Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa

Pesona Cinta Tiara Khoerunnisa
Sudah Takdirnya


__ADS_3

Tiara memasuki kamarnya, ia duduk di pinggir tempat tidur, hatinya sungguh senang, karena ternyata kini Abah mulai membuka pikirannya, Abah sudah tidak memaksanya lagi untuk tetap menerima Fikri.


Bahkan Abah sudah memberi lampu hijau kepada Robi.


"Alhamdulillah....Ya Allah...., semoga ini berjalan sesuai rencana-Mu", Tiara memejamkan mata dan memanjatkan Do'a.


"Oh....iya...,sedari tadi aku tidak melihat bocah-bocah, di mana mereka?", Tiara kembali keluar dari kamarnya.


Namun secara bersamaan, Nyimas pun keluar dari kamarnya, ia menggandeng Risman.


" Kalian?, Nyimas terkejut begitu melihat Tiara sedang menatapnya.


"Iya..., ini anak-anak ketiduran , mungkin mereka cape, setelah selesai mengaji, terus bermain bersama sampai ketiduran", senyum Nyimas.


"Oh..., kirain pada ke mana, Ya sudah...mereka boleh tidur bersama kamu", senyum Tiara.


"Iya...", Nyimas mengangguk, ia mengantar Risman ke kamar mandi. Tiara kembali memasuki kamarnya.


Pagi ini semua santri sudah bersiap untuk mempersiapkan acara pawai obor sekaligus pameran busana muslim yang akan dilaksanakan malam ini sehabis maghrib.


Semua santri terlihat senang, apalagi ini acara perdana , dimana mereka berkarnaval dengan memakai busana muslim rancangan ibunya Robi dan Tiara.


Makanan pun sudah dipersiapkan, puluhan obor dari bambu sudah siap di pakai.


Rencananya akan ada penampilan kreasi seni dan siraman rohani, kali ini untuk pertama kalinya, Robi ditunduk sebagai Ustad yang mewakili Pondok Al-Furqon untuk mengisi acara itu.


"Semua sudah siap Umi?", Abah menatap Umi.


"Sudah Abah, semua sudah siap, semua makanan sudah selesai di masak dan siap dibagikan kepada para santri nanti", terangkan Umi.


"Semua sudah siap, tinggal menunggu waktunya saja Abah", senyum Tiara.


"Alhamdulillah..., Abah tenang kalau begitu, apa Robi sudah datang ke sini?", kembali Abah bertanya.


"Rasanya belum melihatnya, mungkin dia masih di kobongnya, iya kan Umi, Robi belum ke sini?", yakinkan Tiara, ia melirik ke arah Umi.


"Iya, Umi juga belum melihatnya dari pagi", Jelaskan Umi.


"Ya sudah, mungkin dia masih belajar untuk acara nanti malam", Abah berlalu meninggalkan Tiara dan Umi.


Sementara Robi, sejak pulang dari Masjid tadi pagi, ia bergegas meninggalkan Pondok, tujuannya tidak lain untuk menjemput Badrun.


Robi menjemput Badrun dan membawanya ke rumahnya.


Bu Arimbi dan Pak Robani pun menerimanya dengan senang hati, mereka sudah mengenalnya saat Robi di penjara dulu.


"Mih..., Pih..., biarkan Badrun tinggal di sini dulu untuk sementara, sebelum membawanya kembali ke Pondok, masih ada hal yang harus diselesaikan di sana",


"Iya..., silahkan saja, kamu bisa kan menjadi sopir kami?", tawari Bu Arimbi.


"Iya ..., saya bisa", Badrun mengangguk.


"Alhamdulillah..., kalau begitu , sopir kami sedang pulang kampung", jekas Bu Arimbi.


"Kalau begitu, nanti bisa kan mengantar kami ke Pondok?", Pak Robani menatap Robi.


"Bagaimana?, apa Abah tidak akan marah?", Badrun meminta pendapat kepada Robi.


"Sepertinya tidak, kamu jangan dulu menemui mereka, cukup mengantar Mamih dan Papih ke sana saja,boleh juga kamu pakai sesuatu biar mereka tidak langsung mengenalimu, tapi, kayaknya dengan penampilanmu seperti ini saja, mereka tidak akan mengenalimu ", tatap Robi.


Ia menatap Badrun, yang kini wajahnya ditumbuhi janggut dan jambang.


