang, biar ditungguin, aku mau ngajak ngobrol Fatma dulu", Eko sengaja menepi di depan salon kecantikan langganan istrinya, Rena.
Itu sengaja Eko lakukan agar ia leluasa menyusun rencana untuk besok dengan Fikri.
"Hah..., apa tidak salah?, tumben kamu peka sayang", Rena terlihat sumringah, ia langsung memeluk Eko, dan hendak menciumnya, namun Rena keburu menyadari adanya Fatma di jok belakang.
"Ya sudah, nanti malam saja dilanjutin, aku nyalon dulu", Rena melirik ke arah Fatma, lalu keluar menuju salon.
Sementara Eko menepikan mobilnya di bawah pohon di seberang salon.
"Lihat-lihat dong, ada aku di sini, main nyosor saja, bikin panas aku yang jomblo tahu", gerutu Fikri.
"Bukan salah kita, kita mah sudah sah, sudah halal", ucap Eko datar.
__ADS_1
"Besok kita jegal rombongan Robi, kalau bisa buat Robi tidak bisa datang ke Pondok biar gagal pernikahannya," geram Eko
"Susah Bos, pengamanannya berlapis , sulit di jebol", keluh Fikri.
"Ya jangan samperin ke Pondok lah, kita jegal saja dia di jalan", ucap Eko dengan seringai evil nya.
"Pokoknya kita stand bye di jalan yang akan dilewati iring-iringan mobil pengantin Robi, begitu lewat, set....kita serang dia", seringai Eko.
"Kita yang beraksi?, apa tidak terlalu beresiko?", tatap Fikri.
"Ya tidak lah, aku tidak sebodoh itu, anak buahku banyak , aku tidak akan mengotori tanganku untuk menghancurkan Robi", kembali Eko menyeringai.
"Tugas kamu tetap, kamu harus masuk ke Pondok Al-Furqon sebagai Fatma, terserah kamu, hancurkan mereka dari dalam, aku ingin siapa pun yang berkaitan dengan Robi, harus menderita", ucap Eko.
'Apa yang telah dilakukan oleh Robi, hingga orang ini begitu dendam', batin Fikri bicara, ia melihat Eko sekilas, tidak menyangka di balik wajah tampannya itu ia menyembunyikan sikap keras dan pendendam.
Obrolan mereka terhenti karena Rena terlihat sudah kembali mendekati mobil. Penampilannya kian mempesona saja.
"Jangan tatap istriku seperti itu !", bentak Eko kepada Fikri yang ketahuan sedang menatap tajam ke arah Rena.
Fikri pun menunduk dengan perasaan yang tidak karuan, jujur saja ia tertarik sama istri bosnya itu, selama di Pondok, ia hanya melihat wanita dengan penampilan tertutup, sementara Rena, ia sering kali memperlihatkan kemolekan tubuhnya dengan memakai pakaian yang minim bahan.
Mobil Eko pun kembali melaju menuju rumahnya.
****
Kumandang adzan awal sudah bersahutan di Masjid-Masjid, Robi pun mulai terjaga. Sambil mengucek-ngucek matanya, ia meraih ponselnya yang sedari semalam ia charger.
Robi mengulum senyum begitu membaca pesan dari Tiara.
"Tenang Tiara, aku akan membawamu pergi, aku juga tidak ingin kamu merasa tidak nyaman disana, aku akan membawamu terbang ke awan tinggi agar tidak ada satu pun yang mengganggu kita", gumam Robi.
Belum lagi Robi membuka pesan dari papihnya yang mengingatkan dia agar menghafal kalimat saat ijab qabul nanti, biar ia bisa melafaskannya dalam satu kali helaan nafas, tanpa di ulang.
"Terima kasih Pih, Robi sudah siap semua soal itu, maafkan Robi yang telah meragukan kasih sayangmu", Robi tampak menunduk.
Ini adalah gerbang awal dirinya melangkah menuju kehidupan yang akan mulai lepas dari kedua orang tuanya itu, Robi harus bisa menjalaninya dan bertanggung jawab penuh didalamnya, terhadap dirinya, dan juga istrinya, Tiara.
Robi menuju kamar mandi, setelah itu ia drngan khusuk melaksanakan shalat subuh, dan memanjatkan do'a terbaik untuk semuanya, terutama untuk kelancaran acaranya hari ini.
Semua sudah siap, rombongan pengantin beserta pengiringnya pun sudah siap. Robi tampak gagah dengan setelan jas pengantin berwarna putih-putih.
__ADS_1
"Semua sudah siap Pak, kita bisa berangkat sekarang?", Yana tampak menghampiri Pak Robani.
"Pih...?", Robi menatap papihnya, tatapan penuh pertanyaan, karena ia tidak tahu kalau akan ada pengawalan oleh pihak Kepolisian.
"Apa tidak terlalu berlebihan?, pake ada Polisi segala", protes Robi.
"Ini buat jaga-jaga saja, nah Bi Mimi ayo ikut dengan Pak Yana naik mobil pengantin", perintah Pak Robani.
Walau masih ada yang mengganjal, namun Robi ikut saja semua instruksi dari papihnya itu.
Rombongan pengantin sudah berangkat sekitar 30 menit lewat gerbang depan, setelah itu Robi beserta kedua orang tuanya berangkat lewat pintu samping dengan sebuah mobil travel, tidak lupa ada dua orang petugas Polisi yang ikut serta didalamnya.
"Papih..., sampai sebegininya", Robi menatap papihnya itu sesaat setelah mobil mereka melaju dijalanan.
Di persimpangan, laju mobilnya sedikit terhambat, sepertinya ada sesuatu yang terjadi di depan sana.
"Wah...macet, bisa terlambat Pih", Robi tampak gelisah.
"Masih ada jalur alternatif menuju ke sana, tenang saja", ucap Pak Robani tersenyum.
"Sebentar", Pak Robani membuka sedikit kaca mobilnya, lalu ia bertanya kepada seorang pedagang asongan.
"Mang, kok macet?, ada apa di depan sana?", tanyai Pak Robani.
"Ada kecelakaan di depan Pak, sebuah mobil pengantin tertabrak truk yang remnya blong", jelaskan pedagang itu.
"Oh...., terima kasih Mang", Pak Robani dengan cepat menutup kembali pintu mobilnya.
"Pak, lanjutkan lewat jalan alternatif saja", perintah Pak Robani kepada sopirnya.
Mobilpun kembali melaju meninggalkan kemacetan.
"Pih..., apa itu mobil kita?", tanyai Robi dengan suara bergetar.
"Bagaimana mereka?", tanyai Bu Arimbi lagi, ia merasa khawatir.
"Tenang, semua sudah ditangani, semua ini sudah Papih perhitungkan, dan sudah Papih siapkan juga solusinya, mereka semua aman, sudah ada tim medis yang Papih siapkan untuk segera menolong mereka", jelaskan Pak Robani.
"Pih.... terima kasih", ucap Robi dengan suara bergetar. Sungguh semua ini diluar dugaannya, tetapi papihnya sudah bisa membaca situasi.
Andai dirinya yang ada di mobil pengantin itu, maka acara akadnya hari ini pasti akan batal dilaksanakan.
__ADS_1