
Sesampai di Bandara Robi duduk dii kursi tunggu kepulangan. Terlebih dulu ia chat mamihnya biar nanti beliau tidak bingung mencari dirinya.
sengaja Robi menjemput mamihnya membawa sepeda motor, tadinya supaya cepat, biarpun jalanan padat.
Sudah hampir setengah jam Robi menunggu, ia perkirakan Mamihnya seharusnya sudah tiba di Bandara lima belas menit yang lalu. Tapi sampai hampir setengah jam menunggu belum juga datang.
"Aduh..kemana sih Mamih", Robi kembali merogoh ponselnya dan langsung mendial nomer Mamihnya.
Lama Robi menunggu sebelum akhirnya di angkat juga.
[Mih...sudah landing kan?, sekarang di mana?, aku sudah di Bandara nih],
[Aduh ...maaf sayang, Mamih sudah di Apartemen nih, kirain kamu tidak jadi menjemput, maaf, ada perubahan rencana, kemarin Briant mendadak ingin ikut, jadi sekarang Mamih sewakan dulu dia Apartement, nggak mungkin kan Mamih bawa dia ke rumah].
"Sit...", Robi langsung mematikan ponselnya. Wajahnya langsung memerah, pertanda ia sedang marah.
"Ngapain coba Mamih bawa pacar bulenya ke sini, sudah jelas dia itu benalu Mamih....", kesal Robi.
Secepat kilat dia menuju parkiran dan menghidupkan sepeda motornya, ia kembali melaju di jalanan dengan ugal-ugalan, Robi lampiasan rasa kesalnya dijalanan.
Sampai salah seorang teman Eko melihatnya.
"Bos...ada yang berulah lagi di kawasan kita", laporkan anak buah Eko.
"Jangan tanya lagi, sikat habis saja",
"Oke Bos, siap laksanakan", orang itu lantas mengejar motor Robi bersama dua kawannya.
Mereka adalah Witan, Yogi dan Andra. Kini mereka mengejar sepeda motor Robi.
Dari spionnya Robi tahu kalau dirinya sedang diikuti ,"Ayo..., ikuti aku", seringai Robi. Ia sengaja membawa motornya ke jalur sepi. Dan benar saja ketiga motor itu terus mengikutinya.
Robi mulai memperlambat laju sepeda motornya, ia ingin tahu apa yang akan dilakukan ketiga pemotor yang mengikutinya itu.
Witan mendahului sepeda motor Robi dan menghalangi jalan Robi.
"Turun!,berani sekali kamu berulah di sini ", teriak Witan. Ia lebih dulu turun dari sepeda motornya.
Robi hanya menyeringai di balik helmnya. "Kalian yang mengantar sendiri", gumam Robi ia pun turun dari ssepeda motornya.
Adu mulutmu pun terjadi di antara mereka, dan diakhiri dengan adu jotos. Ketiga teman Eko mengira yang sedang mereka lawan itu adalah Dery, karena Robi tidak melepas helmnya.
__ADS_1
Robi nampak tangguh, ia mampu meladeni witan dan kedua temannya, malah mereka dibuat babak belur, Robi seperti kesurupan satria sakti saja, ia lampiaskan rasa marah dan kesalnya kepada ketiga anak buah Eko.
"Bro..., kabur..., ", Teriak Andra , dia sudah kewalahan menghadapi Robi yang seperti mengamuk.
Akhirnya mereka bertiga pun lari dengan sepeda motornya, "Tunggu..., ini belum selesai!,", teriak Witan sanbil mengikuti kedua temannya menjauhi Robi yang masih berdiri .
Bak baru sadar dari kesurupannya, Robi menjatuhkan tubuhnya ke jalanan , ia terduduk lemas di sana dengan nafas terengah-engah. Ia buka helmnya dan terlihat buliran keringat membasahi wajahnya.
Badannya pun kini terasa linu-linu akibat terkena tinju dan tendangan dari ketiga lawannya itu. Kini ia merebahkan tubuhnya di samping sepeda motor yang masih terparkir di pinggir jalan.
Tak ada satu pun pengguna jalan yang peduli padanya, mereka malah mencibir dan merutuki kelakuannya. Bahkan salah satunya Tiara, ia pun mengetahui perkelahian itu, tapi kini ia tidak peduli, karena ia mengenali sepeda motor itu yang mengikutinya tadi pagi.
Ah, Tiara, padahal itu Robi, hanya saja ia sedang memakai motornya Eko.
