
Di Rumah Sakit, Bu Arimbi tampak bingung, ia tidak bisa menghubungi Tiara, padahal Tiara adalah harapan satu-satunya yang bisa membuat Robi segera sadar.
"Apa aku temui langsung saja, tapi bagaimana Robi, masa harus ditinggal sendiri?", Bu Arimbi menatap Robi.
Tak lama terdengar suara pintu di ketuk. Bu Arimbi menolehnya , "Ya...., disiapa?, masuk saja", ucapnya pelan, namun masih bisa di dengar oleh orang yang ada di luar.
Pintu pun terbuka dan muncullah Badrun dengan menenteng belanjaannya.
"Assalamu'alaikum Bu", Badrun masuk dengan posisi merengkuh.
"Wa'alaikumsalam, simpan di sana saja", perintah Bu Arimbi menunjuk ke atas meja yang ada di samping bed Robi.
"Baik Bu", Badrun pun menurut, ia menata semua barang yang dibelinya di atas meja.
'Ah...., iya..., kenapa tidak menyuruh Badrun saja yang datang ke Pondok, sekalian memberitahu Abah dan Umi soal kondisi Robi', pikir Bu Arimbi.
"Sudah Bu?, saya permisi....", Badrun membalikkan badan kembali menuju pintu.
"Tunggu....", tatap Bu Arimbi.
Badrun pun menghentikan langkahnya, ia menunggu perintah selanjutnya dari Bu Arimbi.
"Eum...., bagaimana ya...?, dari tadi saya hubungi Tiara, tetapi tidak bisa, ponselnya tidak diangkat-angkat",
"Bisa tidak tolong saya, jemput Tiara ke Pondok dan bawa ke sini, sekalian kabari Sbah dan Umi juga tentang kondisi Robi sekarang, saya tidak tega bila harus meninggalkan Robi", jelaskan Bu Arimbi penuh pengharapan.
Badrun terdiam sejenak. 'Ke Pondok?, menemui Abah?, apa ini sudah waktunya?, apa ini caranya?', pikiran Badrun berkecambuk. Secara mmental dirinya merasa belum siap jika harus bertemu langsung dengan Abah.
"Bagaimana ..., bisa kan?", ulangi Bu Arimbi yang ampuh membuat Badrun terhenyak .
"Euh....iya ..iya....saya bisa", ucapnya agak gugup.
"Benar kamu bersedia?", tatap Bu Arimbi, ia seolah ragu dengan jawaban dari Badrun, karena melihat sikapnya yang sedikit aneh.
"Iya...Bu, saya siap", tegaskan Badrun.
Bu Arimbi tidak begitu mengetahui kasus yang menimpa Badrun, karena Robi pun tidak bercerita langsung kepadanya.
"Alhamdulillah...., saya lega, tadi subuh Robi sempat memanggil Tiara, kata Dokter sih ya lebih baik Tiara ada di sini, siapa tahu bisa membuat Robi cepat sadar", jelaskan Bu Arimbi.
"Oohh...begitu, ya sudah saya berangkat sekarang ke Pondoknya, biar selepas itu, saya langsung menjemput Bapak ke Kantor", kembali Badrun merengkuh.
Tanpa menunggu lama, Badrun langsung membalikkan badan kembali menuju pintu.
"Tunggu...!!", kembali suara Bu Arimbi membuat Badrun menghentikan langkahnya.
"Ada apa lagi Bu?", Badrun pun kini kembali berdiri di tempat.
"Ke Pondok Al-Furqon ya?, tahu kan jalannya?" tegaskan Bu Arimbi.
"Oh...iya, saya tahu Bu, kan sudah pernah satu kali ke sana saat mengantar Bapak dan Ibu", senyum Badrun.
"Ah...iya..., saya lupa, kalau begitu cepat berangkat, beritahu Abah dan Umi tentang kondisi Robi, dan bawa Tiara juga ke sini", senyum Bu Arimbi.
"Baik Bu, saya berangkat sekarang, Assalamu'alaikum", Badrun kali ini benar-benar melangkah keluar dari ruangan tempat Robi dirawat.
"Ah...Tiara..., pantas saja susah dihubungi, dia kan sedang bersama Fikri?, apa dia mau diajak menemui Robi di sini?", gumam Badrun. Ia segera melajukan mobilnya menuju Pondok.
Perasaan Badrun menjadi tidak menentu, setelah sekian lama dirinya ke luar dari Pondok dengan tuduhan yang keji, apa Abah dan Umi masih bisa menerima kehadirannya?, tapi ini semua demi Robi, Robi sedang membutuhkan mereka saat ini.
Jaraknya dengan Pondok sudah makin dekat, Badrun memperlambat laju mobilnya, terus terang saja kini jantungnya berpacu lebih cepat, apalagi di depan sana gerbang Pondok Al-Furqon sudah dengan jelas dilihatnya.