"Iya..., apalagi mereka sudah lama tidak bertemu dengan kamu, jadi aku rasa aman sih kamu ikut kita ke sana juga", senyum Robi.

__ADS_1


"Iya, terima kasih, saya tidak akan banyak menampakkan diri dihadapan mereka", janji Badrun.


"Bang, saya pulang duluan ke Pondok, takutnya mereka curiga kalau lama-lama tidak ada di sana", pamit Robi.


Robi berpamitan juga kepada kedua orang tuanya, sekaluan Robi mampir ke bengkelnya, ia mengundang Ronald dan Ilyas untuk menghadiri acara peringatan tahun baru Islam di Pondok.


"Oke..., Inshaa Allah..., kita ke sana, ini moment pertama bagi kita, kayaknya seru, siapa tahu bisa mendapatkan jodoh juga di sana", kekeh Ronald.


"Nah...gitu dong, kita bertemu di sana, Aamiin....Aamiin..., kalian bisa pilih sendiri, hari ini semua santri bisa ke luar dari kobongnya", senyum Robi.


"Pada ke mana yang lainnya?", tanya Robi, ia melihat ke dalam , yang tampak sepi, minicafe pun kini di tutup.


"Kita kerja di bagi dua, Aku dan Ilyas giliran pagi, dan Mereka bagian siang, jadi kita tidak tahu, mereka lagi kemana, kita sudah tidak satu jalan, jadi ya...terserah saja, kita tidak begitu peduli lagi, lagian kita sudah sama-sama punya tujuan sendiri-sendiri, yang terpenting tidak saling sikut saja, iya kan?", jelaskan Ronald.


"Ya...itu terserah kalian sih, apa sudah tidak ada kabar lagi tentang Dery?, dia itu masuk dalam DPO pihak Kepolisian", tatap Robi.


"Tidak ada, dia seperti hilang ditelan bumi saja, tak pernah terdengar kabarnya lagi, iya kan?", tatap Ronald kepada Ilyas.


"Iya..., Marisa juga, dia seolah ikut menghilang bersama Dery",


"Biarlah..., mungkin mereka sudah menemukan kehidupan yang lebih baik", Robi menerawang.


Robi teringat kembali bagaimana dulu kehidupannya di sini, penuh kebebasan dan penuh kemewahan.


Namun semua berubah drastis setelah dirinya terdampar di Pondok, karena sengaja dilempar oleh teman-temannya.


Namun Robi masih memperbolehkan bengkelnya di kelola oleh mereka, walaupun mereka yang telah mereka-reka rencana untuk mencelakainya.


"Bagaimana dengan Tiara, apa dia sudah bisa kamu taklukkan?", goda Ronald.


"Kamu ya..., memangnya Tiara itu apa?, makhluk buas begitu?", Robi meninju lengan Ronald.


"Ya..., kan sepertinya dia itu dingin, seperti gunung es", kekeh Ronald.


"Melamar?, terus bagaimana?, di terima?", Ronald dan Ilyas menatap Robi.


"Eumhh...., sayangnya...iya, lamaran aku diterima", kekeh Robi.


"Alhamdulillah..., selamat Bro..., bentar lagi sepertinya akan ada Robi junior nih", kekeh Ronald.


"Baru dilamar Bro..., bukan menikah",


"Iya...sama saja, biasanya tidak akan lama, dikalangan para Kyai itu tidak akan menunda-nunda pernikahan kalau keduanya sudah pada setuju, ya langsung saja", kekeh Ronald.


"Aamiin....Aamiin..., aku juga mau secepaynya ", senyum Robi.


"Aku tunggu kalian sebelum maghrib ya?, biar bisa menyaksikan acaranya dari awal", beritahu Robi.


"Oke...Bro...", mereka saling bersalaman, sebelum Robi meninggalkan bengkel.


Robi sampai di Pondok hampir sore, bahkan kedua orang tuanya sudah lebih dulu datang bersama Badrun.


"Aduh..., kamu kemana dulu, Mamih kira kamu langsung pulang ke sini", Bu Arimbi tampak kesal.


"Maaf Mih..., tadi aku mampir dulu ke bengkel, jadi betah ngobrol sama mereka", cicit Robi.


"Mamih jadi enak sama Abah..., dari tadi terus nanyain kamu , sudah sana!, temui Abah dulu", perintah Bu Arimbi.