Baru saat adzan Maghrib, Robi kembali menaiki sepeda motornya ia kini melaju kembali menuju bengkel.
Sesampai di sana ia langsung menyimpan motor dan masuk ke dalam kamar kostnya, ia tertidur sampai pagi dan meninggalkan shalat lagi.Robi kini berada di titik terendah, tanpa ada seorang teman dan saudara yang mengingatkan.
Sebuah mobil berhenti di depan gerbang, Pak Karman melihat dan mengenali penumpang yang turun dari mobil itu, seorang wanita sudah berumur, namun tetap cantik, dengan dandanan dan pakaian yang modis.
"Nyonya?", Pak Karman langsung membuka pintu gerbang.
"Sudahlah Pak, ini tolong bawa ke dalam!", Bu Arimbi menunjuk pada dua tas yang dibawanya. Ia segera masuk ke dalam rumah diikuti Pak Karman.
"Alhamdulillah...Nyonya...sudah pulang?, Den Robi nya mana?, bukannya tadi menjemput," Bi Mimi pun tak kalah herannya melihat Bu Arimbi pulang tanpa Robi.
"Sudahlah Bi, dia kan sudah besar, jangan khawatir begitu, kalau butuh uang, nanti juga pulang", Bu Arimbi berlalu menuju kamarnya.
"Wah...pasti ada sesuatu lagi, padahal semalam Den Robi semangat sekali ingin menjemput Mamihnya", gumam Bi Mimi , ia kembali lagi ke dapur untuk menyiapkan makan , siapa tahu Bu Arimbi nanti menyuruhnya.
"Aduh Aden..., kemana lagi", Bi Mimi masih memikirkan Robi.
*
*
Dery melirik sepeda motornya yang sudah terparkir kembali di bengkel. "Sudah pulang dia", gumamnya
Malam ini Marisa tidak datang ke bengkel, Dery di mini cafe hanya ditemani Ronald, Ilyas, Joko dan Aleks.
"Kemana dia?", Dery melirik ke arah Ronald.
__ADS_1
"Siapa Bos?",
"Si Rahmat, sepertinya dia sudah balik, itu motor Gue sudah ada", tunjuk Dery.
"Paling juga dia mah lagi bobo cantik", kekeh Ilyas.
"Oh iya Bos, tadi ada wanita ninja lagi ke sini, dia menyerahkan uang untuk ganti bannya kemarin", terangkan Joko.
"Tiara...maksud kamu?", tatap Dery.
"Iya, wanita itu",
"Terus kamu terima uangnya?", tatap Dery.
"Ya iya lah Bos, ini", Joko melemparkan yang ke arah Dery.
"Aduh...kenapa Loe terima, Gue kan sudah bilang nggak usah kemarin", Dery tampak kesal.
"Lah...mana Gue tahu, kalau ada yang mau bayar, ya diterima lah", cicit Joko.
"Tapi kenapa Gue tidak tahu kalau dia kesini", Dery mentautkan alisnya.
"Bos kan masih tidur, mentang-mentang ada Marisa, jadi betah berlama-lama di dalam", cicit Ronald.
"Wah..., kemarin malam Marisa nginep di sini Bos?, pantas bangun-bangun tampak berseri, habis dicas semalaman kayanya", kekeh Aleks.
Dery hanya mengulum senyum, mengingat peristiwa semalam bersama Marisa. 'Gampang sekali dia menyerahkan dirinya', pikir Dery sambil menyeringai.
Namun ada rasa kesal dihatinya, saat Marisa mengigau menyebut nama Robi semalam. Rupanya dia masih memikirkan Robi selama ini.
"Tiara ternyata satu kampus dengan Marisa", senyum Dery.
"Jadi Gue bisa melihatnya saat antar jemput Marisa", kekeh Dery.
"Wah...ini bahaya, jangan-jangan Bos kita ini mulai tertarik sama wanita ninja itu", tebak Joko.
Dery tertawa, "Gue sudah bosan dengan wanita seperti Marisa, yang sengaja memperlihatkan tubuhnya untuk di lihat semua orang, tapi tidak dengan Tiara, dia menutup tubuhnya, membuat Gue penasaran, pasti ada sesuatu yang berharga di balik baju lebarnya itu, dan itu bikin Gue penasaran", kekeh Dery.
Dia menerawang, menghayalkan Tiara berpakaian seperti Marisa.
"Wah...sudah mulai gila ini", kekeh Ronald.
__ADS_1