'Bismillah....Ya Allah...., semoga dilancarkan', pikir Badrun. Kini mobilnya sudah benar-benar sampai di depan gerbang, dan seseorang yang ada di dalam sana membukakannya .
Badrun kini melajukan kembali mobilnya ke dalam, ia sudah bulat, apapun yang terjadi, ia harus menemui Abah dan Umi, juga Tiara.
Setelah menenangkan hatinya yang terus berdebar, Badrun kini sudah benar-benar berada di luar mobil. Ia menatap ke arah rumah besar yang ada dihadapannya.
Badrun masih ingat dengan jelas, dulu dirinya dipermalukan di sana, ia diusir oleh Abah, dan juga seluruh santri.
__ADS_1
Bahkan ia langsung digelandang sebagai pesakitan oleh yang berwajib, tanpa bisa membela diri sedikit pun.
'Fadil, Dzaqi, apa kalian juga masih di sini?', pikiran Badrun kini teringat kepada dua teman santrinya.
Badrun melihat foto dirinya dari kaca spion, ia menatapnya lekat , waktu sudah berlalu beberapa lama, hingga kini wajahnya ditumbuhi jampang. Berbeda sedikit dengan wajahnya yang dulu.
"Bismillah...., semoga dilancarkan, Abah dan Umi bisa menerimanya dengan baik.
Kini Badrun sudah melangkahkan kakinya menuju rumah Abah. Dia sudah berdiri di teras depan.
"Assalamu'alaikum", badrun mengucap salam, ia berusaha bersikap setenang mungkin, melawan perasaan dalam hatinya.
Badrun memandangi deretan kobong yang berjajar rapi, sama seperti dahulu, walau ia lihat sudah ada beberapa perubahan.
"Wa'akaikumsalam", sebuah suara mengagetkannya.
"Ada perlu sama siapa?", kembali suara seorang wanita bertanya. Badrun dengan berat membalikkan tubuhnya menghadap sumber suara.
Dilihatnya seorang wanita bercadar sedang berdiri dihadapannya. Ia menunduk, dan sekilas memandanginya.
"Euh...., saya mau bertemu dengan Abah dan Umi, apa beliau ada di rumah?", Badrun mengutarakan tujuannya. Hatinya bertanya, 'Siapa wanita ini?, rasanya baru bertemu',
"Abah dan Umi masih di Madrasah, silahkan duduk dulu, mungkin sebentar lagi beliau pulang", persilahkan wanita itu.
"Teteh..., teteh Nyimas", terdengar panggilan anak kecil dari dalam .
"Degh", kembali jantung Badrun berdebar, ternyata wanita bercadar yang ada dihadapannya adalah Nyimas, wanita yang dituduh telah ia rusak kehormatannya dulu.
Seorang bocah laki-laki menghampirinya, ia Gilang, karena Risman sudah kembali ikut pulang bersama Bu Arimbi.
'Apa ini anaknya?', kembali hati Badrun bertanya, ia menatap Gilang.
"Iya..., ada apa Gilang?", Nyimas melirik ke arah Gilang.
"Gilang mau main ke kobong A Robi, dari kemarin Gilang menunggunya, mungkin hari ini A Robi pulang", ucap Gilang, ia cepat-cepat berlalu dari hadapan Badrun dan Nyimas.
"Iya...", senyum Nyimas.
"Silahkan, tunggu di sini sebentar, saya buatkan minum dulu", kembali Nyimas mempersilahkan Badrun duduk, sebelum ia kembali masuk untuk membawakan minum.
Badrun pun duduk. Ia mengusap kasar wajahnya, ingin membuang semua beban yang ia rasakan.
Tak selang beberapa lama, nyimas membawa beberapa gelas air kemasan dalam gelas dan menyimpannya di meja.
"Silahkan diminum dulu!, Alhamdulillah itu Abah dan Umi sudah menuju ke sini", senyum Nyimas, ia memandang ke arah depan.
Badrun buru-buru mengambil satu gelas air mineral didepannya. "Saya minum ya?", dengan cepat ia sedot isinya, agar perasaan bisa sedikit tenang.
"Iya, silahkan!, maaf seadanya",
"Abah..., Umi...., ini ada tamu", beritahu Nyimas begitu Abah dan Umi sudah sampai di teras depan.
"Saya masuk dulu", pamit Nyimas. Ia kembali memasuki rumah Abah, melanjutkan pekerjaannya.
"Assalamu'alaikum Abah, Umi?", Badrun berdiri dari duduknya, ia menyambut kedatangan mereka, dan Badrun pun menyalami keduanya.
"Wa'alaikumsalam...", serentak Abah dan Umi, mereka kini duduk berhadapan.