Robi menurut, ia langsung menemui Abah di tempat biasa di ruang bacanya.


"Alhamdulillah..., kamu pulang juga", senyum Abah begitu mereka bertemu di pintu ruang baca Abah.


"Maaf..., tadi baru dari rumah dulu", tunduk Robi.

__ADS_1


"Sudah..., ayahmu juga sudah bicara, Abah hanya khawatir saja, ini kan malam puncak peringatan tahun baru Islam, takutnya kamu menghilang lagi", senyum Abah.


"Bagaimana, semua materi ceramahnya sudah dipelajari lagi?", tatap Abah.


"Alhamdulillah sudah Abah", senyum Robi.


"Bagus, Abah yakin, kamu pasti bisa", Abah menepuk pundak Robi.


"Inshaa Allah Abah",


*****


[Bagaimana?, kalian sudah siap?, kita selesaikan malam ini, kita jadikan ini malam terakhir bagi mereka bisa merasakan bahagia],


Fikri tampak sedang bicara sambil memandang ke arah rumah Abah yang tampak terang benderang. Semua lampu tamannya dinyalakan.


Selain itu, ada sebuah panggung juga sebagai tempat untuk menampilkan kreasi seni dari para santri.


Sebagai panitia, Fikri juga sudah menyiapkan sebotol air yang sudah ia campuri racun, untuk dituangkan ke dalam gelas milik Robi, saat ia berceramah nanti.


Sebagai pembukaan, Fikri memberi sambutan sepatah dua patah kata untuk membuka acata malam itu.


Dan acara di buka dengan penampilan musik rebana dari para santri putri.


Acara makin meriah dengan acara peragaan busana dari para santri putri. Para pengunjung dari pihak keluarga keluarga dan umum, benar-benar merasa terhibur dan tampak menikmati acara tersebut.


Dan saatnya acara karnaval di mulai, semua santri masing-masing membawa obor yang sudah di nyalakkan.


Mereka berjalan menuju tempat yang sudah ditentukan, mereka berjalan beriringan sambil membacakan shalawat di sepanjang jalan.


Lampu-lampu jalan sengaja dimatikan, jadi penerangannya hanya mengandalkan cahaya dari obor saja.


Kini mereka sudah berkumpul di tempat yang sudah ditentukan, dan Robi sudah memulai menyampaikan ceramahnya.


Robi membuat memukau semua orang, bacaan Qur'annya, materi ceramahnya sungguh membuat pendengar betah, apalagi Robi pandai menyelipkan kalimat humor di sela-sela materi ceramahnya.


"Haus...aku haus Teteh, aku mau minum", rengek dua bocah yang sedang bersama Tiara.


"Ya Allah..., Teteh lupa, air minumnya ketinggalan di tas yang di bawa Umi", Panik Tiara. Ia menengok ke kanan dan ke kiri .


"Ah...itu ada Ustad Fikri, siapa tahu dia membawa air minum, kita ke sana", ajak Tiara. Ia menuntun Gilang dan Risman ke tempat Ustad Fikri, ia tampak sedang bicara dengan seseorang lewat ponselnya.


Fikri tampak buru-buru menutup teleponnya saat dilihatnya Tiara berjalan menghampirinya.


"Assalamu'alaikum Ustad, apa masih ada air minum?, ini anak-anak haus", ucap Tiara.


"Oh...air minum ya...?, sebentar", tanpa berpikir Fikri langsung merogoh tas yang di bawanya, ia memberikan satu botol air minum kepada Tiara.


"Terima kasih", ucap Tiara,


Gilang dan Risman tampak rebutan, namun Risman mengalah, ia membiarkan Gilang minum lebih dulu, dan sisanya baru ia habiskan.


"Kalian di sini rupanya?", ini ada susu buat kalian", Nyimas dan Bu Arimbi menghampiri mereka.


Risman yang masih haus, langsung saja menyedot kembali susu yang diberikan Bu Arimb, dan Gilang hanya memegangnya saja.


"Maaf, saya tinggal sebentar", pamit Fikri, ia bermaksud mendekati panggung.


Namun baru beberapa langkah,


"Duuuuaarrrr........",


*******

__ADS_1


Nah lo...suara apa itu, apa yang terjagmdi selanjutnya....ikuti terus ya....


__ADS_2