Badrun berusaha bersikap sewajar mungkin, walau ia harus ekstra kuat mengendalikan gejolak dihatinya
Melihat reaksi Abah dan Umi yang biasa saja, membuat Badrun sedikit tenang, ia berpikir kalau Abah dan Umi tidak mengenalinya.
"Begini Abah, Umi, saya sopirnya Bu Arimbi dan Pak Handoko, saya diutus mereka untuk membetitahukan kalau kini Robi sedang di Rumah Sakit", Badrun mulai mengutarakan maksud kedatangannya.
"Astaghfirullah..., Robi kenapa?", tanyai Umi.
"Robi kcelakaan Umi", jelaskan Badrun.
"Innlillahiwainnaillahirooji'uun", kompak Abah dan Umi, mereka tampak saling berpandangan.
__ADS_1
"Bagaimana keadaannya?, pantesan sudah beberapa hari tidak pulang ke sini, kenapa tidak telepon saja, jadi Abah dan Umi bisa langsung ke sana dari kemarin", tatap Abah.
"Sudah Abah, Bu Arimbi sudah mencoba menghubungi Tiara, tetapi tidak dijawab katanya", terangkan Badrun.
"Lho..., kenapa Tiara?", Abah mentautkan kedua alisnya.
Tak berapa lama Tiara pun datang bersama Ustad Fikri, mereka langsung menemui mereka.
"Nah...itu dia, sudah pulang", Abah menatap Tiara dan Fikri yang baru pulang.
"Assalamu'alaikum", serentak Tiara dan Fikri.
"Wa'alaikumsalam", serentak Abah, Umi dan Badrun.
"Neng, kenapa ponselnya mati?, ada kabar penting sampai tidak tahu", cecar Abah .
"Kabar penting apa?", tatap Tiara.
"Ah...iya, ponselnya ketinggalan di kamar Abah", Tiara segera berlari menuju kamarnya.
Tanpa di minta pun kini Fikri sudah ikut duduk bersama mereka.
"Terus bagaimana keadaannya sekarang?", kembali Abah menatap Badrun.
Fikri kini terus menatap Badrun, ia masih ingat, orang ini yang tadi ia tabrak waktu di Mall.
"Dia sekarang koma Abah", tunduk Badrun.
"Masya Allah....", Abah dan Umi saling tatap, merasa tidak percaya, terakhir mereka melihat Robi baik-baik saja, tapi kini dapat kabar koma akibat kecelakaan.
"Siapa yang koma Abah?", tatap Fikri.
"Ya...Allah Abah....Umi...", teriak Tiara, ia sudah hujan air mata dengan menenteng ponselnya ke luar.
"Abah ...,Umi...., Robi koma di Rumah Sakit", lirih Tiara.
"Ara harus ke sana sekarang", Tiara hendak berlalu, namun sebuah suara menahan langkahnya.
"Tunggu !!!", ucap Fikri lantang.
"Kamu tidak boleh kemana-mana Tiara!!",
Tiara menatapnya ,"kenapa?, menjenguk orang sakit sakit itu wajib", tantang Tiara.
"Tapi di sana sudah ada orang tuanya, kehadiran kamu hanya akan merepotkan mereka saja", ucap Fikri.
"Abah..., Robi memang koma, dan saya disuruh untuk membawa Tiara ke sana, Dokter menyarankan itu, karena tadi subuh, Robi sempat memanggil nama Tiara berulang-ulang, kehadiran Tiara di sana sangat membantu Robi untuk segera sadar", jelaskan Badrun.
Mata Fikri membulat menatap Badrun.
"Abah..., Umi....", lirih Tiara, ia menatap kedua orang tuanya dengan mata yang sudah basah .
"Iya..., Neng temui Robi", ucap Abah.
"Tidak Abah, Tidak boleh, Tiara tidak boleh ke sana, Tiara sudah menjadi calon istriku", tegas Fikri.
"Iya..., Tiara memang calon istri Pak Ustad, tapi Tiara masih anaknya Abah dan Umi kan?, jadi saat ini Abah dan Umi yang lebih berhak terhadap Tiara", ucap Badrun.
"Siapa kamu??, berani-beraninya", tatap Fikri, ia makin ill feel saja dengan Badrun.
"Saya hanya minta tolong saja, dan menyampaikan amanat Bu Arimbi, saya harus membawa Tiara ke Rumah Sakit", terang Badrun.
"Iya..., dia benar, Tiara dan Abah akan ke Rumah Sakit, saat ini Abah masih walinya Tiara", ucap Abah.
"Umi juga ikut Abah",
"Iya, kita ke sana sekarang", ajak Abah.
"Dan kamu bisa handle semua urusan Abah di sini, jangan khawatir, Tiara pergi bersama kami, orang tuanya", tegas Abah.
__ADS_1
Mereka bersiap menuju Rumah Sakit dengan mobil yang dikendarai Badrun.
"Awas kamu ya....", ancam Fikri , setengah berbisik ditelinga Badrun.